NovelToon NovelToon
Elang Mataram

Elang Mataram

Status: tamat
Genre:Petualangan / Fantasi Timur / Pendekar / Ahli Bela Diri Kuno / Action / Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Dan budidaya abadi / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Fariz Pradipta

Setelah berhasil membantu kerabat Selo mengalahkan Arya Penangsang, Ki Wirojoyo seorang jagoan dari kerabat Selo hendak pulang untuk memboyong keluarganya pindah ke Alas Mentaok bersama kerabat Selo lainnya. Namun ketika sedang bersiap untuk pindah, rumahnya didatangi oleh kelompok Kelelawar Hitam yang hendak membantai Ki Wirojoyo beserta keluarganya. Ki Wirojoyo berusaha mempertahankan dirinya namun ia kalah kemudian terbunuh oleh pemimpin Kelelawar Hitam yang bernama adalah Ki Rono Tikusilo.

Putra Ki Wirojoyo yang bernama Surodipo berhasil diselamatkan oleh Ki Suryo Alam, seorang pertapa sakti dan aneh dari Gunung Sindoro dan diangkat murid olehnya. Setelah menurunkan seluruh ilmunya Ki Suryo Ngalam pun memerintahkan agar Surodipo untuk mengabdi di Mataram sebagai pemenuhan janjinya pada Ki Pemanahan karena ia sahabat Ki Pemanahan dan pernah berjanji untuk menggembleng seorang murid untuk menjadi abdi Mataram, dan menumpas Ki Rono Tikusilo yang ternyata adalah mantan muridnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fariz Pradipta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14 – Prahara Cinta Surodipo Dan Retno Jumini (2)

Dengan wajah agak muram, Ki Wirojoyo masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap. Ia mengganti pakainnya, menyelipkan Keris Pusaka Kyai Blarak pemberian Sultan Pajang yang berwarangka Gayaman ke pingganggnya, dan mengambil tombak pusakanya. Nyai Wirojoyo menatap persiapan suaminya tersebut dengan diliputi firasat yang sangat buruk.

“Hati-hati Kakang…. Serigala Kelabu itu bukan perampok sembarangan. Meskipun dia sudah terluka, tapi menurut kabar dia adalah perampok yang sangat licik.” ucap Nyai Wirojoyo.

“Kamu tidak usah terlalu khawatir Nyai, tugasku hanya memandu para prajurit Pajang untuk mencari serigala itu.” jawab Ki Wirojoyo.

“Tapi Kakang harus tetap hati-hati! Besok kan hari pernikahan putra sulung kita, Kakang harus sangat waspada, jangan sampai Kakang kenapa-napa dan merusak hari bahagia anak kita.” pinta Nyai Wirojoyo yang entah mengapa merasa sangat tidak ketika akan melepas kepergian suaminya. Dia sendiri merasa heran dengan

perasaan tersebut, sebab seperti yang dikabarkan, Serigala Kelabu sudah terluka parah, dan suaminya pun seorang kesatria yang pilih tanding, akan tetapi entah mengapa wajah Surodipo seolah selalu berkelebat di pelupuk matanya.

Ki Wirojoyo menyimpan tombaknya, kemudian mengelus kepala istrinya sambil tersenyum. “Insyaallah, doakan keselamatan saya Nyai.” jawab Ki Wirojoyo,yang sejujurnya ia pun mendapat firasat tidak enak karena entah mengapa sosok putranya terus terlukis di benaknya.

Ki Wirojoyo kemudian memanggil Surodipo untuk pamit kepada putranya tersebut. “Anakku, aku harus pergi sebentar menemani Ki Bocor dan yang lainnya untuk mencari Serigala Kelabu yang bersembunyi di hutan sekitar desa kita… Kamu tetaplah diam di rumah, jangan keluar!”

“Baik Romo.” angguk Surodipo yang entah mengapa dari semenjak kedatangan rombongan Ki Bocor hatinya merasa tidak enak. Ia menjadi gelisah dan selalu teringat pada Retno Jumini.

“Ada apa ngger? Apa kamu mengkhawatirkan sesuatu?” tanya Ki Wirojoyo yang seolah dapat menangkap firasat di dalam hati putranya tersebut.

