Hidup Vania langsung berubah saat kedua orang tuanya memutuskan untuk menjodohkannya dengan seorang laki-laki bernama Alfin yang merupakan putra dari sahabat papanya.
Berawal dari pertemuan yang tidak menyenangkan, keadaan terus memaksa mereka harus bisa hidup berdampingan dan saling memahami dengan segala perbedaan yang ada walau awalnya menikah tanpa cinta.
Let's cekidot⬇️
Story by Okiramitzu
________
📢 Mohon maaf jika masih terdapat banyak kekurangan🙏
enjoyyyyyy💃
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Okiramitzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Paginya setelah sarapan bersama, Alfin ada kesibukan sendiri. Ia akan mengisi acara menjadi pembicara pada seminar umum yang diadakan oleh salah satu organisasi kepemudaan cabang daerah regional.
Vania memang bingung dengan Alfin, ada saja hal yang dilakukannya bahkan ketika jauh dari rumah dan tempat kerja.
Alfin sudah meminta Prima untuk mengantar Vania ke sebuah tempat. Vania mengiyakan saja, ia pikir ia juga ingin jalan-jalan selagi Alfin sibuk dengan aktivitasnya sendiri.
Mobil yang dikemudikan Prima melaju santai di jalanan kota, terlihat pagi ini memang sudah agak ramai, karena ini hari sabtu. Vania melemparkan pandangannya ke luar jendela mobil.
“Prima, kayaknya di situ rame, kita nggak mampir ke sana?” tanya Vania yang melihat kerumunan pasar kecil yang menghiasai pinggir jalan tersebut.
“Kita akan ke tempat yang lebih asyik, Bu,” jawab Prima yang sedang menyetir di depan.
“Oh gitu?"
Vania merasa suasana terlalu hening, karena Prima begitu kaku dan segan padanya.
"Prima,” panggil Vania, terbesit di pikirannya untuk berinisiatif mengajak Prima ngobrol santai.
"Iya, Bu."
“Kamu, udah menikah?” tanya Vania agak ragu.
“Belum, Bu.”
“Sudah punya pacar?” tanya Vania lagi.
“Belum juga, Bu.”
“Oh, gitu? Kamu kan kelihatannya sudah cukup dewasa dan mapan? Tapi maaf ya, jangan tersinggung loh."
"Gak papa, Bu. Santai saja dengan saya. Sebenarnya saya belum menikah ya karena memang belum ketemu jodohnya aja."
"Oh gitu."
“Saya ingin seperti pak Alfin yang menikah karena persetujuan orang tua.”
“Loh, kenapa begitu?” Vania tiba-tiba penasaran.
“Pengen aja. Karena saya percaya, jika orang tua kita ridho, maka kehidupan kita juga akan lebih baik. Saya percaya pilihan orang tua tidak pernah salah.”
Prima berucap sembari tetap fokus, sesekali ia memutar setiran membawa mobil berbelok ketika ada sebuah persimpangan.
“Semenjak bekerja dengan pak Alfin, saya jadi sering sibuk karena harus mengikutnya kemana-mana, saya perlu orang yang mengerti seperti Bu Vania,” jelas Prima.
Vania mengernyit heran.
Andai lo tau Prima, bahwa pernikahan kami sebenarnya tidak seperti apa yang orang bayangkan, kata Vania dalam hati.
“Kamu, kayaknya nurut banget ya sama Alfin?” Vania mengalihkan pembicaraan sekarang.
“Begitulah,” jawabnya singkat.
“Kamu kan udah lama kerja sama dia? Nggak risih apa sama kesongongannya itu?”
Prima tertawa geli mendengar pertanyaan semacam itu, apalagi terlontar dari mulut istri bosnya.
“Pak Alfin itu tidak seperti yang Bu Vania bayangkan, saya sudah mengenal keluarganya sejak lama. Keluarga mereka sangat baik. Pak Alfin orangnya sangat baik, dia cerdas dan juga pekerja keras, dia suka menolong siapa saja,” kata Prima memuji Alfin.
