Masih ingat dengan putra bungsuh Pak Zain dan Bu Jihan,
Yes... Labib Muhasibi Khoirul Musthofa yang biasa di panggil Bibi, adek dari Zula
Yang mana kini tumbuh dewasa menjadi laki laki tampan yang cukup dingin
sikapnya bar bar turunan dari kakak dan juga Uminya, yang sering pergi bermotor besar untuk mendatangi tongkrongan para remaja dan tkngkrongan gak jelas
dengan tujuan untuk berkumpul sekaligus berdakwah,
Ya namanya anak kyai se nakal nakalnya dia tetap sholat puasa dan juga mengaji
walaupun aneh dan sering di bilang gus kok tukang nongkrong
tapi itu hanya omongan manusia netizen saja, tapi saat di rumah dia juga punya pesona tersendiri bagi para santri putri
wajah tampannya mampu menghipnotis para santri putri saat mengaji,
walaupun sikapnya yang super duper dingin seperti di kutup utara, dan justru itu yang makin membuat mereka terpesona pada Gus Bibi
gimana kelanjutan ceritanya.. yuk simak.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulfatun khasanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lawan
Ryan terhenti langkahnya dan masih berdiri di tangga sambil memerhatikan Zula yang sudah menangis di hadapan kedua orang tuanya
" Apa hidup Zula memang di takdirkan untuk sendiri, apa hidup Zula di takdirkan tanpa ada yang mau membela Zula, yang menyayangi Zula sepenuhnya bah? Mi" tambah Zula dengan tangisan yang makin menjadi
" Hust.... Gak boleh ngomong kayak gitu" ucap Zain pada Zula
Tangan Zain segera meraih tangan Zula yang ada di atas meha dahapannya
" Kamu itu anak Abah, abah akan selalu ada untuk anak anak abah, dan Zula putri satu satunya abah dan kesayangan abah gak boleh nangis, gak boleh sedih, " ucap Zain meyakinkan Zula
Jihan segera bangki dari duduknya dan mendekat ke arah Zula lalu mengelus pundak putri satu satunya
Walaupun Zula sudah tua dan sudah punya anak yang sudah gadis, tapi di mata Zain dan Jihan Zula tetap anaknya yang masih kecil dan butuh dukungan dan semangatnya
" Sabar ya nak ya" ucap Jihan makin gak tega melihat Zula yang menangis
" Umi tau kan gimana rasanya jadi Zula, Umi tau kan gimana di hakimi oleh suami sendiri, dan gimana rasanya dj hakimi mertua dan di adu domba oleh sodara ipar sendiri," ucap Zula lagi sambil menangis
Rasanya hatinya sakit kalau Mengingat Ryan justru membela keluarganya sepenuhnya tanpa mau mengetahui seluk beluk Zula
Ryan merasa kaget dengan ucapan Zula yang barusan dia dengar , Ternyata istrinya selama ini menyimpan rasa sakit hati dan merasa kalau dia tidak ada yang menbela dan merasa di hakimi oleh keluarga suaminya sendiri
" Kalau boleh, Zula mau di sini dulu bah mi, Zula mau tinggal sementara waktu sama abah sama Umi, Zula gak pengen pulang dulu" ucap Zula sambil mengelap air matanya
" Rumah abah Umi selalu ada dan selalu terbuka untuk anak cucu Umi" jawab Zain dengan lembut
" Namanya rumah tangga, itu tidak semulus jalan tol, tidak semulus wajah dan kulit orang setelah pake scin Caremu, semua ada gronjalan kerikil, dan kamu tau apa yang abah dan Umi jalani dalam rumah tangga abah Umi, seperti roler koster nak, gak sanggup orang menjalani selain umi pasti udah di henpaskan abahmu, sudah gak ada nama lagi abahmu, sudah porak poranda, " tambah Jihan memberi wejangan pada putrinya
" Umi pernah merasakan apa yang yang kamu rasakan Nak, Umi selalu berharap anak anak Umi selalu rukun damai pada pasangannya masing masing, jangan sampai anak anak Umi merasakan apa yang pernah Umi rasakan, " ucap Jihan lagi sambil mengelus dan menguatkan Zula
Ryan masih melihat hal itu dan mulai menyadari gimana rasa Zula yang selalu menjadi bahan adu domba Putri ke padanya
" Zula gak pernah menyolek Puput Mi, Zula gak pernah ikut camput masalah puput, Zula gak pernah mau tau masalah keluarga Emak dan Puput, tapi kenapa Zula sering kali jadi bahan adu domba puput pada bang Ryan dan Emak, dan kenapa justru mereka membela puput yang cari cari masalah, bang Ryan suamiku lho Mi, dia gak percaya sama istrinya" jawab Zula masih dengan tangisannya .
