Hasrat adalah sebuah keinginan. Keinginan dalam apapun. Tapi kata "hasrat" biasanya berkonotasi sedikit negatif. Kata itu selalu disandingkan dengan keinginan untuk bercinta.
Sedangkan bagi Abra Ishan Abinawa dia tidak mengenal kata itu. Dia tidak memiliki keinginan untuk berhubungan dengan wanita di usianya yang sudah tidak muda lagi, yakni 32 tahun. Menurutnya wanita itu sungguh ribet dan menyusahkan. Terlebih sebuah alergi muncul saat dia bersentuhan dengan wanita. Hingga dia bertemu oleh seorang gadis yang memanggilnya "Om".
Gadis cantik berusia 25 tahun bernama Ciara Kamila Prasojo itu selalu membuat Abra naik darah. Ada saja ulah Ciara yang membuat Abra kehabisan akal.
Apakah akan muncul hasrat dari Abra kepada Ciara?
Lalu kira-kira hasrat seperti apa itu?
Dan, bagaimana dengan alergi Abra?
Cerita ini pol ringan ya guys. Nggak akan ada konflik yang berat. So nikmati aja oke.
HAPPY READING
pict. by pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Presdir Ketus 14
Tok! Tok! Tok!
" Ada apa Wan!"
" Pak Bos, hari ini ada karyawan baru. Dia menggantikan Yuli, karyawan yang Bapak pecat tempo hari."
Abra mengerutkan alisnya, ia mengingat orang yang bernama Yuli tapi sedikitpun dia tidak mengingatnya.
" Yuli yang mana ya, aku nggak ingat. Ya sudah, siapa karyawan baru nya itu? Kamu sudah memberitahu soal peraturannya kan? Kalau sudah, langsung suruh kerja saja. Tidak perlu menemui ku."
Wanti mengerti. Ia kemudian kembali menutup pintu ruangan presdir. Di depan meja wanti, Belinda hanya tersenyum kecut. Rupanya untuk mencapai tujuannya tidaklah mudah. Dia harus sabar soal ini.
" Kalau begitu Bu Wanti, saya akan langsung bekerja."
" Sorry ya Bel. Pak Bos emang begitu, dan aku sudah kasih tahu kamu sebelumnya."
" It's oke, nggak masalah."
Oleh Wanti, Belinda dikenalkan kepada beberapa rekan se-ruangannya. Dia akan menggantikan semua tugas Yuli waktu itu. Sebenarnya rekomendasi Wanti lah yang berhasil memasukkan Belinda di JD. Tapi memang sebenarnya dari pengalam kerja Belinda ini baik dalam bekerja. Hanya saja dia berhenti saat menikah.
" Ya sudah Bel, aku balik kerja ya. Semoga kamu betah di sini,"ucap Wanti.
" Akan sangat betah. Bagaimanapun aku sudah bisa masuk sini, maka aku tidak akan mudah keluar dari sini. Tampaknya yang bernama Yuli itu adalah wanita bodoh. Dia terlalu gegabah jika akan mendekati Abra. Aku punya caraku sendiri," gumam Belinda lirih.
Wanti melenggang pergi setelah selesai memberikan arahan kepada Belinda. Wanita itu duduk di meja kerjanya dan mulai melakukan pekerjaan.
Mendengar cerita dari Wanti bahwa Yuli dipecat oleh Abra karena ini dan itu, Belinda pun belajar dari hal tersebut. Dia mengenakan pakaian yang pantas. Sama sekali tidak memperlihatkan bentuk tubuhnya. Dia juga tidak berpakaian yang pendek karena kesimpulan yang wanita itu ambil adalah Abra tidak menyukai jenis wanita yang seperti itu.
" Aku tidak akan melakukan pergerakan apapun untuk sementara ini. Setidaknya aku harus menampilkan etos kerjaku yang bagus. Aku yakin dengan sendirinya dia akan melihat ke arahku."
Sepertinya Belinda ini lebih cerdas dari pada Yuli. Dia mengetahui triknya. Tidak grasah-grusuh dan tentunya bermain cantik sesuai rules. Sedikit banyak Belinda tentu sudah mengenal Abra. 2 tahun menyukai pria itu semasa SMA jelas membuat Belinda mencari tahu seperti apa sosok Abra. Dan ini akan membuatnya lebih mudah untuk mendekatinya.
Di dalam ruangannya Abra teringat bahwa hari ini ada misi untuk kembali menemui Ciara. Ia yakin wanita itu pasti saat ini sedang kesal dengannya. Setelah kejadian tempo hari dia menginginkan semua perubahan di ruang istirahat yang sudah selesai itu, ditambah Abra meminta Ciara sekaligus mengisi ruang itu dengan perabot.