Vania mendengarkan penuturan Prima. Ia setuju mertuanya memang sangat baik. Tapi yang diingatnya, perlakuan Alfin sangat berbeda terhadapnya.
“Kamu tau gak apa yang dia lakukan di sini?” tanya Vania lagi.
“Biasanya dia akan bepergian karena sebuah urusan bisnis, dan ada acara lain.”
“Tuh kan!” Vania menggigit jarinya. Tidak mungkin Alfin mengajaknya kesini meluangkan waktu khusus hanya untuk liburan.
“Kita sudah sampai, Bu,” kata Prima, menghentikan laju mobil.
Mereka tiba di sebuah butik besar, mereka masuk ke dalam dan tampak sedikit ramai. Vania melihat berbagai macam koleksi fashion wanita yang bermerk semua di dalamnya, ia keliling melihat-lihat barang yang harganya rata-rata berada di level fantastis.
“Duuuhh … Prima.” Vania mengeluh. “Kita ngapain ke tempat ini? kamu nggak liat? Barang-barangnya branded semua, mahal-mahal lagi.”
“Saya juga disuruh pak Alfin untuk membawa Bu Vania ke sini.”
“Kita pindah tempat,” titah Vania. “Dan satu lagi, kamu bisa nggak jangan panggil aku dengan kata ‘Bu’? itu terdengar risih tau!”
“Nggak bisa,” kata Prima.
“Kita pindah!” ajak Vania lagi. Tiba-tiba seorang perempuan menghampiri mereka.
“Selamat pagi, nyonya Alfin Setiawan? Saya Andine, pak Alfin sudah memesan sebuah gaun untuk Bu Vania.”
“Gaun?”tanya Vania penasaran.
“Iya, semuanya sudah kami siapkan di meja kasir, Bu Vania silahkan di lanjut barangkali ada barang lain yang mau dibeli, kami mempunyai banyak koleksi terbaru,” kata Andine.
Vania mengangguk mengiyakan. Apa sebenarnya yang disiapkan Alfin untuknya.
“Mau dicoba dulu gaunnya?”
“Oh. Nggak usah!”
Vania hanya merasa tidak terbiasa berada di tempat seperti ini. Naluri nya segera memaksa untuk segera angkat kaki dari sini.
“Prima, setelah ini kita ke mana?” tanya Vania sambil masuk ke dalam mobil.
“Ke salon.”
“Hah??! Ngapain?”
“Pak Alfin mintanya seperti itu, Bu!”
“Males ah.”
“Ya jangan gitu dong Bu, nanti saya yang dimarahin.”
“Ya udah, iya.” Vania sepertinya juga perlu untuk merelaksasi kan tubuhnya sambil melakukan perawatan.
***
Selesai berbelanja dan perawatan di salon, Vania melanjutkan untuk jalan-jalan di sekitar hotel saja.
Karena lokasi hotel dekat dengan area pantai, Vania memilih pergi kesana. Ia tampak sangat menikmati suasana di pantai dengan pasir putih yang membentang indah.
Hamparan laut biru serta deburan ombak yang menyapu pantai, menyuguhkan pemandangan yang memanjakan penglihatannya.
Hembusan angin laut yang meniup rambutnya, terasa sangat sejuk. Vania benar-benar menikmatinya, untuk sejenak ia melupakan hari-hari sibuknya di Jakarta.
Vania berjalan-jalan ria di pantai, sesekali ia minta Prima untuk memotret dirinya, sampai akhirnya Vania merasa lelah. Ia memutuskan untuk duduk istirahat di sebuah gazebo kecil yang teduh.
“Prima, kalo kamu mau jalan-jalan sekarang, nggak papa kok. Kamu bebas,” kata Vania tersenyum. Prima mengiyakan.
“Bu Vania jangan kemana-mana ya?”
Prima segera menjauh, entah kemana ia akan pergi.
