Mika pikir ini adalah akhir hidupnya. Gelap dan dinginnya musim dingin tak lagi membuatnya takut. Bahkan tubuh yang mulai kaku atau dada yang sesak tak lagi menyakitkan.
Selama hidupnya, Mika selalu patuh pada kedua orang tuanya. Bahkan memanjakan adik tirinya. Tak pernah ada keraguan pada diri Mika atas setiap kata perintah untuknya. Tanpa sadar Mika sedikit demi sedikit masuk ke dalam jurang kehancuran. Karirnya di industri hiburan semakin meredup dengan banyaknya rumor jelek tentangnya. Kehancuran suaminya juga disebabkan olehnya mengakibatkan banyak bencana bagi semua orang. Saat sudah pada ujung nafasnya bahkan Mika tak melihat satu orangpun datang menyelamatkannya. Membuatnya menutup mata dengan banyak beban yang tersisa.
Namun saat matanya terbuka lagi, Mika tertegun sesaat. Ruangan tempatnya berada dihias begitu indah. Begitu pula dirinya yang sedang mengenakan gaun mewah yang bagus. Saat itu Mika tersadar dirinya kembali ke tujuh tahun lalu, ke hari ketika dia menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elmanuradha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MIYB 14
Meskipun semalam sudah meminum obat. Tapi, begitu bangun pagi ini demam tetap Mika rasakan.
Pagi ini saat Bintang ingin membangunkan Mika. Dia malah mendapati sang aktris yang tergulung di dalam selimut seperti kepompong.
"Kak Bintang ..."
Wajah Mika terlihat memerah di balik selimut. Hidungnya tersumbat, membuatnya beberapa kali menarik nafas dengan kasar.
"Haduh beneran kan yang aku bilang. Cepat ganti baju. Kita izin dulu buat periksa ke dokter," keluh Bintang sambil membantu Mika bangun dari tempat tidur.
Begitu mendapat izin, bintang membawa Mika ke rumah sakit terdekat untuk diperiksa. Setelah mendapatkan obat mereka langsung kembali ke hotel. Tentu Mika masih belum bisa mengambil adegan apapun dari pagi hingga sore.
Mika yang sakit dan karena efek obat bahkan tak bangun dari tempat tidur sejak kembali dari pemeriksaan. Bintang tentu saja harus melayani sang aktris untuk mengambilkan makan atau obat.
Di malam hari demam Mika sudah turun. hanya saja dia belum bisa melanjutkan syuting karena kondisinya yang lemah dan pusing.
"Ponselku mana, Kak?"
Bintang yang sedang membereskan bekas makan malam Mika menjawab tanpa menatap Mika sedikitpun. "Buat apa? Jangan main ponsel nanti makin pusing."
Mika menarik nafas kasar karena hidungnya yang masih tersumbat. "Lihat bentar aja, Kak."
"Mau ngapain sih? Biasa juga gak pernah cariin ponsel. Udah kamu tidur aja," Bintang keluar kamar tanpa memberikan ponsel Mika. Mika yang tidak tahu dimana ponselnya juga malas untuk mencari karena badannya yang terasa sakit. Memilih kembali tidur setelah duduk untuk beberapa saat.
Bintang sudah menjadi manager Mika sejak awal Mika debut. Jadi, bintang tahu seperti apa Mika luar dalam. Begitu juga tentang hubungannya dengan Shella yang merupakan saudara tiri.
Semua orang tahu jika Shella dan Mika adalah kakak adik yang saling menyayangi walaupun saudara tiri. Tapi, Bintang secara tak sengaja menyadari jika Shella tidak menyayangi Mika seperti Mika menyayangi adik tirinya itu. Walau begitu, bintang tak pernah berkomentar apapun tentang persaudaraan mereka berdua.
Bintang juga tahu secara kasar jika Mika jarang berhubungan dengan orang tuanya, begitu juga sebaliknya. Bintang beberapa kali datang ke rumah Mika di awal-awal karirnya. Menurut Bintang, orang tua Mika seperti tak mendukung Mika menjadi aktris tapi juga tak menentangnya.
