NovelToon NovelToon
Menertawakan Diri Sendiri

Menertawakan Diri Sendiri

Status: tamat
Genre:Komedi / Romantis / Dosen / Patahhati / Teen / Contest / Tamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: CAPEK

Semua berawal pada malam itu di saat pertunangan seorang teman. Dipertemukan dengan keadaan yang tidak bisa di mengerti. Entah itu duka atau suka di masa depan nanti. Dia terlihat cantik pada malam itu, seperti kunang-kunang di bawah bulan purnama. Entah harus senang atau malu pada saat itu. Kepercayaan cinta pada pandangan pertama tidak mengalahkan pada rasa kewaspadaan; sehingga menganggap setiap hal adalah jenaka semata. Di sisi lain, ada rasa beruntung. Laki-laki mana yang tidak beruntung bertemu dengan makhluk indah di antara makhluk lainnya. Hingga dari fase ke fase, rasa ingin memiliki semakin sulit. Namun tetap merasa beruntung, dengan begini bisa merasa tetap ada dalam hidupnya. Meskipun begitu, kepercayaan pada "usaha tidak mengkhianati hasil" masih teguh nan kokoh di dalam dada. Hingga sebuah kalimat terlontar dari bibir, "Terimakasih pernah menulis buku sejarah indah. Meski harus berakhir seperti ini;)"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CAPEK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebetulan Menyenangkan

..."Ini seperti dalam mimpi...

...Aku pikir ini hanya gurau-an imajinasi...

...Ternyata rindu bersambut, seperti melati...

...Putih dan wangi"...

Hari ini tidak seperti biasanya. Yang biasanya bangun tidur langsung ke kamar mandi, kali ini bangun tidur mengecek notifikasi. Yang biasanya bangun tidur disambut ayam berkokok, kali ini dering telepon. Dulu hanya burung bersiul yang menyapa pagi. Dan pagi ini disapa dengan...

"Assalamualaikum? Sayang udah bangun?"

"Baru bangun nih.. Bentar ya? Mandi dulu."

Itu adalah contoh kecil pada hari yang baru saja dimulai. Dan hari ini dimulai dengan tidak biasa. Contoh lain...

"Sayang... makan dulu. Nanti sakit?"

"Anjay.... macam benar aja," kata hatiku. Namun, seperti itulah salah satu chat di hari ini. Dan itu disebut perhatian. Bukan sok kepo.

Hari ini tidak seperti biasanya, walau orang-orang yang ada di warung tetap sama. Yang membuat suasana beda adalah cerita hari ini. Lebih dari cerita biasa. Banyak cerita yang berubah kali ini, dari tentang mantan hingga pacar baru. Dan pernah juga bercerita tentang gebetan baru hingga mantan gebetan; belum jadi pacar tapi sudah diputusin duluan.

"—Kau udah jadian dengan Cut?" tanya Dery.

"Iya," jawabku malu-malu.

"Kok semudah itu?" tanya Dery menyeruput kopi.

"Entahlah.. Aku juga gak tau kenapa."

"Bukan gitu... Soalnya dia kemarin itu jalan dengan cowok."

"Mungkin aku juga menginginkannya juga. Lagian, dia sudah minta maaf."

"Kau tuh jangan sampai dipermainkan oleh perempuan, hanya karena kau terlalu baik," kata Dery.

"Semua orang berhak menerima kesempatan kedua," ujarku seraya menyeruput kopi. Dan itu membuat teman-teman terdiam sejenak.

Beberapa saat Dery berkata, "Jangan sampai kesempatan yang kau berikan hanya menyakiti dirimu sendiri, Gam."

Diandra, Gober, Angga, Meigy dan lainnya, terdiam mendengar ucapan Dery. Kata-kata Deri seperti suara petir yang membisukan alam semesta. Seakan peringatan keras untuk menyediakan payung sebelum hujan turun. Warung tampak tenang. Dengan sawah yang membentang, membuat hati terasa tenang barang siapa yang melihat. Menyaksikan matahari ditelan oleh tembok-tembok menjulang tinggi. Burung-burung selatan terbang kembali pulang. Semakin turun, jingga semakin merah. Secangkir kopi di atas meja menjadi jembatan di setiap obrolan kami.

"...tidak ada baiknya mencurigai. Kalau memang dia serius dengan teman kita, mana mungkin dia yang nembak kawan kita duluan," kata Abay dengan maksud menenangkan suasana.

Dery menjawab, "Kalau memang tidak sesuai dengan ekspetasi Agam, gimana?"

"Kecewa? Sakit hati? Itulah gunanya kita sebagai teman," kata Abay dengan santai.

"Terus, teman tidak mendengarkan kata teman. Apa itu yang dikatakan teman?" jawab Dery semakin kritis.

"Itu kembali lagi seperti apa yang dikatakan Agam. Tidak ada yang salah memberi kesempatan kedua kepada seseorang. Namanya aja manusia tidak luput dari salah," kata Abay menuju titik terang.

Wajar sebagai teman tidak ingin melihat disakiti. Itulah Dery, yang sedang khawatir padaku. Dia sangat geram terhadapku. Baginya aku telah mengambil keputusan yang salah, karena di matanya Cut pernah ketahuan melakukan kesalahan. Namun baginya, tak ada kata maaf bagi yang melakukan kesalahan. Salah tetap salah, tidak ada yang benar. Apalagi maaf untuk memperbaiki yang salah. Pelan dan pasti. Dengan jingga semakin semakin merah akan tenggelam. Menikmati usia yang semakin berkurang. Di setiap sejarah yang mengisi usia kami, ada tawa dan kopi yang hadir. Ada sedih dan rokok yang selalu beradu. Seakan kami tidak akan tua, hanya bumi yang tua.

Warung semakin sepi. Orang-orang pada menunaikan ibadah di mesjid setempat. Begitu pula kami. Sebagai manusia sudah semestinya untuk kembali kepada Tuhan.

"Gam, kenapa kau begitu yakin?" tanya Dery.

Aku menjawab, "Enggak tau juga. Mungkin, sudah banyak aku berkeluh kesah di hadapan Tuhan. Salah satunya, aku meminta membunuh perasaanku ini setelah kejadian itu. Namun itu tidak terjadi, nyatanya inilah yang terjadi."