Sudah lama rasanya Vania tidak berlibur ke pantai. Vania jadi teringat terakhir kali ia ke pantai ketika berlibur bersama orang tua dan kakaknya sebelum Wina dan dirinya yang kini sama-sama sudah menikah.
Sebuah panggilan di ponselnya membuyarkan lamunannya. Dari Adelia.
“Halo? Adelia!”
“Duhh Vania, lo dimana??!!” tanya Adelia di seberang telepon.
Vania memukul jidatnya.
“Astaga!!! Kok gue sampe lupa sih?!
“Nah loh kan??? Lo dimana? Ntar siang jadi kan?”
“Gue di Bali, Del! Haduhhhh …” Vania mulai panik.
“Eh, buseetttt … Balii?!! Kok bisa? Lo pergi kesana kayak loncat ke rumah tetangga aja ya, gak ngasih kabar gitu ke gue." Adelia menyerocos membuat kuping Vania merasa panas mendengar omelannya.
“Gue harus cerita dari mana ya?”
“Terus? Lo gak bisa nonton pertandingan siang ini dong."
“Bisa sih kalo gue coba, keburu gak ya waktunya? Lagian di sini nggak ada hal yang menarik juga selain pantai!”
“Lo liburan? Atau bulan madu?”
“Ini karena Alfin, tapi gue bosen juga disini, gak ada yang bisa dilakuin. Kurang seru lah, gak ada lo."
Setelah mengakhiri sambungan telepon, Vania segera beranjak dari sana. Tak berselang lama, Prima yang melihatnya berjalan sendiri lalu menghampiri.
“Di mana Alfin sekarang?” tanya Vania.
“Sudah di hotel, Bu.”
...❉❉❉...
Vania menemui Alfin di kamar. Tampaknya suaminya baru selesai ganti baju.
"Udah selesai jalan-jalannya?" tanya Alfin menyapa.
"Udah," jawab Vania singkat, ia tampak berpikir sejenak. “Aku mau balik ke Jakarta sekarang.”
Alfin agak terkejut mendengar permintaannya. “Kenapa?”
“Pokoknya aku mau balik.”
“Nggak bisa!”
“Loh kok gitu? Lagian kita juga gak ngapa-ngapain disini. Kamu bilangnya mau liburan, taunya karena kebetulan ada kerjaan aja."
“Hari ini bandara tutup!”
“Kamu pikir aku anak kecil bisa dibohongin?!”
“Ya udah kalo gak percaya."
“Alfin …” Vania merengek.
“Enggak, kamu tetap disini, temenin aku."
"Males banget sih nemenin kamu kerja. Kamu jangan kayak gini dong, kita kan udah sepakat gak bakal ganggu kegiatan masing-masing. Hari ini aku ada janji sama temen-temen aku. Kamu juga ngajak kesini tanpa kompromi dulu sama aku." Vania terus mengomel.
“Ya udah batalin aja, emang mau ngapain sih? Kan nanti masih bisa pergi bareng lagi kalau udah di Jakarta." Alfin terus mendebat Vania.
"Fin." Vania mendekatinya dan kini berada di hadapannya. "Aku bete disini. Kan kamu ada urusan kerja juga, gak perlu ngajak-ngajak aku lah."
"Nanti malam ada acara pertemuan dengan rekan bisnisku, aku mau kamu nemenin aku, ya," pinta Alfin dengan lemah lembut, mengesampingkan egonya.
"Tuh kan, acara pertemuan bisnis. Aku gak mau, malas banget."
Alfin benar-benar merasa sikap Vania tengah menguji kesabarannya, sikap Vania yang kekanakan, labil dan keras kepala selalu saja membuat emosinya naik turun tidak beraturan.
"Kita pulangnya besok," kata Alfin penuh penegasan.
"Kamu gak bisa maksa aku dong!"
"Bisa!"
Dadanya sudah kembang kempis menahan emosi yang semakin meletup-letup, tapi ia masih terus menahannya.
