Sepasang kekasih yang terlihat baik-baik saja, pada akhirnya bisa berakhir juga. Ayra Grizelle mengakhiri hubungannya pada Bagas Cakra Wardana kekasihnya, di hari bahagia mereka yaitu saat wisuda. Keduanya tampak bahagia, tapi sayang seribu sayang Bagas mendengar ucapan Ayra bahwa wanita itu ingin mengakhiri hubungan mereka.
Bagas sangat terkejut dan tidak suka dengan keputusan Ayra secara sepihak yang menurutnya egois. Bahkan Bagas belum mengetahui penyebab Ayra memutuskan hubungan mereka.
Maka dari itu, Bagas bertekad untuk membuat Ayra kembali padanya sekaligus ingin mengetahui penyebab Ayra meninggalkan dirinya. Semua usaha Bagas untuk mendapatkan Ayra menjadi miliknya kembali haruslah dia tempuh dengan caranya sendiri. Setiap perjuangan bahkan ujian akan dia hadapi walau itu membuat dirinya kecewa. Tapi kalau jodoh pasti tak akan kemana. Bagas yakin jika Ayra memang jodohnya maka dia pasti akan bersatu dan kembali bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rati Tiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saran untuk Ayra
Sejak dinner bersama Bagas malam itu, Ayra sering melamun. Pikirannya tak karuan dan sering sekali didapati oleh Stevi sedang bersedih. Sebagai sahabat, Stevi mencoba untuk membujuk Ayra dengan sangat tenang dan lembut. Diusapnya punggung Ayra dengan hati-hati untuk menenangkan hati sahabatnya itu.
Sebagai sahabat Stevi pun tak ingin melihat kesedihan Ayra terlalu dalam. Karena Stevi tau sekali saat dulu Ayra pertama kali bertemu dengan dirinya. Ayra adalah tipe wanita yang ceria dan bersemangat. Walau kadang Ayra bercerita tentang masa lalunya, hatinya pun tak sesedih saat ini. Stevi tau sekali cerita Bagas dan Ayra, jadi Stevi tau jika Ayra memang benar sudah mulai bisa move on dari sang mantan.
Tapi saat kembalinya Bagas, sang mantan yang secara tiba-tiba, membuat Ayra goyah. Memang diakui bahwa Ayra masih mencintai Bagas apalagi saat putus pun itu karena permintaan Ayra sendiri. Namun Ayra bisa ikhlas dan secara perlahan akan melupakan Bagas. Waktu 2 tahun itu bukan perkara waktu yang gampang untuk melupakan seseorang apalagi seorang itu sangat dicintai.
"Aku yakin 100% deh, Ay kalau Bagas emang beneran masih cinta sama kamu. Buktinya aja dia rela kesini hanya untuk bisa satu kantor sama kamu dan buat kamu jadi sekretaris nya dia," ujar Stevi sambil memandang Ayra dan meyakinkan sahabatnya.
"Dan aku yakin kalau Bagas itu sengaja menanamkan saham di kantor kita supaya dia bisa punya wewenang atas kamu, Ay. Masa kamu nggak ada kepikiran sedikit saja tentang kenapa Bagas selalu nyuruh ini dan itu? Hallo Ay, pikir pake logika, bukan perasaan yah, hemm. Yeh, malah diem aja nih anak," Stevi tak henti membuat Ayra meyakinkan ucapannya adalah benar.
"Udah lah Stev, aku pusing. Aku takut dengan perasaanku sendiri, aku ingin menghilangkan perasaan yang aneh pada Bagas, tapi itu semua sulit. Aku nggak bisa berpikir mana logika dan perasaan untuk saat ini," ujar Ayra dengan suara lemah dan pasrah.
Stevi berpindah duduk dihadapan Ayra dan menatap mata sahabat nya dengan sangat dalam. Perlahan Stevi meraih tangan kanan Ayra, menggenggam tangan itu dengan kehangatan. Semua Stevi lakukan untuk bisa memberi pencerahan pada Ayra yang sedikit agak keras kepala.
"Kamu masih cinta sama Bagas, kan? Iya kan?" tanya Stevi dengan suara lembut dan berulang.
Ayra hanya menghela nafasnya dalam sambil memejamkan matanya. Mau jujur tapi gengsi, mau nggak jujur takut dibilang munafik. Ayra sungguh nggak sanggup untuk bilang yang sebenarnya pada Stevi. Padahal nyatanya sahabat nya sudah sangat tau bagaimana perasaan Ayra yang sebenarnya. Hanya saja Ayra yang selalu menyembunyikan perasaan dirinya yang masih sangat mencintai Bagas.
"Mending sekarang kamu berdamai sama hati kamu dan yang paling utama berdamai sama masa lalu kamu, Ay. Kalau kamu masih membenci Bagas karena masa lalu kalian, maka akan sulit bagi diri kamu sendiri. Itu sama artinya kamu menyakiti diri kamu sendiri," kata Stevi dengan intonasi suara yang serius.
