NovelToon NovelToon
Istriku Mengubah Hidupku

Istriku Mengubah Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ramirisss

Bumi mengalami kehancuran dengan munculnya banyak Monster melalui retakan dimensi, hingga bencana ini disebut sebagai The Chaos.

Manusia mulai beradaptasi dan berevolusi. Kini setiap manusia punya Status Window sebuah layar hologram mengambang yang hanya dapat dilihat oleh pemiliknya. Dan manusia pun disebut sebagai Userator. Namun tidak semua Userator itu kuat, karena syarat menjadi kuat adalah Awakening.

Arka adalah Userator biasa yang belum Awakening, ia bekerja sebagai kuli bangunan. Tiba-tiba dinikahkan dengan seorang gadis bernama Sisil untuk melunasi hutang Ibunya.

Siapa sangka setelah menikah—Arka malah Awakening, kekuatannya meningkat.

[Bahagiakan Istrimu untuk mendapatkan banyak keuntungan dan meningkatkan kekuatanmu!]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramirisss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13 Pria Merepotkan

​Arka berjalan kaki menyusuri gang sempit menuju rumah susun kontrakannya. Mobil hypercar Bugatti LVN barunya sengaja ia tinggalkan di garasi aman vila PIK 2. Membawa monster aspal seharga miliaran ITD itu ke kawasan padat penduduk distrik bawah sama saja dengan memancing keributan dan mengundang perhatian yang tidak diinginkan—lagipula, tidak ada lahan parkir yang layak di sana.

​Malam pun tiba. Di dalam kamar mereka yang temaram, kehangatan mengalir saat Arka dan Sisil duduk berhadapan menikmati makan malam sederhana yang dimasak oleh Sisil.

​"Bagaimana jalan-jalan dengan temanmu hari ini, Sayang? Seru?" tanya Arka, menyuap nasi hangat ke mulutnya.

​Sisil tersenyum manis, mengangguk pelan. "Seru kok, Mas. Karena sudah bertahun-tahun tidak bertemu, kami jadi punya banyak cerita untuk dibagi."

​"Oh, baguslah kalau kamu senang," ucap Arka ikut merasa lega.

​Namun, sedetik kemudian, raut wajah Sisil mendadak berubah muram. Ia meletakkan sendoknya, menunduk dengan tatapan bersalah. "Tapi... Mas, aku mau minta maaf."

​Arka menghentikan kunyahannya, menatap istrinya dengan dahi berkerut. "Minta maaf kenapa, Sayang?"

​"Pagi tadi kan aku bilangnya hanya akan pergi berdua saja dengan Temanku. Tapi... di tengah-tengah acara, situasinya malah jadi bertiga," ucap Sisil lirih, merasa tidak enak karena telah melanggar ucapan sebelumnya.

​"Temanmu membawa orang lain?" tanya Arka mencoba merunut situasi.

​Sisil kemudian menceritakan kronologi singkat saat mereka di kafe; mulai dari Chika yang menerima telepon mendadak, hingga kedatangan seorang pria yang merupakan teman Chika dari Korea. Sisil sengaja tidak menyebutkan identitas pria itu lebih banyak untuk menghindari pembahasan yang terlalu rumit.

​"Oh, begitu ceritanya. Ya tidak apa-apa, Sayang. Itu kan bukan kesengajaan darimu," sahut Arka santai setelah mendengar penjelasan jujur istrinya.

​Sisil mendongak, matanya yang bulat mengerjap cemas. "Aku sempat takut Mas akan marah... kebetulan orang yang menyusul itu seorang laki-laki."

​Arka melepaskan tawa renyah, mengulurkan tangannya untuk mengelus pipi lembut Sisil. "Gak mungkin aku marahin kamu hanya karena hal seperti itu, Sayang. Kamu sudah jujur dan langsung cerita saja sudah membuatku sangat senang."

​Sisil mengembuskan napas lega yang amat sangat, bebannya runtuh seketika. "Syukurlah kalau Mas tidak marah..." ucapnya kembali tersenyum manis. Mereka pun melanjutkan makan malam dengan diselingi canda tawa ringan.

​Beberapa jam kemudian, malam makin larut. Keduanya kini sudah berbaring di atas kasur lantai mereka. Lengan kokoh Arka terulur ke samping, menjadi bantalan kepala bagi Sisil yang menyurukkan tubuh mungilnya dengan nyaman di dada bidang sang suami.

​"Sayang, aku sudah menyiapkan vila baru untuk tempat tinggal kita," bisik Arka di tengah keheningan malam.

​"Eh, serius, Mas? Memangnya Mas beli vila di daerah mana?" tanya Sisil mendongak, menatap dagu Arka.