"Kau gak takut kecewa?" tanya Dery lagi.

"Kalau aku terus menutup diri. Sampai kapan aku menemukan kebahagian, bila tidak mencoba."

"Semoga saja," kata Dery sambil berjalan menuju mesjid.

Kami pun kembali tempat semula. Kembali memesan kopi untuk melanjutkan malam ini. Lampu-lampu yang bergantungan di belakang warung menerangi gelap. Orang-orang kembali mengisi kursi-kursi di warung. Aroma kopi kembali semerbak di udara, mendamaikan hati bagi yang menciumnya.

Secangkir kopi kembali dengan candunya. Angin sawah kembali membelai tubuh, Begitu pula nyamuk kembali hinggap di kulit.

Sesekali aku kembali membuka ponsel, sekedar membalas pesan Cut yang menanyakan keadaanku. Padahal kami masih sekota, tapi bagai pasangan yang sedang dibunuh rindu akan jarak. Namun itu yang membuat aku suka. Risih? Tapi itu adalah bentuk perhatiannya.

Yang dikatakan jemari berbicara ialah, ketika suara telah terbentuk tulisan; chating-an rasa bicara empat mata. Membalas setiap pesan yang masuk, sudah seperti dialog antar muka tanpa jeda. Bila sudah seperti ini, timbul hasrat ingin bertemu dengannya.

"—Jadi gimana Cut dengan mantannya?" tanya Gober.

Aku menjawab, "Aku males menanyakan hal itu. Tapi dia sendiri yang menceritakan hal itu, kalau dia udah putus."

"Kenapa dia putus?" tanya Gober seakan sebagai perwakilan dari yang lain.

Aku menjawab, "Katanya sih, gak ada rasa lagi. Gara-gara diselingkuh. Saat cowok itu kembali, ia meminta maaf. Saat Cut menerima kembali, rasanya memudar. Dan Cut pun mengakhiri hubungan tersebut." Dan asap rokok pun keluar.

"Hubungan yang rumit." Beberapa saat Gober bertanya,"Tapi kenapa kau begitu percaya apa yang dikatakan Cut?"

Aku menjelaskan, "Saat Cut meminta maaf. Aku tidak meminta penjelasan atau pun bukti, aku hanya mendengar dan menyaksikan. Ia memperlihatkan kalau ia telah memblokir kontak Fadil. Dan juga, saat malam aku pergi ke undangan Hanna, aku melihat Fadil menunggu Cut di depan rumah dari kejauhan."

"Pasti gondok kali tuh cowok nunggunya," kata Meigy.

"Cut juga tau kalau aku masih kurang percaya. Maka dari itu ia mengajak aku untuk melihat cowok itu sedang menunggu di depan rumahnya."

Mereka terus bertanya, "Bagaimana semudah itu untuk percaya". Apalagi percaya pada yang telah melakukan salah."

Memang benar Cut telah melakukan salah, tapi ia telah bukan masih menjalani salah. Dia memang telah melakukan kesalahan, di situ menurutku ia patut menerima kata maaf. Ada kata telah dari apa yang ia lakukan.

Lalu bercerita bagaimana aku menyatakan perasaan dari pertanyaan-pertanyaan mereka, walau bukan aku yang sebenarnya yang menyatakan semuanya. Tidak hanya itu, teman-temanku juga menanyakan apa yang aku rasa setelah Cut meminta aku menjadi miliknya pada malam itu.

Dari apa yang aku ceritakan hanya kekonyolan belaka, tawa jenaka pun yang terjadi. Tidak seperti kisah kasih pada umumnya, dengan seikat bunga atau sebatang coklat. Bukan dengan cincin atau tulisan puisi. Melainkan dengan kata, "Yaudah..."

Sedikit demi sedikit, kopi habis telah habis. Memanjakan malam bagi yang menikmatinya. Tenggelam di antara bintang yang bertaburan. Hiruk-piruk tawa di setiap sudut warung, entah itu suara tawa atau suara musik dangdut.

Kami berteriak dengan di iringi suara gitar. Sebuah lagu Raja Dangdut - Jangan Begadang mengisi halaman belakang warung. Gober yang sangat menikmati alunan lagu, menari riang dengan Diandra dan Meigy. Aku yang sedang memainkan gitar, tertawa melihat goyangan mereka yang aneh dan lucu. Maka dari itu aku percaya bahwa bukan hanya di klub mencari kesenangan, tapi warung kopi juga bisa. Bahkan lebih dari itu.

Sudah pukul 21:00 wib, sudah waktunya kembali. Akhir-akhir ini terlalu sering begadang, lagian besok harus jualan untuk memenuhi kebutuhan. Setelah bercanda ria dengan humor-humor jenaka yang mereka sajikan. Aku pun pamit undur untuk kembali.

"Mana?" tanya Abay.

"Aku balek dulu," jawabku.

"Yalahh pulang mau video call," sambung Meigy.

Aku pun menjawab, "Bukan gitu."

"Baru juga satu lagu," kata Gober.

"Macam kau aja punya pacar," tambah Meigy.

"Bukan gitu, tapi besok aku kerja. Udah terlalu sering aku begadang, jadi malam ini stop dulu deh," kataku beranjak dari tempat duduk.

"Alasan aja. Yudid aja yang udah nikah aja gak ngebet kayak kau," kata Angga.

"Kasar boss..!" jawabku. "Udah dulu, ya? Aku balek dulu."

Aku pun meninggalkan mereka. Kebetulan, sedari tadi perut belum terisi. Hanya cemilan dan kacang-kacangan di warung yang masuk ke perut. Lalu aku pun memutar arah menuju ke kota bertujuan membeli sesuatu untuk dimakan. Roda terus berjalan mengelilingi kota. Melihat satu persatu kedai yang menjual makanan.

Setelah melihat beberapa kedai yang menjual makanan. Akhirnya memutuskan untuk membeli sate matang, yaitu salah satu makanan khas Aceh. Yang biasanya sate dihidang dengan lontong, tapi makanan ini dihidang dengan nasi dan kuah kari sapi. Nama dari sate matang berasal dari Kota Bireuen yaitu Kota Matang Geuleumpang Dua.

