Tidak ada suami yang bisa memilih antara sang Ibu dengan Istrinya, begitupun dengan Yusuf. Lalu, apa yang bisa Yusuf lakukan? Jika, sang Ibu mengaggap istrinya tidak seperti anak sendiri? Dan mampukah Febri Ayundi mempertahankan pernikahannya dengan sang suami? Dimana selalu ada Ibu Marsella sang mertua yang ikut campur dalam hubungan rumah tangga mereka. Saksikanlah, kisah penuh menguras emosi dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon febrianis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Darah M
"Maksudnya?"
Yusuf pun tersenyum, dia telah berhasil membuat Ibu dan istrinya kembali akur.
"Iya, beneran lah, Bu. Jadi, untuk sekarang kita makan apa yang dimasak Febri dulu yah," pinta Yusuf, membujuk sang ibu. Dengan terpaksa ibu Sella memakan masakan menantunya.
Setelah selesai makan Bu Sella bersiap-siap pergi ke mall. Berbeda dengan Febri yang harus melanjutkan pekerjaan rumah lainnya, sampai bengeknya. Karena, jika dia tidak bisa meninggalkan rumah dalam keadaan berantakan.
Febri langsung masuk kekamar mandi untuk mencuci baju kotor yang tentunya, bukan hanya baju milik dia dan suaminya saja. Akan tetapi, ibu mertuanya tidak ketinggian. Febri mencuci masih menggunakan cara manual, yaitu disikat dulu. Sebelum, menikah dengan sang suami dirumah ada mesin cuci. Namun, setelah Febri menikah mesin cuci pun dijual.
Waktu itu Yusuf pernah bertanya, kenapa dijual mesin cucinya. Dengan santai ibunya bilang 'token listrik naik, Nak. Lagi pula, lebih bersih pakai tangan.' Yusuf pun percaya padahal itu hanyalah akal-akalan Bu Sella, agar Febri menderita.
Ketika Febri ingin memasukkan pakaian kotor ke dalam rendaman air, dia menemukan ****** ***** yang berdarah.
"Astagfirullah … Kebiasaan banget, Ibu! Kalo lagi M, ****** ***** gak dicuci langsung! Ini malah ditumpuk sama baju yang lain! Kan, jadi bau amis darah, semuanya. Bahkan, mengundang makhluk lain. Kalo gini, mah!" Perasaan Febri geram dan mengambil ****** ***** tersebut, lalu membawa ke mertuanya.
"Ibu … tolong banget kalo ****** *****! Ibu cuci sendiri! Kan ada darah haidnya!" ujar Febri di depan sang ibu mertua.
"Suka-suka Ibu lah, Ibu jijik! Ada darahnya, mending kamu aja yang cuci! Kan tanganmu cocok, buat hal yang menjijikan seperti itu," ucap Ibu Sella tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Lagian, kamu di sini, gunanya untuk apa? Cuma mau jadi benalu, untukku?" tambah Ibu Sella. Memancing kemarahan sang menantu, mungkin rencana ke mallnya akan batal.
Bahkan, Ibu Sella dengan penuh penekanan di setiap ucapannya. Hal itu membuat Febri naik pitam, sebab habis sudah kesabaran seorang Febri Ayundi.
"Bu! Aku ini istri anak Ibu! Yang berarti, sudah jadi tanggung jawab Mas Yusuf! Untuk, menafkahiku. Lagipula, setiap gajinya Mas Yusuf. Selalu dia mendahulukan kebutuhan Ibu, belum lagi habis pulang kerja, capek. Harus mengurus rumah, apalagi aku … jadi, menantu Ibu Marsella yang harus hormat. Kurang apalagi!"
Dengan nafas terengah-engah, akhirnya Febri mengeluarkan beban yang mengganjal di dalam dadanya.
Bu Sella tidak mau kalah, "Salahmu sendiri yang memilih anakku menjadi suamimu! Jadi, harus terima keadaannya dan harus mau menurut pada Ibu. Semua yang Ibu mau harus, kau turuti. Karena surga istri ada pada suami dan surga suami ada pada Ibunya. Kalo kamu gak tahan? Cerai 'lah dengan anak Ibu!"
Awalnya, hanya berdebat makin lama makin memanas. Febri yang menginginkan keadilan untuknya dan Bu Sella yang ingin menang sendiri.
Bu Sella tidak tahan lagi beradu argumen dengan menantunya dan membuat kepalanya terasa pusing. Hingga, wanita itu pun pingsan. Karena, tekanan darah tinggi.
Febri kaget saat melihat mertuanya yang terkapar pun memanggil sang suami.
"Mas! Mas! Ibu!" teriak Febri seraya menggoyangkan tubuh sang mertua dan menunggu kedatangan suaminya.