Jeder...... Hati Ryan seolah seperti kena sambaran petir, yang menyambar saat mendengar tuturan Zula yang menyatakan kalau dirinya tidak percaya pada istrinya sendiri
" Zula sakit Mi, kalau semua selalu di ungkit, Zula gak tau harus bagaimana, terkadang Zula ingin bangun rumah sendiri, dan pindah ke sana, pandangan dan ucapan mereka seolah Zula itu numpang pada bang Ryan, Zula yang ngatur hidup bang Ryan, semua yang Zula lakukan itu salah" tambah Zula karena dia hidup dengan suaminy sendiri
Ayah dari anak anaknya sendiri di kira hidup numpang, padahal itu sudah semestinya menjadi kewajiban Ryan sebagai suami yang memberi tempat tinggal anak dan istrinya
" Astagfirullahal adzim.... " ucap Zain kaget dan seolah gak terima dengan ucapan keluarga Ryan pada putrinya
" Abah beli nak... Abah beli rumah itu kalau memang kamu di kira numpang" ucap Zain panas lama lama dan jelas gak terima
" Abah...." Ucap Jihan meraih tangan Zain yang sudah mulai panas
" Udah... Bukan seperti itu cara mendamaikan anak anaknya, " ucap Jihan menyenggol Zain yang mulai emosi
" kita memberi jalan tengah bukan memihak," tambah Jihan
" Ya abah gak terima Mi, kalau Putri abah di kira numpang hidup, dia suaminya lho tanggung jawabnya, bukan seperti itu caranya, kalau memang keberatan kamu tinggal bersama dengan Ryan di rumah Ryan, udah pulang ke sini, tinggal di sini kalian mereka kalau mau nempati tempati aja rumah itu" jawab Zain sudah gak bisa mengontrol emosi lagi
Jihan memutar bola matanya jengah, padahal hal itu dulu pernah Jihan rasakan, dan perkara sama sodara iparnya sendiri, lebih parahnya Zain yang mengungkitnya
" Hidup gak ada yang sempurna , apa lagi manusia, sabar tawakal dan di jalani, cuek aja, kalau kamu gak merasa bersalah udah, cuek aja, kebenaran akan terlihat sendiri, nikmati hari harimu dengan pekerjaan dan aktifirasmu, jadi manusia yang bisa memberi manfaat kebagusan untuk orang lain" ucap Jihan kembali ceramah
" Okey.. Umi gak masalah kamu tinggal di sini, tapi ingat kamu punya santri yang harus kamu perhatikan, anakmu juga santri kamu titipkan, kira kira kamu sebagai ibu kalau anakmu di biarkan sama pengasuhnya, tanpa di perhatikan dan malah pengasuhkan pergi perasaanmu gimana? sedih gak,? Terima gak?" tanya Jihan membalikkan ucapan Zula
Zula terdiam tanpa menjawab karena Uminya kalau memberi masukan padanya itu selalu membalikkan pada dirinya sendiri dulu, biar dia tau rasanya dan bisa menerima masukannya
" Gak usah pedulikan ucapan iparmu yang suka cari masalah, yang gendeng dan bodoh itu, dia ngomong aja ngarang, menghayal cari bahan, ngapain dok pikirin, " tambah Jihan yang memang sudah kebal dengan masalah di masa mudanya
" Mana Nazulanya Umi yang dulu, yang bisa membasmi permasalahan, yang cuek tanpa peduli sama hal negatif, bangkit lagi dong, jangan jadi Nazula yang lembek baperan dan cengeng seperti ini, " tambah Jihan justru menantang Zula
Zula tercengang mendengar ucapan Uminya yang benar adanya
" Kalau Ryan masih sama dan masih mengikuti kara Putri, udah hempaskan aja dia, biarkan cueki, bukan berarti umi mengajari jelek ya, memang tugas istri melayani suami, kalau suaminya juga tau kondisi istrinya, tapi kalau seperti itu, kalau Umi mah bodo amat, hidup atau enggak biar sekalian dia ikut merasakan" tambah Jihan lagi memberi masukan yang sebenarnya gak bener tapi memang harus di coba
" Kamu akan rugi kalau terlalu membawa perasaan pada masalah yang gak penting, kalau Umi jadi kamu, udah sibukkan diri aja sama kerjaan, ngurus santri waktu ngaji ngaji waktu kerja kerja, aman kan, kalau Ryan masih mau di urus sama istri, masih mau di dekat istri, dia juga harus tau posisi istrinya" tambah Jihan lagi
Tidak semua istri sama , yang alim alamah dan akhirnya tersakiti
Jihan sebagai seorang bunyai, dia sadar ada waktunya dia taat pada suami ada waktunya dia memberi masukan dan menolak pendapat yang salah dari suami, terlebih merugikan istrinya
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