Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.
Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.
Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Asap tipis mengepul dari moncong senjata api yang baru saja meletus, berbaur dengan bau hangus ban motor sport yang berdecit ekstrem di atas tanah berkerikil. Tembakan liar dari anak buah Surya Adiguna membentur tiang pagar besi tua, menyisakan percikan api dan suara mendengung yang memekakkan telinga Hani.
Tubuh pria berjaket kulit hitam itu bergerak secepat kilat. Begitu motor sportnya menghantam sisi tubuh si penembak hingga terpelanting ke atas kap SUV, ia tidak membuang waktu.
Menggunakan momentum motor yang masih menggelosor miring di tanah, pria misterius itu melompat turun, berguling sekali untuk meredam benturan, dan langsung menerjang rekan si penembak yang baru saja hendak mencabut senjata kedua.
Bugh! Bugh!
Dua pukulan mentah mendarat telak di rahang penjahat kedua. Kekuatan hantaman itu begitu masif hingga sang lawan terhuyung mundur, menjatuhkan pistolnya ke dalam semak-semak lebat di pinggir halaman.
"Hani, lari ke motor! Sekarang!"
Suara bariton di balik helm hitam itu terdengar berat, serak, dan penuh penekanan yang tak membantah. Hani yang sempat terpaku dengan jantung mencelos langsung tersadar.
Ia mendekap tas ransel berisi kotak beludru dan buku harian ayahnya erat-erat, lalu berlari setengah terseok menuju motor sport yang posisinya masih tergeletak miring namun mesinnya masih meraung kasar.
Namun, penjahat pertama yang terpelanting ke atas kap mobil rupanya memiliki daya tahan fisik yang luar biasa. Dengan seringai penuh amarah dan darah yang mulai mengalir dari pelipisnya, ia bangkit berdiri, meraih kembali revolvernya yang sempat terlepas di atas kap mesin, dan langsung mengarahkannya ke punggung pria misterius yang sedang sibuk mengunci gerakan penjahat kedua.
"Awas di belakangmu!" jerit Hani histeris.
Mendengar teriakan Hani, pria misterius itu melepaskan cengkeramannya, memutar tubuhnya sekian milidetik sebelum pelatuk ditarik.
DORRR!
Tembakan kedua menggema. Kali ini peluru tidak melesat liar. Peluru timah panas itu menggores bahu kanan sang pengendara motor, merobek jaket kulit tebalnya hingga menyemburkan warna merah pekat yang langsung membasahi kain.
Pria itu mengerang pendek, namun alih-alih ambruk, rasa sakit itu justru tampaknya memicu adrenalinnya ke tingkat tertinggi. Dengan satu sapuan kaki yang brutal, ia menendang pergelangan tangan si penembak hingga revolver itu terlempar jauh ke arah tebing pantai.
Tanpa menunggu lawan-lawannya bangkit kembali, pria misterius itu berbalik, menyambar stang motor sportnya yang sudah ia tegakkan dengan tangan kirinya yang tidak terluka, lalu melompat ke atas jok kemudi.
"Naik! Cepat!" perintahnya lagi, suaranya agak tersengal menahan perih di bahunya.
Hani tidak berpikir dua kali. Ia segera naik ke jok belakang, mencengkeram erat jaket kulit pria itu, mengabaikan fakta bahwa ada noda darah yang mulai merembes di bawah jemarinya.
Begitu posisi Hani aman, sang pengendara langsung menarik tuas gas sedalam-dalamnya. Motor sport itu melesat badai, meninggalkan halaman rumah lama yang berdebu dan dua kaki tangan Surya Adiguna yang mengumpat sejadi-jadinya di belakang mereka.
Angin laut yang dingin menerpa wajah Hani dengan kasar saat motor melaju membelah jalanan perbukitan yang sepi dan berkelok. Fajar kini telah pecah sepenuhnya, menyiram hamparan laut di sisi kiri mereka dengan warna jingga keemasan yang kontras dengan situasi menegangkan yang baru saja mereka lalui.
Hani bisa merasakan detak jantung pria di depannya tidak beraturan, ditambah dengan aroma anyir darah yang kian menyengat. Pria ini telah mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkannya dan yang lebih penting, demi melindungi bukti yang ada di dalam tas ransel Hani.
...****************...
Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit menjauhi area pemukiman dan rute utama yang rawan dihadang, motor sport itu mendadak melambat dan berbelok ke sebuah jalan setapak yang tertutup rimbunnya pepohonan pinus. Di ujung jalan itu, terdapat sebuah bangunan vila tua tak terawat yang menghadap langsung ke arah Samudra Hindia.
Motor berhenti tepat di bawah kanopi vila yang teduh. Pria misterius itu mematikan mesin, lalu perlahan menurunkan kakinya untuk menumpu bobot motor. Ia tampak mengembus napas panjang yang berat sebelum akhirnya melepas helm full-face hitamnya dengan tangan kiri.
Saat helm itu terangkat, Hani menahan napas. Guratan wajah yang tegas, sepasang mata tajam yang menyiratkan kedalaman luka masa lalu, dan rahang yang mengeras menahan sakit.
"Pak... Gibran?" bisik Hani dengan suara bergetar, hampir tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.
Gibran, mantan kepala pengamanan internal Baskara Group yang dikabarkan menghilang secara misterius setelah dituduh berkhianat delapan tahun lalu, kini berdiri hidup-hidup di hadapannya.
Pria yang selama ini dianggap sebagai salah satu dalang runtuhnya reputasi ayah Hani, ternyata adalah sosok bayangan yang selama ini mengiriminya petunjuk dan menyelamatkannya dari maut.