​"Di kawasan PIK 2. Di sana lingkungannya jauh lebih bersih, aman, dan pastinya nyaman untuk kamu," jawab Arka lembut.

​Mata Sisil berkedip tak percaya. "PIK 2? Bukankah itu kawasan perumahan super elite yang sangat mahal, Mas? Dulu... Ibu tiriku selalu mengoceh setiap hari, bilang kalau impian terbesar hidupnya adalah bisa tinggal di sana."

​Arka tersenyum tipis, mengingat betapa kejamnya ibu tiri Sisil yang dulu membuang gadis ini demi utang. Ia menundukkan kepalanya, mendaratkan sebuah kecupan dalam di puncak kepala Sisil.

​"Jangankan PIK 2, untuk membuatmu bahagia, aku rela membayar berapa pun harganya di dunia ini," ucap Arka dengan nada rendah yang sarat akan komitmen.

​Dada Sisil berdesir hebat mendengar kalimat romantis yang begitu tulus. "Terima kasih banyak ya, Mas..."

​"Sama-sama. Besok siang kita pergi melihat fisiknya bersama-sama, bagaimana?" tawar Arka.

​"Mau! Aku pengen banget lihat rumah baru kita!" sahut Sisil bersemangat, matanya berbinar riang.

​"Aku jamin kamu pasti akan langsung suka," kekeh Arka.

​Detik berikutnya, suasana di dalam kamar mendadak berubah intens. Sisil perlahan bangkit dari rebahannya, menyibakkan selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Di bawah temaram lampu tidur, siluet tubuh indahnya terekspos sempurna di balik lingerie sutra berwarna merah transparan.

​Dengan gerakan lambat namun penuh godaan, Sisil memosisikan dirinya duduk di atas pinggang Arka. Wajahnya yang memerah sempurna menatap langsung ke netra suaminya, menyiratkan gairah yang mendalam.

​"Mas... aku pengen dimanjain malam ini," bisik Sisil dengan suara parau yang sangat seksi.

​Arka menyeringai nakal, menatap lekuk tubuh istrinya yang luar biasa menggoda. "Sini, cium aku."

​Tanpa ragu, Sisil langsung merebahkan tubuh mungilnya di atas dada Arka, mempertemukan belahan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang sangat intens dan menuntut.

Lidah mereka saling bertautan, membiarkan pertukaran saliva yang hangat membakar atmosfer kamar menjadi makin panas. Tangan kokoh Arka bergerak naik, mencengkeram lembut tengkuk Sisil untuk memperdalam pagutan mereka.

​Beberapa menit berlalu dalam keintiman yang memabukkan, hingga akhirnya Sisil menarik wajahnya sedikit menjauh, terengah-engah karena kehabisan napas. Sesaat setelah bibir mereka terpisah, setitik air liur tipis yang menyatu membentuk seutas tali bening tampak menyambung di antara kedua belah mulut mereka sebelum akhirnya terputus pelan.

​Di saat yang sama, Sisil merasakan ada sesuatu yang mendadak bergerak membesar dan mengeras secara masif di balik celana Arka—tepat di bawah pinggang yang saat ini ia duduki.

​"Mas~" lenguh Sisil manja, bersiap untuk tenggelam dalam pertempuran panjang tak terbatas malam itu.

​Keesokan harinya, matahari siang bersinar terik memayungi distrik komersial tengah. Di dalam sebuah supermarket modern, Sisil berjalan perlahan sembari mendorong troli belanjaan seorang diri. Wajahnya memancarkan rona kebahagiaan yang sangat cerah selagi ia memilah beberapa sayuran segar dan bahan kebutuhan dapur.

​‘Mas Arka itu... benar-benar selalu mentransfer uang dalam jumlah besar ke rekeningku setiap hari, padahal jatah belanja yang sebelumnya saja masih menumpuk belum tersentuh,’ batin Sisil, menggelengkan kepalanya geli.

‘Dulu aku selalu pusing memikirkan bagaimana caranya agar uang tidak habis. Sekarang, aku malah pusing memikirkan bagaimana cara menghabiskan tumpukan ITD ini... Ujung-ujungnya uangnya malah makin menumpuk di tabungan.’

​Saat Sisil sedang sibuk menimbang buah, sebuah suara bariton tiba-tiba menyapanya dari arah samping.

​"Halo, Sisil."

​Sisil tersentak kaget. Ia langsung menoleh dan mendapati sesosok pria tampan berwajah oriental dengan pakaian kasual bermerek tengah berdiri di dekatnya. Pria itu adalah Min Suho.

​"Su-Suho? Kenapa Anda bisa ada di sini?" tanya Sisil terkejut, melangkah mundur satu langkah secara refleks untuk menjaga jarak aman.