"Kenapa, Dek?" tanya Yusuf yang baru saja masuk ke dalam ruangan tamu dan betapa terkejutnya ia melihat sang ibu yang terkapar di lantai.
"Astagfirullah, Ibu!" pekik Yusuf panik.
"Ibu kenapa, Dek?" Kali, ini pandangan Yusuf beralih kepada sang istri yang hanya diam. Dia yakin, ada sesuatu yang istrinya sembunyikan.
"Nanti aja kujelaskan! Bahwa Ibu dulu ke kamar"
Yusuf menganggukan kepala tanda setuju, walaupun dalam hati nya bertanya-tanya tentang apa yang terjadi dengan ibunya.
Bu Sella diangkat, lalu di bawa ke kamar dan dibaringkan di atas ranjang. Dengan keadaan yang masih belum sadarkan diri.
"Dek, Ibu kenapa? Sampai pingsan begini?" tanya Yusuf pelan.
"Maafin, adek sebelumnya, Mas. Tadi … adek sama Ibu bertengkar. Hara-gara Ibu yang kebiasaan, tidak mau mencuci sendiri ****** ********. Dimana, ada berdarah. Karena Ibu sedang haid. Ibu selalu mengatakan, jijik terus. Gimana sama adek? Emangnya, adek gak jijik? Ibu tersinggung, langsung menyebutku benalu dalam hidup Mas."
Yusuf yang mendengar penjelasan panjang dan lebar dari istrinya hanya mampu membuang nafas berat, ditambah air mata sang istri yang menjelaskan kejadian tersebut. Sebelum sang ibu pingsan kepadanya
"Ya Allah, Dek. Seharusnya, Mas, yang minta maaf. Karena, tidak bisa melindungimu! Dari kejamnya mulut dan kelakuan keluargaku. Terutama Ibu," jawab Yusuf yang bersalah kepada Febri, sekaligus kecewa dengan Ibunya sendiri.
"Adek udah gak tahan lagi, tinggal disini! Bersama Ibu, Mas. Adek mohon pulangkan aku ke rumah ayah," rengek Febri kepada suaminya. Sebab, jika dia pulang sendiri. Sang ayah akan menodongnya dengan berbagai macam pertanyaan dan hal itu membuat Febri merasa tidak nyaman.
"Jangan, Dek. Kasih Mas, kesempatan sekali lagi. Mas mohon."
Dengan mata yang berkaca-kaca, Yusuf meluluhkan hati istrinya. Berharap, wanita itu mau memberikan kesempatan untuknya berusaha merubah sang ibu.
"Dek, maukah adek? Memaafkan Ibu dan memulai lembaran baru? Mas, janji akan membela dan melindungimu." Yusuf hampir saja sujud mencium kaki Febri. Namun, dengan cepat wanita itu mengangkat tubuh suaminya. Agar, kembali tegak.
Sesuatu yang sulit untuk Febri adalah ketika, suaminya memohon dan meminta maaf. Atas, perbuatan yang dilakukan oleh sang ibu.
"Eh … jangan, Mas. Kenapa, Mas harus merendahkan diri. Seperti ini? Arek sudah maafkan Ibu," jawab febri yang berusaha bertahan dengan pernikahan mereka. Karena, pada hakikatnya. Hati mereka saling bertautan.
Bu Sella mengerjakan matanya dan dia pun bangun dari pingsannya. Lalu, menatap Ngalang ke arah Febri.
"Kau! Dasar menantu durhaka!" pekik Ibu Sella.
"Suf! Cepat kau ceraikan dia! Bisa mati berdiri Ibu deket wanita seperti dia!" tambah Ibu Sella sambil menunjuk ke arah sang menantu.
Yusuf yang sudah mengetahui semuanya dari sang istri, kemudian berkata,"Bu, Yusuf sudah mengetahui semuanya! Berawal dari Ibu yang minta tolong kepada Febri. Sampai, tidak mau membantunya mengerjakan pekerjaan rumah. Setidaknya, jangan menambah kerjaannya. Dengan memasukkan ****** *****, Ibu yang kotor. Apalagi darah."
Yusuf yang berusaha memberikan pengertian kepada ibunya, agar tidak ada pertengkaran lagi. Dia juga merasa lelah, akan masalah yang seakan tidak menemukan jalan keluar.
"Bela terus istrimu! Dan kamu akan mendapatkan karma, atas perbuatanmu itu, Yuf!"
"Maksud Ibu, apa? Yusuf hanya—"
"Anak durhaka!" teriak Ibu Sella tanpa berperasaan. Membuat hati Febri dan Yusuf terasa sakit, selama ini. mereka sudah berusaha sekuat tenaga. memberikan yang terbaik untuk Ibu Sella, akan tetapi apa yang mereka lakukan. seolah tidak ada artinya.
"Ibu keterlaluan!"
sabar yak, Febri😌