Gibran menoleh perlahan, menatap Hani dengan senyum tipis yang sarat akan kelelahan. "Lama tidak berjumpa, Hani. Kamu sudah tumbuh menjadi wanita yang sangat berani... persis seperti almarhum ayahmu."
"Jadi... selama ini Pak Gibran yang mengirim pesan-pesan itu? Yang menyelamatkanku di dermaga semalam dengan mengalihkan perhatian anak buah Surya?" cecar Hani, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya akibat tumpukan emosi yang campur aduk.
"Kita tidak punya banyak waktu untuk nostalgia," potong Gibran sambil memegangi bahu kanannya yang terus mengucurkan darah segar. "Anak buah Surya punya alat pelacak di mobil mereka. Mereka akan menyisir jalur ini dalam waktu singkat. Aku butuh bantuanmu untuk menghentikan pendarahan ini dulu."
Hani tersadar dari keterpakuannya. "Ah, iya! Di dalam vila ini ada kotak P3K? Atau kita harus ke puskesmas terdekat?"
"Jangan ke tempat umum. Terlalu berisiko," Gibran melangkah turun dari motor dengan agak limbung, menuntun Hani masuk ke dalam vila tua yang ternyata bagian dalamnya masih cukup bersih dan fungsional. "Di laci dapur ada alkohol dan perban dasar. Ambilkan untukku."
Dengan cekatan, Hani berlari ke dapur, menemukan kotak obat darurat, dan kembali ke ruang tengah tempat Gibran sudah duduk di sebuah kursi kayu sambil merobek lengan jaket kulitnya. Luka tembak itu tampak mengerikan; peluru beruntung hanya menggores bagian daging luar bahunya dan tidak bersarang di dalam, namun robekannya cukup dalam dan terus mengalirkan darah.
Hani berlutut di samping kursi Gibran. Dengan tangan yang berusaha ia tenangkan, ia mulai membersihkan luka itu dengan alkohol. Gibran hanya memejamkan mata erat-rekat, rahangnya mengetat tanpa mengeluarkan satu pun teriakan manja.
"Kenapa Pak Gibran melakukan semua ini?" tanya Hani pelan sambil melilitkan perban bersih ke bahu Gibran. "Delapan tahun lalu, semua orang di perusahaan mengatakan Pak Gibran melarikan diri setelah mencuri draf audit berharga milik ayah."
Gibran membuka matanya, menatap langit-langit vila dengan pandangan kosong. "Itu adalah narasi yang diciptakan oleh Surya Adiguna untuk mengambinghitamkanku. Ayahmu,, tahu bahwa posisinya sudah sangat terdesak setelah menolak mentah-mentah konspirasi saham kosong atas namamu. Malam sebelum dia... tiada, dia memanggilku secara rahasia."
Hani menghentikan gerakan tangannya sejenak, mendengarkan dengan saksama.
"Ayahmu tahu Surya tidak akan membiarkannya hidup tenang," lanjut Gibran dengan suara yang mendadak melunak.
"Dia memintaku untuk berpura-pura menjadi pengkhianat, membawa draf palsu, dan menghilang dari radar agar Surya mengalihkan target buruannya kepadaku. Ayahmu ingin memastikan fokus Surya terpecah, sehingga kamu bisa hidup dengan aman dan menyelesaikan pendidikanmu tanpa gangguan."
Air mata Hani akhirnya luruh. Segala teka-teki yang menyiksa batinnya selama bertahun-tahun kini terjawab sudah. Pengorbanan ayahnya, kesetiaan Gibran yang rela hidup dalam pelarian sebagai buronan selama hampir satu dekade, semuanya bermuara pada satu tujuan.
"Lalu, apa isi MicroSD dan sertifikat saham di dalam kotak beludru ini yang sebenarnya, Kak?" tanya Hani sambil merapikan simpul perbannya.
Gibran menegakkan posisi duduknya, menatap tas ransel Hani. "Sertifikat itu adalah bukti otentik bahwa Surya Adiguna telah menggunakan namamu secara ilegal untuk mencuci uang hasil korupsi proyek jembatan selat delapan tahun lalu. Di dalam MicroSD itu, terdapat rekaman suara asli saat Surya mengancam ayahmu, serta draf laporan audit asli yang menunjukkan ke mana saja aliran dana gelap itu mengalir, termasuk ke beberapa rekening pejabat tinggi."
Gibran memegang pundak Hani dengan tangan kirinya yang sehat. "Hani, dengan bukti di tanganmu dan draf Proyek-X yang ada pada Narendra, kita sudah punya cukup peluru untuk meruntuhkan seluruh kerajaan bisnis Surya Adiguna. Tapi kita harus bergerak cepat sebelum dia menggunakan pengaruh politiknya untuk memblokir kita."
Hani menghapus air matanya, mengganti ekspresi kesedihannya dengan kilat tekad yang membara. "Aku akan kembali ke Jakarta sekarang juga. Pak Narendra dan Reza sedang menunggu bukti ini."
"Aku akan mengawalmu sampai batas kota," ujar Gibran sambil berdiri, meskipun wajahnya masih sedikit pucat. "Surya pasti sudah menyebar anak buahnya di sepanjang jalur tol. Kita akan mengambil jalur alternatif memutar lewat jalur lain."
Hani mengangguk pasti. Ia mendekap tas ranselnya, bersiap untuk menghadapi babak akhir dari perjuangan panjang ini. Di ujung fajar, Hani tahu bahwa perjalanan kembali ke Jakarta tidak akan mudah, namun ia tidak lagi merasa takut. Sang pion kini telah melangkah terlalu jauh, dan waktu untuk membalaskan harga diri keluarganya telah tiba.