Kisah rumah tangga Atika dan Aris yang diterpa badai, sebelumnya mereka keluarga yang harmonis dan saling melengkapi akan tetapi adanya orang ketiga yang membuat hubungan rumah tangga mereka hancur.
Bagaimana kelanjutan kisahnya? yuk ikuti ceritaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratih Ratnasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bu mirna menatap tak suka pada menantunya, di hatinya ia sangat ingin menyentuh cucu dari anaknya namun ia juga tak mau Atika merasa menang.
"Sekarang Aris sudah hidup bahagia dan kaya raya gak kaya kamu."
"Tak apa apa, lebih baik aku hidup sederhana bersama anakku sudah membuatku bahagia."
Intan yang melihat pertengkaran ibu dan kakak iparnya ia langsung menghentikan mereka berdua.
"Lebih baik ibu pulang saja, bukan kah kesini hanya memberi upah Bu Retno saja." Kata Intan.
"Intan kau ini anak ibu, apa apaan kau mengusir ibu lagian ini rumah Aris bukan rumah dia." Ujarnya dengan menunjuk pada Atika.
"Memang ini bukan rumah saya Bu, ibu mau apa?"
"Lebih baik kau pergi saja dari sini, enak saja tinggal di rumah hasil anakku."
"Tenang saja saya akan pergi dari sini setelah urusan selesai dan ibu tak akan pernah menemui cucu ibu lagi." Atika tak mau kalah dengan ibu mertuanya, biasanya ia hanya diam bila mendapat cacian namun kali ini Atika melawan karena sudah sangat sakit hatinya.
"Sudah kak jangan di layani,"
Lalu Bu Mirna pun pergi dari rumah itu dengan menahan emosinya.
'Menantu sialan! beraninya dia melawanku. Awas saja kau Atika'
"Maafkan sikap ibu ya kak," ujar Intan pada Atika.
"Ini bukan salah mu Intan, untuk apa kau meminta maaf pada kakak."
"Aku tidak enak dengan sikap ibu yang seperti itu pada kakak, jika dia bukan ibu ku sudah pasti aku akan melawannya tapi dia ibu ku dan aku tak berani melakukan apapun."
"Sudah jangan di bahas lagi, lebih baik sekarang kita makan siang bersama," ajaknya mencairkan suasana yang tadinya mencekam sekarang kembali dengan suasana penuh hangat.
"Oh iya kak aku belum bertanya soal nama keponakan ku, dia diberi nama siapa kak?"
"Em kakak beri nama Nathan,"
"Wah nama yang bagus sekali, aku sangat menyukainya."
Intan mencoba menghibur kakak iparnya dengan berbagai cara agar tidak melihat Atika yang kembali menangis lagi.
***
Pagi hari ini Atika sudah bersiap siap akan pergi menemui suaminya di kantor, ia juga akan di temani Intan untuk pergi ke sana.
"Apa kakak sudah siap?"
"Sudah Tan,"
"Kakak mau bawa Nathan ke sana?"
"Iya Tan, kakak gak tega kalau Nathan di tinggal."
"Ya sudah kak tak apa apa, aku yang akan menggendongnya."
Kemudian mereka berdua menghentikan taxi nya lalu mereka pergi menuju perusahaan Hartono tempat Aris bekerja.
Entah kenapa jantung Atika berdebar kencang, ia takut jika dirinya belum siap menerima kenyataan padahal sebelumnya ia sudah tahu tapi ia takut alasan Aris yang akan membuatnya sakit hati lagi.
Mereka berdua sudah sampai di perusahaan Hartono, dan mereka di izinkan masuk ke ruangan Aris yang berada di lantai 20.
'Aku harus kuat, aku gak boleh lemah demi anakku'
Atika menyemangati dirinya sendiri, ia tak ingin terlihat lemah di depan suaminya. Ia akan menerima apapun yang akan terjadi disana.
Atika dan Intan di persilahkan masuk oleh Aris.
Aris sudah tahu dengan kedatangan istri pertamanya jadi ia tidak terkejut melihat Atika berada di kantornya.
Aris memandang istri pertamanya yang kembali langsing seperti dulu, dua bulan yang lalu Atika masih mengandung akan tetapi sekarang ia sudah kembali ke semula. Ada rasa bersalah dalam diri Aris melihat tatapan Atika apalagi dengan menggendong seorang bayi yang belum pernah ia melihatnya.
