Saya Punya Novel Baru nih guys. Jangan Lupa Buat Mampir baca ya. Ceritanya tentang cowo cool yang jatuh cinta pada seorang cewe disekolahnya.
Sinopsis :
Karena kelelahan bekerja, Nathan meninggal dan tereinkarnasi ke dunia lain. Di Kehidupannya yang baru ini Nathan memutuskan untuk menjalani hidup yang bebas akan tetapi untuk mewujudkan itu Nathan harus menghadapi berbagai halangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thenawa09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gua Rahasia dan Monster Hibrida
Begitu melewati ambang gua, hawa dingin dan lembap langsung menyergap. Suasana di dalam sangat kontras dengan hutan yang dipenuhi kehidupan di luar. Udara terasa berat, dipenuhi bau logam, obat-obatan kimia, dan sesuatu yang... busuk. Lorong gua itu tidak alami; dindingnya halus dan diterangi oleh bola lampu kristal yang memancarkan cahaya kehijauan suram, jelas buatan manusia.
"Tetap waspada," bisik Roy, berjalan di depan dengan buku sihirnya tetap terbuka. Paman Jorgi mengikuti di sampingnya dengan pedang terhunus.
Nathan, Ely, dan Jonas berjalan berjejer di belakang. Nathan merasakan energi kegelapannya bergolak, seolah merespons kejahatan yang bersemayam di tempat ini. Ely menggenggam jubah Nathan dengan erat, sementara Jonas, meski masih lemah, matanya awas memindai setiap sudut.
Mereka berjalan menyusuri lorong yang menurun. Suara tetesan air dan gemeresik kaki mereka adalah satu-satunya bunyi yang terdengar, menambah kesan menyeramkan.
Tiba-tiba, Roy mengangkat tangan, memberi isyarat untuk berhenti. "Ada sesuatu di depan."
Dari kegelapan, sepasang mata merah menyala muncul. Lalu sepasang lagi, dan lagi. Suara geraman rendah dan mendengus mulai terdengar, mengisi lorong.
"Bersiap!" teriak Paman Jorgi.
Dari kegelapan, makhluk-makhluk aneh merayap keluar. Mereka adalah monster hibrida yang dikatakan Billy. Satu memiliki tubuh serigala besar seperti yang pernah dilawan Nathan, tetapi dengan tanduk banteng dan kulit bersisik. Yang lain seperti ular raksasa, tetapi dengan kaki serangga yang runcing dan mulut yang dipenuhi taring. Mata mereka kosong dan penuh kegilaan, air liur menetes dari mulut mereka.
"Monster-monster itu... mereka menderita," bisik Ely dengan suara sedih.
"Jangan kasihan, Ely," kata Roy dengan tegas. "Mereka sudah tidak bisa diselamatkan. Tujuan kita adalah mengakhiri penderitaan mereka."
Sekelompok monster hibrida itu menerjang. Roy tidak ragu dan langsung melancarkan sihirnya. "Sihir Cahaya: Tembakan Matahari!" Bola-bola cahaya murni melesat dari buku sihirnya, menghantam monster-monster itu. Begitu tersentuh cahaya, tubuh mereka mengeluarkan asap hitam dan menjerit kesakitan sebelum akhirnya rubuh tak bergerak.
Paman Jorgi pun tidak mau ketinggalan. Dia maju dan bergerak dengan lincah. "Sihir Petir: Tarian Kilat!" Pedangnya berputar-putar, menebas dan menusuk dengan kecepatan tinggi, meninggalkan jejak kilat di setiap sasarannya. Monster-monster itu tidak mampu mendekat.
Nathan, Ely, dan Jonas juga tidak tinggal diam. Jonas, meski sihir buminya melemah, masih bisa membuat jebakan kecil untuk memperlambat gerakan monster. Ely menggunakan sihir anginnya untuk meniup monster yang mencoba mendekati dari samping.
Nathan mencoba sesuatu yang baru. Daripada kabut luas, dia memusatkan sihir kegelapannya menjadi pelindung di sekeliling mereka. "Sihir Kegelapan: Perisai Bayangan!" Sebuah dinding energi hitam tembus pandang muncul, menyerap serangan cakar dan gigitan monster. Setiap kali monster menyentuhnya, mereka menjerit kesakitan seolah terbakar.
"Hebat, Nathan!" puji Jonas.
Mereka terus bergerak maju, melawan gelombang monster hibrida. Dengan setiap langkah, hati Nathan semakin sesak. Dia melihat langsung hasil dari eksperimen jahat ini—makhluk hidup yang disiksa dan disatukan dengan paksa, hanya untuk dijadikan senjata.