Aku pun berhenti di kedai tersebut. Dengan rasa terkejut, terlihat sosok wanitaku sedang mengantri di sana. Dengan sweater biru yang ia pakai, terlihat manis di mataku. Tanpa ragu seperti dulu, aku menyapanya dengan senyum dan senang. Bagaimana tidak senang? Sedari tadi aku terus berbicara dengannya melalui via text. Jujur saja, bukan hanya dia saja yang rindu, tapi aku juga.

"Kamu sendiri?"

Cut kaget. "Enggak, dengan Kakak nih," jawab Cut menunjuk ke parkiran. Lalu ia bertanya, "Kamu baru pulang dari warung?"

"Iya... Kamu bungkus?" tanyaku.

"Iya," jawabnya. Cut mendekatiku dengan tangannya melekat di sudut bibir. Dan berkata, "Lain kali aja kita makan berdua di sini. Nanti kamu risih makan kalau ada Kakak." Cut berbisik.

"Gak risih. Malahan bagus, bukan?" jawabku.

"Kalau makan di sini. Yang pacar kamu bukan aku, tapi Kakak." kata Cut memasang wajah datar.

"Maksudnya?" tanyaku tidak mengerti.

"Maksudnya, bukan aku yang bicara nanti. Nanti cuma kalian berdua yang bicara," jawabku.

"Ohhhhhh... Paham. Hehehe," jawabku yang baru mengerti.

"Gak usah ngegas juga kali," jawabnya dengan geram. Hingga ia mencubit pinggangku.

"Hadeuh... Hadeuh..."

Kakaknya Cut menunggu di parkiran. Sedangkan Cut mengantri membeli makanan. Suatu keberuntungan bagiku, karena bisa lebih leluasa berbicara dengan adiknya. Dengan situasi seperti ini, aku memanfaatkan sebaik mungkin. Jangan tanyakan senang atau tidak. Bila dalam mengantri saja senang, apalagi berdua dalam satu meja makan.

Dalam mengantri, kali ini menunggu tidak jenuh seperti biasanya. Malam ini, menunggu adalah hal menyenangkan. Dengan senyum dan suaranya tanpa ada yang menghalangi.

Kedai yang disinggah termasuk ramai dengan pembeli. Kedai ini terletak di depan Monumen Bambu Runcing. Bukan hanya tempat yang strategis, rasa masakan sate matang di sini yang terbaik. Jika keadaan seperti ini, berharap semakin banyak yang memotong antrian.

Usia memang sesaat, tapi ini seakan selamanya. Walau usia bagai dunia yang fana, tapi rasa bagai surga yang abadi. Hubungan yang baru terjalin tiga hari, terasa satu bulan. Tidak ada yang kami tutup lagi terhadap kami. Entahlah, ini mengalir apa adanya, tanpa daya untuk menolak. Hanya menerima meski tiada tahan, tapi harus menahan. Menahan rasa bahagia yang aku terima darinya.

"Kalau antrian seperti ini, lama juga gak apa-apa," kataku tersenyum.

"Aku juga mau, tapi kamu yang gendong," jawabnya tersenyum

"Enak sekali," jawabku.

"Kan aku cewek," balasnya.

"Kan aku cowok."

Cut berkata, "Cowok harus mengalah dengan cewek."

Aku pun berkata, "Kalau aku gendong entar disangka orang, bayi dari mana—kok cepat banget gedenya?"

"Biarin, yang penting kamu gendong. Jarang-jarang ada bayi seperti aku yang mau digendong," jawab Cut.

Sepanjang antrian, tidak ada rasa bosan sedikit pun. Ada saja yang kami bicarakan dan kami tawakan. Tapi bukan itu yang aku mau. Di setiap komunikasi, aku berusaha membuat ia tertawa agar melihat lesung pipinya yang manis. Rona mera merah tanpa bluss on, rasa-rasanya ingin sekali membawa pulang wanita ini ke rumah. "Ohh Tuhan, siapalah aku yang mampu membawanya pulang," kata hatiku.

Setelah selesai dalam antrian yang panjang, kami kembali ke parkiran. Dila adalah kakaknya Cut. Mereka sama cantiknya, hanya selisih tiga tahun dari usia Cut. Dila yang tiga minggu lagi akan bertunangan. Terlihat jelas dari tangan dan kakinya memakai inay.

"Pacarnya Cut, kan?" tanya Kak Dila. Aku hanya mengangguk. "Jangan lupa datang ke acara, ya?"

"Acara apa, Kak?"

"Acara Kakak. Kalau acaranya Cut, kan gak mungkin."

"Ohh hehehe..."

Kak Dila bertanya, "Gimana pacaran dengan adik Kakak? Enak? Atau ngeselin?"

"Apaan sih kak," kata Cut terlihat malu. Aku sejenak terdiam.

"...ternyata Cut gak sejaim di awal kenalan," jawabku.

"Yang penting kamu sanggup dengan tingkahnya yang manja itu," kata Kak Dila.

"Hehehe..." Aku hanya tertawa.

Kak Dila berkata, "Jaga adek Kakak baik-baik, ya? Kakak percaya sama Agam."

"Percaya?" tanyaku yang tidak paham.

"Iya.. Soalnya, belum ada laki-laki yang berani datang ke rumah untuk temui Cut selain tunangan kakak," kata Kak Dila tersenyum.

Kami telah telah membayar pesanan kami. Kami pun keluar dari antrian panjang itu. Sesampai di parkiran, aku dan Kak Dila sejenak mengobrol ringan.

Kak Dila berkata, "Kamu ganteng jug—"

"Apaan sihh Kak..!? Cut yang pacarnya aja gak pernah puji dia," katanya. Cut langsung memotong pembicaraan kakaknya.

"Memang ganteng kok. Lagian kok langsung main motong pembicaraan," sambung Kak Dila.

"Dia pacar Kakak atau pacar Cut sih? Entar Cut bilang sama tunangan Kakak, kalau Kakak goda-goda pacar Cut. Udah yuk..! Yuk pulang." Cut menarik-narik kakaknya. Ia terlihat kesal layaknya anak kecil.

"Maafin adek aku ya?" kata Kak Dila padaku dengan tersenyum.

