Andaikan waktu bisa kuputar kembali, aku ingin bertemu denganmu di saat yang tepat dan di waktu yang tepat untuk bisa mencintaimu sebagai manusia seutuhnya dan bukan hanya sekedar menjadi bayanganmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senajudifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Asal Usul
Jaha*nam...sini kamu manusia sialan biar kurobek mulut besarmu itu!!" teriak Desi melengking dengan marahnya.
"Kamu yang kesini lah...masa saya yang tak berkepentingan yang harus mendatangi kamu dan sembah sungkem padamu??" kata Sena tertawa mengekeh.
Mereka bingung melihat Sena yang masih bisa tertawa tetapi lebih bingung lagi saat suara Sena juga berubah menjadi suara seorang lelaki yang berkata penuh kelembutan.
"Lasmi..apalagi yang kamu permasalahkan?? kita memang tidak ditakdirkan berjodoh oleh Allah SWT, jodohku adalah Fatimah...kedua orang tua kami telah menjodohkan kami berdua, aku sebagai anak hanya bisa menurut saja, karena apa yang telah diputuskan oleh kedua orang tuaku pastilah itu terbaik untukku, kamu jangan khawatir, pasti suatu hari nanti akan ada seorang pria yang akan mempersunting gadis secantikmu tapi itu bukanlah lagi aku Lasmi!! kisah kita telah berakhir, baik orang tuamu maupun orang tuaku tidak menyetujui hubungan kita, jika kita teruskan pun kita tak akan pernah bahagia!!" kata suara seorang laki-laki yang berasal dari dalam tubuh Sena.
Mendadak semua yang berada di tempat itu berdiri terpaku dan seolah mereka ikut masuk pada kejadian ratusan tahun yang lalu...!!!
***************
Di sebuah air terjun yang suasananya begitu damai, ada sepasang muda dan mudi bertemu.
Dia adalah Lasmi dan Badra Mandawata.
Lasmi adalah putri seorang tuan tanah yang sangat kaya pada masa itu, sedangkan Badra Mandawata adalah putra dari seorang Kyai terkenal yang memiliki sebuah pesantren besar dengan jumlah murid yang banyak.
Ayah Badra, Kyai Ageng Mandrawata memperistrikan seorang muslimah keturunan China Tiongkok yang nantinya merupakan nenek buyut dari ibu Anthony Wong.
Tapi nona Gong Li itu adalah warga Tionghoa, Badra...!!" kata Lasmi.
"Kamu benar Lasmi, tetapi kedua orang tua kami bersahabat baik, kedua orang tua Gong Li telah masuk dan menganut ajaran islam di pesantren ayahku dulu dan mereka saling berjanji jika kelak anak-anak mereka akan dijodohkan!!" kata Badra.
"Tapi kita bersahabat baik, Badra dan kamu tau bahwa aku juga mencintaimu, kamu pasti juga mencintaiku kan??" tanya Lasmi.
"Maaf Lasmi sekali lagi aku minta maaf, aku tidak mempunyai perasaan apapun kepadamu, rasa sayang dan cintaku kepadamu hanyalah sebatas seorang kakak kepada adiknya, tidak lebih!! lagi pula bukankah bulan depan kamu akan melangsungkan pernikahanmu dengan Anggoro putra dari tuan Birawa??" kata Badra.
Anggoro merupakan kakek dari Baron sepupu Ningsih, dari pernikahan Lasmi dengan Anggoro maka lahirlah ayah kandung Baron. Itu sebelum Lasmi meninggal karena diracun oleh kedua istri Anggoro sebelumnya karena mereka iri pada Lasmi yang telah lebih dulu memiliki keturunan dari Anggoro padahal mereka sudah lebih dahulu menikah dengan Anggoro.
"Tapi kamu tau, bahwa Anggoro itu sudah mempunyai dua istri dan aku akan dijadikan istri ketiga olehnya??" kata Lasmi dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan aku Lasmi...aku tidak punya kuasa untuk ikut campur masalah keluargamu!! sekali lagi maafkan aku." Kata Badra.
"Sebaiknya ini adalah hari terakhir kita bertemu, aku tidak enak pada kangmas Anggoro nanti, sudah tau kamu akan menikah dengannya, masih saja kita bertemu seperti ini!! dan aku juga akan segera menikahi nona Gong Li." Kata Badra Mandawata.
"Jahat kamu Badra...aku membencimu bahkan jika aku mati sampai aku bangkit kembali dari alam kematianku sekalipun aku akan tetap membencimu!!" kata Lasmi dengan berlinangan air mata lalu dia pergi dan berlari meninggalkan Badra sendiri.
