Mereka terpaksa menikah meski sudah berjanji tidak akan menikah lagi setelah menjanda dan menduda untuk menghormati pasangan terdahulu yang sudah tiada.
Tetapi video amatir yang tersebar di grup RT mengharuskan mereka berada dalam selimut yang sama meski sudah puluhan tahun hidup di kuali yang sama.
Ialah, Rinjani dan Nanang, pernah menjadi cinta pertama dan hidup saling membutuhkan sebagai saudara ipar. Lantas, bahagia kah mereka setelah menyatu kembali di usia kepala lima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mewarnai Hidupku.
Semua warna terpampang di depan mata. Setiap gores terlihat nyata, menarik. Tetapi itu bukan kehidupan nyata. Bukan kehidupan yang benar-benar berjalan dengan rapi dan berbagai masalah bisa di hadapi dengan senyuman.
“Bagus, kamu tidak berubah. Masih pintar mewarnai.” puji Rinjani sewaktu memandangi dua lembar buku gambar dengan tema kebun binatang dan kebun bunga di meja keesokan paginya.
Arunika menggambar kuda nil yang sedang mangap seolah ingin mencaplok penjaganya yang dia beri nama Bapak.
Nanang mendengus. “Kamu juga masih suka mewarnai hari-hariku walaupun tidak slalu indah. Ahay...”
Rinjani tertawa, tidak berani berada di dekat-dekat Nanang karena anak-anak belum berangkat sekolah. Tak akan dia mencari masalah dengan Arunika. Bocah itu mirip anaknya waktu kecil, posesif parah.
“Terserah kamu asal tidak menjadi beban.” Rinjani tersenyum.
Nanang tidak mempedulikan senyuman itu, wong pasti senyumnya itu mengandung getah, menyusahkan.
“Kamu jadi kabur siang nanti?”
“Sudah pasti.” Rinjani menyeringai. “Aku mau ke rumah produksi batik. Boleh?”
Tatapan Rinjani membuat Nanang tidak nyaman sebab dia menatapnya lekat-lekat.
‘Dia pasti mau beli nasi padang dan tidur lagi pakai kain mori. Kurang kerjaan jandamu, Mas. Tidak sembuh-sembuh dari dulu.’
Nanang cemberut. “Kenapa harus ke sana lagi, urusanmu belum selesai?”
“Belum selesai, atau mungkin kalau tidak ke sana, boleh aku ke rumah utama? Keluarga sudah pada pergi.”
Nanang semakin cemberut. “Mau cari apa di rumah utama? Biar aku saja yang ambil.”
“Jangan...” Rinjani menggoyangkan jari telunjuknya. “Kamu tidak tahu letak barang yang aku cari.”
“Kamu tinggal bilang, aku hafal semua.” Nanang mengeluarkan uang saku dari kantong jaket rajutnya ketika Arunika dan Swastamita menghampirinya dengan semangat.
“Bapak ingat pesanku! Awas kalau menipu di belakang Runi.”
Nanang mengabulkan permintaan itu dengan baik. “Habis ini Budhe dan Bapak pergi kerja, tidak bersama-sama. Kamu yang tenang sekolahnya.”
“Kerja ke mana?” Arunika menatap Rinjani. Perasaan cemas di hatinya bercampur rasa penasaran.
Rinjani tersenyum. “Budhe mau ke tempat pembuatan kain batik, Bapakmu mungkin ke pabrik gula.”
Arunika berdehem. “Ya sudah ayo berangkat bareng-bareng!” katanya, meminta mereka pergi bersama-samanya untuk melegakan hatinya sendiri.
Rinjani meringis, belum ada niatnya pergi jam segitu. Nanang pun senantiasa tidak berkata apa-apa selagi anaknya tetap membeku, menantinya berdiri dan mengambil kunci mobil.
“Ayo kita berangkat.” Nanang merentangkan kedua tangannya untuk merangkul kedua anaknya. “Budhe masih mau dandan, tidak perlu di tunggu perginya.”
“Bener ya.” Arunika cemberut. “Awas kalau Bapak bohong.”
Nanang menoleh, memberikan isyarat pada Rinjani untuk menjaga keharmonisan rumah tangganya dengan mengangguk.
“Budhe habis ini pergi kok, ada jadwal meeting dengan Mas Sastra. Nanti Budhe beri tahu fotonya.” seru Rinjani.
