Sebuah kenyataan hidup yang sangat pilu dan menyakitkan membuat sebagian orang mengalami kejadian trauma yang sulit dilupakan. Namun, tidak semua orang merasa bahagia menikmati hidupnya yang penuh luka yang membekas di hati mereka.
Kebahagiaan yang diimpikan telah sirna oleh kenyataan pahit yang mereka alami. Disini, akan dibahas dalam sebuah novel LUKAS yang akan menguras emosi dan air mata.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Jangan lewatkan update terbaru dari perjalanan kehidupan yang penuh pilu ini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabir Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Hukuman
"Iya. Papa, pergi berdua dengan Aqila. Lagian, Mama sendiri tidak mau kan waktu kuajak keluar kota. Lebih memilih pergi dengan yang lain," bentak Dimas pada istrinya karena merasa Davina sudah mulai keterlaluan.
Davina terdiam dan tidak membantah apa yang dikatakan oleh suaminya adalah benar. Sesungguhnya, Davina bukan pergi bersama teman-temannya. Tetapi, pergi keluar kota bersama Bayu untuk menikmati liburan berdua. Dirinya belum mengetahui, bahwa Dimas telah mengetahui kepergiannya keluar kota bersama Bayu. Namun, Dimas hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengungkap semuanya nanti.
Dimas kemudian pergi begitu saja meninggalkan Davina yang masih tidak terima dengan kepergian Aqila dan Dimas. Dirinya lelah dan ingin beristirahat untuk melemaskan badannya yang pegal selama mengemudi.
"Awas kamu Aqila. Lihat saja hukuman untukmu nanti akan lebih berat dari sebelumnya," geram Davina dengan mengepalkan tangannya dan pergi menuju kamarnya.
Di kamar, Aqila banyak bercerita dengan Ayah dan ibunya. Aqila tidak sempat jalan-jalan karena urusan pekerjaan Tuan Dimas. Dirinya hanya menonton tivi di hotel.
"Banyak banget oleh-oleh yang dibawakan Tuan Dimas?" tanya Bu Dalia heran melihat banyak bungkusan berbagai snack, bahan dapur bahkan pakaian.
"Sudah terima saja. Tidak baik menolak rezeki." kata Baron mengambil kemeja dan segera pergi dari kamar Aqila untuk melanjutkan pekerjaannya.
Sedang Bu Dalia dan Aqila masih melanjutkan obrolan mereka karena saling merindukan.
Tak lama, Azka pulang kerumah dan meletakkan tas sekolahnya di kamar. Dirinya berjalan menuju dapur berniat minum air putih, tetapi tidak sengaja mendengar suara orang tertawa di kamar Aqila dan dia mengenali suara ini adalah suara adiknya. Benar saja, saat membuka pintu, Azka terkejut adiknya sudah kembali dan Azka langsung memeluk erat karena rindu.
"Aqila! Mas Azka merindukanmu, Dek?" ucap Azka seraya mencubit pipi gemas adik yang sangat disayanginya itu.
"Aqila juga sangat merindukanmu, Mas Azka," ujar Aqila tersenyum lebar.
"Bagaimana harimu di sana? Pasti sangat menyenangkan? Mas Azka, kesepian disini tidak ada kamu, Dek," rentetan pertanyaan Azka pada Aqila membuat sang empunya tersenyum.
"Kalian lanjutkan obrolannya. Ibu mau melanjutkan pekerjaan di dapur."
Setelah kepergian Bu Dalia, keduanya mengobrol lama dan sesekali mereka tertawa bercerita tentang kegiatan sekolah dan juga Clarissa yang selalu mencari mangsa untuk mencari perhatian agar selalu jadi pusat perhatian para cowok.
Aqila hanya menggelengkan kepala mendengar cerita kakaknya itu. Sebenarnya Aqila sangat kasihan dengan Nona manja itu, tetapi dirinya tidak mau menambah masalah dengan Clarissa yang super manja itu.
Satu jam mengobrol, Aqila dan Azka pergi ke dapur untuk makan siang. Keduanya makan bersama kedua orang tuanya di meja dapur.
Di kamar, Clarissa setelah pulang sekolah dipanggil oleh mamanya untuk merencanakan sesuatu terhadap Aqila. Clarissa setuju saja apa yang direncanakan oleh mamanya. Aqila telah membuat hidupnya tak tenang. Sebab, cinta pertamanya telah diambil oleh Aqila.
"Bagus, Ma. Besok kita akan menguncinya di belakang rumah sana dekat danau ada sebuah gudang tempat penyimpanan perkakas." Clarissa tersenyum jahat diikuti Davina yang merasa puas akan dengan rencananya.
Keduanya pun keluar kamar untuk makan siang bersama dan kebetulan Ervin juga pulang dari kuliah. Sedang Dimas, masih tertidur pulas di kamarnya akibat kelelahan selama dua hari bekerja dan melakukan perjalanan panjang.
Akhirnya, ketiga orang tadi makan siang tanpa Dimas. "Papa kemana? Belum pulang ya, Ma?" tanya Clarissa yang baru menyadari sejak tadi papanya belum terlihat. Sebab, Aqila sudah pulang info dari mamanya.
"Papa, ada di kamarnya sedang istirahat. Lebih baik kita makan siang saja duluan. Biar papamu nanti menyusul." Davina langsung mengambil nasi dan lauk diikuti Ervin dan Clarissa.