Disisi lain Alfin juga kesal karena sepertinya Vania menolak kebersamaan dengannya, memancing sifat arogansinya yang memiliki landasan kuat, yaitu berhak atas diri Vania sepenuhnya.
Rasanya sangat tidak nyaman saat gadis itu mengutarakan niat hendak pergi darinya hari ini.
"Aku kabur nih!" ancam Vania yang masih kuat dengan egonya.
"Kabur aja kalau bisa," tantang Alfin.
"Oke." Vania segera bergerak, namun tangannya terburu ditangkap Alfin. "Kamu mau ngapain?! Lepas gak!" Vania berontak.
"Gak bisa kabur kan?" tanya Alfin dengan ekspresi kemenangan.
Melihat Vania berada dalam kekuasaannya, seakan mampu meruntuhkan segala perasaan emosinya.
"Kamu ya! Aku teriak nih!"
Alfin menertawakannya. "Mana bisa didengar orang?"
Vania semakin kesal dengannya, sedangkan Alfin kini menarik tangannya hingga jarak mereka semakin dekat. Alfin langsung meraih pinggangnya membawa dalam pelukan.
"Hwaaa!" Vania berteriak histeris karena Alfin berani melakukan ini padanya.
Namun teriakan itu mendadak senyap saat Alfin membungkam mulut Vania dengan bibirnya.
Vania tak berdaya melawan Alfin yang bermain dengan bibirnya beberapa saat, hingga Alfin melepaskannya.
Vania terdiam seribu bahasa, sedangkan jantungnya sudah berdegup kencang.
Alfin tersenyum menatapnya lekat, tampaknya ia masih belum puas. Vania semakin berdegup saat Alfin membawanya bergerak beberapa langkah, lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.
Alfin naik ke atas tubuhnya lalu dengan garang mencumbuinya, bibirnya bermain dengan lincah menghisap dan mel*mat bibir ranum Vania dengan penuh gairah.
Vania dapat merasakan tangan Alfin meraba-raba bagian tubuhnya. Sentuhan bibir dan tangan Alfin seakan meledakkan gelombang listrik pada aliran darahnya.
Ia tak berdaya dalam kekuasaan Alfin, Vania tidak diberikan celah sedikit pun untuk melepaskan diri darinya.
Vania akhirnya harus pasrah dengan permainan suaminya, hingga Alfin melepaskan bibirnya yang sudah basah dan memerah karena hisapan.
"Masih mau coba kabur lagi? Coba saja, hukumannya akan lebih dari ini," bisik Alfin, terdengar seperti sebuah ancaman. Vania sampai bergidik dibuatnya.
Alfin lalu menjauhkan diri dari tubuh Vania yang masih terbaring, tampaknya Vania masih syok atas apa yang baru saja terjadi padanya.
“Kamu diam di sini aja. Jangan kemana-mana," pinta Alfin, dengan nada perintah.
Kemudian ia melangkah pergi. Lama-lama ia bisa tak kuat lagi menahan sensasi yang bergejolak dalam aliran darahnya, jika terus melihat istrinya itu. Kewarasan Alfin tampaknya masih bisa mengendalikan dirinya.
Sedangkan Vania melirik ke arah punggung Alfin yang semakin jauh meninggalkannya.
Memastikan laki-laki itu sudah keluar dari kamar, Vania segera membawa diri untuk duduk.
Vania menatap kaku, lalu ia merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Vania menekuk wajah, menatap sesuatu menonjol di dadanya masih dalam keadaan menegang setelah tadi bersentuhan dengan badan Alfin.
"Hwaaaaa!!!" teriaknya sambil menutupi wajah dengan kedua telapak tangan, malu sendiri, lalu ia langsung mendekap diri.
***
Sementara itu di Jakarta.
Suara gemuruh dari penonton maupun pendukung kedua tim sudah menggema di seluruh ruangan. Hari ini tim futsal kampusnya Vania sedang bertanding melawan Universitas lain.
