Andrea Meyla anak tunggal dari Anadiya dan Akbar.
Cantik, bermata hitam, Rambut panjang sedikit bergelombang, meskipun tingginya kurang dari 150cm, hehe
Dia suka tidur, membaca, ngemil, memasak, mojok di perpustakaan, dan berenang. Dia paling mahir gaya batu! hehe.
Bilang saja suka berendam tapi tidak bisa berenang.
Dia akrab dipanggil Rere, gadis yang ceria, mudah bergaul dengan siapapun.
Punya hobi lain yang gak banyak orang tau, hobi memanah dan menembak.
Tinggal bersama Rita dan Daniel, mereka adalah Oma dan opanya. Namun tidak lama, Daniel meninggal dunia karena serangan jantung.
Andrea tidak pernah menggubris kedua orang tuanya yang sudah lama berpisah alias cerai.
Rere sangat menginginkan sebuah keluarga lengkap nan bahagia sudah sirna sejak dia duduk dibangku menengah pertama. Gadis itu tidak pernah ikut campur urusan rumah tangga ayah dan bundanya lagi setelah berpisah.
Meskipun tidak ada KDRT, tak ada pedang hanya bermodalkan mulut perang pun jadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladysti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fakta Oma
...🌼 Putih Abu-Abu 🌼...
_Di Rumah Andrea_
"Re.. Oma mau bicara sama kamu bentar aja. Sini sayang," panggil Rita kepada cucunya yang sedang menuruni anak tangga.
"Kenapa Oma?"
"Oma kok sedih gitu?"
"Apa Oma ga enak badan?" tanya Rere beruntun.
"Satu-satu dong sayang kalo tanya," ucap Rita sembari mencubit hidung mancung milik cucunya. Rere hanya nyengir kuda.
"Saudara Oma yang tinggal Amerika pindah di Singapura, semuanya ikut Opa Johan. Kabarnya sih terjadi sesuatu," terang Rita.
Rere masih menyimak Omanya bercerita.
"Oma akan dijemput besok, mungkin nginep dulu di sini. Oma sebenarnya berat mau ninggalin kamu. Tujuan Oma ngobrol sama kamu..." jelas Rita lagi, namun kata-katanya terhenti.
"Kenapa Oma?" Rere bingung dan penasaran jadi satu.
"Bagaimana kalau kamu pindah ke Singapura sama Oma?" Jelas Rita kemudian.
"Kok tiba-tiba sih Oma. Kenapa Oma harus kesana?" Rere mulai tadi penasaran tapi Omanya tak kunjung menjawab rasa penasarannya.
"Hiks..hiks.."Rita tiba-tiba menitihkan air mata kemudian memeluk tubuh sang cucu, buat perasaan Rere semakin tidak enak saja.
"Oma, Oma kok nangis. Ada apa ini sebenarnya?" gadis itu mulai khawatir. Rita terus saja menangis di pelukan sang cucu tanpa mengatakan hal yang sebenarnya.
'Oma kenapa sih, kemarin-kemarin gak apa-apa, tadi juga ga papa,' batin Rere terusik.
Rere membawa Omanya beristirahat di kamar, sebelum tertidur, Rita memberikan sebuah amplop berwarna putih berlogo rumah sakit.
Dia terkejut bukan main, dirinya merasa tidak punya tulang dan otot. Tubuhnya merosot di bawah tempat tidur Rita.
Bagaimana tidak terkejut, "Oma punya penyakit jantung stadium 3? Sejak kapan? Kenapa sama sekali ga dikasih tau?" Rere bergumam.
Wajahnya kini pucat, kepalanya berat. Bagaimana bisa hal menakutkan ini menimpa Omanya. Padahal dia satu-satunya yang selalu menyayangi Rere sejak kecil. Bukan berarti sang Ibunda tidak sayang, dia bekerja keras seorang diri demi Rere juga.
"Oma selalu menolak saat Rere temenin cek kesehatan tiap bulan. Hanya bunda yang selalu nemenin Oma cek up, kenapa?" sesalnya, tangan Rere bergetar memegangi selebaran itu, disudut matanya sudah mulai berair.
"Oma gak sanggup lihat kamu nanti khawatir," ucap Rita.
"Kalau sudah kayak gini, Rere jadi kayak gak guna buat Oma, Rere selalu lihat Oma gak pernah mengeluhkan apapun, Rere juga mau Oma bersandar sama Rere juga," ucap gadis itu dengan kekecewaan yang mendalam. Namun, gadis itu tidak sanggup meluapkan amarah ke pada Rita.
Malam ini Rere ingin tidur bersama Rita. Ia begitu menyesal dirinya tak diberitahu selama ini. Sebenarnya kecewa tapi mau bagaimana lagi.
Sekarang dia tau kenapa harus ikut ke Singapur, tapi tidak ingin pula harus pindah sekolah karena sebentar lagi sudah lulus.
Malam itu...
"Sayang. Bunda tau kamu dilema. Tapi Oma harus segera dapatkan perawatan di sana," ucap Ana Ibunda Rere.
"Sepertinya Rere ga akan ikut bunda dan Oma," ucap Rere membuat keputusan.
"Rere akan ambil kuliah di sana, setelah lulus nanti," sambungnya lagi.
"Kamu yakin sayang?"ucap Ana.
Andrea pun hanya mengangguk dan memeluk bundanya dengan erat. Rita memang sering lelah saat jalan jalan pagi. Karena dirinya merasa sudah tidak sekuat dulu, dadanya kadang terasa nyeri tiba-tiba. Tapi, Rita menenangkan tubuhnya agar cucunya tidak khawatir.
"Hi, baby girl.. kamu jadi ikut kita kan?" sapa seorang laki-laki paruh baya. Dia adalah Johan, dialah yang akan menjemput keluarga Rita.
bersambung..
(Maaf, disini gak menceritakan silsilah keluarga Rita. Karena terlalu panjang, yang akan terus masuk dalam cerita hanya Johan, Michael, Jihan dan Dani)