Entah siapa yang menjebak Bima dengan obat sampai harus memanfaatkan gadis yang tidak berdaya bernama Olivia, di malam pertunangan gadis itu
“Saya khawatir kalau nanti Olivia ….” Bima menjeda ucapannya lalu menghela nafas,“Hamil.”
“Kamu pikir aku mau mengandung anak kamu! Kalaupun aku hamil, pasti akan aku gugurkan,” pekik Olivia
Benarkah Bima dan Olivia dijebak? Mungkinkah Bima dan Olivia akhirnya menjadi pasangan dan melupakan masa lalunya?
====
Spin Off : Jerat Cinta Dibalik Dendam
IG : dtyas_dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14 ~ Pernikahan Mantan
Malam ini Olivia terlihat murung. Tentu saja karena keraguan antara hamil dan tidak hamil yang menjadi pikirannya. Saat ini dia berada di meja resepsionis bersama staf lainnya. Bima pun ada di sana. Pria itu terlihat begitu khawatir pada Olivia, meskipun hanya dalam diam.
“Mbak Oliv, gantian rehat,” ujar seorang staf.
Olivia mengangguk lalu meninggalkan resepsionis. Wanita itu memijat pelan dahinya saat berada di ruang tunggu pegawai hotel. Bima pun datang dan duduk di sofa terpisah.
“Oliv.”
Olivia tidak menyahut hanya melirik sekilas lalu kembali memijat leher dan keningnya.
“Kamu ….” Bima tidak sanggup meneruskan ucapannya, tidak mungkin dia bertanya untuk memastikan apakah Olivia hamil.
“Apaan sih, nggak jelas banget. Kalau nggak ada hal penting terkait urusan pekerjaan, tidak usah mengajakku bicara,” ungkap Olivia pada Bima. Emosi wanita itu entah kenapa kembali muncul, mengingat kemungkinan dirinya hamil karena Bima.
“Ada yang ingin aku bicarakan, tapi tidak di sini.”
“Nggak bisa, aku sibuk.”
Bima menghela nafasnya pelan, seraya meningkatkan kesabaran. Pria itu tidak bisa memaksa Olivia untuk bersikap baik dengannya. Mana ada wanita yang baik-baik saja bertemu dengan pria yang sudah menghancurkan hidupnya.
“Kamu pucat, mau makan sesuatu?”
Olivia membuang panndangannya, dia malas menjawab kembali pertanyaan Bima. Kalau boleh dia ingin sekali menggaruk wajah Bima dengan yang memang tampan, agar tidak bisa lagi merayu atau memanfaatkan perempuan.
Dalam benak Olivia, Bima adalah laki-laki brengseek yang biasa bergonta ganti teman tidur. Padahal Olivia adalah gadis pertama yang dia sentuh.
“Aku buatkan teh ya?”
Olivia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa lalu memejamkan mata. Terdengar suara benturan sendok pada cangkir, ternyata Bima serius dia membuatkan Olivia teh manis hangat.
“Habiskan!” Bima meletakan cangkir di hadapan Alya.
Meskipun wajah dan sikapnya kasar dan selalu temperamen pada Bima, sebenarnya Olivia adalah wanita lembut sama seperti Naya – maminya. Seperti saat ini, boleh saja mulutnya menghardik Bima. Namun, saat pria itu membuatkan minum Olivia tidak menolak bahkan menghabiskannya.
Pukul enam pagi, shift malam pun berakhir. Tim shift pagi pun sudah datang dan siap di posisinya. Olivia sudah mengganti seragam dengan setelan casual lalu memasukan seragam kotornya pada ransel yang dia bawa. Para pekerja shift malam sudah meninggalkan hotel dan Olivia masih duduk di sofa menunggu kedatangan supir menjemputnya. Bima yang sudah rapi dengan jaketnya menghampiri Olivia.
“Belum dijemput?”
Olivia menengadah menatap wajah Bima dan menunjukan raut wajah tidak biasa, lalu menutup mulut dengan tangannya.
“Kamu kenapa?” tanya Bima sambil mendekat.
Salah satu tangan Olivia terjulur seakan menahan Bima untuk lebih dekat, sedangkan tangan lainnya masih menutupi mulut. Tidak tahan Olivia beranjak dan berlari ke toilet.
“Oliv,” kejar Bima, tapi hanya bisa menunggu di depan pintu. “Oliv, lo nggak apa-apa?”
Terdengar suara orang muntah. Bima semakin yakin, kalau Olivia memang sedang hamil. Pria itu mengetuk pintu sambil menyebutkan nama Olivia. Akhirnya pintu pun terbuka.
“Lo nggak ….”