Event ini biasanya di adakan setahun sekali oleh salah satu kampus besar di Jakarta setiap awal semester ganjil. Kampus Vania tidak pernah absen mengikutinya dan selalu mengirimkan tim terbaik mereka.
“Del, Vania gak dateng ya?” tanya Oris.
“Nggak tau gue! Dia lagi di Bali.”
“Hahhhh????!!!!!” teriak Oris di dekat kuping Adelia.
“Orisss ahhh ... Nggak usah keras-keras juga teriaknya."
"Iye, sori."
Mereka sedang menyaksikan pertandingan yang masih berlangsung. Padahal Adelia sudah janjian sama Vania, karena Vania sendiri yang waktu itu mengajaknya.
Tapi Adelia membingung, malah Vania yang tidak bisa berhadir.
“Ngapain Vania di Bali? Nggak ngajak-ngajak, baru kemaren ketemu di kelas.” Oris membahasnya.
“Ya mana gue tau! Bulan madu kali sama suaminya.”
Mereka harus bicara agak nyaring karena ramainya suara penonton.
“Hahhhhhh??!!!!”
“Bisa nggak sih lo teriak gak di kuping gue?!”
“Gue nggak rela Vania sama cowok itu!”
“Ya terus lo bisa apa?!”
“Gue bakal nunggu dia terus! Mungkin suatu saat bisa aja dia pisah sama suaminya.”
“Emang sinting lo, Ris!!!! Lo mau do'ain mereka yang gak baik?”
“Gini ya, gue jauh lebih baik dong dari cowok itu, gue lebih kenal Vania. Gue tau semua kesukaannya, gue tau dia suka burger, suka eskrim, gue tau dia phobia ular, gue tau dia tukang ngambek, dan bahkan gue tau kapan tanggal pertama kali dia dapat menstruasi.”
“Oris … Vania phobia sama cowok penakut kaya lo!”
“Gue penakut gimana?”
“Penakut sama semua jenis binatang! Bahkan untuk naik motor aja lo takut! Plus, lo penakut sama cewek ngambekan kaya Vania!”
“Kok lo yang jauh lebih tau tentang gue sih, Del?”
Adelia mengernyitkan dahinya.
“Oris. Udah!” Adelia mulai bete. “Lo ke sini mau nonton pertandingan apa mau curhat?”
“Kalo dua duanya bisa kenapa enggak?” Oris tersenyum manis padanya.
Adelia mendengkus sebal. "Pokoknya lo jangan gangguin hubungan Vania lah. Dia udah jadi istri orang, Ris. Sadar woy, dosa lo masih ngarepin bini orang."
"Huh! Nasib emang, selama ini jagain jodohnya orang. Hadeuh, dimana lagi ya gue bisa dapetin cewek kayak Vania. Pokoknya dia unik banget lah di mata gue."
Adelia tampaknya sedang serius memandangi sahabatnya itu, entah apa yang sedang ia pikirkan.
...✿✿✿...
Alfin yang baru masuk ke kamar, mencari-cari keberadaan Vania.
Ia menemukan Vania sedang berdiri di balkon kamar, sepertinya sedang menikmati pemandangan.
Hari sudah menampakkan langit jingganya yang terlihat sangat indah dari ketinggian bangunan hotel tersebut.
“Ngapain disini? Nggak jadi kabur?” tanya Alfin, ia masih menahan tawanya. Namun tetap mencoba bersikap seolah tadi tidak terjadi apa-apa pada mereka.
“Bener-bener ya! ”
"Menghadapi cewek kayak kamu harus pinter," ujar Alfin sambil mengetuk jidat Vania dengan jarinya.
Vania menepis tangannya dengan kasar, merasa jijik untuk disentuh. “Cowok gilaa!” umpatnya.
Kini ia merasa kehilangan dirinya sendiri karena perlakuan tak terduga Alfin. Meski sebatas ciuman, bagi Vania itu adalah hal yang pertama baginya. Ia merasa Alfin merampasnya begitu saja.