Dengan langkah besar dna senyum mengembang Abra langsung menuju lantai dimana ruang kantornya tengah di renovasi. Ia sangat yakin Ciara berada di sana. Dan, benar saja, gadis itu sedang menata tempat tidur yang diminta oleh Abra.
" Sippp, ini baru oke," Ujar Abra. Ia berdiri di pintu dan menyandarkan punggungnya di sana. Tangan Abra yang kiri di masukkan ke dalam kantong celana dan yang kanan mengacungkan jempol ke arah Ciara.
" Asem, kenapa nih om-om kelihatan ganteng bener pagi ini," lirih Ciara. Ia yang sepintas tadi menoleh saat mendengar suara Abra jelas terpesona dengan tampilan sang bos.
Tinggi Abra sekitar 175cm, wajah blasteran Jawa-Inggris itu memiliki kulit yang lumayan putih dan juga bola mata berwarna kebiruan. Ini merupakan salah satu daya tarik dari keturunan Joyodiningrat. Abra dan kedua saudara kembarnya memiliki warna mata itu. Sedikit berbeda dengan mommy dan abang pertama mereka yang mempunyai manik mata hazel. Namun, mata mereka bertiga pun tak kalah cantiknya.
Hal ini bahkan kadang membuat Rama--sang ayah iri. Pasalnya di rumah itu hanya dia yang memiliki bola mata berwarna hitam.
Ciara langsung mengalihkan pikirannya dengan menata ruang itu. Beberapa perabot yang ternyata sudah datang di hari minggu itu dengan leluasa ia tata sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kemauan Abra. Ciara mengacuhkan keberadaan Abra yang berdiri mengawasi dirinya.
Kampret, ini bocah nyuekin gue, batin Abra sedikit kesal.
Ciara hanya melihat ke arahnya sepintas tanpa berniat untuk menyapa. Mungkin gadis itu benar-benar masih kesal. Tapi kali ini Abra hanya akan diam dan memperhatikan Ciara yang tengah melakukan aktivitasnya. Sungguh membuat suasana hati Abra menjadi baik melihat tingkah Ciara.
Hari ini Ciara mengenakan setelan kemeja berwarna coklat muda dengan celana panjang bahan berwarna coklat gelap. Gadis itu menggelung rambutnya ke atas dan menyisakan beberapa helai rambutnya di leher. Cantik, itu lah yang dipandang oleh Abra.
Ia akhirnya tidak tahan juga diacuhkan oleh Ciara. Abra mulai berjalan mendekat ke arah gadis itu yang sedang menata beberapa hiasan di hambalan yang dia buat di salah satu dinding. Abra berdiri tepat di belakang Ciara, membuat gadis itu terkejut saat ia sedang berbalik.
" Astaga om, eh Pak Bos, ngapain di sini. Mana kagak kedengeran lagi jalan kesininya?" gerutu Ciara karena saking terkejutnya.
" Ada yang bisa dibantu?" tawar Abra.
" Tidak, makasih. Kalau bantu mah dari tadi, ini sudah mau selesai baru menawarkan diri. Telat! " ketus Ciara.
Mulut Abra menganga, biasanya dia yang berbicara ketus terhadap para pegawainya. Dan sekarang lihatlah, dia yang mendapatkan nada bicara itu. Tapi detik selanjutnya Abra tersenyum, di terus mengikuti Ciara dari belakang hingga membuat gadis itu geram.
" Ini ngapain sih ngikutin mulu. Pak Bos, Anda tidak ada pekerjaan kah, sehingga begitu banyak waktu untuk ME NGA WA SI pekerjaan saya?" geram Ciara. Dia menekankan nada bicaranya pada kata ' mengawasi' karena ulah Abra kali ini sudah di luar toleransinya untuk sabar.
" Nggak, aku lagi santai, makanya bisa mengawasi pekerjaan orang yang mendesign ruangan ku," sahut Abra dengan begitu santai.
Ciara membuang nafasnya kasar. Dia meredam kekesalan itu lalu menampilkan senyum terbaiknya. Jika bisa, dia ingin sekali menginjak kaki Abra sekeras mungkin, tapi Ciara masih sangat sadar bahwa pria yang berdiri di depannya itu adalah bosnya
" Baiklah kalau begitu, silahkan Pak Abra yang terhormat mengawasi kerjaan saya."
Entah mengapa mendapat jawaban seperti itu dari Ciara ditambah dengan sebuah senyum membuat Abra sangat kesal. Saat Ciara ingin membalikkan badan ia dengan reflek menarik tangan Ciara sehingga tubuh Ciara menyentuh dadanya. Posisi ini sungguh sangat dekat. Bahkan jantung Abra yang berdetak cepat bisa terdengar oleh Ciara.
Tidak ada kata yang terucap dari keduanya hingga Abra melakukan sesuatu yang membuat Ciara membuka matanya lebar-lebar.
TBC
Terima kasih utk karyanya Kak, sehat2 slalu 🙏🏼💐💪🏼