"Kenapa kau pergi, Al? Bagaimana nasib anak kita yang sebentar lagi akan lahir? Kenapa semesta sangat tega! Kenapa kau meninggalkan kami, Alan!" Angelina Blaire menangis histeris sembari memeluk kemeja yang biasa dipakai oleh suaminya.
Angelina yang terpukul mengalami gangguan mental di penghujung kehamilannya. Ia selalu menganggap bahwa Alan masih hidup. Bahkan, salah mengira jika Adam adalah suaminya.
Hal itu membuat Damian Jackson, menganjurkan agar putra pertamanya itu menikahi istri dari mendiang putra keduanya.
Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka selanjutnya, setelah Angelina menyadari bahwa selama ini suaminya bukanlah Alan, melainkan Adam?
Sekuel dari novel Salah Kamar ( Adik iparku, Istri ku )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chibichibi@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 14. Di Tepi Danau Buatan.
"Al," panggil Angelina pada sosok lelaki tampan nan gagah di hadapannya. Sementara, Adam lantas mendongak dan memasang senyumnya. Mencoba menepis rasa sakit setiap kali wanita cantik yang sedang ia pijat betisnya ini, memanggilnya dengan sebutan orang yang sebenarnya telah mati.
Sampai kapan ia akan cosplay jadi orang lain begini? Adam mencoba tidak memikirkan perasaannya. Akan tetapi hatinya masihlah segumpal darah bukan besi. Ia terkadang masih merasakan sesak akan posisinya ini.
"Sebentar lagi, bayi kita akan lahir. Aku ingin secepatnya, melihat buah cinta kita. Kira-kira wajahnya akan seperti siapa ya, mirip aku apa kamu?" tanya Angelina sambil terus mengelus perutnya yang sangat besar itu. Bahkan, Adam mengira bukan hanya ada satu bayi di sana, tapi sepuluh.
"Aku pun sama, sayang. Aku ingin melihatnya, berceloteh meramaikan dunia kita." Adam sama sekali tidak sedang bersandiwara ketika mengucapkan kata-kata yang menjurus ke perasaannya. Ia tulus akan perasaannya. Sehingga, sebelum bayi itu lahir pun Adam telah menyayanginya.
"Tapi aku yakin, dia pasti akan mirip denganmu," tebak Angelina di sertai tawa renyah merekah diwajahnya. Dimana ketika melihat hal itu saja sudah mampu membuat Adam bahagia. Hatinya tenang jika Angelina sudah kembali ceria. Sebaliknya, batin Adam ikut sakit jika wanita itu tenggelam dalam depresi tak berkesudahan.
"Aku ingin memiliki anak laki-laki yang tampan serta baik sepertimu," ucap Angelina lagi di akhir tawanya.
"Sebentar lagi, harapanmu akan terwujud," jawab Adam yang benar-benar telah kehabisan kata-kata untuk menanggapi setiap ucapan Angelina. Sampai sekarang lelaki ini masih bingung, bagian mana dari dirinya yang membuat Angelina mengira bahwa dia adalah Alan. Karena, Adam merasa ia sangat berbeda dengan adiknya itu.
"Al, sudah." Angelina hendak menghentikan pijatan Adam pada kakinya, tapi wanita itu terlihat kesulitan untuk menurunkannya. Karena itulah, Adam dengan gerakan sigap membantu. Perut Angelina yang besar membuat Adam harus cepat tanggap dan siaga terus.
"Al, kau ingat tidak. Beberapa waktu lalu. Kita naik bebek air itu, lalu ada bagian lucu pas kita berdua sampai di tengah danau sana," tutur Angelina bercerita di sertai tawa. Jari telunjuknya menunjuk ke arah tengah danau. Sore ini agak sepi. Karena bukan hari libur. Sehingga, danau buatan ini tak terlalu ramai pengunjung.
Adam melihat kearah yang Angelina tunjuk. Apa yang harus dia jawab. Bahkan, seumur hidup belum pernah jalan berdua perempuan. Sekali jalan, langsung bawa wanita hamil besar.
"Al, kenapa kau diam? Al!" Angelina memanggil Adam sambil menggoyangkan lengan pria itu. Hingga, Adam tersentak kaget dan menoleh.
"Ah, aku hanya sedang mengingat-ingat momen itu," jawab Adam cepat. Padahal yang sebenarnya adakah dirinya sedang sangat bingung. Dia tidak tau sama sekali apa yang mereka alami kala itu.
"Kenapa kau tidak tertawa Al? Padahal, saat itu kau menertawakan ku girang sekali. Menyebalkan. Tapi, aku selalu ingat," sungut Angelina dengan mencebikkan bibirnya.
"Apa kau tersinggung saat itu sayang? Kalau iya aku minta maaf. Kau tau kan, jika kaum pria memiliki ingatan yang buruk terhadap momen-momen tertentu. Berbeda dengan wanita, yang bahkan selalu mengingat hari-hari istimewa. Kalau pria, hari lahirnya saja dia pun lupa. Hahaha!" Adam tergelak setelah membocorkan kekurangannya.
Sebenarnya, lelaki itu tertawa karena ia menemukan cara agar Angelina tak lagi, mengungkit kisah yang ia tak tau jalan ceritanya. Sungguh Adam tertawa sampai ia meneteskan air mata di ujung pelupuknya.
Kau cerdik juga Adam. Hampir saja bukan.
Adam mengusap peluh yang secara refleks mengalir deras di tengkuknya. Apalagi, saat ini Angelina nampak menatapnya dengan intens.
"Angelina? Kau Angelina kan?" Serentak keduanya menengok ke asal suara yang memanggil.
"Siapa?" Angelina mengerutkan keningnya.
...Bersambung ...