"Seharusnya Cut yang bilang gitu," kata Cut pada Kak Dila. Lalu Cut mengarah padaku, "Maafin Kakak aku ya, Agam?" Mereka pun pamit kembali.

Melihat Cut yang salah tingkah menjadi daya tarik tersendiri bagiku. Galak, tapi ada ketenangan di sana. Berbeda di dalam chatting atau telepon, ia lebih lembut dan mesra. Mungkin ia malu di hadapan kakaknya atau pun ia sedang cemburu. Yang jelas, aku suka wajahnya ketika kesal seperti kelinci sedang mengunyah wortel.

Saat itu, langit sedikit mendung. Udara yang dingin membuat orang-orang memenuhi warung kopi setempat. Mungkin bukan hanya itu, atau kebetulan malam ini orang pada menanti pertandingan bola Chelsea vs Liverpool. Entahlah, aku tidak peduli. Aku lebih memilih pulang dari pada menyaksikan hal yang tidak aku sukai. Dan lagi telepon berdering, dengan satu yakin itu adalah pesan dari Cut.

Tiba di rumah, Ayah dan Ibu sedang menonton TV. Belum pernah sebelumnya melihat Ayah mesra dengan ibu. Mereka tidak sadar bahwa aku telah masuk ke rumah, padahal suara pintu jelas terdengar dari engsel yang berkarat. Aku membiarkan mata ini menatap kemesraan ini. Bukan mereka yang menonton, tapi TV yang menonton mereka. Sang reporter yang berkoar-koar mengeluarkan berita politik, tapi tidak ada satu orang pun dalam rumah ini mendengarkan. Mereka berdua sedang sibuk menciptakan bahagia dari pada harus mendengar debat yang saling menyerang satu sama lain.

Tidak ada niat mengganggu mereka, dan aku langsung bergegas ke dapur. Memakan sate matang dengan perut lapar. Meneguk air guna membasahi tenggorokan. Dalam santapan, tangan kiri mengotak-atik ponsel. Satu persatu membalas pesan dari wanita yang kutemui di kedai sate matang tadi. Itulah kebiasaan buruk ketika makan.

"Udah pulang?"

"Iya Bu.. Nih, Agam bawa pulang sate Matang," kataku.

"Tadi... Agam—"

"Hehe.. iya Bu. Udah dulu ya, Bu. Agam mau ke belakang," kataku. Aku tau, beliau malu akan kemesraan dengan Ayah.

Ibu memanggil, "Agam... Tadi pagi, waktu Agam ke pantai. Cut datang ke rumah tanya Agam."

"Tanya apa Bu...?"

"Dia cari Agam. Kayaknya dia kesal, Agam gak ajak ke pantai," ujar Ibu.

"Ohh pantesan, sore-sore dia ngambek gitu," jawabku.

"Di kulkas ada kue dari Cut," kata Ibu sambil mengambil dua gelas air minum.

Ibu pun kembali ke ruang tengah. Aku yang sibuk mengobrak-abrik kulkas akan penasaran kue buatan wanita manis itu. Cupcake yang sedikit gosong. Tidak masalah bagiku. Menurutku, ini hal yang tidak sengaja. Sengaja atau tidak sengaja, aku tetap suka kue yang sedikit gosong. Selain karena menghargai, mungkin karena aku tidak terlalu suka manis.

Dengan membawa kue dan air minum, lalu aku kembali mengambil gitar. Tidak lupa aku memakai jaket untuk menghangatkan tubuh dari udara yang dingin. Sebelum memainkan beberapa melodi, aku ******* beberapa makan. Seperti apa yang aku bayangkan, kue dari Cut lolos sensor dari lidahku, mungkin tidak bagi lidah orang lain.

Setelah meneguk air putih, tangan sudah siap untuk memainkan gitar. Tapi seketika berhenti karena Cut menelepon.

"Assalamualaikum."

"Walaikumsalam.. Kok belum tidur?" tanyaku.

"Mana boleh tidur, kalau baru siap makan. Mau aku jadi gendut berperut?"

"Siapa yang peduli tentang fisik?" kataku. Dia hanya tersenyum. *Terdengar dari suaranya

"Kayaknya kamu lagi di luar."

"Iya.. Kedengaran suara anginnya, ya?"

"Iya.. sedikit. Aku video call ya?" Ia pun mengalihkan via suara menjadi video call. "Nahh sekarang udah nampak wajah," katanya dengan riang.

Aku menunjuk ke arahnya, "Haaaa? Mata ada belekan."

"Mana..?" Cut mengusap matanya.

"Bohong.." Aku menahan tawa.

"Apaan sihh... Kan malu kalau memang ada."

"Haahh.. biasa aja."

"Kamu di mana?"

"Belakang rumah."

"Kamu sendiri kok belum tidur. Emang besok gak kerja?"

"Kerja.. Tapi main gitar dulu. Lagian, belum ngantuk."

"Mau nyanyi lagu apa?"

"Gak tau, mungkin dangdut"

"Aku request kalau gitu..!!"

"Mau lagu apa?"

"Aku mau lagu Jikustik - Untuk Di Kenang"

"Ohhh... Oke." Lalu aku memainkan intro lagu tersebut.

"Kok beda, ini bukan musik lagu Untuk Di Kenang," ujarnya.

"Ini lagu yang sebenarnya."

Memainkan intro dari lagu itu. Lagu itu sebenarnya adalah dimainkan dengan di petik, bukan dikocok seperti pada lagu biasanya. Selain itu, aku memainkan musik lagi itu bukan dengan versi Pongki. Namun memainkannya dengan versi Endah N Rhesa, yaitu salah satu band indie tanah air. Liriknya yang puitis, siapa saja yang mendengar akan terlena dengan penyampaian dari lirik tersebut.

"Suara kamu kok gitu. Gak kayak biasanya," tanya Cut.

"Kenapa?"

"Suaranya kayak cewek. Geli dengarnya. Ulangi..!!"

"Karena penyanyi sebenarnya cewek."

Memang benar. Banyak yang mendengar lagu ini adalah suara laki-laki. Padahal yang sebenarnya lagu tersebut diisi oleh suara perempuan.

"Kira mau jadi banci. Hehehe..!" kata Cut tertawa.

