"Dia putriku, Sofia." Begitu kata Judan ketika banyak perempuan bertanya siapa gadis cilik yang sedang bersamanya. Ia tidak ingin banyak orang tahu bahwa sebenarnya gadis cilik itu adalah keponakannya. Hingga akhirnya ia bertemu Runi, seorang Perawat di rumah sakit tempat ia menghabiskan waktu karena ingin melepas trauma buruk karena kematian kakak laki-lakinya yang tak lain adalah ayah dari gadis cilik itu.
"Dia adalah keponakanku," ungkap Judan akhirnya karena tidak mau perempuan itu salah paham. Ini pertama kalinya ia mau membuka diri pada seorang perempuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 14
Rencana Runi yang tinggal di rumah Judan sebagai perawat pribadi, mulai dilakukan. Runi mengumpulkan pakaiannya ke dalam koper.
"Ini seperti akan berpergian jauh saja. Padahal hanya dalam kota," gumam Runi menggelengkan kepalanya. Lalu ia meraih ponsel untuk melihat waktu. "Masih satu jam lagi dia muncul." Yang di maksud Runi muncul, adalah Judan. Padahal Runi sudah mengatakan kalau dia bisa berangkat sendiri meski membawa barang bawaan. Namun pria itu tetap memaksa untuk menjemputnya. Akhirnya dokter Gio menengahi untuk membujuk Runi agar setuju Judan menjemputnya.
Drrt, drtt. Baru saja di bicarakan, pria itu sudah menelepon. Runi terkejut. Hampir saja gawai pipih itu luput dari genggaman tangannya.
"Orang ini. Kenapa baru saja di omongin langsung menelepon?" geram Runi. Karena Runi tidak segera menjawab, ponsel itu terus saja berdering berulang-ulang. "Iya, halo."
"Aku pikir kamu tidak akan menerima teleponku Runi, karena kamu lama sekali mengangkatnya." Pertama yang ia dengar adalah keluhan dari pria itu. Runi menipiskan bibir.
"Aku punya banyak hal untuk di lakukan selain menerima telepon mu." Seperti biasa, Runi juga bicara dengan nada bicara enggan. Namun itu bukan karena ia marah. Itu hanya kebiasaannya saja.
"Begitu ya ... Aku akan tiba sebentar lagi."
"Ini masih satu jam lebih sebelum jam kita janjian, Judan," protes Runi.
"Aku ingin segera menjemput mu, Runi. Karena mungkin saja kamu kabur karena tidak mau aku jemput." Judan beralasan.
"Kenapa aku kabur?"
"Itu keahlian mu," ujar Judan seraya tersenyum.
Dasar pria ini, geram Runi. "Bagaimanapun ini pekerjaan, Judan. Aku pasti akan bertanggung jawab dengan itu."
"Iya, aku mengerti perawat Runi. Aku sudah sampai di depan rumah kamu," kata Judan mengejutkan. Ia sudah mendapat lokasi dimana rumah perempuan ini kemarin. Jadi dengan mudah menemukannya dengan map.
"Apa? Aku belum bersiap-siap, Judan." Runi tidak setuju.
"Tidak apa-apa. Aku akan menunggu."
Terdengar suara mobil dari luar rumah. Runi menoleh dan menggeram kesal. Meskipun tidak suka dengan kedatangan pria ini yang tiba-tiba, ia pun akhirnya keluar menyambutnya. Runi berdiri di depan pintu seraya melipat tangan dan mengerutkan kening.
Judan keluar dari mobil dan tersenyum. Ini pertama kalinya ia melihat perempuan ini memakai pakaian santai. Hanya kaos dan celana bahan drill di bawah lutut. Rambutnya pun di cepol asal. Namun entah kenapa baginya itu terlihat menyegarkan.
"Lihatlah. Aku saja belum mandi," gerutu Runi kesal. "Ayo masuk." Runi berjalan lebih dulu di depan Judan.
"Walaupun belum mandi, kamu tetap manis kok," ujar Judan yang mulai menyejajari langkah perempuan ini. Runi menoleh sambil tetap berjalan.
"Kamu pikir gombalan begitu membuatku senang?" tanya Runi.
"Tidak? Wahh ... aku kecewa nih." Judan menanggapinya dengan bercanda juga.
"Duduklah di sana. Rumah ini kecil tidak seperti rumahmu." Runi menunjuk sofa di tengah ruangan.
"Kecil juga kalau hanya kita berdua, akan terasa luas. Lagipula aku suka tempat ini." Judan mengatakan hal aneh lagi seraya meletakkan pantatnya ke sofa. Runi menipiskan bibir.
"Jangan kemana-mana. Aku mau mandi," kata Runi.
"Jadi tidak boleh mengintip?"
