Sekuel dari Novel Arjuna Bopo Istimewa.
Di sini kita akan di suguhkan dengan perjalanan cinta antara Arjuna dan Meshwa.
Perjalanan rumah tangga dan kehidupan dari Bopo Istimewa ini, ternyata banyak sekali ujiannya.
Apakah Meshwa yang berstatus sebagai istri sanggup menemani perjalanan Arjuna? ataukah dia akan menyerah?
Di Novel ini juga akan ada kelanjutan kisah cinta Nala dan Mifta. Lalu, bagaimana dengan Dipta? Apakah dia akan menemukan tambatan hati?
simak kelanjutan cerita dari Keluarga Bopo Desa Banyu Alas di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Ritual Bopo dan Biyung
Setelah semua persiapan selesai, Arjuna dan Meshwa pun memulai ritual Bopo dan Biyung Desa Banyu Alas.
Mereka tampak khusuk menjalani setiap rangkaian ritual yang berlangsung selama tiga hari itu.
Hingga memasuki hari terakhir ritual, semuanya berjalan dengan baik dan lancar. Keluarga pun sudah berkumpul untuk ikut melihat acara akad nikah antara Arjuna dan Meshwa esok.
Para tetangga pun turut membantu persiapan acara akad nikah dan tasyakuran Sekdes Desa Banyu Alas itu.
Mereka sengaja tak menyebar banyak undangan, hanya keluarga, kerabat dan warga saja yang mereka beri undangan.
"Rame banget yang bantu - bantu, Mas. Padahal kan gak mau bikin pesta." Kata Meshwa.
"Ya namanya juga di Desa, Dek. Apa - apa kan masih di kerjain bareng - bareng. Apa lagi, ini yang punya hajat 'orang tua' mereka." Jawab Arjuna.
"Bapak sama Ibu gak mau nginep di sini aja, Dek?" Tanya Arjuna.
"Bapak sama Ibu mau berangkat besok pagi aja, Mas. Bareng sama keluarga yang lain. Ada beberapa tetangga yang mau ikut juga." Jawab Meshwa.
"Mobilnya cukup gak? Kalau kurang, biar di jemput Mifta sama Dipta besok." Tanya Arjuna.
"Apa mau di sewakan mobil bis aja? Biar sekalian berangkatnya bareng - bareng." Tawar Arjuna.
"Gak usah aneh - aneh, Mas. Lagian rumahku ke sini juga gak jauh, cuma tiga puluh menit. Mereka yang gak kebagian mobil juga pasti pada inisiatif naik motor." Kata Meshwa sambil melirik tajam ke arah suaminya yang cengar - cengir.
"Kan kasihan, Dek, nanti kepanasan." Kekeh Arjuna sambil mencubit gemas pipi istrinya.
"Ya kasihan juga kalo ngerepotin Mifta sama Dipta. Itu dua orang udah kayak baling - baling bambu loh, tiga hari ini. Muter - muter gak berhenti." Sahut Meshwa.
"Lho! Ya memang tujuannya dua manusia itu di datangkan, ya seperti itu to, Sayang. Mereka ada itu kan memang untuk di repotkan." Kekeh Arjuna yang membuat Meshwa geleng - geleng kepala. Ia sampai heran sendiri, kenapa Arjuna senang sekali mengerjai Mifta dan Dipta.
"Mas, aku heran deh, kenapa suka banget ngerjain Mifta sama Dipta?" Tanya Meshwa pada akhirnya.
"Balas dendam, Dek." Jawab Arjuna.
"Kok bisa? Emang mereka berdua sering ngerjain Mas?" Tanya Meshwa.
"Bukan mereka berdua, tapi Bapaknya. Tau sendiri kan, Bopo seneng banget ngerjain Mas. Nambah - nambah kerjaan Mas biar Mas lembur dan Bopo bisa santai. Nah sekarang, Mas bales ke anak sama mantunya." Jawab Arjuna yang di akhiri dengan tawa kemenangan.
"Dasar! Orang kok gak mau kalah." Kata Meshwa sambil mencubit pinggang suaminya.
"Udah selesai, Sayang? Kalo udah, ayo berangkat." Ajak Arjuna.
Mereka berdua akan menjalani ritual terakhir di Gerojogan Lengkung sore itu.
"Udah, Mas." Jawab Meshwa yang tampak anggun dalam balutan kebaya beludru putih dan kain jarik.
Setelah mempersiapkan semuanya, mereka berdua pun segera berangkat ke Grojogan Lengkung.
Sesampainya di sana, mereka kembali berjalan meniti anak tangga dan jalan setapak menuju ke Grojogan.
Genangan air sisa hujan semalam, membuat perjalanan mereka sedikit sulit akibat tanah yang becek dan licin pada jalan setapak.
"Hati - hati, Sayang." Kata Arjuna yang berjalan dengan menggenggam erat tangan Meshwa.
Beberapa kali Meshwa hampir tergelincir, hingga membuat Arjuna merasa was - was. Ia pun memperlambat langkahnya agar Meshwa tak kembali tergelincir.
"Masih jauh, Mas?" Tanya Meshwa.