Lagi-lagi Ayra menghela nafasnya dan hanya diam tak menjawab perkataan Stevi. Ayra sungguh masa bodo untuk hal perasaan dirinya terhadap Bagas. Ayra hanya ingin menenangkan pikiran dan hatinya yang bertolak belakang dengan keinginannya. Hanya dirinya saja yang tau akan hal itu. Biarlah semuanya Ayra yang menanggung beban pikiran dan hatinya yang sangat rapuh saat ini.
"Disini yang rugi kamu sendiri loh, Ay. Sedangkan Bagas dia bingung dengan kebungkaman kamu selama ini. Itu semua karena kamu nggak jujur dan Bagas tidak tau hal itu," kata Stevi kembali menjelaskan agar Ayra terbuka hatinya.
"Tapi aku benci Bagas, Stev. Aku benci Bagas. Gara-gara dia, aku harus kembali tinggal di panti. Aku benci Bagas, aku benci dia, Stev. Hiks...hiks...," tangis Ayra pecah saat dia mengeluarkan unek-uneknya.
"Itu bukan kesalahan Bagas, tapi kemauannya dia sendiri, Ay. Coba kamu pikir, kalau kalian dulu bersama ditempat yang sama, pasti kalian nggak akan pernah jatuh cinta sampai sedalam ini. Ambil hikmahnya saja Ayra," Stevi tak henti membuat Ayra sadar dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
Kini Stevi beralih memeluk Ayra dan memberikan usapan kecil di punggungnya sehingga membuat Ayra sedikit tenang dan nyaman. Stevi begitu sangat peduli pada Ayra, apalagi dia tau bahwa Ayra sejak kecil tinggal di panti asuhan dan kehilangan kedua orangtuanya sejak saat itu. Stevi benar-benar tidak ingin membuat Ayra merasa sendiri. Stevi harus menjadi sahabat yang saling mendukung untuk kebahagian Ayra. Stevi tidak ingin meninggalkan Ayra yang sedang terpuruk saat ini, karena Ayra orang yang baik dan sahabat yang selalu ada dalam suka maupun duka.
"Kamu yang tenang dan sabar ya, Ay. Saran aku sih, kamu mending ikut Bagas ke Jakarta, siapa sangka nanti kamu bakal tahu jawaban yang selama ini kamu perdebatkan di masa lalu," ujar Stevi memberi saran sebaik mungkin.
Ayra sedikit melepaskan pelukan Stevi darinya, lalu ia usap perlahan air matanya yang basah di pipi dengan kedua tangannya. Ayra menetralkan suasana hatinya dengan menarik nafas agar terasa lega. Ayra tersenyum simpul melihat Stevi. Sungguh beruntung mempunyai sahabat seperti Stevi yang bisa diandalkan dan bisa membuat hatinya nyaman. Hanya Stevi sahabat yang paling bisa menenangkan hatinya dan pikirannya.
"Makasih ya Stev, aku akan pikirkan masalah ini baik-baik, karena kembali ke tempat masa lalu berada itu nggak mudah dan nggak segampang membalikkan telapak tangan. Tapi aku harus kuat jika memang aku sudah mendapatkan jawabannya, mau itu baik atau buruk, aku harus terima semuanya dengan ikhlas," ucap Ayra setenang mungkin.
"Nah gitu dong, itu Ayra yang ku kenal. Wanita yang kuat dan perkasa," ujar Stevi sambil mengangkat dan memperlihatkan kedua otot tangannya.
"Idih perkasa, kamu kira aku pria?" ujar Ayra tak suka dibilang perkasa, karena kata perkasa hanya diucapkan untuk pria sejati.
"Hahahaha...nggak apa-apa lah, biar kamu tersenyum. Karena aku nggak suka lihat kamu sedih terus," ujar Stevi masih dengan tawanya.
"Ihhh, ladas ya ketawanya," kesal Ayra ngambek lucu.
"Hahahaha...," namun Stevi tetap saja tertawa.
Sedangkan Ayra bangkit berdiri meninggalkan Stevi yang sedang mentertawakan dirinya. Seperti orang sedang kesal padahal hatinya cukup terhibur oleh adanya Stevi.
"Woi mau kemana Ay, becanda doang kok," kata Stevi langsung bangkit menyusul Ayra.
"Laper mau masak nasi goreng!" seru Ayra sedikit teriak.
"Sekalian masakin aku juga, Ay!" pinta Stevi dengan manjanya.
"Idih, ogah buat sendiriiii," teriak Ayra sambil berlari ke dapur.
Sedangkan Stevi mengejar Ayra ke dapur dengan sangat cepat. Suasana saat itu begitu enak dilihat. Stevi dengan senyumnya merasa bahagia bisa melihat Ayra bisa bersemangat kembali, bisa tertawa lepas dan melupakan kesedihannya. Stevi yakin jika Ayra bisa mengambil keputusan dengan baik nantinya. Stevi juga berharap bahwa Ayra akan bahagia dengan kehidupannya kelak.
"Awas kau ya, Ay!" ujar Stevi ngedumel.
"Ayo kejar Aku Stevi...hahaha," ujar Ayra sambil tertawa lepas.
Mereka berdua akhirnya saling kejar mengejar dan tertawa bersama-sama. Begitu indah sekali pemandangan mereka berdua.
Bersambung....