“Minggir! Aku udah bilang jangan sok perhatian, rasanya aku mau muntah.”
Meskipun sudah dilarang, Bima sepertinya bebal. Pria itu masih saja mengekor langkah Olivia menuju mobilnya.
“Pak pelan-pelan aja ya, Nona bos lagi kurang sehat,” ujar Bima pada supir Olivia.
“Siap Mas.”
Olivia mendelik pada Bima sebelum masuk ke dalam mobil. Bima khawatir pada Olivia, entah kenapa dia malah mengekor mobil wanita itu. bahkan saat mobil berhenti di depan deretan ruko dan Olivia turun lalu masuk ke apotek, membuat Bima semakin penasaran.
“Ngapain dia ke apotek, kalau sakit harusnya ke dokter. Masa bayar dokter nggak sanggup bayar dokter, kalau gue mungkin aja,” gumam Bima.
Pria itu menuju apotek yang tadi di datangi oleh Olivia. Saat disapa oleh pramuniaga, Bima bingung menanyakan apa yang dibeli oleh Olivia. Sudah pasti akan dirahasiakan.
“Itu Mbak, saya diminta beli satu jenis lagi sama majikan saya,” ujar Bima.
“Satu jenis apa? Majikannya yang mana?”
“Perempuan yang barusan keluar, rambutnya dikuncir. Pokoknya yang cantik deh, tadi nggak bilang beli apa Cuma bilang satu lagi.”
“Oh, mbak yang tadi.” Petugas kasir pun berbalik menuju salah satu etalase dan membawa tiga jenis kemasan yang diletakan di depan Bima. “Ini mas.”
Bima mengusap wajahnya memastikan merek dan kemasan yang ada di hadapannya. Olivia ternyata membeli tiga jenis tespek dengan merek berbeda.
“Jadi dibeli Mas?”
“Eh, iya Mbak.”
***
Olivia melempar ranselnya ke atas ranjang dan bergegas menuju toilet. Mualnya kembali datang membuatnya mengeluarkan isi perutnya, lagi.
“Kok makin parah ya mual aku. Nggak mungkin ini asam lambung.” Olivia pun mengambil plastik berisi tespek, dia harus segera membuktikan apa yang menjadi beban pikirannya.
Menunggu sesaat sambil menghela nafasnya, wanita itu menunduk untuk memastikan hasil dari ketiga stik yang terletak di atas wastafel. Dahinya berkerut lalu raut wajahnya berubah muram. Tangannya meraih salah satu stik dan memastikan tanda yang muncul adalah garis dua.
“A-aku hamil. Ini nggak mungkin. Aku tidak mencintai pria itu dan kami sama-sama dijebak.”
“Ini nggak mungkin.” Olivia lalu berteriak dan mengacak lalu membuang semua perlengkapan mandi dan kebersihan yang berada di atas rak tepat di samping wastafel.
Sambil terisak, wanita itu menuju ranjang dan berbaring di sana. berharap kalau semua ini hanya mimpi, dia ingin tidur untuk mengembalikan semuanya seperti semula.
“Mimpi, aku pasti mimpi,” ujarnya sambil menarik selimut.
Sore hari, Olivia yang sedang duduk di gazebo. Sebenarnya dia melamun. Saat bangun tadi, mendapati kamar mandinya yang berantakan dan masih ada tespek dengan garis dua yang begitu jelas menyadarkan kalau semua ini nyata.
“Oliv.”
Wanita itu menoleh, Alan menghampiri dan duduk di sampingnya. Sebenarnya Alan -- kakaknya -- sudah tinggal terpisah, tepatnya di apartemen. Entah apa yang menyebabkannya pulang bahkan sekarang duduk bersama Olivia.
“Tumben.”
Alan tidak menjawab, keduanya bungkam sampai akhirnya Olivia berdiri dan Alan menahan tangannya.
“Duduk!”
“Apa sih kak, aku masih ngantuk. Dapat shift malam, untung hari ini libur,” sahut Olivia.
“Duduk, ada yang ingin aku bicarakan.”
Olivia pun kembali duduk.
“Kamu sudah dengar kalau Haris ….”
“Sudah. Helen yang bilang. Aku tidak peduli Kak, mau Kak Haris menikah atau melajang seumur hidupnya sudah bukan urusanku lagi.”
Alan mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.
“Tapi, acara pernikahan Haris diadakan di hotel tempat kamu magang dan acaranya besok.”
walaupun gak sepenuhnya salah tp keadaan yg bikin Bima bersalah..
lawannya keluarga kalangan atas pula...
kuat² yaaa Bima🤭
wkwkckk..good job,teruslah berkarya, bravo anak2 bangsa yg hebat , aku bangga padamu 🥰💪🙏