"Kenapa emang kalau aku jadi banci?"

"Aku minta putus. Kan gak mungkin cewek suka cewek? Ulang..!"

"Hahahaha... Jadi takut."

Barisan puisi ini

Adalah yang aku punya

Mungkin akan kau lupakan

Atau untuk dikenang

Tulisan dariku ini

Mencoba mengabadikan

Yang mungkin 'kan kau lupakan

Atau untuk dikenang

Untuk dikenang

Seperti melihat biasan jingga di laut. Tenang bersama ombak yang bergulung ke pesisir. Menjelma di dalam raut wajahnya yang saat ini aku pandang. Matanya yang terpejam menikmati setiap nada, sedangkan mataku sibuk melahap potongan wajahnya. Apalagi suaranya yang serak basah ketika menyambut lirik, menjadi suatu ciri khas dalam dirinya.

Seperti kata orang, mendung belum tentu hujan. Hanya udara dingin yang terus-menerus bertahan di tiap jam. Tiada terasa waktu menunjukkan pukul 23:00 wib.

"Boleh tanya, gak?"

"Boleh."

"Kenapa kamu suka sama aku?" tanya Cut.

Aku pun tersenyum. Dan menjawab, "Itu bukan pertanyaan. Kalau suka bisa ke siapa saja."

"Berarti kamu suka ke semua perempuan, ya?"

"Ya ampun.. jelek banget pikirannya. Kayaknya kamu salah paham. Ckckckc..." jawabku sambil cekikian. "Kalau suka itu, hal yang biasa dan ke siapa saja. Yang jadi pertanyaan sebenarnya itu, kenapa baru sadar kalau kamu tuh suka sama aku?" tanyaku.

Dia berkata, "Aku juga gak tau pasti." Dan kami hening sejenak. "Mungkin dulu aku menemukan bahagia, tapi tidak menemukan nyaman. Setelah mendalami dan menelusuri maksud hati, ternyata bukan itu yang aku cari. Selama ini yang aku cari adalah yang aku mau, bukan yang aku butuh," kata Cut.

"Kebutuhan bahan pangan atau kebutuhan jiwa? Ngomongnya kayak pejabat aja."

"Iiss.. lagi ngomong serius juga," katanya dengan nada kesal.

"Iya.. iya.. maaf. Hehehe..."

Tidak ada yang lebih dari ini. Tertawa akan tingkahnya yang lucu seperti anak kecil sedang bercerita. Dia terlalu serius hampir dari semua hal. Dari itu, aku menyukainya karena hidup tidak selalu harus fokus.

Sudah terlalu malam untuk berada di luar. Aku pindah ke kamar agar bisa berbaring. Video call masih berlanjut. Aku pun menyalakan lampu. Lalu membenarkan posisi bantal untuk bersandar.

"Kuenya gimana, enak?"

"Sesuai selera."

"Kok sesuai selera? Itu kue agak gosong. Yang seharusnya manis, jadi pahit deh."

"Iya.. aku suka kue agak gosong, ada pahit-pahitnya gitu. Hiii..." jawabku cengir.

"Jadi curiga. Hmmm..."

"Apanya?"

"Kayaknya dulu kamu SPG dari produk minuman air mineral itu yah? Apa yah? Lupa namanya. Dengan slogan, "ada manis-manisnya"."

"Aku serius nih."

"Tadi aku serius, kamu bercanda."

"Hehehe... Jangan terlalu serius, nanti ngantuk. Sudah cukup dunia ini yang serius berotasi, kita jangan."

"Ketawa terus, nanti disangka orang gila."

"Biarin aja. Gila tapi bahagia, dari pada waras tapi tidak bahagia," jawabku spontan.

Kami terdiam seperti ada malaikat yang lewat. Entah apa yang kami lamunin. Entah apa yang kami bayangkan. Ini menyenangkan. Sementara aku membuka jendela agar asap rokok tidak mengendap di kamar.

"Hey..?"

"Iya..?"

"Aku kangen..."

"Emang kamu doank?" tanyaku.

"Terus, gimana ya?"

"Kalau tanya gimana, ya tidur."

"ISS INI ANAK GAK ADA UBAHNYA," teriak Cut kesal.

"Udah malam. Lagian kamu cewek. Mau jadi laki, begadang?"

"Entah, ya."

"Terus gimana?" Keningku berkerut.

"Aku gak mau tau. Kamu harus tanggung jawab, udah buat aku rindu..!!" Wajah Cut mulai cemberut.

"Udah kayak adegan film hamil di luar nikah aja."

"Iss tuh kan, mulai lagi. Rindu itu penyakit, harus diobati."

"Kalau memang kamu sakit, berarti kamu harus ke dokter."

"Ya kamu dokternya."

"Aku bukan dokter. Mana mungkin kan, dokter kerjaanya di pasar ikan?"

"Awas ya, kalau bertemu?"

"Emang kenapa?"

"Mau buat kamu rindu. Biar kamu tau gimana rasanya rindu."

"Tanpa kamu buat pun, sekarang aku lagi merasakannya kok..!"

Malam ini aku terlalu banyak membuat Cut kesal. Bukan kesal membuatnya sedih, tapi ia kesal karena senang. Tidak ada percakapan romantis seperti Romeo dan Juliet. Hanya ada percakapan seperti teman, namun menyenangkan seperti sepasang kekasih.

Hubung telah sah menjadi pacar. Entah kenapa ia semakin menggemaskan. Dalam pikiran yang sedang larut ini, sungguh aku ingin memeluknya seperti gitar yang dalam dekap. Bila gitar dipeluk dan dipetik untuk mengeluarkan nada. Aku ingin memeluknya dan mencolek hidungnya, dan ia berkata "Apaan sih sayang."

"Good night, sayang," kalimat terakhirnya sebelum menutup telepon. Aku belum bisa tidur, walau Cut memaksa. Layaknya tiket bioskop, mungkin Cut mengucapkan kalimat terakhir itu agar aku bisa bertemu dengannya.

Jari terus memaksa untuk memetik nada-nada gitar. Melodi gitar yang mengiringi perasaan ini, seakan aku adalah sang juara. Di bawah bintang yang bertabur, seakan aku merebahkan tubuh ini di lekuk bulan sabit.