"Jaga sikap, bapak anak satu. Pintu saja tetap aku buka karena enggak mau ada gosip tidak nyaman. Jadi jangan bicara macam-macam." Runi menunjuk pintu rumahnya yang di biarkan terbuka begitu saja.
"Kamu pikir aku beneran punya seorang anak ya ..."
"Memangnya enggak? Sudah. Aku akan selesai secepatnya. Jadi jangan macam-macam." Runi mengingatkan. Ia pun masuk ke dalam dan segera mandi.
Judan yang melihat punggung perempuan itu hingga lenyap ke kamar mandi, kini menghela napas. "Dia pasti mengira Sofia adalah anakku. Tidak salah. Aku memang ayah Sofia." Mata Judan beredar mengelilingi ruangan ini. Ruang tamu yang kecil, tapi tetap terlihat apik karena interiornya. Tidak banyak pajangan yang menghiasi ruang tamu ini. "Apa dia tinggal sendiri?" gumam Judan ingin tahu banyak hal.
Mungkin hanya sekitar lima belas menit, Runi sudah muncul dengan pakaian rapi. Itu sangat cepat bagi seorang perempuan. Sepertinya itu karena Runi tidak memakai banyak riasan di wajahnya. Hingga ia menghabiskan sedikit waktu untuk mempersiapkan diri.
"Aku sudah siap," kata Runi lengkap dengan tas besar dengannya. Judan langsung tanggap. Ia berdiri dan mendekat pada perempuan itu. Mengulurkan tangan dan meraih tas.
"Kemarikan tas itu."
"Aku bisa membawanya sendiri," kata Runi menolak.
"Kamu ini selalu saja menolak kebaikanku. Sudah lepaskan tanganmu. Kamu ini tamuku." Judan memaksa. Runi akhirnya melepaskan tasnya. "Walaupun kamu manis juga ketika menolak dan berdebat denganku, tapi aku lebih senang kalau kamu menerima kebaikanku."
Runi memutar matanya malas. Ia pun hanya mengikuti pria ini keluar rumah. Setelah mengunci pintu rumah tempat ia tinggal, Runi masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Judan. Bukan maksud Runi untuk berdekatan, tapi pria ini langsung menunjuk kursi di sampingnya ketika Runi mendekat pada mobilnya.
Mendadak Judan mencondongkan tubuhnya ke arah Runi.
"A, ada apa?" tanya Runi di sela rasa terkejutnya. Dia menahan tubuh Judan.
"Kamu belum memakai sabuk pengaman. Di jalan depan sana ada operasi polisi. Aku bisa kena tilang jika kamu tidak memakai sabuk pengaman," kata Judan dengan senyum manisnya.
"Kamu tinggal bilang saja. Aku bukan anak TK yang enggak bisa memasang sabuk pengaman itu, Judan," gerutu Runi. Lalu perempuan itu mulai memasang safety belt pada tubuhnya.
"Aku orang baik kok. Jadi aku tidak keberatan melakukannya."
"Meski kamu baik, kamu itu adalah pria beranak satu. Jadi seharusnya kamu jaga sikap dengan perempuan lain." Runi kembali menyebut status Judan sebagai pria yang sudah beristri.
"Aku belum menikah, Runi." Entah kenapa, Judan justru membuka mulutnya untuk mengatakan kebenaran soal statusnya. Padahal selama ini dia selalu memamerkan kalau dia sudah punya seorang putri pada setiap wanita yang ingin mendekatinya.
"Jangan membual, Judan. Kalau sampai istrimu dengar ..." Citt! Tiba-tiba Judan membelokkan mobil ke tepi jalan. "Hei, seharusnya kamu tidak boleh berbelok seenaknya seperti itu, Judan," protes Runi. Dia langsung menoleh ke belakang. Untung saja tidak ada kendaraan lain di belakang mereka. "Ini berbahaya." Runi geram.
"Aku serius, Run."
Runi mengerjap. "Kamu enggak dengar apa yang aku katakan barusan, ya?" tuduh Runi. Pria ini tidak peduli sama sekali dengan tindakannya barusan.
"Aku dengar. Maaf, membuat kamu kaget. Sekarang dengarkan aku." Judan masih dengan wajah serius. "Aku belum menikah, Run."
"Itu tidak bisa menyangkal bahwa kamu sudah punya seorang putri, Judan. Sofia itu kan putri kamu ... Ayo cepat jalankan mobilnya. Sofia sudah pasti menunggu kita datang." Runi menyuruh Judan untuk bergegas dari tempat ini seraya menunjuk jalan di depan mereka.
"Sofia putri kakakku yang sudah meninggal, Run." Judan mengungkap hal ini pertama kalinya pada perempuan lain selain keluarganya sendiri.
..._________...
.. jangan sampai mengacaukan hasil tes DNA