NovelToon NovelToon
Seputih Melati

Seputih Melati

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Duda / Tamat
Popularitas:65.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dede Dewi

Melati adalah seorang gadis dengan keterbatasan fisik, yang membuat dirinya menjadi gadis yang tertinggal dari teman seusianya. Dan bermula di usia SMP, dia mulai mengenal teman dekat yang begitu baik, guru yang baik, dan tetangga yang sangat baik. Namun, di waktu itu pula, dimana cinta pertamanya harus meninggal dunia karena kecelakaan, membuat dirinya mampu berdiri lebih kuat, dan mampu mencapai suatu perubahan yang dirasanya mustahil, atas kerja keras dan usaha nya yang tak mengenal putus asa. Hal baik apa yang akan dia temui nantinya? Siapa sesungguhnya cinta pertamanya?

Bagaimana perjalanan hidup Melati? Yuk, simak cerita Seputih Melati ini sampai selesai. Jangan lupa tinggalkan jejakmu😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergi

Disebuah rumah, Seorang anak laki-laki sedang berdebat dengan ayahnya di ruang tamu.

"Kamu harus ikut ayah." kata pak Damar.

"Ga mau yah. Satria mau disini aja. Kalau ayah pindah tugas, ya udah sana, ayah sendiri aja ke sana." kata Satria.

"Ga bisa Satria... kamu harus ikut ayah! Titik!" kata Pak Damar Dengan suara tinggi.

"Tapi yah..." Satria berusaha menyanggah Ayahnya, tetapi lagi-lagi ayahnya yang bersikap keras, membuatnya tak bisa membantah lagi.

Semenjak mamanya kabur dari rumah bersama mantan kekasihnya dulu, ayah Satria memilih untuk melepaskannya, dan Satria akan dibawanya bertugas. Karena dia tak ingin Satria sendiri di kota kelahiran istrinya seorang diri, tanpa mamanya.

"Besok pagi, kita berangkat. Ayah sudah urus semuanya." kata pak Damar.

"Ya yah... tapi... besok sebelum berangkat, anterin Satria ke suatu tempat dulu ya yah." kata Satria.

Kening pak Damar mengernyit.

"Ke mana?"

"Satria mau pamitan sama sahabat Satria."

"Oh, okey." jawab pak Damar.

💞💞💞

Pagi itu, Melati sudah menyiapkan semua perlengkapan sekolah kedua adik kembarnya. Setelah mengantar kedua adiknya berangkat sekolah, Melati sudah mulai menyibukkan diri di rumahnya dengan sekemampuannya. Ya, dia tidak boleh bermanja, hanya karena tangannya yang masih belum pulih. Dia mau tidak mau harus mengurus semuanya, karena dia adalah pengganti orangtuanya di rumah itu.

Tok tok tok

Suara pintu diketuk, saat Melati sedang mencuci piring di dapur.

Melati segera berjalan menuju pintu utama, dan saat dibuka.

"Assalamualaikum Melati." sapa orang yang sudah sangat dikenalinya.

"Wa'alaikumsalam. Satria? Masuk Sat." kata Melati.

"Ga usah Mel, disini aja. Itu, aku ditunggu ayahku." kata Satria menunjuk Mobil yang berisi dua orang didalamnya. Sopir dan seorang laki-laki dewasa yang tentunya, itu adalah ayahnya Satria.

"Oh. ya udah. Duduk situ dulu kalo gitu." kata Melati mempersilahkan Satria duduk di kursi rotan yang ada di teras.

"Okey." jawab Satria.

Merekapun duduk bersebrangan dengan di pisahkan oleh sebuah meja kecil.

"Ada apa ini, tumben pagi-pagi main ke rumahku?" tanya Melati.

"Ehm, iya nih Mel... aku... Aku ke sini mau...mau... pamitan sama kamu." kata Satria ragu.

"Pa... pa mi tan? Pamitan kemana?" tanya Melati yang kembali terkejut dengan kedatangan sahabatnya itu. Hatinya kembali berdesir, setelah satu bulan lalu bapaknya pergi, satu minggu lalu Zia pergi, dan kini sahabat yang dia harapkan untuk menjadi temannya ketika dia butuh teman curhat, juga akan pergi.

"Iya Mel... Maaf." kata Satria tertunduk.

Melati Hanya diam menunduk.

"Tak seharusnya aku pergi disaat kamu membutuhkan. Disaat kamu masih berduka atas kepergian bapakmu, dan belum lama, Zia sahabat kita juga pergi." kata Satria yang sadar akan perubahan mimik wajah sahabatnya.

"Ehm... gapapa..." kata Melati mendongak menatap Satria. Dia berusaha melawan rasa cengeng nya, melawan rasa yang tak rela kehilangan, karena walau bagaimanapun juga, itu adalah hak mereka.

"Maaf ya Mel. Kamu tau sendiri kan kejadian yang menimpa keluargaku. Mamaku kabur, dan ayah akhirnya menjemput ku untuk ikut ayah bertugas. Dan kali ini, tugas ayah lumayan jauh." kata Satria.

"Dimana?" tanya Melati.

"Di Merauke, Papua " kata Satria.

Melati kembali tertunduk.

"Jah sekali.". batin Melati.

"Maafkan aku ya Mel." kata Satria.

"Iya...Santai aja kali Sat." kata Melati berusaha tersenyum, dengan menepis angin didepan wajahnya dengan tangan kanannya.

"Pergilah, kejar mimpimu, ikuti kata orangtuamu. Ridhollahi firidhol walidain. Ridho Allah terletak pada Ridho orangtua. Jika mamamu belum bisa jadi panutan, ikutilah ayahmu, dia akan mendo'akan yang terbaik untukmu, dia akan berusaha memberikan yang terbaik untukmu. Semangat." kata Melati dengan senyum manisnya, dan tangan kanan mengepal.