Merebahkan tubuh di atas kasur, mungkin dapat sedikit meredakan bahagia yang keterlaluan. Menatap langit kamar yang kusam, tak terasa usia ini semakin berkurang. Entah bagaimana masa depanku nanti. Aku juga tidak tahu bagaimana akhir dari hubungan ini berakhir. Walau aku ingin berakhir bersamanya hingga usia ini kadaluwarsa.

Jika seandainya waktu tidak pernah berdetak, mungkin rasa ia tetap baik-baik saja. Wajar aku berkata seperti itu, mungkin aku belum siap untuk menghadapi kenyataan pahit. Dan lagi, aku tidak ingin kembali masa kelam itu terulang. Sebagai manusia, natural mencari rasa nyaman. Begitu juga dengan diriku, yang sudah larut dalam lautan bahagia ini.

Di sela-sela dalam khayalan, ponsel berbunyi. Itu membuyarkan semua hiasan langit.

"Udah tidur, Gam?"

"Belum. Ada apa?" tanyaku. Dari nadanya, aku sudah paham maksudnya, yaitu bahan blog. Atok suka memotret keindahan alam, terlebih tempat yang belum dijamah oleh manusia.

"Minggu ini kita ke bukit, ya? Aku butuh bahan blog nih."

"Lihat dululah," kataku sedikit ragu.

"Kenapa? Apa kendala?"

Aku pun menjawab, "Kayaknya keuangan lagi menipis."

"Memang begitu, mau boker aja bayar. Dan sekarang sudah berlaku, pacaran juga butuh biaya Hahaha..." Atok tertawa.

"Hahaha sial..." Aku tertawa mendengar sindiran itu. "Namanya saja untuk melihatnya tersenyum," kataku.

Lalu Atok berkata, "Alangkah lucunya dunia sekarang. Untuk merasakan bahagia, kita harus menukarnya dengan beberapa lembar uang."

"Ya seperti itulah. Mungkin kau juga pernah merasakan. Di mana kita akan merasa egois ketika berada di dalam lautan bahagia," tambahku.

"Iya benar.. Bahkan nyawa pun rela dilayangkan untuk seutas bahagia."

"Ya gitulah. Hahaha..." Kami tertawa.

"Kalau masalah itu, bagiku aman. Setidaknya rokok ada untuk dihisap nanti."

"Oke..."

"So.. aku ada niat untuk melanjutkan pendidikan, Adan juga."

"Udah dulu, ya aku mau tidur. Bye..?" aku menutup telepon. "Seandainya aku mampu," kata hatiku.

Sudah berapa kali Fadel mengajak hal itu, tapi aku selalu menutup telinga. Bila mendengar kalimat itu, hanya membuat diriku semakin membenci diri sendiri. Sudah cukup waktu itu persahabatan kami bertiga rusak hanya membahas tentang pendidikan. Aku tidak ingin terjadi lagi dan kehilangan orang-orang yang aku sayang. Dengan menutup telepon secara tiba-tiba, mudah-mudahan Fadel mengerti.

Kembali memandangi langit kamar yang kusam. Menghiraukan apa yang ditanyakan oleh Fadel. Tidak ingin menyelami lebih dalam, itu hanya membuat diri ini semakin buruk. Kembali ke permukaan untuk menghiraukan masalah itu.

Burung hantu bersuara, bertanda malam ini adalah miliknya. Tidak denganku, mata yang masih terbuka lebar, membuat diri ini geram pada diri sendiri. Entah apa yang ada dalam otak. Mencoba menyelami apa yang membuat insomnia. Percuma, tidak ada hasil.

Kembali menelusuri apa yang telah terjadi dengan membuka hasil jepretan pantai saat pagi buta di dalam ponsel. Kepiting laut berlarian setiap ombak bergulung surut. Terlihat sosok dengan wajah berlumuran pasir, yang baru saja jatuh akibat tersandung kakinya sendiri. Mereka berdua khawatir karena tersandung kaki. Tidak membalasnya dengan nada marah, aku juga tertawa, mereka telah mengkhawatirkan aku yang masih dianggap anak kecil.

Mengusap setiap file. Kami ber-empat tidak pernah merasa dirinya telah berjenggot ataupun berkumis, tidak pernah sadar kalau kami telah menyukai lawan jenis. Kami masih merasa diri sebagai anak kecil yang beriang hebat bertemu pasir dan ombak. Yang masih tercengang bila melihat samudra yang tidak bertepi. Sampai-sampai, entah apa jadinya bila kita berhenti di persimpangan dan melangkah menjadi dewasa.

* "Aku yakin, nanti yang duluan nikah adalah Adan," kata Atok yang menyangkut rokok di bibirnya.

* "Gak mungkin, Tok!" kataku.

* "Gimana, gak? Dia banyak pilihan dibanding kita. Lagian cewek yang deket sama dia juga banyak" Atok tersenyum licik.

* "Lahh.. kau apa kurang. Kau aja yang sok jual mahal, Orang Tua..!" balas Adan pada Fadel.

* "Owalah... Gak jelas si kawan. Udah tua sok jual mahal lagi."

* "Bukan sok jual mahal, Beko. Tapi belum ada yang pas," jawab Fadel.

* "Sebenarnya bukan gak ada yang pas. Tapi, kau aja yang berharap sesuatu yang sama," jelas Adan.

* "Intinya belum bisa move on. Hahahahaha..." Aku tertawa yang dan diikuti oleh yang lain.

* "Atok, kau itu terlalu egois. Menyimpan suatu hal yang seharusnya itu harus dibuang," kata si Beko.

* "Kalian tau bukan, egois itu sifat alami manusia. Yang sudah ada dari dalam kandungan," kata Fadel kembali menyeruput kopi.

* "Tapi gak masalah kalau manusia semua egois. Dengan begitu kita tetap menjadi anak kecil," tambahku.

* "Terus kalau kita menjadi anak kecil, siapa yang dewasa..?" tanya Atok.

* "Kalau menjadi anak kecil terus, siapa yang mau dengan kita?" kata Adan.

* "Ah malas... Siapa yang peduli? Yang penting kita terus ber-empat," kataku.