Setelah berhasil melewati ruangan pertama yang penuh monster, mereka tiba di sebuah persimpangan. Dua lorong bercabang, satu menuju ke bawah dengan tangga batu, dan satu lagi lurus ke depan dengan pintu besi.
"Kita pisah?" usul Paman Jorgi.
Roy menggeleng. "Terlalu berisiko. Kita tidak tahu kekuatan musuh. Mari kita ambil lorong lurus dulu. Sepertinya itu menuju ruang kendali atau tempat yang penting."
Mereka mendekati pintu besi. Roy mencoba mendorongnya, tetapi terkunci. "Diberi sihir pengunci." Ucap Roy.
"Biarkan aku," ucap Paman Jorgi. Dia mengalirkan sihir petir ke pedangnya hingga berkilau terang. "Sihir Petir: Penusuk Gerbang!" Dia menusukkan pedangnya ke celah pintu. Energi listrik membanjiri mekanisme kunci, dan dengan suara 'klik', pintu itu terbuka.
Ruangan di balik pintu membuat mereka terpana. Itu adalah laboratorium yang luas. Tabung-tabung kaca besar berjejer di dinding, berisi cairan hijau dan... tubuh manusia yang cacat dan tak bernyawa. Di atas meja-meja logam, terdapat peralatan bedah yang berdarah dan catatan-catatan sihir yang rumit.
"Tuhan..." ucap Ely memalingkan muka, merasa mau muntah.
Nathan merasa marah yang membara. "Ini... ini bukan eksperimen. Ini pembunuhan!"
Di ujung ruangan, seorang pria berjubah putih dengan rambut acak-acakan sedang sibuk dengan sebuah konsol, tidak menyadari kedatangan mereka. Dia adalah salah satu ilmuwan bayaran.
Roy berjalan mendekat dengan langkah berat. "Ilmuwan! Eksperimenmu sudah berakhir!"
Ilmuwan itu terkejut, berbalik. Wajahnya pucat dan matanya liar. "Siapa kau? Bagaimana kau bisa masuk?!"
"Kami di sini untuk menghentikan kekejian ini," geram Paman Jorgi.
"Kekejian?" ilmuwan itu tertawa gila. "Ini adalah kemajuan! Kita sedang menciptakan pasukan terkuat! Lihatlah!" Dia menekan sebuah tombol.
Salah satu tabung kaca besar terbuka. Cairan hijau tumpah, dan dari dalamnya, seorang manusia dengan lengan yang berubah menjadi capit kalajengking dan mata serangga merangkak keluar. Dia mengeluarkan erangan yang tidak manusiawi.
"Bebaskan... aku..." suara parau keluar dari mulutnya, membuat bulu kuduk semua orang merinding.
"Dia masih sadar?" teriak Nathan dengan ngeri.
"Tentu! Itu yang membuatnya sempurna! Kekuatan monster dengan kecerdasan manusia!" teriak ilmuwan itu bangga.
Roy tidak tahan lagi. Dengan gerakan cepat, dia mengucapkan mantra. "Sihir Cahaya: Panah Penghukum!" Sebuah panah cahaya melesat dan menancap di dada ilmuwan itu. Dia terlempar ke belakang dan tak bergerak.
Nathan berlari mendekati manusia-monster yang malang itu. Makhluk itu menatapnya dengan mata penuh penderitaan.
"Tolong... bunuh... aku..." pintanya.
Air mata mengalir di pipi Nathan. Dia tidak sanggup. Dia tidak bisa membunuh seseorang yang masih memiliki kesadaran.
Paman Jorgi mendekat, wajahnya suram. Dia mengangkat pedangnya. "Tenanglah, saudara. Penderitaanmu akan segera berakhir." Dengan satu tebasan cepat dan bersih, dia mengakhiri hidup makhluk malang itu.
Suasana di ruangan itu menjadi hening, dipenuhi oleh kesedihan dan kemarahan. Mereka baru saja menyaksikan salah satu wajah paling kejam dari konspirasi ini.
"Kita harus terus berjalan," kata Roy, memecah keheningan. Suaranya berat. "Kita harus menemukan Alistair dan menghentikan ini sampai ke akarnya."
Mereka meninggalkan ruangan laboratorium yang mengerikan itu dengan tekad yang semakin bulat. Kapten Alistair dan sisa-sisa Shadow Wolf harus dihentikan, apa pun yang terjadi. Dendam dan kesedihan kini menjadi bahan bakar perjalanan mereka lebih dalam ke dalam gua.
Semangat terus kak 💪