​"Hmm? Kebetulan aku sedang ingin berbelanja beberapa keperluan harian saja. Tidak menyangka kita bisa bertemu di sini. Kamu sendiri... sedang belanja juga?" ucap Suho dengan senyum ramah yang menawan, menatap isi troli Sisil.

​"Iya, untuk kebutuhan rumah," jawab Sisil singkat dan formal. Merasa tidak nyaman dengan kehadiran Suho, Sisil buru-buru mendorong trolinya menuju ke arah barisan meja kasir untuk segera menyelesaikan pembayarannya.

​"Total semuanya menjadi 34.000 ITD, Nona," ucap petugas kasir setelah memindai seluruh barang belanjaan Sisil.

​Sisil baru saja hendak meraba tasnya untuk mengeluarkan kartu debit pribadinya, namun sebuah tangan tegap dengan cepat mendahuluinya. Suho menyodorkan sebuah kartu khusus berwarna hitam pekat dengan lambang tata surya ke hadapan kasir.

​Mata petugas kasir itu seketika membelalak horor, mulutnya menganga lebar. "A-Astaga... Kartu Identitas Userator 6 Stars?!" pekik sang kasir bergetar hebat.

​Pekikan itu tak pelak langsung memicu kehebohan masif di dalam supermarket. Seluruh pengunjung di sekitar area kasir langsung menoleh, kasak-kusuk dengan pandangan histeris.

​"Eh, seriusan?! Ada seorang Userator 6 Stars di supermarket distrik bawah ini?!"

"Gila! Beruntung banget kita bisa melihat sosok pilar dunia dari dekat!"

"Lihat itu... Apakah dia sedang berbelanja bersama dengan kekasihnya?"

"Kelihatannya begitu! Pria itu sedang membayar seluruh belanjaan untuk gadis di sebelahnya. Romantis sekali!"

"Wah, mereka berdua terlihat sangat cocok! Yang satu tampan dan gagah, yang satunya lagi sangat cantik dan imut!"

​Mendengar bisikan-bisikan publik yang makin melantur, kenyamanan Sisil terusik sepenuhnya. Wajahnya berubah dingin. Tanpa ragu, ia langsung menyambar Kartu 6 Stars milik Suho dari tangan petugas kasir, lalu mengembalikannya secara kasar ke dada Suho.

​"Tidak perlu, Tuan Suho. Saya bisa membayar belanjaan saya sendiri," ucap Sisil tegas, lalu mengeluarkan kartu debitnya sendiri dan menyerahkannya ke kasir yang masih gemetaran.

​"Kenapa, Sil? Hanya 34.000 ITD, aku bisa dengan mudah membayarkannya untukmu," ucap Suho, menatap Sisil dengan dahi berkerut, heran mengapa pesona dan kekayaannya ditolak mentah-mentah.

​"Tidak usah. Saya punya uang sendiri yang lebih dari cukup," jawab Sisil mutlak.

Setelah proses transaksi selesai dan struk tercetak, Sisil langsung menyambar kantong belanjaannya dan melangkah keluar dari supermarket dengan cepat, sama sekali tidak memedulikan keberadaan sang pahlawan Korea di belakangnya.

​"Sisil, tunggu sebentar!" Suho bergegas mengejar langkah cepat Sisil yang mengabaikannya.

​Melihat kejar-kejaran itu, orang-orang di luar supermarket kembali berbisik.

"Ada apa itu? Apa mereka sedang bertengkar?"

"Kayaknya iya... Sang kekasih sepertinya sedang ngambek, hahaha."

​Begitu tiba di trotoar luar yang agak sepi, Suho berhasil menyusul dan memotong jalur jalan Sisil.

​"Sil, tolong dengarkan aku dulu. Maafkan perbuatanku tadi di dalam," ucap Suho dengan nada menyesal, menatap mata jernih Sisil. "Aku sama sekali tidak bermaksud untuk merendahkan atau meremehkan finansialmu. Aku murni hanya ingin bersikap sopan dan membayarkan belanjaanmu."

​Sisil menghela napas panjang, menatap Suho dengan pandangan datar tanpa emosi. "Ya, tidak apa-apa. Saya tidak tersinggung."

​"Sebagai bentuk permintaan maaf yang tulus, bagaimana kalau aku mengantarmu pulang ke rumah sekarang?" tawar Suho lagi, menunjuk sebuah mobil sport mewah yang terparkir di seberang jalan.

​"Gak usah, Tuan Suho. Saya bisa pulang sendiri," tolak Sisil instan.

​"Kenapa menolak? Aku bisa mengantarmu menggunakan mobil pribadiku dengan sangat cepat. Itu jauh lebih aman dan nyaman daripada kamu harus berdesakan naik angkutan umum atau taksi biasa," ucap Suho bersikeras, sangat percaya diri dengan fasilitas mewah yang ia miliki.