Itu salah satu memori yang sempat terekam dalam gawai. Saat itu langit begitu indah. Sedikit kemerahan di sudut cakrawala. Seolah-olah dunia berjalan sedikit lebih lambat. Saat itu kami telah mengerti tujuan hidup. Di saat itu pula, kami telah mengerti impian kami. Bahwa hidup tidak hanya sampai di sini. Lagi-lagi file itu mengingatkan aku pada Amad. Dan pernah berkata saat itu, "Kita tidak akan pernah kalah. Jika pun di ambang lelah, kita akan menemukan celah. Aku tidak peduli orang yang menghalangi mimpiku... Yang aku percaya, hidup ini tidak sependek kont*l."

Tidak sanggup membayangkan bila itu benar-benar terjadi. Di bawah cahaya bulan yang masuk melalui jendela, itu mustahil terjadi untuk kami. Antara rasa dan ambisi, kali ini hati sungguh buta nan tersesat. Hilangnya keutamaan di persimpangan pilihan.

Tanpa rasa peduli, aku terus mengusap gawai. Kembali menampilkan foto kami ber-empat. Fadel yang sedang memanggang udang dan kepiting, sedangkan aku dan Adan sedang mempersiapkan kopi dan piring.

* "Apa pun ceritanya, yang duluan dewasa nanti adalah Agam," kata Fadel.

* Aku pun merasa aneh dengan kalimat Atok. "Bagimu dewasa itu, apa sih?" tanyaku.

* Si Beko menjawab, "Dewasa itu ketika kita melepas masa lajang."

* "Bukan, tapi Adan Dia kan banyak ceweknya, jadi banyak pilihan," kataku.

* "Adan? Bagiku enggak. Seseorang kayak Adan itu sulit dapat pasangan hidup," jawab Atok. "Ketika manusia semakin berpengalaman dalam hidup, ia semakin hati-hati agar tidak jatuh di lubang yang sama," kata Atok. Ia pun melepaskan gerombolan asap.

* "Kamu ngomong apa?" kataku. Atok sedang mengangkat udang yang sudah matang.

* "Adan itu pasti dia sudah banyak kenal cewek. Dan setiap cewek memiliki kurang lebih masing-masing," kata Beko yang sedang menata makanan di atas daun pisang. Beko berkata, "Pada hakikatnya manusia mencari yang sempurna. Dengan begitu manusia terus mencari apa yang sempurna menurutnya. Dan itu butuh waktu yang panjang."

* "Aku gak ngerti..! Hehehe," jawabku yang memiliki otak pendek.

* "Tokok pakai ini mau?" kata Fadel dengan keras dan terlihat gigi taring yang siap menerkam. Lalu ia mengejarku memakai ranting pohon. Sedangkan Adan dan Beko yang sibuk dengan kerjaannya, hanya tertawa dengan tingkah kami berdua.

Malam terus berjalan. Seorang insomnia sedang tergeletak di bawah langit kamar kusam. Dan menghadap dirinya pada sang bulan terang pada malam ini. Tidak ada yang terbenak dalam diri manusia bila di persimpangan jalan. Hanya ada pilihan keputusasaan dan menyesal.

Terus mengusap gawai di tengah gelap malam. Mengisi jiwa yang ragu mengenai impian. Jiwa yang mulai disudutkan oleh dunia, seakan-akan raga terasa sesak dengan sendirinya. Tidak ada perlawanan atau melawan. Jika berdiam hanya akan membuat diri menyesal. Melangkah akan mengorbankan sesuatu yang berharga. Bahkan manusia sekali pun akan menjadi gila. Ini menjadi pilihan yang sulit bagi manusia biasa sepertiku.

Sampailah pada sebuah foto setelah sekian mengusap layar kaca. Itu kali pertama aku berfoto selfie dengan Cut. Aku yang sedang memegang gitar dengan senyum malu-malu. Sedangkan Cut tertawa melihat reaksiku yang merangkul bahuku dalam dekapnya. Kemudian, aku membuka sebuah video yang sempat terekam saat itu.

* "Udah cukuplah fotonya."

* "Gak ada yang bagus," kata Cut yang sedang melihat hasil foto.

* "Berapa lembar lagi," kataku dengan tingkah semakin risih.

* "Sampai kamu senyum dengan lepas. Gak gugup lagi," kata Cut tersenyum ke arahku.

* "Udahlah, aku gak tahan."

* Cut berkata, "Aku baru tau, kalau kamu gak suka foto."

* Aku menjawab, "Kalau sudah tau jangan lakukan lagi. Udah ah..!" Aku pun hengkang dari posisiku ke bibir pantai.

* "Pantesan di instagram sedikit sekali foto kamu, cuma banyak foto pohon dan matahari terbenam," kata Cut dengan tersenyum.

* Aku berdiri mengarah ke bibir pantai yang masih menggenggam ponsel. Dan berkata, "Untuk apa foto bareng, bila akhirnya berdebu dalam ingatan."

* "Udah cepat foto, jangan banyak berkata puitis." Cut pun menarik tanganku. Dan aku menghindar. "Kalau memang berakhir dalam ingatan, setidaknya kita pernah mencoba untuk selamanya," tambahnya seraya menahan lelah mengejarku. Aku terdiam dan hening, otak membenarkan apa yang dikatakannya.

* "Cukup sekali, oke?" kataku. Tiba-tiba rasa gugup dan risih hilang begitu saja. Cut menarik tanganku yang disangkut pada pinggangnya. Lengan kirinya ia gantung di bahu kiriku dengan sedikit menopang kepalanya di bahu kananku. Dan menurut Cut hasil fotonya maksimal, tanpa ada lagi senyum terpaksa di dalamnya.

* Ada satu hingga 3 lembar yang diambil. Dan terakhir adalah hasil yang maksimal. "Suara jantung kamu, terasa banget di telinga" kata Cut setelah mengambil foto.

* "Gak ada ah," kataku dengan berbohong dan memalingkan wajah. "Suara jantung kamu kali..?" Aku mengalihkan pembicaraan.

* Cut berkata, "Kalau jantung aku, memang iya sih. Suara jantung aku cuma cepat. Tapi aku mendengar suara jantung yang bukan punya aku, yang sudah cepat tapi besar lagi suaranya. Hayooo ngaku...?" Dia menatap sinis.