Selain itu, saat mereka syuting di luar kota tak pernah sekalipun Mika memberi kabar pada orang tuanya. Begitu juga sebaliknya, orang tua Mika tak pernah menanyakan kabarnya. Hanya sesekali Mika bertukar pesan dengan Shella.
Itu sebabnya saat Mika sakit sekarang, bintang tak ragu menyita ponsel sang aktris karena dia berpikir tak ada yang harus dihubungi atau menghubungi Mika.
Sayangnya tak seperti Mika dan Bintang yang tenang di hotel. Gavin di rumah merasa tertekan sejak semalam.
Semalam Gavin tidur dengan tak bahagia karena Mika tak menghubunginya sama sekali. Walau begitu Gavin hanya berpikir jika maka mungkin terlalu lelah dan langsung tertidur.
Sehingga begitu bangun tidur dan mengecek ponselnya Gavin masih tak mendapatkan kabar apapun dari istrinya. Di kantor suasana hati Gavin bahkan lebih suram. Membuat semua orang yang masuk ke dalam ruangannya ikut merasa tertekan dan ketakutan.
Walau tak mendapat kabar apapun dari Mika, Gavin tetap diam tak mengirim pesan atau menghubungi sang istri. Alasannya takut istrinya merasa terganggu tapi diamnya malah membuat dirinya semakin tertekan.
"Kak Mika sudah sehat?"
Begitu mendekati kru, Mika berpapasan dengan Aurel. Mika hanya tersenyum dan mengangguk singkat.
Tapi, Aurel malah berjalan beriringan dengan Mika. Meminta maaf tentang kejadian di adegan sebelumnya karena sampai membuat Mika sakit.
"Maaf ya gara-gara aku Kak Mika sakit kemarin."
"Kesalahan kayak gini udah biasa terjadi sama aktris baru debut." Celetuk Bintang menyela pembicaraan mereka.
"Aku gak maksud gitu. Maaf, Kak."
"Ya, gak papa. Kamu lebih baik belajar lagi," balas Mika meninggalkan Aurel.
Kedua tangan Aurel mengepal keras. Dia tidak bodoh, dia paham dengan ucapan Bintang dan Mika.
Secara tak langsung keduanya menyindir Aurel yang merupakan aktris baru dan belum memiliki keprofesionalan. Tapi sudah bisa mendapatkan peran utama sebuah film.
Mika yang baru saja sembuh dari demam gak bisa banyak mengambil adegan. di sela-sela satu adegan dengan adegan lain, Mika akan mengambil jeda untuk istirahat lebih lama dari biasanya.
"Kak Bin, ponselku dong." Sejak kemarin Mika belum melihat ponselnya sekalipun. Pagi ini dia sudah meminta ponselnya pada bintang beberapa kali tapi tak digubris Bintang sama sekali.
Tanpa menjawab Mika, Bintang berjalan menjauh dari posisi Mika entah kemana. Membuat Mika haya bisa menghela nafas panjang karena belum bisa menghubungi suaminya.
Alasan Bintang sendiri tak mau memberikan ponsel Mika adalah Mika masih terlihat pucat. Pagi ini walau demamnya sudah turun tapi sesekali Mika masih mengeluh pusing atau perlu beberapa saat akan berjalan atau berdiri.
Mika hanya mampu pasrah dan menggerutu kesal karena tak bisa mendapatkan ponselnya.
Tapi Gavin di sisi lain hanya bisa melampiaskan rasa frustasinya pada pekerjaan di hadapannya.
"Mas Dika, Pak Gavin ada di ruangan?"
Dika menghentikan pekerjaannya. Lalu menatap pegawai perempuan di depan mejanya. Dika adalah salah satu dari tiga sekertaris yang bekerja bersama Gavin. Dari dua orang lainnya, Dika adalah sekertaris yang terlama walau bukan yang pertama bekerja dengan Gavin.
