Marcelo, seorang anak pengusaha terkenal jatuh cinta pada seorang gadis sederhana. Sayangnya cintanya tidak direstui oleh sang ibu, sehingga dia harus berpura-pura gila agar bisa bersatu dengan gadis itu.
Demi cintanya, Mitha rela menikah dengan laki-laki gila dan hidup menderita karena mertua yang menjadikannya seorang pembantu di rumah mewahnya.
Mampukah Mitha bertahan demi cintanya pada Celo sang suami? Yuk ikuti kisah selanjutnya dalam Cinta Gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CG# 14
Malam hari di kediaman Weasley.
Damian Weasley langsung pulang begitu mendengar kabar kepergian anak dan menantunya dari rumah tanpa membawa apapun. Salah satu pekerja di rumahnya melapor jika sang tuan muda meninggalkan rumah bersama istrinya tanpa membawa apa-apa apalagi baju ganti.
Damian membuka pintu paviliun mengajak orang kepercayaannya, yaitu Surti dan Parjo. Mereka masuk setelah pintu berhasil dibuka. Damian mengecek semua ruangan yang ada di sana.
Paviliun yang ditempati Marcelo dan istrinya hanya terdiri dari dua ruangan, yaitu kamar yang digunakan untuk mengurung Celo selama ini. Ruangan satu lagi digunakan untuk ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan serta dapur menjadi satu. Paviliun itu juga dilengkapi dengan kamar mandi di dalamnya.
Semua barang di dalam paviliun itu tetap utuh seperti tidak ada yang berubah atau berkurang. Damian tahu karena dia sering mengunjungi sang anak di saat sang istri tidak ada di rumah. Dia memang memilih diam tetapi bertindak dari pada ribut dengan sang istri.
Damian juga yang membantu rencana anak keduanya itu pura-pura gila. Sebenarnya anak lelaki nomor dua itu mengalami tekanan batin, tetapi masih bisa diobati. Ternyata setelah menikah penyakitnya itu sembuh, berkat usaha dan kesabaran Mitha dalam mengurus dalam merawatnya.
"Mungkin keluar dari rumah adalah jalan terbaik untuk kalian. Semoga kalian berdua di luar sana bisa menjadi orang yang sukses," gumam Damian sambil memegang pigura foto pernikahan anak dan menantunya.
Laki-laki berusia lebih dari lima puluh tahun itu melangkah keluar. Dia memerintahkan pada Surti untuk membersihkan paviliun itu setiap kali Rosita pergi keluar kota. Kunci tidak boleh diberikan pada siapapun kecuali pada dirinya atau Marcelo.
Parjo juga diberi tugas untuk mengawasi paviliun itu jika tidak sedang mengantar Zee bepergian. Parjo hanya boleh mengantarkan Zee saja, selebihnya tugas dia adalah menjaga keamanan paviliun itu, jangan sampai ada yang masuk selain dirinya dan Surti.
Setelah dari paviliun itu, Damian langsung masuk ke ruang kerjanya. Lelaki itu mengunci pintu, lalu duduk di kursi kerja dengan menyadarkan punggung seraya mendongakkan kepalanya. Setelah beberapa saat, dia menghubungi seseorang untuk mencari keberadaan anak dan menantunya.
Laki-laki berwajah bule itu juga memerintahkan pada anak buahnya untuk menjaga dua orang kesayangannya itu. Setelah dirasa cukup memberikan perintah, Damian mengakhiri panggilan tersebut.
Sementara itu, Rosita mencari preman untuk menculik Mitha dan mencelakai dia. Perempuan itu ingin menyingkirkan sang menantu karena tidak berhasil membujuk sang anak untuk menikahi wanita pilihannya. Dia sangat kesal dengan anak keduanya itu yang selalu melawan sejak mengenal sang menantu.
"Culik perempuan ini, lalu buang dia ke hutan atau tempat yang sekiranya dia tidak bisa kembali ke kota ini! Untuk anakku seret dia ke hadapanku," perintah Rosita dengan mata nyalang.
"Bagaimana kalau kita bunuh saja wanita ini, Bos?" tanya ketua preman itu.
"Tidak perlu! Jangan kotori tangan kalian! Yang penting jauhkan dia dari anakku," jawab Rosita dingin. "Kecuali jika dia melawan, kalian boleh melakukan apapun padanya."
"Siap, Bos!"
Rosita meninggalkan bangunan yang dari luar tampak tidak berpenghuni itu. Hatinya sangat kesal hari ini. Rencana yang telah disusun matang harus berantakan karena tiba-tiba anaknya melawan.
Tadi malam anak itu bersikap sangat manis di depan tamu, bahkan dia tampak sangat menurut. Namun, pagi ini Marcelo malah membantah dan memilih pergi dari rumah. Ditambah lagi Laras berulang kali menghubunginya menanyakan kenapa sang anak tidak jadi datang untuk mengantarkan ke kampus, selain itu nomor Marcelo yang diberikan tidak bisa dihubungi.
"Huh, anak itu selalu saja membuat ulah. Kapan dia akan seperti kakaknya yang bisa dibanggakan?" gerutu Rosita sepanjang perjalanan pulang ke rumah.
Rosita memikirkan cara agar sang suami tidak curiga dengan kepergian sang anak kesayangan. Suaminya itu memang selalu diam, tetapi menghanyutkan. Masalah sekecil apapun pasti tercium oleh sang suami, lalu berakhir dengan menginterogasinya.
Perempuan itu sampai di rumah saat malam mulai menyapa. Tampak mobil sang suami sudah berada di garasi. Ternyata Rosita terlambat sampai rumah, inilah yang paling dihindarinya terlambat pulang dan mendapat ceramah dari suami tercinta.
Damian akan banyak bertanya atas keterlambatannya pulang ke rumah. Lelaki itu selalu rewel jika sang istri pulang terlambat. Jika sudah demikian, Rosita hanya bisa pasrah mendengar ceramah dari suaminya itu.
"Dari mana kamu? Dan dimana Marcelo dan istrinya?"
"Arisan seperti biasa. Kalau Celo tadi pagi katanya mau ke rumah mertuanya. Apa mereka belum pulang?" jawab Rosita dengan suara tenang, tetapi jantungnya berdebar tidak karuan takut ketahuan berbohong.
"Kalau mereka berada di sini, aku tak akan bertanya kamu, Rosi! Kamu sibuk dengan dunia kamu sendiri tapi mengabaikan tugas utama kamu sebagai seorang ibu."
"Anak-anak sudah besar, tidak mungkin aku awasi mereka terus. Mereka juga butuh bergaul," sahut Rosita membela diri.
"Okeh, mereka juga butuh bergaul. Apakah kamu tahu bagaimana pergaulan mereka? Terutama pergaulan Zee. Kamu tahu tidak sedang apa anak perempuanmu saat ini?"
***
sukses selalu Thor
Laras baik untungnya
meski banyak rintangan yang selama ini menghalangi,akhirnya semua bisa bahagia.
semau sendiri.