Walau akalnya memang tidak bisa mengelak karena status mereka, tapi tetap saja egonya ingin selalu menang.
“Kenapa sih ngotot banget mau balik ke Jakarta? Cowok kamu itu yang nyuruh?” tanya Alfin lagi.
“Isstt ... apaan sih, itu urusan aku ya, dan kita dilarang mengurusi urusan satu sama lain, jangan sembarang jawab telpon di hp ku! Dan satu lagi, aku nggak suka ya kamu ngelakuin itu, kayak tadi," omel Vania.
"Emm, iya. Maaf ya," ucap Alfin. "Lain kali aku ngelakuinnya atas izin kamu deh," godanya.
"Ihhh! Nyebelin banget sih!"
"Makanya, jangan bikin aku marah. Tau kan akibatnya?"
"Marah?" Vania tampak terheran.
"Kamu bilang mau kabur dariku." Alfin lalu mencubit pipinya dengan gemas. "Itu akan bikin aku marah."
Vania buru-buru melepaskan tangan Alfin dari wajahnya. Ia segera menyadari Alfin menatapnya sambil tersenyum.
"Kalau aku marah, obatnya ya kayak tadi," ujarnya.
Vania merasa bulu kuduk nya bermekaran karena harus kembali mengingat momen itu.
...❉❉❉...
Vania memperhatikan Alfin yang sedang memasang dasi di kemejanya sambil bercermin.
Sedangkan Vania sudah dalam keadaan siap, tampil cantik dan anggun dengan gaun yang dibelikan Alfin.
“Kenapa juga harus pakai gaun kayak gini, nggak bisa apa pakai baju biasa aja?”
“Kita mau dinner sama orang penting. Sini bantuin masang dasi,” pinta Alfin.
Vania segera membantunya.
***
Mereka makan malam di restoran VIP hotel tersebut yang terletak di lantai atas. Malam ini Alfin menjamu tamunya dari Singapore, pak Rendra dan istrinya yang baru tiba tadi sore.
“Sebenarnya kami ini berasal dari Jakarta juga, hanya saja memang menetapnya di Singapore,” kata Rendra memberitahu Vania setelah mereka berkenalan.
“Saya rasa malam ini kita cukup makan saja kali ya, nggak usah lah membicarakan bisnis dulu, saya juga pingin liburan,” kata Rendra.
“Kami minta maaf sekali Pak Alfin, Mbak Vania. Karena kemaren tidak sempat datang ke pernikahan kalian," kata Rania, istrinya dengan nada suaranya yang halus dan lembut.
Vania memperhatikan ke arah pasangan yang di depannya sekarang, ia tak harusnya berada disini.
Ini sungguh membosankan bagi Vania karena harus menyesuaikan diri dengan orang yang beda generasi dengannya itu.
“Tidak apa-apa,” jawab Alfin.
“Mbak Vania sekarang umur berapa ya?” tanya Rania.
“18 tahun.”
“Woww … masih muda sekali ya, seumuran dengan putri kami.”
“Kan cocok sama pak Alfin yang juga masih muda,” sahut Rendra.
“Mbak Vania harus lebih ekstra sabar ya, Pak Alfin ini sangat pintar dalam berbisnis, dia banyak sibuk di luar,” timpal Rendra.
“Gitu ya?" Vania tampak segan.
“Oh ya, sudah sempat bulan madu, belum?”
“Kita bulan madunya di rumah aja, Bu,” sahut Alfin tersenyum.
“Wah, padahal sayang loh. Coba deh sesekali liburan berdua, ke luar negeri, disana banyak tempat yang bagus dan romantis.”
Vania dan Alfin mengiyakan.
Vania merasa seperti sedang mengobrol bersama orang tuanya. Ia merasa sulit untuk mengimbangi mereka.
Sedangkan Alfin sudah terbiasa berhadapan dengan berbagai macam orang, karena itu ia bisa mengimbangi siapapun yang berbicara maupun berurusan dengannya.