"Ada. Kenapa?"
"Ada tamu gak?" tanya Kia, pegawai perempuan tersebut. Dika menggeleng pelan lalu kembali bertanya maksud dan tujuan Kia menemui Gavin.
"Mau anter laporan." Tanpa menunggu persetujuan Dika, Kia melangkah masuk ke ruangan Gavin dengan cepat.
Dika yang ingin menahan Kia menghentikan langkahnya, enggan mengejar masuk ke ruangan. Lalu kembali ke kursinya dan menunggu instruksi dari Gavin bila ada sesuatu.
Sebagai sekertaris yang paling lama berkerja dengan Gavin, bisa dibilang Dika adalah orang yang paling mengenal Gavin. Jika Mino adalah orang kepercayaan Gavin di luar perusahaan maka Dika adalah orang terpercaya di perusahaan.
Sebagai orang kepercayaan, Dika juga tau tentang situasi pernikahan Gavin dan Mika. Bahkan beberapa kali melihat Mika setelah pernikahan keduanya, tentu saja di luar jam kerja. Karena Mika sendiri belum pernah datang ke perusahaan sekalipun.
Selain itu, Dika juga tahu situasi para karyawan perempuan di perusahaan mereka yang ingin merayu Gavin. Walau kondisi Gavin cacat dan harus duduk di kursi roda tak menyurutkan usahakan para perempuan-perempuan itu untuk mengambil hati Gavin.
Beberapa perempuan tersebut datang ke kantor Gavin dengan tujuan urusan pekerjaan seperti meminta tanda tangan atau menyerahkan laporan dari divisi mereka. Tapi semua itu hanyalah alasan saja. Tujuan utama tentu mencari perhatian di depan Gavin.
Seperti sebelumnya Dika hanya membiarkan saja. Lagipula mereka datang dengan membawa pekerjaan sebagai tameng. Jadi Dika tak pernah secara terang-terangan melarang mereka untuk menemui Gavin.
Mungkin jika perempuan-perempuan itu melakukan sesuatu hal lain di luar pekerjaan, Gavin akan memanggil Dika Untu membawa mereka keluar dari ruangannya.
"Dika masuk ke ruangan saya."
Suara tegas Gavin terdengar dari interkom di meja Dika. Segera Dika masuk ke ruangan tanpa mengucapkan apapun.
"Kamu bawa makan siang ini. Terserah kamu makan atau buang saya gak peduli." Gavin mengucapkan dengan nada datar dan tak menunjukkan emosi apapun.
"Kamu juga keluar dari sini," Gavin lalu menatap karyawan perempuan di depannya dengan ekspresi yang sama.
Tanpa menghiraukan dua orang tersebut, Gavin kembali fokus pada pekerjaannya. Lalu Dika yang juga tak mau membuat sang atasan marah segera membawa kotak makan yang ia duga disiapkan Kia keluar dari sana
Kia yang melihat makan siang yang ia siapkan untuk Gavin dibawa keluar menunjukan ekspresi cemberut. Dengan langkah berat dia keluar ruangan Gavin lalu merebut kotak makan dari tangan Dika.
Dika juga tak peduli saat kotak makan di tangannya direbut. Dia sendiri hanya menghela nafas lega. Untungnya Gavin tak memarahinya karena hal ini. Padahal sejak pagi Gavin seperti menahan emosi yak tak bisa dijelaskan dan mengeluarkan aura yang tak bisa didekati.
Entah apa yang terjadi. Tapi Dika dengan sadar menghindari menyinggung Gavin agar tak menimbulkan masalah bagi dirinya sendiri.
lhoo wis bisa jalan
ternyata malah sdh hamil si mika... gak di ekspose ternyata ya wik wik nya
semoga mau terapi ya pak gavin..biar gak merasa gak berguna krn gak bisa melindungi istri tercinta