"Astaghfirullah Lasmi...semoga saja sumpahmu itu tidak didengar oleh setan-setan penghuni air terjun ini!!" ucap Badra pelan.
***********
Blep....
Tiba-tiba yang berdiri di situ jadi tersadar kembali.
Semua bayangan yang mereka lihat tentang air terjun, suara burung dan suara gemericik air sirna sudah.
"Apakah yang aku lihat sama seperti yang kalian lihat??" tanya Nurlina pada temannya yang lain.
"Iya...berarti kita seperti kembali masuk ke masa lalu dan mendengarkan percakapan seorang pemuda yang bernama Badra dengan seorang gadis bernama Lasmi??" kata Nurlina dibarengi lagi anggukan kepala oleh teman-temannya yang lain.
Seiring berakhirnya percakapan itu, Desi segera tersadar dari kesurupannya.
"Aduhhh...." rintih Desi saat tangannya masih dipegang erat oleh Herman dan beberapa laki-laki yang lain.
"Desi sadar!!" teriak Nurlina juga membuat mereka yang lain tersadar.
Desi segera dibawa masuk ke ruangan kantor kecil kami tempat anak cleaning service, segera diminumkan air putih yang sudah dibacakan shalawat oleh Herman.
Lalu apa kabar dengan Sena sendiri?? dia masih berdiri terpaku di sana, rohnya masih ada di masa lalu bersama dengan Ki Badra Mandawata dan nyi Lasmi.
Dia melihat nyi Lasmi melangsungkan pernikahan terpaksanya dengan Anggoro dan juga melihat pernikahan bahagia antara Badra dan Gong Li yang berganti nama menjadi Fatimah saat mereka menikah.
Dia juga melihat nyi Lasmi yang terus disiksa oleh kedua istri Anggoro di saat Anggoro pergi berdagang membuat dendam dan kebenciannya pada Badra semakin besar.
Dia juga melihat dari pernikahan Badra Mandawata dan Fatimah, lahirlah Gloria Wong diambil dari nama Gong Li Wong nama asli Fatimah.
Tetapi Gloria saat dewasa menikah dengan Maxwell dan berpindah keyakinan.
Di masa kepenjajahan Belanda, selain membawa kapal dagang mereka, mereka juga masih banyak yang menganut agama mereka dan menikahi wanita pribumi yang juga banyak dari warga asli Tionghoa yang menikah dengan orang pribumi dan juga orang asli pribumi sendiri.
Saat itu dari pernikahannya dengan Anggoro lahirlah Bianto ayah Baron. Bianto menikahi ibu Baron dan lahirlah Baron tetapi saat Baron berusia lima tahun, Bianto meninggal karena terserang disentri dan kolera yang banyak menjangkiti masyarakat masa itu...begitupun ayah tiri Baron meninggal dengan cara yang sama.
Ki Badra dan Fatimah istrinya ikut berjuang melawan penjajahan Belanda masa itu hingga pesantren tempat mereka tinggal warisan dari ayah Badra, Ki Ageng Mandrawata ikut di bumi hanguskan oleh kompeni.
Ki Badra dan istrinya Fatimahpun tak luput dari pencarian kompeni. Saat itu Gloria selamat karena dia menikah dengan Maxwell.
Fatimah gugur dalam perjuangan itu bersama banyak santrinya sedangkan Ki Badra dengan kesaktiannya bisa meloloskan diri dan menggoibkan dirinya.
Tetapi sebelum dia pergi, dia memberikan cincin permata merah delima kepada putrinya Gloria dan berpesan kepadanya untuk memberikan cincin itu kepada putranya kelak, Anthony karena kelak Anthony akan menemui takdirnya sendiri.
Dan atas amanah ayahnya, sebelum Gloria dan Maxwell pergi lebih dahulu ke Netherland bersama Alice putri mereka meninggalkan Anthony sendiri yang berjanji untuk menyusul kedua orang tuanya bersama Ningsih, Gloria memberikan cincin itu pada putranya dan berpesan untuk segera menyusul mami dan papinya tetapi memang takdir berkata lain, Anthony meninggal menerjunkan dirinya ke jurang, membawa serta cincin permata merah delima pemberian maminya bersama jasadnya yang kini terkubur di dasar jurang yang berpuluh tahun kemudian jurang itu ditimbun dan dibangunlah sebuah rumah sakit di sana.
*
*
***Bersambung...
Jangan lupa ikuti terus kelanjutan kisah Sena dalam episode selanjutnya dan jangan lupa dukungannya🙏🙏