...❉❉❉...
Alfin memperhatikan ke arah Vania yang terdiam di depan pintu kamar mereka. Acara makan malam sudah selesai, tapi wajah Vania masih saja kusut.
“Kenapa?” tanya Alfin.
“Aku bosan!”
Mendengar itu, Alfin mendekatinya. Ia menatap Vania seolah mengerti apa yang menjadi mau istrinya itu.
Beberapa saat kemudian, Alfin turut senang melihat wajah Vania sudah kembali berseri.
“Kamu senang sekarang?” tanyanya.
Vania mengangguk senang.
Akhirnya Vania merasa suasana hatinya kembali membaik, setelah Alfin membawanya ke sebuah restoran yang terletak dekat pantai dan tidak jauh dari hotel.
Sejak makan malam tadi, Vania belum terlalu puas untuk makan. Sekarang ia akan memesan makanan lagi untuk memenuhi isi perutnya.
Tak perlu memakan waktu lama, pesanan mereka sudah tiba dan Vania sangat bersemangat untuk menyantapnya.
“Itu perut apa tangki minyak? Banyak banget muatnya," ujar Alfin heran.
“Ini tu namanya nikmat yang hakiki!" Vania tertawa kecil. "Eh, Fin. Orang kayak kalian gitu, perlu jaga image ya, bahkan dalam hal makan?”
“Nggak juga.”
“Buktinya tadi. Kita nggak ada kesempatan gitu untuk ngoceh-ngoceh kayak gini, semuanya harus serba formal! Nggak asik banget!”
Vania memperhatikan Alfin yang sedang menikmati makannya, tanpa menghiraukannya.
“Kamu betah ya hidup kayak gini terus? Selalu jaga image di depan orang-orang?” tanya Vania lagi.
“Bukan gitu, Vania. Kita harus sedikit bisa menempatkan diri aja.”
“Kamu jaga image terus di depanku? Kadang enggak juga sih, tapi tetep terlihat sempurna.” Vania langsung menutup mulutnya. “Maksudnya, terlihat baik lah,” sambungnya lagi.
“Emang aku kayak gini orangnya.”
Tiba-tiba ponsel Alfin berdering. Ia menjauh sebentar mengangkat teleponnya, sepertinya semua yang menelpon ke ponsel Alfin bersifat penting.
Vania memanggil seorang pelayan restoran yang memang tampaknya sedang berkeliaran di sekitar sana.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya mau pesen minuman lagi.”
“Oke mau minum apa?” Vania melihat pelayan pria itu membawa beberapa gelas dan minuman dalam botol di nampannya.
“Mmm ... itu apa?”
“Ini wine, salah satu yang favorit di sini, Nona.”
“Oh gitu! Saya mau ini deh.”
“Baik.”
Pelayan itu menuangkan minuman tersebut ke dalam gelas, lalu ia segera pergi.
Vania segera meminumnya beberapa tegukan, terasa aneh di tenggorokannya, ia baru pertama mencoba minuman seperti ini.
“Katanya favorit disini? Kok rasanya aneh ya?” gumamnya sendiri. Ia pun terus meminumnya lagi untuk memastikan rasa aslinya.
“Vania, apa yang kamu lakukan?!” Alfin langsung menarik gelas besar tersebut dari tangannya.
Alfin sangat mengenali warna minuman yang tersisa sedikit di gelas tersebut. Ia juga mencium aromanya untuk memastikannya kembali.
Alfin terperangah karena Vania hampir menghabiskannya.
“Kenapa Fin?”
“Kamu dapat ini darimana?!” Alfin terlihat panik.
“Tadi, mesan ke pelayan.”
“Astagaaa.” Alfin duduk lemas di kursinya.
***
arsitek itu profesi. sedangkan, ilmunya arsitektur.
ambil jurusan apa? dokter. anehkan?
yang benar ... kedokteran.
mengingat masa remaja wwkwk