Apa yang kamu akan lakukan jika kamu dijebak oleh Saudari dan Ibu Tirimu untuk menerima jodoh yang seharusnya bukan untuk dirimu sendiri.
Apalagi pria yang harus ia nikahi adalah pria yang sangat arrogan dan memiliki cacat serta lumpuh.
Sedangkan Ervin yang sudah hampir 100 kali menghancurkan perjodohan antara Ibunya dengan para wanita, kali ini menerima kegagalan. Karena dari 100 wanita, Belviana lah satu - satunya wanita yang tidak kabur saat melihat dirinya yang cacat.
Entah karena Belviana hanya seorang pengganti Emilie, atau dia memiliki maksud tertentu.
“Apa dia lagi berpura-pura tidak tahu apa yang aku maksud ? Mau aku sendiri yang mengatakan kekuranganku ?” seru Ervin dalam hatinya.
Bagaimana kisah antara Belviana dan Ervin ?
Selamat Membaca
IG @ma2.zan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MamaZan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Belviana melangkahkan kakinya masuk ke dalam Restaurant. Dan seorang pelayan menghampirinya. “Malam Nona, ada yang bisa saya bantu?”
“Malam, saya sudah buat janji dengan Pak Ervin.”
“Baik Nona. Tungu saya lihat buku tamu.” Balas pelayan pria tersebut dengan sopan. Lalu membaca daftar tamu.
“Silahkan Nona, saya akan mengantar Nona ke ruangan Tuan Muda Ervin,” ujar Pelayan pria tersebut, melangkah lebih dulu.
Belviana mengangguk, “Baik. Terima kasih.”
Wanita cantik itu melangkah dengan anggun dengan balutan gaun malam bermotif bunga besar yang menutup hingga lututnya. Sedangkan bagian atasnya tertutup dengan sempurna. Kain sifon tersebut juga menutup lengan indah Belviana hingga sesiku. Gaun berawarna silver itu sangat indah di gunakan oleh Belviana. Rambutnya dia uraikan dengan model wave atau gelombang. Tidak lupa clutch berwarna putih dan highheels dengan nada senada.
Siapapun yang melihat Belviana saat ini pasti akan tertegun dan tidak dapat mengalihkan pandangan mereka akan kecantikan dan keanggunan nya.
Tok tok tok
Pelayan mengetuk dengan pelan. Dan pintu tersebut terbuka.
“Nona Belviana…” sapa Milo dengan senyuman di wajahnya. Pria itu tidak menduga kalau yang datang benar Belviana.
“Malam Pak Milo,” balas Belviana dengan ramah.
“Silahkan Nona,” Milo melebarkan pintu, membiarkan Belviana masuk.
Ervin yang mendengar Milo, tersenyum tipis. Entah kenapa ada perasaan lega begitu mendengar kalau Belviana lah yang datang.
Belviana berjalan mengikuti langkah Milo hingga ke meja bulat, di mana Ervin sudah menunggu di sana, lengkap dengan kursi rodanya.
“Malam Kak Ervin,” sapa Belviana dengan sedikit menundukkan kepalanya.
Ervin mendongakkan kepalanya, menatap kesempurnaan di depan matanya.
Satu detik
Dua detik
Lima detik
Sepuluh detik
“Ehem…” Milo berdehem menyadarkan Tuannya itu dari lamunan.
“Silahkan duduk,” Ervin bicara dengan tenang mempersilahkan Belviana untuk duduk.
Belviana sendiri bingung harus berbicara apa , karena dia cukup malu karena harus bertemu kembali dengan Ervin. Padahal dia sudah memberitahukan kepada Milo kalau tidak akan lagi ada pertemua kedua, bahkan pertemua berikutnya.
Ervin menaikkan satu alisnya melihat sikap Belviana yang hanya diam di depannya sambil memainkan jemarinya.
“Kenapa kamu diam? Bukannya ada hal yang ingin kamu katakan ? Sampai kamu mengatur pertemuan kedua kita ini?”
Belviana sontak mengangkat wajahnya dan menatap heran kepada Ervin, “Aku?” tanya nya dengan bingung.
“Bukannya dari pihak Kak Ervin yang ingin–“ ” sambung Belviana dengan wajah kebingungan.
“Ahh iya tunggu… Maaf…” Belviana kemudian membuka clutch nya dan mengeluarkan selembar kertas dan pulpen kecil. Wanita cantik itu segera menulis apa yang ia katakan tadi.
Ervin memperhatikan itu semua. “Astagaa! Bisa – bisa nya dia berinisiatif membawa kertas dan pulpen?” pikirnya dalam hati.
Sedangkan Milo menahan tawanya melihat itu semua. Dia memalingkan wajahnya dan menutup mulut.
‘Bukannya dari pihak Kak Ervin yang ingin mengadakan pertemuan kedua ini?’
Setelah itu Belviana memberikan kertas memo itu kepada Ervin. Pria itu membacanya, seketika itu pula dia mengerutkan keningnya.
Milo pun bisa membaca apa yang di tulis Belviana.
“Apa kamu yakin?” tanya Ervin kemudian.
Belviana mengangguk. “Iya Kak,” jawabnya sambil menulis dikertas.
“Tidak mungkin Mama berbohong untuk hal seperti ini… Apa mungkin?” pikirnya lalu melirik ke arah Milo.
Milo yang tahu langsung keluar menyiapkan sesuatu.
“Ya sudah itu tidak penting untuk saat ini. Jadi apa yang ingin kamu sampaikan? Padahal kamu bisa menolak untuk bertemu denganku.” Ujar Ervin pada akhirnya.
Belviana tersenyum tipis sambil menunduk, “Seandainya aku bisa menolak.” Gumamnya dalam hati.
Wanita cantik itu pun menulis di kertas. ‘Tidak apa – apa kak. Dan mungkin ini pertemuan terakhir kita.’
Deg!
Ervin yang membaca itu merasakan jantungnya seperti di hantam batu besar. Seakan tidak rela jika ini merupakan pertemua terakhir mereka.
“Hmm…” jawab Ervin singkat.
“Ya sudah, mari kita makan. Dan aku akan mengantarmu pulang.” Ucap Ervin sambil mengatur serbetnya.
Belviana menulis kembali. ‘Terima kasih tawarannya Kak. Tapi hari ini aku bawa mobil sendiri ^^ Jadi kakak gak perlu repot – repot lagi’
Ervin membacanya dan melihat tidak percaya kepada Belviana yang saat ini tengah tersenyum manis di depannya.
“Ahh sial!”
tapi aku nunggu tamat ajah, ogah di gantung lama✌️✌️🙏
asal lamu tau aj y ,, sebelum orang yg kamu suruh mencelakai Belviana terlaksana,, justru kamu sendiri yang akan menerima hukuman dari Ervin ..🤪🙄