​"Saya justru jauh lebih nyaman naik angkutan umum," sahut Sisil dingin.

​Suho tertegun, egonya sebagai pria papan atas sedikit terusik. "Hah? Bagaimana bisa? Mobilku jauh lebih nyaman dari apa pun di distrik ini, aku berani menjaminnya."

​Sisil memijat pangkal hidungnya, merasa lelah dengan sifat keras kepala pria di depannya. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Suho dengan sorot mata serius.

​"Tuan Suho yang terhormat, tolong hentikan sikapmu ini. Saya tidak ingin ada orang lain yang salah paham jika melihat kita terus bersama seperti ini," ucap Sisil penuh penekanan.

​"Kamu abaikan saja omongan orang-orang yang ada di sekitar kita," balas Suho acuh tak acuh.

​"Bukan masalah omongan mereka! Tapi karena aku itu sudah—"

​BOOOMM!

​Belum sempat Sisil menyelesaikan kalimatnya, sebuah guncangan dahsyat mendadak merobek permukaan tanah.

Aspal di sepanjang jalan utama distrik tengah retak menceruk, menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan kaca-kaca gedung di sekitar mereka.

​"Aaaahhh!"

"Tolong! Tolong ada monster!"

"Lari! Ada monster muncul di tengah kota!"

​Dalam sekejap, atmosfer damai siang itu berubah menjadi neraka kepanikan massal. Ribuan warga sipil berlari tunggang-langgang dengan wajah pucat pasi. Kendaraan-kendaraan di jalan raya menginjak pedal gas dalam-dalam, saling bertabrakan demi bisa melarikan diri dari episentrum guncangan.

​Dari balik kepulan debu runtuhan jalan, bermunculan sesosok makhluk-makhluk kolosal bertubuh zirah batu hitam dengan ukuran yang tidak masuk akal—tinggi mereka menjulang melewati puncak gedung pencakar langit, memancarkan aura tekanan magis yang mencekam. Jumlah mereka tidak hanya satu, melainkan lima monster raksasa sekaligus.

​Mata Min Suho seketika menyipit tajam, rahangnya mengatup rapat melihat makhluk-makhluk kolosal tersebut.

 "Bagaimana mungkin... Kenapa ada monster kelas Overlord yang mendadak muncul secara serempak di tengah kota seperti ini?!" gumam Suho bingung dan tegang. Fluktuasi energi ini benar-benar tidak masuk akal bagi pertahanan dalam kota.

​Sisil yang berdiri di sampingnya langsung memucat, tubuh mungilnya bergetar hebat menatap ukuran monster-monster mengerikan yang tampak laksana dewa penghancur di depannya.

​"Sisil! Cepat menjauh dan cari tempat berlindung di dalam gedung evakuasi Serikat! Di sini sangat berbahaya!" teriak Suho dengan nada mutlak, auranya sebagai petarung tertinggi langsung meledak aktif. "Aku yang akan menahan dan menghabisi bajingan-bajingan raksasa ini!"

​BOOM!

​Tanpa menunggu jawaban, tubuh Min Suho melesat laksana peluru kendali, membelah udara dengan kecepatan penuh menuju ke arah barisan monster kelas Overlord yang mulai mengayunkan gada batu mereka untuk menghancurkan kota.

​Bersambung...

1
Alia Chans
lanjut thor😣
like+ bunga🌹✍️






kalo berkenan mmpir y thor😉
Arts: makasih udah mampir
total 1 replies
**Maulina**
lanjut thor💪
Arts: siap, ditunggu ya
total 1 replies
Zem Pioneer
namalu dapin bg?
Zem Pioneer: temen cewek gw baru putus namanya sisil ga lama ini,kali aja lu cowoknya yg gamon...sorry dah 🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Dell AliNka
up yg banyak Tor
Arts: ditunggu ya
total 1 replies
Nyxara_09
keren! btw semangat kak!
Nyxara_09: iya kak, maaf yaa🙏
total 2 replies
sakura
...
Kim Borahae
hii, ceritanya seru.. SUKAAAA😍 Semangat terus ya 💪.


Btw saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa boleh singgah profile dan like .. terima kasih /Grin/
Key Kastara
Halo author, smangat selalu buat cerita kerennya 😍👍
Arts: makasih
total 1 replies
Sahabat Oleng
Hadir thor☝️
Arts: thankyou udah hadir
total 1 replies
Ofu Madu
💪
Ofu Madu
bagus👍..up yg bnyk torr
Arts: ditunggu ya, makasih udah mampir
total 1 replies
Ofu Madu
lanjut 👍
cila_aa
ihh seruu next chapter selanjutnya thor/Smile/
Arts: makasih udah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!