NovelToon NovelToon
SARUNG TANGAN PENGHANCUR GUNUNG

SARUNG TANGAN PENGHANCUR GUNUNG

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Bagi Zei, dunia hanyalah hamparan lumpur sawah Desa Danau Keruh dan beratnya cangkul di pundak. Namun, segalanya runtuh dan lahir kembali ketika ia menyaksikan Turnamen Musim Semi. Di atas panggung kuarsa, ia melihat Qian Yue’er—sang "Permata" dari Sekte Cendrawasih—bertarung dengan keanggunan yang menyerupai tarian burung surga.

​Terpikat oleh keindahan yang mustahil itu, Zei menolak takdirnya sebagai petani. Menggunakan Qi elemen tanah yang kasar dan memodifikasi alat tani menjadi senjata, ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen. Di tengah cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya "pungguk merindukan bulan", Zei harus bertarung melawan rasa mindernya sendiri.

​Ini bukan tentang menjadi yang terkuat di kolong langit, ini tentang sebuah janji naif seorang anak desa: agar bisa berdiri di panggung yang sama dan melihat sang bulan menari sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog

​Bagi orang-orang di Desa Danau Keruh, tanah adalah segalanya. Tanah memberi makan, tanah menumbuhkan padi, dan pada akhirnya, tanah pula yang akan mengubur tulang-belulang mereka. Zei tumbuh dengan keyakinan itu. Di lengannya yang legam terbakar matahari, mengalir Qi elemen tanah yang kasar—energi yang hanya ia gunakan untuk mencangkul lebih cepat atau memastikan akar-akar tanaman tidak membusuk saat musim hujan. Dunia Zei sejauh mata memandang hanyalah hamparan lumpur hitam, kerbau penarik bajak, dan bau keringat.

​Sampai hari itu tiba. Hari di mana Turnamen Musim Semi diadakan di Kota Prefektur, tak jauh dari desanya.

​Zei, yang mengenakan baju rami bertambal dan alas kaki dari anyaman jerami, berdiri di tepi arena turnamen yang megah. Dia berada di antara ribuan penonton yang bersorak, terhimpit di kelas kasta terendah. Di sana, untuk pertama kalinya, Zei melihat bahwa dunia ternyata memiliki warna lain selain abu-abu dan cokelat lumpur.

​Di atas panggung batu kuarsa yang putih bersih, seorang gadis turun dari langit.

​Dia adalah Qian Yue’er dari Sekte Cendrawasih.

​Ketika Yue’er menginjakkan kakinya di arena, angin berembus membawa aroma kelopak bunga yang asing bagi hidung Zei. Gadis itu mengenakan jubah sutra putih murni dengan sulaman benang emas berbentuk bulu burung surga di lengannya. Wajahnya tenang, sedingin es, namun memiliki keindahan yang membuat seluruh keriuhan di stadion mendadak senyap.

​Saat lawan menyerang dengan pedang besar yang membara, Yue’er tidak menghindar dengan kasar. Dia bergerak. Dan di mata Zei, gerakan itu bukanlah sebuah pertarungan.

​Itu adalah tarian.

​Dengan kibasan selendang suteranya yang dialiri Qi angin, Yue’er melayang di udara, berputar seolah gravitasi tidak berlaku baginya. Gerakannya begitu anggun, begitu ringan, meniru keindahan burung Cendrawasih yang sedang memamerkan pesonanya di pucuk-pucuk pohon surga. Setiap tebasan angin yang ia lepaskan membelah udara dengan estetika yang mematikan. Lawannya tumbang bahkan sebelum berhasil menyentuh ujung jubah putih gadis itu.

​Zei terpaku. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena sebuah kekaguman yang teramat sangat. Di dalam hatinya yang naif, Zei merasa seolah-olah ia baru saja melihat perwujudan dari keindahan alam semesta itu sendiri. Sesuatu yang begitu suci, yang tidak mungkin ada di dunia bising dan kotor tempat ia tinggal.

​Ketika turnamen berakhir dan Qian Yue’er kembali terbang ke atas langit bersama tandu sektenya, Zei menunduk. Ia melihat kedua tangannya yang kasar, penuh kapalan, dan kuku-kukunya yang hitam karena tanah sawah.

​Pungguk merindukan bulan. Zei tahu pepatah itu. Orang desa seperti dirinya, jika berani menatap langsung matahari seperti Qian Yue’er, matanya akan buta.

​Namun, rasa kagum itu terlanjur mengakar di dalam dadanya, sekokoh pohon tua di tengah desanya. Zei tidak menginginkan keabadian. Zei tidak peduli pada gelar kultivator terkuat. Dia hanya tahu satu hal: jika dia tetap tinggal di sawah ini, dia tidak akan pernah melihat tarian indah itu lagi. Satu-satunya cara untuk kembali menatap sang bulan adalah dengan ikut memanjat langit.

​Zei mencengkeram gagang cangkulnya erat-erat, membiarkan Qi tanahnya yang kasar bergejolak. Hari itu, di tepi sawah yang sepi, seorang anak petani memutuskan untuk mulai berlatih.

1
y@y@
👍🏾⭐👍🏻⭐👍🏾
y@y@
💥🌟👍🏿🌟💥
y@y@
👍🏿⭐👍🏻⭐👍🏿
y@y@
🌟👍🏾👍🏼👍🏾🌟
y@y@
💥👍🏿👍🏻👍🏿💥
y@y@
🌟👍🏾👍🏼👍🏾🌟
y@y@
⭐👍🏿👍🏻👍🏿⭐
y@y@
💥👍🏾👍🏼👍🏾💥
y@y@
🌟👍🏿👍🏻👍🏿🌟
y@y@
⭐👍🏾👍🏼👍🏾⭐
y@y@
💥🌟👍🏻🌟💥
y@y@
⭐👍🏾👍🏼👍🏾⭐
y@y@
👍🏿👍🏻🌟👍🏻👍🏿
y@y@
💥👍🏾👍🏼👍🏾💥
y@y@
⭐👍🏿👍🏻👍🏿⭐
y@y@
🌟👍🏼👍🏻👍🏼🌟
y@y@
⭐👍🏿👍🏾👍🏿⭐
y@y@
👍🏻⭐👍🏿⭐👍🏻
y@y@
👍🏾🌟👍🏼🌟👍🏾
y@y@
💥🌟👍🏼🌟💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!