Ervin hanya diam saja mendengar perkataan mamanya dan juga Clarissa. Dirinya merasakan kurang nyaman sejak berita Clarissa dan mamanya mengunci Aqila di gudang. Ervin yakin, setelah ini mamanya akan berbuat hal yang diluar nalarnya.
"Ervin selesai. Pergi ke kamar dulu, Ma. Ngantuk." Ervin berdiri dan melangkah menuju kamarnya.
Davina hanya melirik sekilas kepergian anak sulungnya itu. "Ma, Kak Ervin kenapa sekarang jadi pendiam? Tidak seperti biasanya. Seperti bukan kakakku saja," ujar Clarissa yang merasakan keanehan pada sikap kakaknya itu.
"Entahlah, Clarissa. Mama tidak tahu soal kakakmu. Dia jarang dirumah, jadi biar dia mengurus dirinya sendiri." kata Davina menghabiskan makanannya.
*
Keesokan paginya, Dimas sarapan pagi bersama keluarganya dan berangkat pagi karena ada rapat dadakan di kantor. Diikuti Bayu yang juga pergi ke kantor karena sekarang Bayu menjabat sebagai Direktur.
Setelah suasana sepi, Clarissa tidak masuk sekolah dengan alasan sakit. Padahal, dirinya hanya ingin menyiksa Aqila setelah dua hari yang lau tidak melihat gadis kampung itu.
"Itu, Ma. Lihat dia kebetulan lagi sendirian di halaman belakang sedang menanam bunga," ucap Clarissa yang merasa senang dengan sebuah kebetulan.
"Ah iya, benar juga. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Rencana kita bakal sukses nih!" Davina dan Clarissa saling bertepuk tangan dari kejauhan.
Keduanya melihat kanan dan kiri saat akan membekap Aqila dari belakang. Clarissa memberi kode pada mamanya, bahwa situasi aman terkendali. Davina pun melangkah ke arah Aqila yang sedang menanam bunga di dekat danau.
Dalam sekali tindakan, kepala Aqila dibungkus dengan kain hitam. Aqila terkejut dan berusaha berteriak. Akan tetapi, mulutnya dibekap dengan kedua tangan oleh orang yang entah siapa yang melakukan kejahatan pada dirinya.
Aqila berontak dan tanpa pikir panjang, Clarissa langsung memukul tengkuk leher Aqila dengan kayu dan seketika pingsan.
"Ayo, Ma. Cepat buruan angkat agar tidak ada orang yang melihat kita nanti. Tapi dia tidak mati kan, Ma?" kata Clarissa menanyakan pada mamanya untuk memastikan Aqila aman.
Davina pun langsung memegang pergelangan tangan Aqila dan ternyata masih ada denyut nadinya.
"Aman, Nak."
Davina membuka pintu gudang dan Clarissa menyeret Aqila ke dalam gudang yang penuh perkakas.
"Selamat bermalam di gudang. Kamu akan ditemani kecoa dan tikus disini gadis kampung. Ini hukuman untukmu. Dasar bodoh. Hahahaha!" Clarissa tertawa puas karena berhasil membodohi Aqila lagi.
Davina dan Clarissa keluar gudang lalu menguncinya. Kemudian kedua orang itu berjalan sambil berpelukan dengan bernyanyi riang gembira.
"Puas banget, Ma. Rasanya, bila tidak ada gadis kampung seperti Aqila, hidupku terasa damai dan tenang. Hahaha." Lagi-lagi Clarissa tertawa lebar dengan aksinya kali ini.
Padahal tanpa mereka sadari. Dari atas, Ervin menyaksikan semua perlakuan jahat mama dan adiknya pada Aqila.
"Aqila. Maafkan aku yang tak bisa membantumu lebih jauh. Mama selalu mengawasiku bila aku berusaha menolongmu." kata Ervin seraya menatap mama dan Clarissa yang berjalan dengan bahagia di halaman belakang.
"Kapan kalian bisa sadar dan berhenti berbuat jahat pada Aqila?"
lanjutin aja laaah 😎🤫🥺
heeeemmm mau alasan apalagi neeeh
yaakiiiiin neeeh 🫣🫣🏃🏃
ntar temen arisannya mengira jika Bayu lah suami Davina donk 👉👈
padahal sepasang kekasih itu akan seneng banget jika kekasihnya selalu berada di sampingnya
lha klo kamunya wafat, lalu yang menjaga Aqila siapa donk ???
eeeeiiiiitttssss tapi kamu kan masih terikat dengan pernikahan ya, lalu jaga Aqila gak bisa maksimal deeeh
kamu doa aja supaya Aqila selalu dalam lindungan Allah
aamiin ya rabbal alamiin
ternyata kena prank ama Kak Dina deeeeh
huuuuuuffttttt syukurlah jika itu semua hanya mimpi belaka
semula dirinya yang ingin membunuh Dimas eeeh ini malah dia sendiri yang wafat 👉👈
ada apa ini sebenarnya???
kenapa ada adegan tusuk menusuk seeeh....
Idul Adha kan masih lama tuuuh 🤣🤣🤣🤣🏃🏃🏃🏃
dan Aqila yang sedang dalam posisi membawa pisau 😱😱😱😱
karena percuma aja, ikutan ajang kumpul-kumpul eeeh gak membawa pada kebaikan
kapan ya, Dimas akan mergoki Davina ama Bayu