“Tidak Romo… Hanya mohon agar Romo selalu berhati-hati…” geleng Surodipo yang tentu saja tidak mau mengganggu pikiran Romonya.

Sebenarnya Ki Wirojoyo pun tidak tahu mengapa ia menjadi punya satu firasat buruk dan menjadi selalu teringat pada Surodipo, tapi tentu saja ia tidak mau merusak kebahagiaan anaknya yang akan menikah besok, ma ia pun segera pamit dan meninggalkan rumahnya bersama rombongan Ki Bocor dan Ki Demang.

***

Sementara itu di dalam goa yang mulutnya tersembunyi karena tertutupi oleh tanaman rambat yang sangat rimbun, Ki Margoloyo terus berusaha untuk bertahan dengan segala daya yang ia punya. Dengan susah payah, ia minum dan mencuci luka akibat sabetan Keris Ki Bocor dari tetesan air yang jatuh memercik dari staklatit-staklatit goa tersebut.

Ia mengerang menahan perih ketika mencuci luka di bahunya. Ia memang telah meminum obat agar racun dari Keris Ki Bocor tidak menjalar ke jantungnya, namun darah hitam dari lukanya tersebut masih terus mengucur, usahanya untuk menahan agar darah tdak terus keluar dengan menotok lukanya tidak berhasil.

Sambil mengerang menahan perih, ia terus teringat pada anak dan istrinya, terbayanglah seandainya ia tidak terbujuk oleh rayuannya Kartono untuk mencuri para Mantri Pamajegan yang ternyata adalah jebakan untuk dirinya tersebut, mungkin sekarang ia sedang berkumpul sambil terus bekerja menyiapkan segala sesuatunya untuk

acara besok. Sungguh amat bahagianya menanti hari pernikahan putri semata wayangnya besok.

Namun itu semua sudah menjadi bubur, ia terlanjur tidak mengindahkan firasat buruknya agar tidak merampok menjelang hari bahagia untuk putrinya tersebut. yang tersisa hanyalah penyesalan dan rasa ingin cepat-cepat pulang ke rumahnya untuk melihat wajah anak dan istrinya. “Nyai… Retno… Maafkan aku…” desahnya.

Dengan susah payah ia mengesot ke mulut goa, disibakannya tanaman rambat yang menutupi goa untuk mengintip keadaan di luar. Ternyata matahari masih bersinar belum sampai ke tengah ubun-ubun, belum memasuki waktu Dzuhur. Ki Margoloyo menghela nafas panjang, karena malam yang diharapkannya segera tiba ternyata masih lama.

“Matahari… Cepatlah pulang… Cepatlah malam… Aku ingin pulang… Ayo malam! Malamlah!” kemudian ia mulai sesegukan menangis, menangisi penyesalannya.

Ia menangis sambil kembali menutup mulut goa dengan tanaman rambat. Entah sudah berapa tahun ia tidak pernah menitikan air matanya dan menangis seperti ini, pria yang tak punya belas kasihan ketika berubah menjadi Siluman Serigala Kelabu ini diserang rasa takut dan penyesalan yang teramat sangat hingga ia hanya bisa menangis sambil mendekap semua kenangan bahagia ia bersama istri dan anaknya.

Sementara itu di luar goa tersebut, di sepanjang hutan di sekitar Kali Laweyan, Rombongan prajurit Pajang yang dipimpin oleh Ki Bocor dan dipandu oleh Ki Wirojoyo terus berusaha mencari jejak Serigala Kelabu. “Bagaimana Kakang? Kami ingin sebelum hari gelap, kita sudah berhasil meringkus Serigala ompong itu!” tanya Ki Bocor yang semakin gemas pada Serigala Kelabu yang belum berhasil mereka temukan.

“Meskipun daerah sini masih hutan perawan, tapi tempat yang aman untuk bersembunyi tidak banyak… Ada sebuah goa yang cocok untuk menjadi tempat persembunyian yang cukup sulit dan berbahaya untuk dijangkau. Ki Coba kesana Dimas.” jawab Ki Wirojoyo.

“Baiklah, kita coba kesana Kakang!” angguk Ki Bocor dengan bersemangat.

