Hanya satu hari sebelum hari pernikahan, Bayu Andarsono harus kehilangan sang mempelai dalam kecelakaan yang merenggut nyawa Annisa, belahan jiwanya. Keluarga besar dari kedua pihak tidak bisa menanggung malu, maka dengan keputusan tanpa perasaan mempelai wanita diganti, Andin, adik kandung Annisa. Bayu dan Andin menikah tanpa cinta, keduanya membuat kontrak hitam di atas putih. Andin setuju karena hatinya sudah dimiliki Bian Wijaya, kekasihnya yang setia. Bayu pun tak keberatan, sebab baginya, Andin hanyalah pengganti sementara. Namun, dibalik kehidupan pernikahan yang dingin, misteri mulai terkuak, sedikit demi sedikit. Bayu Andarsono bukanlah pria biasa. Ia adalah Alpha dari klan werewolf tertua di Tanah Jawa. Semakin lama kehidupan pernikahan antara Bayu dan Andin, semakin kuat pula ikatan gaib yang tak terlihat. Benarkah gadis yang ia anggap hanya pengganti itu sebenarnya adalah Mate sejati yang ditakdirkan oleh Bulan untuknya? Bisakah pernikahan palsu itu berubah menjadi ikatan a
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Pemimpin
Jam sudah menunjukkan pukul 17.37. Bayu Andarsono sudah menghabiskan lima jam berharganya disini, di makam wanita yang dicintainya, sekaligus belahan jiwanya.
Lelaki itu datang pukul 11.03 siang, dengan membawa sebuket bunga melati dan wajah penuh amarah.
Sejak datang, ia hanya duduk diam tak bersuara sedikitpun, sambil menatap gundukan tanah itu lamat-lamat.
Lelaki itu masih tidak habis pikir dengan tubuhnya sendiri. Yang marah karena pengakuan tiba-tiba Andin yang memiliki kekasih. Dia seharusnya tidak marah, karena toh keduanya akan bercerai dua tahun lagi. Dan mungkin jika beruntung, dirinya bisa menemukan pasangan lain yang dicintainya.
Tapi entah kenapa, dorongan untuk mencabik-cabik kekasih Andin bernama Bian Wijaya terasa lebih mendominasi. Ada bagian lain dalam dirinya yang tidak rela berbagi Andin dengan siapapun.
“Sialan kau Jack!!” Tekannya frustasi pada udara kosong di pemakaman. “Shut you fuckin mouth, Jack!! Berhenti berteriak dalam kepalaku, sialan!!” Lanjut lelaki itu dengan suara lebih berat dan dalam.
Seiring kemarahannya, bola mata miliknya juga terus berganti warna secara cepat. Hitam, lalu berubah coklat, hitam lagi, sedetik kemudian berganti coklat.
“Dasar serigala, sialan!!” Marah Bayu, lagi-lagi berteriak pada udara pemakaman yang kosong.
Saat hendak berteriak kembali, bunyi notifikasi telpon genggam dengan logo apel tergigit miliknya berdenting pelan. Sebuah pesan singkat masuk. Dari kakeknya.
Ingat kewajibanmu, Bayu. Purnama tinggal menghitung hari.
Bayu membaca pesan itu sekilas dan langsung membantingnya ke tanah.
“Orang tua ini memang gila. Aku baru saja kehilangan belahan jiwaku, dan sekarang ia menyuruhku bercinta dengan perempuan lainnya!! Fuck!!” Teriaknya frustasi. Beberapa peziarah lain yang terkejut hanya menoleh sekilas dan segera lari. Mereka mungkin berpikir Bayu hanya salah satu orang gila yang kebetulan lewat disana.
“Aarrghh…” Bayu mengerang rendah dan dalam, kedua tangannya menyentuh dadanya yang tiba-tiba berdenyut menyakitkan.
“Aku mungkin akan mati sebentar lagi, sayang. Tunggu aku yah.” Bisiknya seraya bersimpuh dimakam Annisa dan mengecup nisannya lama. Kemudian berdiri perlahan dan meninggalkan makam itu dengan tenang.
….
Malam sudah menunjukkan pukul 19.46, tetapi Bayu belum juga menampakkan batang hidungnya. Andin yang menunggu sejak tadi mulai bosan, perutnya keroncongan.
“Mas Bayu kok belum pulang, ya? Padahal aku sudah masak banyak.” Andin bertanya sendiri pada udara kosong.
“Kalau ditelpon, dia marah tidak ya? Duh! Udah laper banget ini, mas. Pulang dong.” Bisik gadis itu lagi.
Ia mulai mondar-mandir sendiri di ruang tengah apartemen yang luas, sementara suara televisi saling beradu dengan suara keroncongan dari perutnya.
“Oke. Ayo telpon mas Bayu.” Putusnya.
“Hhhuuuffft…” Andin mengambil satu napas panjang sebelum menekan panggilan untuk suaminya.
DRRRTTTTT
DRRRTTTTT
DRRRTTTTT
Panggilan itu tersambung, namun tidak kunjung di angkat.
DRRRTTTTT
DRRRTTTTT
DRRRTTTTT
Panggilan kedua juga sama saja.
“Mas Bayu kemana sih?? Atau aku chat aja deh. Bilang kalau aku udah lapar banget dan nggak bisa nunggu dia pulang.”
Saat sedang mengetik pesan, sebuah pesan masuk. Dari Bayu.
Saya sedang sibuk, Andin. Mungkin tidak pulang malam ini. Maaf baru mengabari.
Andin menggigit bibirnya kala membaca pesan itu.
“Hhaaaahhhh. Seharusnya bilang dari tadi, mas. Supaya aku tidak menunggu seperti orang bodoh begini.” Katanya lesu.
“Bodo amat! Aku mau makan.” Lalu bergegas menuju meja makan untuk mengisi perutnya.
Malam itu, Andin tidur sendiri. Bukan hanya di kamarnya, tetapi dalam artian sendiri di apartemen mewah milik suaminya.
Sementara di luar sana, mobil milik Bayu melaju kencang. Membelah jalanan pinggiran Jakarta yang lenggang. Masuk lebih dalam ke hutan, tempat rumah besar milik keluarga Andarsono. Rumah sebenarnya yang mereka tinggali.
Hampir 30 menit berkendara menembus lebatnya hutan, Bayu akhirnya sampai. Dihalaman depan rumah besarnya, semua anggota pack sudah berkumpul. Menunggu sang Alpha tiba.
Saat Bayu turun dari mobil, beberapa anggota pack di dekatnya mengangguk hormat.
"Selamat datang, Alpha." Salah seorang menegurnya sopan. Bayu hanya merespon seadanya. Kakinya terus melangkahkan ke pusat kerumunan yang sedang menunggunya.
"Maaf terlambat, semuanya." Bayu membuka suara saat hampir mendekati sang kakek.
"Mari kita mulai," Bayu melanjutkan kalimatnya.
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya. hanya tekan profile, terima kasih 🤭/Grin/