Renita Rakhwati Putri, Gadis yang sudah siap menikah, namun tak kunjung ada laki-laki yang datang kepada nya. Hingga akhirnya, adiknya yang telah memiliki pasangan berniat untuk menikah muda.
Namun niat adik nya terhalang restu sang ayah. Karena ayah dari Renita masih percaya hal-hal kuno, dan menganggap adik yang menikah melangkahi kakak nya adalah suatu aib yang sangat memalukan dan melanggar adat.
Renita akhirnya di paksa menikah secepat nya, karena laki-laki calon suami sang adik sudah tidak mau menunggu lama lagi. Renita harus berkorban menikah cepat dan kilat demi sang adik.
Cerita lengkapnya akan temen-temen baca di naskah novel Ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noktafia Diana Citra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Hari ini, tepat tiga hari kak Renita pulang dari rumah sakit. Hari ini pula rencana aku dan mas Andre akan dilaksanakan. Lebih tepat nya nanti malam, saat semua orang rumah sudah terlelap. Sebenarnya aku sangat gugup dan takut, karena ini kali pertamanya aku melakukan hal demikian, meskipun aku termasuk anak yang tergolong nekat. Tapi untuk urusan kabur dari rumah dan membuat semua orang panik barulah pertama kali nya.
" Kamu sudah siap sayang nanti malam ?".
Aku membaca pesan masuk dari mas Andre.
" Yahh... siap tidak siap mas. Sebenarnya Zaskia agak takut". Balasku.
" Tidak perlu takut sayang, ada aku. Yang terpenting sekarang kamu berkemas. Bawa baju dan barang secukupnya saja. Biar saat turun dari jendela tidak kesusahan".
" Jam berapa kamu akan membawaku kabur dari rumah ?".
" Biasanya orang rumah kamu, pada tidur jam berapa beb ?".
" Ya sekitar jam 1 malam, sudah pada terlelap paling. Soalnya ayah yang kadang begadang menggarap laporan dan tugas kantor".
" Waduh.... lalu bagaimana jika sampai ayah tahu?".
" Tenang, nanti aku akan kabari mas, jika situasinya sudah aman. Oke".
" Oke sayang".
Aku tidak membalas pesan terakhir dari mas Andre. Saat ini aku sangat gugup, entah sudah berapa kali aku bolak-balik di kamar. Benar-benar menguji adrenalin. Jendela kamarku memang langsung mengarah ke kebun samping rumah. Jendelanya cukup besar, dan bersyukur nya lagi hanya jendela ku yang belum di pasangan jeruji atau kerangka besi untuk pengamanan. Aku mempacking beberapa baju dan barang yang akan aku bawa selama aku kabur dari rumah. Tidak banyak, hanya satu gendong tas ransel, dan satu tas jinjing. Aku rasa ini tidak akan terlalu banyak.
" Tokk... tok... tokkk".
Aku mendengar pintu kamarku di ketuk oleh seseorang. Entahlah siapa, yang jelas aku panik dan langsung mendorong tas ransel dan tas jinjing yang sudah aku siapkan kedalam bawah kolong tempat tidur.
" Yaa sebentar". Ucapku sambil membuka pintu.
Pintu kamarku terbuka dan aku melihat wajah Ayah berada tepat di depan pintu kamarku. Tidak biasanya Ayah datang ke kamarku seperti ini. Jelas, aku semakin gugup. Semoga saja, ayah tidak menangkap gelagat aneh dari ku, dan tidak menyadari wajahku yang sangat panik.
" A- ayah ?, ada apa yah ?. Tumben ayah ke kamar Zaskia".
" Kamu kenapa sangat gugup Zaskia ?!. Apa ayah mengganggu kamu ?".
" Ti-ti-tidak ayah, Zaskia hanya kaget saja. Apa ada yang ayah butuhkan ?". Tanyaku berusaha untuk tenang.
Ayah tidak menjawab pertanyaan ku, dan langsung menyelonong masuk kedalam kamarku. Aku sangat panik, keringat dingin keluar semua. Semoga ayah tidak lama-lama berada dalam kamarku. Bisa bahaya kalau sampai ketahuan ayah. Sesekali aku memejamkan mataku, dan menggaruk kepalaku yang mendadak gatal.
" Zaskia, maafkan ayah. Ayah belum bisa memberikan kamu restu untuk menikah, sampai Renita benar-benar sudah menikah".
Aku kaget, bukan karena ayah yang masuk dalam kamarku, tapi karena kata-kata yang keluar dari mulut ayah, yang barusan aku dengar. Ayahku meminta maaf padaku ?!. Apa aku tidak salah dengar?!. Aku hanya diam, dan tidak menanggapi perkataan ayah barusan.
