Sejak malam itu, hidup Raka berubah drastis. Setelah tak sengaja melewati rumah tua terbengkalai di ujung gang dan merasakan gangguan gaib, ia terus dihantui penglihatan aneh, suara bisikan, dan kejadian tak wajar. Perlahan ia mengungkap rahasia kelam rumah itu—tempat menyimpan kutukan dan korban hilang puluhan tahun silam—sambil berjuang melepaskan diri dari jeratan makhluk yang sudah menandainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 3: PESUGIHAN KANDANG BABI Bab 6: Gamelan Tengah Malam
Jam 22:00. Desa Karangasem mati gaya.
Bukan mati lampu. Mati aktivitas. Sejak Genderuwo Mukti ngumumin semua warga harus tutup pintu, desa ini jadi kayak kuburan. Warung tutup. TV mati. Anak kecil nggak ada yang nangis. Cuma suara jangkrik, itu pun pelan, kayak takut.
Rendi duduk di bale-bale rumah Pak Warto. Di depannya ada cobek kecil isi menyan, korek, sama obor dari gagang sapu yang dibungkus kain bekas dicelup minyak tanah. Di sebelahnya, Pak Warto lagi ngasah golok. Sring... sring... sring... Bau besi ketemu keringat.
“Tinggal 2 jam lagi, Mas,” kata Pak Warto lirih. “Bulannya udah naik. Merah. Kayak mata setan.”
Rendi nengok ke atas. Langit bersih. Nggak ada awan. Bulannya bulat, gede, warnanya merah oranye. Purnama darah. Kata orang tua, purnama kayak gini bagus buat sembelih. Sembelih tumbal.
Cap gosong di telapak kaki Rendi sekarang rasanya panas lagi. Dari siang tadi adem, sekarang kayak disundut rokok. Perihnya sampe ke dengkul. Tanda. Kandang manggil.
“Pak,” Rendi buka kalung Wulan yang dari tadi dia genggam. Bandul huruf W-nya udah hitam, gosong. “Kalau saya mati nanti... tolong kubur kalung ini bareng Wulan. Biar dia adem.”
Pak Warto berhenti ngasah golok. Matanya merah. “Jangan ngomong gitu, Mas. Kamu masih muda. Saya yang udah tua. Harusnya saya yang...”
Dugg... dugg... dugg...
Suara kendang. Pelan. Dari jauh. Dari arah kandang babi Kaji Slamet.
Rendi sama Pak Warto langsung diam. Kuping sama-sama dipasang.
Dugg... dugg... ting... ting... ting...
Gamelan. Saron. Bonang. Kempul. Lengkap. Alunannya pelog. Sayup. Ngelelim. Ngundang.
“Udah mulai,” Pak Warto gemetar. Goloknya jatuh. Klontang.
Suara gamelan itu aneh. Cuma ada di kuping, nggak kebawa angin. Makin didengerin, makin dekat. Makin keras. Padahal kandang jaraknya 500 meter dari sini.
Dari luar pagar, kedengeran suara pintu dibuka. Ceklek.
“Pak No... sampeyan denger gamelan?” suara Yu Samin, tetangga depan.
“Denger, Yu! Merdu banget! Kayak di kawinan!” sahut Pak No, suaranya ngantuk, nge-blank.
“Gasik banget, Yu. Ayo berangkat! Tak tunggu di depan!”
Rendi loncat ke pagar. “Jangan, Pak! Jangan! Tutup pintunya! Sumpel kuping! Jangan keluar!”
Telat. Pak No sama Yu Samin udah di jalan. Jalan bareng, sama 4-5 orang lain. Semuanya matanya kosong, bibir senyum, jalannya ngikutin irama gamelan. Nuju ke kandang.
“Pak No! Balik!” Pak Warto teriak.
Nggak denger. Rombongan itu malah jalan makin cepet. Kayak wayang digerakin dalang.
Dugg... dugg... ting... dung... dung...
Gamelannya tambah kenceng. Sekarang ketambahan suara sinden. Nembang Lir-ilir. Tapi liriknya diganti.
*Lir-ilir, lir-ilir, tandure wus sumilir...
Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar...
Cah angon, cah angon, penekno blimbing kuwi...
Lunyu-lunyu penekno, kanggo mbasuh dodotiro...
Dodotiro, dodotiro, kumitir bedah ing pinggir...
Dondomono, jlumatono, kanggo sebo mengko sore...
