"Single itu pilihan"
Usia 26 tahun, masih sendiri? Disaat semua sahabatmu sudah berstatus istri seseorang. Parahnya lagi adik sepupumu yang paling bungsu bahkan akan segera melangsungkan pernikahannya bulan depan. Nah kamunya kapan?
Lavanya pusing dengan berbagai pertanyaan yang silih berganti datang kepadanya. Kenapa semua orang meributkan masalah asmaranya? Lavanya sih santai. Iya santai (dulu). Orangtuanya tuh, apalagi para ibu-ibu keluarga Ayahnya yang selalu menyindirnya gak laku. Kan kesal. Ditambah perilaku atasannya yang mendadak berubah menjadi seorang stalker. Bayangkan kemanapun Lavanya pergi pasti dan pasti ketemu si singa itu lagi.
Demi Tuhan Lavanya tidak mau menjadi pelakor. Pak Bosnya itu sudah punya istri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KHskyLine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Lama
To: Pak Singa
Selamat Pagi Pak Leo, maaf mengganggu waktunya. Saya Lavanya. Saya ingin bertanya, sebenarnya tugas spesifik saya di Lombok ini apa ya, Pak? Seharian kemarin Manajer Arrarya Resort tidak menyinggung soal proyek teknologi atau kerja sama dengan Limocom. Saya sedikit bingung. Mohon arahannya pak. Terimakasih.
Klik. Send.
Lavanya tidak peduli jika bosnya yang menyebelin itu akan menganggapnya bodoh. Bukankah ada pepatah: Malu bertanya, sesat di jalan? Ia tidak mau keberadaannya di sini sia-sia hanya untuk menjadi "pengikut" manajer resort yang tidak jelas kredibilitasnya itu.
Tring!
Hanya berselang beberapa detik, ponselnya berbunyi. Jantung Lavanya berdesir. Cepat banget dibalas? Namun, senyumnya langsung layu saat melihat layar. Itu pesan dari operator seluler. Sial.
"Mbak Vanya..."
Kekesalan Lavanya memuncak saat mendengar suara itu. Cita. Manajer resort yang lebih mirip turis daripada pimpinan, kini sudah berdiri di sampingnya dengan topi pantai lebar.
"Sudah sarapan, Mbak?" tanya Cita santai.
Lavanya tidak menjawab. Ia mempercepat langkahnya. Pikirannya kalut. Apa gue dikadalin kantor? Apa Cita ini manajer beneran? Kejahatan zaman sekarang punya beribu motif, dan Lavanya harus waspada.
BRUK!
"Aduh!" Lavanya meringis ngilu. Pantatnya mencium lantai dengan sukses pagi itu.
"Kamu nggak apa-apa?" sebuah suara laki-laki terdengar di atas kepalanya.
"Nggak apa-apa gigi lu!" maki Lavanya tanpa melihat. "Pantat gue sakit"
Lavanya tersentak. Matanya membulat sempurna saat mendongak. Dunia seolah berhenti berputar. Sosok di depannya adalah orang yang paling tidak ingin ia temui di dunia ini. Terutama di sini. Di Lombok.
"Kak Vanya? Mulutnya ih! My hubby kan nggak sengaja," celetuk Vani, adik sepupunya, yang muncul dari balik punggung lelaki itu.
Ini hari Kamis. Kenapa kesialan Lavanya datang dua kali dalam seminggu?
"Kalian... ngapain di sini?" tanya Lavanya dengan suara bergetar.
Vani tersenyum lebar sambil menggandeng lengan Farel—laki-laki yang baru saja menabrak Lavanya. "Kami mau foto prewed, Kak! Kak Vanya sendiri ngapain?"
Lavanya terkekeh sumbang. "Gue? Kerja."
Sakit. Hatinya kembali tertampar kenyataan pahit. Beribu kali ia berharap, beribu kali pula ia harus sadar: Farel bukan untuknya.
Tring!
From: Pak Singa
Turuti saja semua keinginan manajer resort itu, Lavanya.
Pesan singkat itu menjadi penyelamat. Lavanya menunduk, menyembunyikan matanya yang mulai memanas. Terima kasih, Pak Singa. Setidaknya instruksi itu memberinya alasan untuk segera pergi.