"Ehm... iya Mel..." kata Satria.

"Oya Mel, ini aku ada sedikit kenang-kenangan buat kamu." kata Satria memberikan paperbag kepada Melati.

"Eh, kenapa harus repot-repot sih Sat?" tanya Melati sambil menerima paperbag itu, lalu dibukanya isi paperbag itu.

"Ga repot kok." kata Satria.

"Yaa Allah Sat, ini buku novel yang baru aja terbit kan? Dan ini...'Menjadi Penulis Hebat', ini...?" tanya Melati terpotong.

"Iya. Novel itu aku cari karena aku tau kamu suka novel itu. Dan buku ini, aku harap bisa menjadi temanmu selama aku ga ada. Semoga dengan buku ini, kamu bisa meraih mimpimu. Kamu berbakat Mel, coba saja dikembangkan cerita-cerita itu." kata Satria yang pernah membaca kumpulan cerita milik Melati.

"Ehm..."

"Mel, kamu boleh ga sekolah. Kamu boleh berhenti sekolah tapi jangan pernah kamu berhenti berkarya. Aku yakin, kamu bakal menjadi seorang penulis."

"Terlalu tinggi Sat..."

"Engga kok, cita-cita itu memang harus setinggi-tingginya, biar nanti kalau jatuh, ga langsung ke lantai bawah, dan berkeping-keping." kata Satria.

Tin Tin

Klakson mobil yang mengantarkan Satria sudah berbunyi, yang dibunyikan penumpang mobil itu.

"Eh, Mel, maaf. Aku harus segera pergi." kata Satria yang sudah berdiri dari duduknya.

"Kamu ini langsung berangkat?" tanya Melati heran.

"Iya, kata ayah, sekalian jalan aja." kata Satria.

"Ehm... ya sudah, kamu hati-hati ya Sat..." kata Melati.

Melati dan Satria saling berjabat tangan, Satria menatap lembut sahabatnya itu. Ada desiran didada kirinya, rasanya berat bagi Satria untuk melepaskan tangan itu, rasanya ingin dia membawa serta sahabatnya yang malang itu ke kota yang akan dituju. Begitupun dengan Melati yang menatap sahabatnya, ada tumpukan air di ujung matanya, hendak meloloskan diri.

"Kamu... sehat-sehat ya Mel. Jaga kesehatan kamu, jaga diri kamu baik-baik. Salam aja ya buat si kembar." kata Satria

"Iya."

"Assalamualaikum." salam Satria sambil berjalan menuju mobilnya.

"Wa'alaikumsalam." jawab Melati sambil melambaikan tangan.

Tin...

Suara klakson mobil kembali dibunyikan sebelum mobil itu akan pergi, sebagai isyarat pamit pada pemilik rumah.

"Yaa Allah... apa RencanaMu? kenapa orang-orang di sekitar ku justru pergi meninggalkanku?" gumam Melati.

"Buku ini..." kata Melati sambil memegang buku 'Menjadi Penulis Hebat.'

"Bisa kah aku?" kata Melati masih ragu.

"Okey Sat, aku akan berusaha. Aku akan buktikan, kalau aku juga bisa meraih mimpiku. Meski aku tak sekolah."batin Melati.

1
Nuryuniati Haryono
jalur cerita sangat menarik, terus berkarya.. 💪💪
Dede Dewi: terimakasih kak😍
total 1 replies
Neulis Saja
Thor, lanjut dong dgn putra dan putri dari para ortunya siapa tahu ada yg jadi besanan misalnya satria besanan sama keluarga melati kayanya seru yah Thor tidak menyambungkan keturunan. reader tunggu yah 🙏
Dede Dewi: siap kak. InshaaAllah author buat
total 1 replies
Neulis Saja
marwa menjadi obat bagi keluarga dari segala kepahitan, kesusahan dan kepedihan tergantikan dgn kebahagian yg tiada terkira semoga menjadi harapan bahagia bagi orang tuamu, bagi semua yg ada disekitarmu
Neulis Saja
semoga selamat sampai lahiran yah
Neulis Saja
next
Neulis Saja
udahlah jgn diingat kalau akhirnya akan merasa tersakiti dgn tindakannya
Neulis Saja
i agree with your attitude
Neulis Saja
duh pak guru udah bucin akut nyampe gak mau lepas nempel aja kayak perangko dgn amplonya
Neulis Saja
tinggal bahagia yg dirasakan berdua karena kepedihan dan kesulitan telah dilaluinya
Neulis Saja
cepet hamil biar tsabita ada temennya
Neulis Saja
ehm
Neulis Saja
hotel kali ko rumah
Neulis Saja
ehm tak berarti apa2 karena melati sdh jadi istri orang
Neulis Saja
oh panggilannya jadi mas yah ok lah gak my hubby
Neulis Saja
next
Neulis Saja
terasa beban berkurang padahal yg ngalamin melati dan pak guru kenapa serasa reader yg ngalamin yah itulah hebatnya author yg bisa membawa reader ke suasana yg ada dalam novel good job 👍
Neulis Saja
ehm sebuah pengorbanan yg luar biasa buat mereka, ugi yg telah membantu ibunya laili, pak guru yg membantu melati ketika di smp, dan melati membantu pak guru utk anak2nya yg sdh menganggap melati seperti ibunya itulah org2 yg success dlm artian telah memberikan manfaat utk sekitarnya
Neulis Saja
ehm sangat menyentuh di part ini sampai menitipkan air mata 😥
Neulis Saja
setiap kesusahan akan datang kebahagian
Neulis Saja
as a life lesson for front
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!