Mumpung padang rembulane, mumpung jembar kalangane...
Yo surako... surak hore...*
Tapi di tengah lirik, ada yang nyelip. Suara laki-laki, berat, ngebas.
*...Serahin nyawa satu... buat sangu Buto Amuk...
Serahin nyawa satu... buat nutup kontrak lama...
Serahin... Rendi... Rendi...*
Rendi kaget. Namanya disebut. Gamelan itu nyebut namanya.
“Mas!” Pak Warto narik Rendi masuk. “Sumpel kupingmu! Ini gamelan pangundang!”
Rendi rogoh saku. Ada kapas bekas ngobatin kakinya tadi siang. Disumpelin ke kuping. Suara gamelan langsung meredup 50%. Tapi masih kedengeran. Nembus sampe ke tulang.
Di jalan, Pak No sama rombongannya udah sampe tikungan. Tikungan terakhir sebelum kandang. Jalan mereka makin cepet. Kayak kesurupan massal.
Dari arah lain, lari Dinda. Rambutnya awut-awutan, gamisnya sobek di bawah. Matanya merah, nangis.
“Mas Rendi!” Dinda pegangan pagar. “Bapak... bapak ngurung aku di kamar! Katanya suruh sembunyi! Tapi aku denger gamelan! Denger namaku disebut!”
Rendi nyamperin. “Dinda! Kamu nggak boleh ke kandang! Ini semua gara-gara bapakmu! Kamu tumbal terakhirnya!”
“AKU TAHU!” Dinda teriak, suaranya pecah. “Aku nemu buku di bawah lemari bapak! Catatan kontrak! Namaku ada di situ! Tanggalnya besok! Jam 12 malem!”
Dia ngeluarin buku tulis lusuh. Rendi buka. Tulisannya Kaji Slamet. Tinta merah.
*1985 - Babon datang.
1995 - Aisyah. Anakku. Darahku.
2005 - Juminten. Anaknya tukang becak.
2015 - Wulan. Anaknya Warto.
2026 - Dinda. Anakku. Penutup.
2026 - Cadangan: Rendi. Orang kota. Kalau Dinda gagal.*
Rendi merinding. Namanya ada. Cadangan. Pantes Kaji Slamet ngebet banget.
“Bapak di mana?” Rendi nanya.
“Ngelarang aku keluar rumah,” Dinda sesenggukan. “Dia sendiri ke kandang. Bawa arit. Bawa menyan.”
Menyan. Kaji Slamet mau ngelakuin ritual terakhir. Ngorbanin Dinda sendiri.
Nggak bisa. Nggak boleh.
“Dinda, dengerin,” Rendi pegang pundak Dinda. “Sekarang kamu ikut Pak Warto. Ngumpet di masjid. Baca ayat Kursi. Jangan keluar sebelum subuh. Jangan dengerin gamelan.”
“Terus kamu, Mas?”
Rendi ngeliat obor di bale. Ngeliat menyan di cobek. Ngeliat cap gosong di kakinya.
“Aku ke kandang,” jawab Rendi. “Nutup kontrak ini.”
“NGGAK!” Dinda pegang tangan Rendi kenceng. “Kamu mati! Kandang udah nandain kamu!”
“Terus gimana?” Rendi bentak, frustasi. “Kalau aku nggak ke sana, kamu yang mati! Kalau kamu mati, Buto Amuk bebas! Satu desa ini bisa jadi babi semua!”
Dugg... dugg... dung... dung... dung...
Gamelan berhenti. Ganti suara ketawa. Gede. Ngebas. Satu desa denger.
HAHAHAHAHAHA!
Suaranya Buto Amuk. Udah bangun.
Bareng sama ketawa itu, Pak No sama rombongannya yang tadi jalan kayak dihipnotis, langsung berhenti. Terus... kejang. Mata mereka mendelik, putih semua. Mulut kebuka, ilernya netes. Terus...
“Aaaaaaargh!”
Lima orang itu jerit bareng. Suaranya putus. Terus pada rubuh. Kelojotan di tanah. Dari mulut, hidung, kuping, keluar busa putih. Badannya kejang-kejang.
“Gila!” Pak Warto lari nyamperin. Dicek satu-satu. “Pak No! Yu Samin! Bangun!”
Nggak bangun. Mata putihnya berubah jadi merah. Uratnya pada keluar. Terus... senyum. Senyum serem.