“Baik, tapi tolong beri tahu prajurit Dimas untuk selalu waspada, karena disana banyak ular berbisa dan mungkin Serigala itu sudah memasang jebakan disana.” ujar Ki Wirojoyo. Rombongan itupun bergerak ke arah yang ditunjukan oleh Ki Wirojoyo.

Beberapa ratus meter kemudian, Ki Wirojoyo mengangkat tangannya sebagai tanda agar rombongan berhenti. Ia kemudian turun dari kudanya dan melihat tetesan-tetesan darah yang sudah menghitam di rerumputan dan semak belukar disana. Tetapi sedang ia mengamati tetesan-tetesan darah tersebut, tiba-tiba terdengarlah jeritan salah seorang tentara Pajang. Ternyata seekor ular berbisa  yang melesat dari atas pohon telah mematuk leher si tentara.

Ki Wirojoyo segera menangkap ular itu dan membunuhnya, namun sayang nyawa si tentara langsung melayang saat itu juga. “Brengsek! Apakah ini jebakan serigala ompong itu?” maki Ki Bocor.

“Saya kira ini memang jebakan Dimas, lihat ekor ular ini yang telah dipotong dan dikaitkan pada tali ini, sehingga apabila ada yang menginjak tali ini, si ular akan bangun dan melompat menyerang!” jawab Ki Wirojoyo sambil menunjuk ekor ular yang dipotong dan diikat pada tali tambang kecil/

“Semuanya, turunlah dari kuda kalian! Kita akan teruskan dengan berjalan kaki agar bisa lebih waspada apabila ada jebakan dari buruan kita!” seru Ki Wirojoyo. “Dia memang bukan perapok sembarangan, saat terluka masih bisa menyiapkan jebakan!” pikir Ki Wirojoyo.

Di dalam goa, Ki Margoloyo yang mendengar suara jeritan tentara Pajang tadi segera mematikan satu-satunya obor yang menyala di dalam goa tersebut. Dengan susah payah ia meraih busur dan anak panahnya, kemudian bersembunyi di tempat yang terlindungi sambil merentangkan busur serta anak panahnya ke arah mulut goa.

1
Ardan
luar biasa
baca yg gue suka
kok muter2 gak karuan.
lawan jadi kawan, mau berantem gak jadi. maunya gmn nih?
baca yg gue suka
siapa yg terjebak?
kok malah macet gak nemu ujung pangkalnya
baca yg gue suka
niatnya memancing, knp justru terpancing?
mau mengusut perkara malah disudutkan.
ni namanya terperosok ke lubang sendiri🤣🤣
baca yg gue suka
dikasi hati minta jantung.
pantasnya ngadep laja nelaka😄
Cunomo Cucun
sudah masuk perangkap syetan.
baca yg gue suka
wedus gembel ikutan bantu perang
Feri Fernando
Aryo Pangiri memang kebelinger
Riszal Purbaya Abdi
kerennn
Thomas Andreas
bagus
Lilik Muliyadi
perang antar manusia
jin gak ngaruh Thor
bagi umat islam
Ulun Jhava
Jebak menjebak nmax inj😂
Ulun Jhava
Paham kan sekarang benowo??
Ulun Jhava
Laki laki mmg panembahan senopati👍👍
Ulun Jhava
Senopati panembahan mmg the legend selain sakti jg cerdik ditambah sang pama ki martani,.tambah kuat mataram
Ulun Jhava
Raden ronggo congkak egois tapi hatix lembut👍👍keren kau calon raja mataram selanjutx
Ignatius Sumardi
Luar biasa
FPS: Terima kasih 🙏😊
total 1 replies
Esther M
.matur nuwun mas fariz🙏🙏
FPS: Sama2 🙏😁
total 1 replies
Windy Veriyanti
waosan ingkang saè 👍👍👍
matur nuwun 🙏🌷
Windy Veriyanti: senang sekali membaca fiksi berlatar belakang sejarah kerajaan di Tanah Jawa 👍

semoga next ada cerita yang berlatar belakang Kerajaan Padjajaran di era Prabu Siliwangi atau Kerajaan Singhasari di era Prabu Kertanegara 🙏
total 2 replies
Dikjo Ucluk
buat sejarah bsru thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!