" Renita memang anak pembawa sial, dia menyusahkan dan membuat orang lain susah !!".
Kali ini, aku melihat sorot mata ayah yang tajam, dengan dua bola matanya yang membulat. Sepertinya ayah sedang emosi pada kak Renita.
" Su-sudahlah ayah, tidak apa". Jawabku datar.
Walaupun sebenarnya aku juga sangat benci kak Renita, meksipun dia kakakku, tapi gara-gara kak Renita, aku harus kabur dari rumah segala hanya untuk bisa mendapatkan restu menikah. Hanya kemarin-kemarin aku tidak tega saja, melihat kak Renita yang sekarat. Biar aku benci, aku juga masih punya perasaan, apalagi saat itu, ayah sama sekali tidak mau menjenguk kak Renita di rumah sakit. Oh, jangankan menjenguk, khawatir pun tidak. Entahlah, mengapa ayah bisa setega itu pada putrinya.
" Tidak !!,. Ayah tetap harus mencarikan laki-laki secepatnya untuk anak sialan itu. Dia punya wajah cantik, mirip dengan bapaknya. Tapi kenapa dia tidak laku juga ?!!".
Aku bingung dan kaget mendengar ucapan ayah barusan. Kak Renita mirip dengan bapak nya ? berarti yang di maksud kan ayah ?. Tapi kenapa saat mengucapkan itu, sorot mata ayah sangat tajam dan menakutkan. Seperti ada kebencian yang telah lama ayah pendam. Tapi aku tidak berani bertanya lebih jauh, dan lebih memilih untuk diam.
" Ay-Ayah. Lagi pula kak Renita baru saja pulang dari rumah sakit. Mungkin kak Renita masih shock". Ucapku menenangkan ayah.
" Ayah tidak perduli !!. Kali ini ayah yang akan mencarikan laki-laki untuk Renita !!. Mau tidak mau, suka tidak suka. Renita harus menikahi laki-laki pilihan ayah!!!".
Lagi-lagi aku hanya diam. Tidak tahu harus bagaimana lagi, antara benci dan kasihan dengan kak Renita. Semuanya semakin rumit, dan benar-benar membuat sakit kepala. Bahkan rasa gugup ku yang sedari tadi datang menghantui, tiba-tiba hilang dan sirna begitu saja. Tuhan, kenapa susah sekali mencarikan jodoh untuk kak Renita?!".
" Yasudah, ayah balik ke ruang kerja dulu. Ayah akan berusaha untuk mencarikan laki-laki bagi Renita si anak sialan itu !!".
Aku melihat tubuh ayah yang pergi meninggalkan kamarku. Sedang aku, langsung menjatuhkan tubuhku kedalam pelukan kasur yang empuk. Aku benar-benar sangat pusing dan sakit kepala. Kenapa semuanya jadi ruwet begini. Bagaimana perasaan kak Renita, jika dipaksa di jodohkan dengan laki-laki pilihan ayah. Aku yakin, kak Renita pasti masih sangat trauma karena kejadian lamaran dengan teman mas Andre. Kak Renita pasti masih sangat terluka, tidak mungkin rasanya, jika kak Renita harus menerima laki-laki lagi, sedang lukanya pun belum kunjung terobati.
Aku melirik ke arah jam kotak yang terletak di dekat meja rias milikku. Jarum pendek menunjukkan pada pukul 4 sore. Itu artinya hanya beberapa jam lagi, rencana ku dengan mas Andre akan segera terlaksana. Aku merebahkan diriku. Aku kemudian langsung bangkit, dan mendorong kursi menuju ke jendela yang akan digunakan olehku untuk kabur dari rumah. Aku ingin menyiapkan segalanya dengan sangat rapih. Tujuan nya jelas agar tidak ada satupun orang rumah yang memergoki diriku. Pengunci jendela sudah kubuka. Aku melirik ke arah bawah, tidak terlalu tinggi, tapi lumayan jika harus melompat.
" Mas, aku gugup".
Aku mengirimkan pesan singkat pada mas Andre.
" Sudah, tidak perlu gugup. Jika kamu gugup rencana nya bisa gagal dan kita jadi tidak bisa menikh. Percaya saja, semuanya akan baik-baik saja, dan kita agar segera menikah sayang'.
Aku mencoba untuk tenang dan berdoa semoga semuanya lancar.
Belum apa" banyak bawangnya 😭
sukses
semangat