“Selamat malam...” omongnya Pak No, tapi suaranya bukan suara Pak No. Berat. Ngebas. Suaranya Buto Amuk. “Pesta... mau dimulai...”
Lima orang itu berdiri bareng. Kaku kayak robot. Mata merah semua. Ngeliat ke Rendi. Nyengir.
“Hihihi... tumbal cadangan... datang sendiri...” omongnya Yu Samin, suaranya berubah kecil, melengking.
Mereka jalan. Nyerbu Rendi.
Pak Warto berdiri di depan Rendi, goloknya diacungin. “Minggir! Kalian kesurupan!”
Bras! Pak No nampol golok Pak Warto. Mental. Pak Warto jatuh.
Lima orang itu pegangin Rendi. Tenaganya nggak manusiawi. Tangannya dingin kayak mayat.
“Bawa ke kandang...” omongnya yang perempuan, Yu Samin. “Buto Amuk nunggu...”
Rendi ngelawan. Tapi tenaganya kalah. Cap di kakinya panas, bikin lemes.
“DINDA! LARI!” Rendi teriak.
Dinda nggak lari. Malah nyaut obor di bale. Nyumet. Obor nyala.
“LEPASIN MAS RENDI, SETAN!” Dinda teriak, obornya diacungin.
Lima orang itu takut api. Mundur dikit. Kesempatan.
“Pak Warto!” Rendi teriak. “Menyannya! Dibalik!”
Pak Warto yang jatuh, ngerti. Nyaut cobek menyan. Dibalik. Yang atas jadi bawah. Dikorek. Dibakar.
Asap menyan kebalik itu hitam, pekat, baunya sangit. Ngebul ke lima orang kesurupan.
“Aaaaaaargh!” Lima orang itu jerit. Mata merahnya luntur, jadi putih lagi. Terus hitam normal. Pada ambruk, pingsan. Kesurupannya hilang.
Gamelan dari kandang berhenti. Ganti suara nggeram marah.
NGOOOOOOOKKKKKKKKK!
Satu desa kayak gempa. Tanah geter. Genteng pada mlorot.
Dari arah kandang, ngebul asap hitam. Ngebentuk di langit. Kepalanya babi. Gede se-lapangan bola. Matanya merah nyala. Nyengir ke Rendi.
“BERANI-BERANINYA KAMU, CACING! NGERUSAK PESTAKU!”
Suaranya Buto Amuk. Langsung di kepala Rendi. Njerit.
Rendi pegang kepala. Hidungnya keluar darah.
Dinda narik tangan Rendi. “Mas! Ayo ke masjid! Sekarang!”
“Nggak,” Rendi ngusap darahnya. Berdiri. Ngambil obor dari tangan Dinda. Ngambil menyan kebalik dari Pak Warto. “Aku ke kandang. Sekarang. Kalau nggak, orang-orang ini mati semua besok.”
“Mas Rendi!” Pak Warto nahan. “Kamu sendirian?”
Rendi nengok. Ngeliat Dinda. Ngeliat Pak Warto. Ngeliat lima orang yang pingsan. Ngeliat desa yang gelap.
Terus ngeliat kakinya sendiri. Cap gosong. Udah nggak panas. Sekarang dingin. Kayak ngajak.
“Nggak sendirian, Pak,” Rendi senyum. Pahit. “Saya sama Wulan. Sama Aisyah. Sama Juminten. Sama semua tumbal yang dikurung di kandang.”
Dia angkat obor tinggi-tinggi. Apinya nyorot mukanya. Mata Rendi sekarang nggak takut. Dendam.
“Pak Warto, jaga Dinda. Kunci di masjid. Baca Yasin.”
“Terus kamu, Mas?”
Rendi jalan. Ke arah kandang. Nggak nengok. Obornya nyala. Menyan kebalik ngebul hitam di tangannya.
“Saya mau nagih utang, Pak,” suaranya Rendi adem, tapi bikin merinding. “Utangnya Kaji Slamet. Utangnya Buto Amuk. Bayarnya... nyawa.”
Di belakang, gamelan bunyi lagi. Tapi sekarang fals. Rusak. Kayak yang nabuh marah.
Dugg... dugg... dugg... BRAK!
Suara bonang pecah.
Purnama di atas kepala Rendi merahnya kayak darah segar. Jam 11:45.
15 menit lagi jam 12. Jamnya Buto Amuk keluar.
Jamnya kandang bayar utang.