Arunika manggut-manggut, Nanang pun segera membawa anak-anaknya pergi dari rumah.
“Kalian hati-hati, nangis nggak papa kalau ada apa-apa. Hadapi dengan pintar!” seru Nanang selagi putri-putrinya melesat ke gedung sekolah.
Arunika menoleh, dada-dada.
Swastamita pun mendengus. “Santai saja, Budhe itu sayang sama kita dan ibu.”
Arunika tak menggubris. Daya kerjanya tidak segampang itu, pokoknya rumit dan selagi Nanang menghubungi para penjaga rumah untuk mencegah Rinjani pergi. Rinjani menggedor-gedor pintu rumah utama dan menggerakkan gagang pintu.
“Aku hanya ingin mengendus aroma lemari Mas Kay. Aromanya adalah semangatku dari kerasnya hidup setelah kepergiannya.” Rinjani meminta dengan setengah merengek.
“Sebentar saja pasti boleh, Mbok. Ini bukan perselingkuhan.”
Ketua pelayan yang mendapat titah paling berat di rumah itu mengatupkan kedua tangannya. Memohon maaf atas penolakan yang dia lakukan.
“Saya hanya melakukan tugas dan tanggung jawab, Bu. Bukan bermaksud tidak sopan.”
“Aku tahu, Mbok.” Rinjani menarik napas dalam-dalam. “Sebentar saja, tolong, atau jika tidak jendelanya saja yang di buka. Boleh ya, Mbok. Pumpung Mas Nanang belum pulang.”
Rinjani tampak kebelet, tergesa-gesa dan tidak tenang sebab kesempatan untuk mendatangi rumah utama hanyalah saat Nanang tiada dan keluarganya yang lain sibuk.
“Sekali ini saja.”
Ketua pelayan itu kekeh menggelengkan kepala. “Saya siapkan bunga, Bu Jani bisa datang ke makam almarhum Mas Kaysan.”
Rinjani memandangi punggung ketua pelayan tersebut yang pergi tanpa persetujuannya.
“Mendatangi kuburan Mas Kaysan yang di belakang rumah berbeda dengan mencium aroma peninggalannya. Bau apek lemarinya dan baju-bajunya itu terasa melenakan.”
Rinjani lesu sebab sisa-sisa peninggalan mendiang suaminya terasa hebat di kamar yang tahunan mereka tempati bersama.
“Aku mungkin salah, Mas. Tetapi aku tidak menyangka harus seperti ini jadinya.”
Rinjani menerima bunga setaman dan mawar putih segar yang diulurkan ketua pelayan.
“Biarkan aku sendiri, Mbok. Tidak perlu di awasi.”
“Silakan.”
Rinjani pergi mengadu nasib dan perasaan tanpa sedikitpun mengira bahwa setengah jam kemudian Nanang sudah tiba.
Nanang mendapati istrinya bersimpuh di samping pusara sang kakak.
“Yang memberatkan kepergian Masku adalah rasa kehilangan yang tumbuh lebih subur daripada keikhlasan.”
Nanang mendekatinya dengan pelan, seperti angin musim panas yang kering hingga Rinjani tak menyadari keberadaannya.
“Sejak tadi kamu belum selesai berdandan?” kata Nanang.
Rinjani menoleh seraya menghapus air matanya. “Perutku tiba-tiba sakit, seperti mau diare tapi tidak jadi-jadi.”
“Alasan. Tunggu.” Nanang menyeringai. “Itu pasti gara-gara nasi padang yang di beli Sastra. Kamu kebanyakan sambal?”
Rinjani mengangguk, lalu paham, dunianya bukan miliknya sendiri. Dia berbagi dengan pria yang masih memakai topi hitam itu baik tanpa persetujuannya atau tidak.
“Jangan menguntit aktivitasku.”
“Apa yang Masku lakukan dulu, aku teruskan. Lagipula.” Nanang berlutut, mengambil kembang kantil dari atas rumput dan menghirupnya. “Tidak perlu jaga image di depanku, aku tidak segalak Mas. Kamu boleh makan banyak dan ngemil.”
Rinjani berdehem, tidak mau mendebatnya, tidak mengindahkan pula nasihatnya untuk tidak jaga image. Energinya sudah menghilang dari raga yang sudah bersahabat dengan minyak urut dan jamu-jamuan.
-