"Mas, aku sudah tahu semuanya. Aku datang kesini ingin tahu apa alasan mu menikah lagi." Atika menahan sekeras tenaganya agar air matanya tidak luruh di depan suaminya.
"Baik aku akan menjelaskannya disini, kenapa aku menikah lagi? jujur saja sebelum aku mengirim mu ke rumah orang tua mu, aku sudah ada niat untuk menikahi Nadia istri kedua ku, karena aku tidak tega melihat mu yang sedang mengandung anakku jadi aku pendam dulu."
"Lalu alasannya kenapa kau mengkhianatiku Mas? kurang apa aku untuk mu?"
"Sudah lama aku tak mencintai mu Atika, maafkan aku baru jujur sekarang."
Atika merasakan sakit hati berkali kali setelah mendengar alasan dari suaminya.
"Hanya karena itu lalu kau tega mengkhianatiku Mas. Bukankah kau bilang hanya aku lah cinta pertama mu? kenapa kau secepat itu melupakan kata kata manis mu Mas?" Atika sudah tak kuat lagi menahan air matanya yang lolos begitu saja.
"Maafkan aku Atika," Hanya kata kata maaflah yang terucap dari bibir suaminya itu.
Disaat suasana sedang mencekam tiba tiba Nadia datang dengan senyum mengembang lalu ia memeluk suaminya dengan mesra.
"Dia siapa sayang? Ah sepertinya dia istri pertama mu Mas."
Intan geram melihat Nadia yang tak menghargai Atika sebagai istri pertamanya.
"Jadi kau istri dari suami ku? aku tak menyangka ternyata kamu lah yang menjadi pelakor dalam rumah tangga ku, pintar sekali kalian menyembunyikan bangkai di belakang ku."
"Makanya jadi istri itu jangan terlalu bodoh mbak, bukan saya yang menggoda mas Aris tapi dia yang terpikat dengan pesona saya." Ujarnya bohong, padahal dia lah yang menggoda suami orang.
"Memang kalian sangat serasi, sampah bertemu sampah memang sangat pantas. Kalau begitu mari kita bercerai Mas,"
"Tentu saja kau akan bercerai karena Mas Aris memang akan menceraikan mu."
Lalu Nadia mengambil sebuah kertas dari meja dan diberikan pada Atika.
"Tandatangani disini lalu kau boleh pergi dari kantor ku."
Dengan cepat Atika mengambil kertas itu lalu ia menandatangani nya tanpa membaca dulu karena ia sudah tahu bahwa itu surat cerai.
"Aku sudah menandatanganinya Mas, semoga setelah ini kau akan semakin bahagia bersama dia. Jika suatu saat kau menyadari diri mu sendiri maka jangan pernah mencari ku dan anak ku." Atika membalikkan badannya untuk segera meninggalkan ruang kerja Aris, namun dengan sigap Aris menggenggam tangan Atika.
"Lepaskan tanganku Mas, ada apa lagi?"
"Tolong untuk terakhir kali aku ingin melihat anakku." Dengan terpaksa Atika mengiyakan ucapan Aris karena memang Aris berhak atas itu.
'Maafkan ayah yang sudah mengkhianati ibu mu nak, ayah sangat menyayangi mu. Ayah minta maaf tidak bisa hidup bersama mu'
Tak terasa air mata Aris lolos begitu saja, jika ia berlama lama dengan anaknya maka ia akan luluh kembali namun dengan cepat Nadia menarik tangan suaminya agar tidak terlalu lama dengan anaknya.
"Mas,"
Atika tersenyum sini melihat air mata suaminya yang lolos begitu saja.
'Aku yakin mas Aris tidak tega meninggalkan Nathan, tapi dia terlalu egois memilih harta dan jabatan daripada anaknya'
"Ayo kak kita pergi, urusannya sudah selesai bukan!"
"Ya ayo Intan, kamu berdua permisi untuk pamit." Entah kenapa Aris sangat tidak ingin kehilangan Atika, ia berlari ke arah Atika lalu memeluknya dari belakang.
"Atika! maafkan aku."
Dengan kasar Atika melepaskan pelukannya.
"Lepas Mas, apa maksud mu menyentuhku, aku sudah menandatangani kertas itu jadi kau tak berhak lagi menyentuh ku."
"Aku minta maaf Atika," Atika tak peduli lagi pada Aris, ia sudah sangat sakit hati karena dikhianati suaminya dan ia sudah tak butuh kata maaf dari suaminya itu.
Bersambung.
Jangan lupa beri masukan untuk authornya ya.
Like, komen, dan subscribe untuk karya ini.