"Oke, gue harus balik kerja. Have a nice day ya," ujar Lavanya cepat sambil melangkah seribu tanpa menoleh lagi.
🦁🦁🦁
Lavanya ingat masa-masa kuliahnya. Masa di mana ia rela mengorbankan waktu tidur demi terlihat "aktif" di mata Farel. Menjadi aktivis kampus itu berat, apalagi jika motivasinya adalah cinta bertepuk sebelah tangan.
Kala itu, di umur 20 tahun, Lavanya terduduk lesu di kantin. Kepalanya berat karena hanya tidur empat jam akibat mengurus desain spanduk futsal sendirian. Anggota timnya menghilang bagai buih saat deadline tiba.
"Kamu nggak kuliah?"
Suara berat itu... vitaminnya selama setahun terakhir. Lavanya menegakkan kepala. Farel sudah duduk di depannya dengan potongan rambut baru yang memakai poni. Ganteng banget, mirip Oppa Korea!
"Enak ya tidur di sini, sampai ileran begitu?" canda Farel.
"Hah?!" Lavanya panik, refleks mengelap mulut dengan lengan bajunya. Memalukan!
Farel tertawa geli, tangannya menahan gerakan Lavanya. "Aku bercanda, Vanya. Kamu nggak ileran, kok."
Wajah Lavanya memanas. Detak jantungnya sudah tidak keruan. Apakah ini yang dirasakan orang pacaran? Tapi Lavanya segera menepisnya. Tidak ada kata pacaran dalam kamus hidupnya. Hanya taaruf atau menikah. Itupun... kalau Farel mau.
"Kamu pucat. Tidur jam berapa semalam?" tanya Farel, kini menumpu dagu dan menatap lurus ke mata Lavanya.
"Jam tiga pagi, Bang. Bikin desain spanduk sama brosur."
Farel mengernyit. "Kamu itu koordinator, bukan kuli. Bagi tugasnya. Kalau mereka nggak mau kerja, lapor ke divisi HRD atau ke aku."
Lavanya tersenyum manis. Dalam hati, ia sudah mencatat nama-nama anggota timnya untuk segera "ditendang" dari BEM.
"Kalau butuh teman curhat, hubungi aku ya. Sudah tahu nomorku, kan?" lanjut Farel lembut.
Undangan? Apa itu tadi sebuah kode? Lavanya sudah hampir terbang ke awan, sampai kalimat Farel berikutnya membantingnya kembali ke bumi.
"Oya, bagaimana keadaan Ibumu? Tante Erni sehatkan?
Lavanya bingung. Tante Erni itu kan adiknya Ayah-tantenya sendiri. Kenapa Farel menanyakan kabarnya seolah Tante Erni adalah ibu Lavanya?
"Mama dan Papaku titip salam buat Ibu dan Ayahmu. Mungkin tahun depan mereka mau datang ke rumahmu," Farel tersenyum lebar sambil menepuk pelan puncak kepala Lavanya. "Aku balik ke kelas dulu ya, Vanya."
Lavanya terpaku. Tepukan di kepala itu terasa hangat, tapi kalimat "tahun depan datang ke rumah" terasa seperti teka-teki yang salah alamat.
Lavanya mengembuskan napas panjang. Ternyata, "kedatangan" keluarga Farel tahun depan yang dimaksud pria itu bukan untuk melamarnya, melainkan untuk melamar Vani—sepupunya sendiri.
Kesalahpahaman konyol di masa lalu itu sekarang menjadi luka nyata yang berdiri di depannya dalam balutan baju prewedding.
"Mbak Vanya!" Cita menepuk bahunya, membuyarkan lamunan pahit itu. "Kok malah bengong? Itu si Mas Leo nunggu laporan di WhatsApp, tapi katanya Mbak belum kirim apa-apa?"
Lavanya tersadar. Hidup terus berjalan. Pak Singa lebih menakutkan daripada masa lalu yang kelabu.
🦁🦁🦁
love you author....
ditunggu kelanjutannya ya author yg cantik dan baik hati.jgn kelman ya?
semangat...
semangat...
semangat....