Meski kakinya mulai terasa pegal, namun ia cukup menikmati pengalaman pertamanya pergi ke Grojogan Lengkung.
"Sebentar lagi, Dek. Itu Pondokannya udah kelihatan." Jawab Arjuna sambil menunjuk sebuah Pondokan yang sedikit terlihat dari bawah.
"Beneran masih banyak hewan liar ya, Mas? Itu sodaranya Panav." Kata Meshwa sambil menunjuk dua buah Binturong yang ada di atas pohon.
Suara - suara hewan dan serangga khas hutan pun sedari tadi menemani perjalanan mereka.
"Iya, Dek. Alhamdulillah, di sini mereka semua masih terjaga. Salah satu hal yang mudah - mudahan masih bisa di nikmati anak, cucu dan keturunan kita yang lain." Jawab Arjuna.
Sayup - sayup, suara air terjun mulai terdengar. Meshwa dan Arjuna semakin mempercepat langkah mereka. Beberapa kera dan hewan lainnya menyambut kedatangan Bopo dan Biyung baru mereka. Hal itu tentu menarik perhatian Meshwa karena ia sangat jarang melihat hewan liar langsung dari alam seperti ini.
"Wih, anak buah Tarzan mulai berkumpul." Celetuk Meshwa yang membuat Arjuna tertawa.
"Assalaamu 'alainaa wa 'alaa 'ibaadillaahish shaalihiin." Ucap Arjuna begitu menginjakkan kaki di Grojogan Lengkung.
Hening...
Suasana berubah sangat sunyi. Bahkan, tak ada selembar daun pun yang bergerak di sana. Hawa terasa pengap, padahal mereka berada di alam yang terbuka. Hal itu tentu membuat Meshwa bertanya - tanya, meskipun tak ia sampaikan pada Arjuna.
Arjuna mulai berkomat - kamit merapalkan bacaan, sementara Meshwa masih setia berdiri di belakangnya. Arjuna kemudian menghentakkan kakinya sebanyak tiga kali.
Saat itulah Meshwa merasa seperti ada angin sejuk yang melewatinya hingga kini seperti terasa oksigen yang masuk ke hidungnya.
"Haaah..." Lirih Meshwa yang membuat Arjuna menoleh.
"Kayak baru bisa nafas." Ujar Meshwa yang mengerti dengan raut kebingungan Arjuna.
"Emang dari tadi gak nafas?" Tanya Arjuna.
"Ya nafas, tapi tuh tadi rasanya kayak pengap terus sesak gitu, Mas." Jawab Meshwa.
"Emang Mas gak ngerasain?" Tanya Meshwa kemudian.
"Enggak, tuh. Biasa aja." Jawab Arjuna yang tentu membuat Meshwa kembali merasa heran.
"Udah ayo, kita mulai. Kok tiba - tiba mendung gini." Kata Arjuna sambil melihat awan yang mulai menghitam.
Arjuna pun meletakkan tas mereka di tempat yang aman dari hujan. Ia lalu segera mengajak Meshwa berwudhu dan memulai ritual mereka.
"Kamu berendam di sana, Mas di sini ya, Dek. Baca bacaan yang sudah di ajarin Ibu dan Buna." Titah Arjuna yang di jawab anggukan mengerti oleh Meshwa.
Sebelumnya, Arjuna sudah menyampaikan bagaimana prosesi ritual terakhir mereka dan apa yang boleh juga tidak boleh di lakukan selama prosesi ritual.
Meshwa dan Arjuna mulai memejamkan mata. Keduanya pun berkomat - kamit merapalkan bacaan yang memang sudah mereka hafal.
Lima menit berlalu, perlahan hujan mulai turun, disertai dengan suara gemuruh guntur yang mulai bersahut - sahutan.
Meskipun merasa khawatir dan was - was, namun keduanya tak menghentikan 'pertapaan' mereka.
Mereka justru semakin khusuk dan seolah larut dalam ritual yang mereka jalani. Kilatan petir satu persatu mulai terlihat. Meski dengan mata terpejam, baik Arjuna maupun Meshwa sama - sama bisa melihat terangnya cahaya dari kilat itu.
Hujan mulai melebat, udara dingin mulai menusuk tulang. Namun, mereka belum bisa menghentikan ritual itu.
Berbeda dengan Arjuna yang masih tampak tenang, Meshwa mulai menggigil. Tubuhnya bergetar dan giginya mulai terdengar gemerutuk.
"Sabar sebentar lagi, Sayang." Batin Arjuna yang merasa khawatir karena mendengar suara gemerutuk gigi, khas orang yang menggigil kedinginan.
Duuaaar!
Terdengar suara petir yang sangat keras dan juga kilat yang menyambar tepat di sebelah kanan Arjuna hingga membuat tubuh Arjuna tersentak dan menengang karena khawatir.
Duuaar!
Suara petir kedua terdengar lebih keras, kilat pun kembali menyambar, kali ini bukan di samping melainkan tepat di depan Arjuna. Tempat dimana Meshwa sedang duduk.
"Astaghfirullah, Meshwa!" Arjuna membuka matanya dengan nafas yang memburu.
selamat iyha Mbk Meshwa Mas Juna akhirnya 😍😍😍