Sinta gadis berusia 18 tahun, dia baru saja masuk ke perguruan tinggi tahun ini, dia harus dihadapkan pada cinta yang rumit karena dia menyukai dua pria sekaligus dalam hidupnya, dia bernama Arlan dan juga Jayden, dan sayang nya dia tidak ingin menjadi istri seorang polisi, tapi dia begitu menyayangi Arlan yang seorang polisi, lalu bagaimana akhirnya Sinta akan memilih? Jay atau Arlan? atau dia akan berusaha untuk bisa bersama Arlan, walaupun dia seorang polisi?? yuk ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wachid Tiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
My secret lover 14
...
"Sudah sampai pak polisi, silahkan anda turun" ucap Sinta lagi karena Arlan tidak kunjung turun.
"Makasih Sin, jawab Arlan sembari membuka seat beltnya, namun terasa begitu sulit.
"Itu agak macet Lan, sini biar aku bantu"
Sinta mendekat ke arah Arlan untuk membantu Arlan melepaskan seat beltnya, wajah mereka berdua begitu dekat, bahkan sangat dekat, Arlan menahan dirinya untuk tidak menyambar bibir Sinta yang terlihat begitu menggodanya.
"Sudah Lan" ucap Sinta mengagetkan Arlan dari pemikirannya.
"Thanks Sin" ucap Arlan lagi, namun tiba-tiba tangannya terasa begitu kaku dan sakit, Arlan memegangi lengannya yang terluka untuk meredam rasa sakitnya.
"Lan kamu kenapa?" Tanya Sinta khawatir, karena Arlan terlihat begitu pucat.
"Enggak apa-apa Sin, cuman agak sedikit kaku karena mungkin tadi kehujanan." jawab Arlan yang tidak ingin Sinta khawatir.
"Tunggu Lan..." Sinta keluar dari mobilnya dan membantu Arlan memegangi tangannya sampai masuk kedalam rumah.
"Lan, perban nya basah, biar aku ganti ya?" Tanya Sinta yang melihat perban di lengan Arlan sudah basah.
"Enggak apa-apa Sinta, biar aku ganti nanti aja, udah malem nanti kamu pulangnya kemalaman" ujar Arlan.
"Enggak apa-apa, aku gantiin perban kamu abis itu aku pulang, kan gantiin perban doang enggak bakalan lama Lan" tolak Sinta pada Arlan yang memintanya untuk pulang.
Sinta mengikuti Arlan masuk kedalam rumahnya dan cepat mengambil kotak P3K yang terletak tidak jauh dari tempatnya.
Sinta langsung membuka perban basah Arlan dengan perlahan dan membersihkannya kembali dengan cairan alkohol, setelahnya dia kembali melilitkan kain kasa yang di beri tetesan Betadine untuk menutupi lukanya dan terakhir memasang kan plester penutup pada kain kasa yang sudah menutupi luka itu
"Udah lan, sekarang jangan sampai kena air dulu ya" Sinta juga mengingatkan pada Arlan agar dia menjaga kebersihan lukanya agar tidak infeksi dan supaya cepat sembuh
"Iya, thanks ya, kalau gitu aku ambilin minuman hangat dulu ya buat kamu" kata Arlan yang melihat Sinta seperti masih kedinginan.
"Enggak perlu Lan, lagian tangan kamu kan sakit" tolak Sinta, karena dia merasa sudah sangat lelah dan mengantuk.
"Enggak apa-apa, bentar doang kok, kamu tunggu disini sebentar." Arlan berdiri dan berjalan menuju ke dapur untuk membuat minuman hangat.
Sinta merasa begitu mengantuk, dia merebahkan dirinya di sofa empuk di depan tv dan mulai memejamkan matanya yang terasa kian berat dan mulai mengembara ke alam mimpinya.
Setelah beberapa saat, Arlan kembali dengan teh manis hangat di tangannya, namun dia tersenyum saat melihat Sinta telah tertidur dengan pulas.
"Tidurmu mirip kucing kecil yang sedang meringkuk..." Arlan meletakkan nampan berisi teh manis hangat dan bergerak mendekati Sinta yang terbaring meringkuk, kemudian dia mengangkatnya dan membawanya ke kamar terdekat, walaupun tangannya masih terasa sakit, Arlan berusaha untuk menahannya.
Arlan meletakkan tubuh Sinta dengan hati-hati kemudian menyelimutinya.
"Baju kamu basah. Apa perlu aku menggantinya? Apa kamu tidak akan marah? pasti tidak kan?" tanya Arlan pada Sinta yang sudah terlelap.
Lagi-lagi dengan nekad Arlan menggantikan pakaian Sinta dengan pakainya.
"selesai juga! Selamat tidur teman ku..." Arlan mengecup kening Sinta kemudian berganti mengecup pipi Sinta dengan lembut dan lumayan lama.
Arlan melepaskan ciumannya dan menatap wajah cantik Sinta yang masih terlelap dalam tidurnya, Arlan kembali mendekatkan wajahnya untuk kembali mencium bibir Sinta, namun dia menahannya, Arlan menghembuskan nafasnya yang mulai terasa berat.
"Jika kamu tahu pasti kamu akan mengumpat padaku." ucap Arlan dengan terus menatap wajah cantik Sinta yang tertidur dengan lelapnya.
Kemudian Arlan ikut membaringkan tubuhnya di sebelah tubuh Sinta, dia juga ikut masuk kedalam selimut yang menutupi tubuh Sinta dan mendekap erat tubuh sinta yang ada di sampingnya untuk segera menyusul Sinta menuju alam mimpi yang indah bersama dengan Sinta.
.
Paginya...
"Arlan...?!" Sinta menutupi mulutnya agar tidak berteriak disana, saat melihat dirinya dalam dekapan hangat dari Arlan
"Beneran aja semalam tidurku nyenyak banget, ada yang meluk sih" Sinta bergumam, dia mencari ponselnya dan langsung bergegas pergi dari sana ketika mengingat ponselnya berada di dalam mobil
Sinta berjalan cepat menuju ke depan rumah Arlan, dia melihat mobilnya terparkir di sana, Sinta segera membuka pintu mobilnya dan mencari ponselnya di tasnya
"Astaga...!!! 100 panggilan tak terjawab dan 120 pesan chat dari Jayden, ya ampun, mau alasan apa gue sama dia? Masa iya gue bilang abis tidur sama Arlan?? Enggak mungkin kan?" Sinta mengusap wajahnya dengan kasar, dia bingung harus bagaimana.
"Ah bodo amat, yang penting sekarang pulang dulu...!!" gerutu Sinta pada dirinya sendiri.
Sinta memasuki mobilnya dan segera melaju dengan cepat menuju ke rumahnya, tanpa memperdulikan Arlan yang akan mencarinya nanti.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 menit, Sinta sampai di rumahnya, dia melihat mobil Jayden terparkir di sana.
"Berarti Jayden di dalam dong?" Aduuh gimana dong?" Sinta merasa takut untuk masuk kedalam rumahnya sendiri.
"Ya udah deh, kalau emang Jayden marah itu emang salah aku, aku bakalan terima semua konsekuensinya." dengan mantap Sinta memasuki rumahnya, belum juga Sinta memegang kenop pintu rumahnya, pintu sudah terbuka dan terlihat Jayden lah yang membukanya.
"Jay.... Aku...."
--------
Like dulu ya 😘
gak bertele-tele,,,
bener" memabukkan..
wkwkwk
rebutin wanita tidak berantem