* "Mungkin suara ginjal aku yang kamu dengar," godaku.

* "Mana ada dalam sejarah ginjal itu berdetak," kata Cut bernada geram.

* "Hehehe..." Aku hanya bisa cengir dari perkataannya.

* "Sini..!" Cut menariku, aku hanya bisa pasrah melihat ekspersinya yang begitu seram. Ia tempelkan telinganya di dadaku. "Coba-coba berbohong, ya?" tegasnya. Aku hanya membalasnya dengan ketawa.

* "Cut.. bagaimana aku harus jujur. Sedangkan kamu masih miliknya," kata hatiku saat itu.

Hanya senyum setelah melihat foto tersebut. Melihat foto tersebut, kini tidak ada yang perlu ditutup-tutup lagi. Rasa ini adalah rasanya. Sekarang aku sudah bisa mengungkap perasaan ini dengan mudah tanpa ada yang menghalangi seperti dulu. Bahkan aku bisa mengatakan rindu padanya tanpa harus menahan-nahan, atau kalimat i love you juga tidak mustahil lagi untukku ucapkan di hadapannya.

Teka-teki dunia masih belum terpecahkan. Suatu keyakinan kalau dunia memiliki titik kejayaan yang belum ditemukan. Bumi memang berputar, tapi tidak tau bumi berjalan ke arah mana. Dari kisah yang aku jalani saat ini, entah menuju kejayaan atau mala petaka.

Tidak mengapa jika terus  berada dalam dunia mimpi. Karena dalam dalam dunia mimpi tidak perlu berharap. Tidak seperti dalam dunia nyata lebih dekat dengan rasa kecewa. Pada kenyataannya tubuh mengambang ketika menghabiskan usia yang telah ditentukan.

Jika saja konspirasi mimpi terjadi dalam dunia sadar, mungkin rasa harap tidak ada lagi dan mungkin jauh dari rasa kecewa. Dan teruntuk mimpi-mimpi yang belum juga terjawab, tidak perlu lagi salah melangkah.

Mata yang masih lahap menelan cahaya gawai. Tidak ada lagi rasa cemburu melihat warganet dengan kemesraannya, termasuk di antaranya adalah  teman-teman yang kukenal. Di antara yang feed yang terlihat; ada yang memasang wajah jelek, ada yang saling menatap, dan ada juga yang saling berpaling namun saling menggenggam tangan. Dan itu terlihat mesra untuk sepasang kekasih.

Terlintas foto Nisa dengan mantan teman. Berlagak foto bagai sepasang suami istri yang sedang merayakan ulang tahun pernikahan. Mata yang seharusnya layu, kembali melek. Melihat setiap foto itu dengan detail, yang padahal foto tersebut biasa-biasa saja (tidak terlihat seperti foto sepasang kekasih yang mesra). Melihat itu, aku hanya tersenyum. Aku juga merasa senang melihatnya telah bahagia.

Merasa bahagia dengan bibir sedikit tersenyum. Namun setelah menelusuri, ada setitik rasa sakit setelah melihat foto itu. Entah mengapa, aku juga tidak mengerti apa yang terjadi. Apakah hanya semua manusia seperti ini?

Ternyata masih ada sedikit kerisihan yang tersisa. Lalu, mengusap gawai untuk melihat konten yang mungkin bisa mengantarkan tidur. Menyebalkan....

Mata semakin sayu dan layu. Tampilan gawai semakin buram. Terakhir mata terpejam menuju alam mimpi. Bersiap memasuki dimensi di mana semua jiwa akan bersenang-senang di sana.

 

'Di bawah rembulan yang benderang. Ada sebuah cita yang aku titipkan pada angin malam. Ada sepucuk rindu yang terselip di sudut malam. Dan ada juga seutas harap yang digantung pada setiap bintang. Sebagai manusia biasa-biasa saja, hanya bisa berharap dan terus melangkah'

1
Author SUPERSTAR
Tnp mengurangi rasa hormat, kalau boleh sy kasih saran jgn terlalu panjang satu babnya. Lebih baik dibuat jd beberapa bab. Semangat trs thor
Author SUPERSTAR: 💪💪💪💪💪
total 3 replies
zahwa maysura
💓
Nanda Madridista
pengen ngajak si Agam ngopi...
Sambil Menertawakan Diri Sendiri Karna Manusia Terlalu Waras Menjalankan Hidup..

Wahahahahaha
capèk: Ah siap Boss ku. sabar aja yg kedua.
total 1 replies
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🎋AniN🩷❀∂я
semangat up Thor....
Aris
gak tau bilang. Pokok nya gak mau nangis
capèk
Gimana enggak. Naskahnya dari 2018 😔
capèk
karna buaya sesungguhnya itu laki2. meski ada jenis betina
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🎋AniN🩷❀∂я
baru ini baca cerita yg panjaaaaangg beud... but i like it...

next up thor
capèk
makasih buggy
Wiselovehope🌻 IG@wiselovehope
up kk, menarik ❤️😘❤️😘❤️👍
capèk
ku menangisss....
Vieneze
Bahasanya puitis banget y.
Vieneze
semangat selalu Thor.
RN
keren 2 jempol buat mu😍
intip playboy mengejar cinta❤😘 yuk
Nndya_kun
saoloh kak,aku baru baca...dan tulisannya tu puitis bgt,kek nyesek aja dihatieeee...uhuk..(batuk gw sorry)
dah lah,gw paporit in dlu ye,mksih dah bikin cerita ini,kek sedikit melambangkan tentang jiwaku,huaaaa😭😭😭,sayangnya gw cewek 😭
Wiselovehope🌻 IG@wiselovehope
💯💯💯😘❤️👍
Wiselovehope🌻 IG@wiselovehope
👍🙏💯❤️ paket komplit! ada lucu ada puitis 😘😘😘
Wiselovehope🌻 IG@wiselovehope
Aku jarang nemu yang seperti kisah kk ini, good job ❤️💯🙏👍
Wiselovehope🌻 IG@wiselovehope
👍😘🙏💯❤️
Wiselovehope🌻 IG@wiselovehope
aku suka semua quote kk 😘😘👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!