Rei, seorang remaja perempuan yang harus menjalani kerasnya hidup bersama neneknya. Saat merasakan kesulitan yang terus menghimpit, seorang pria tua menghampirinya, dan menawarkan pertolongan.
"Dengan satu syarat, jadilah istri kedua cucuku dan berikan dia keturunan, setelah itu berpisahlah!"
Apa yang akan dipilih oleh Rei? Bisakah dia menemukan kebahagiaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROZE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14 Gelisah
Marva dan Rei memasuki toko ponsel. Deretan ponsel mewah menybut kedatangan mereka. Marva langsung membelikan Rei lonsel.keluaran terbaru yang paling mahal.
"Ini terlalu bagus dan mahal untukku."
"Jangan menolak."
Akhirnya Rei menerima ponsel itu. Bukannya pura-pura tidak mau tapi mau, tapi dia memang tidak tertarik.
Punya ponsel bagus, tapi mau aku pakai untuk apa?
"Ada yang mau kamu beli?"
"Saya ingin melihat-lihat buku, apa boleh?"
Melihat-lihat? Kenapa tidak beli saja sekalian?
"Ayo."
Mereka tiba di toko buku, Rei langsung menuju buku design interior.
"Kamu tertarik dengan itu?"
"Iya, saya ingin menjadi seorang arsitek."
Setelah puas melihat-lihat, Rei lalu mengajak Marva pulang.
"Enggak jadi beli?"
"Enggak, hanya ingin melihat saja."
Kalau sudah punya uang nanti, baru aku akan membelinya.
Mereka pulang sebelum jam makan malam. Viola melihat Rei yang menenteng kantong berisikan ponsel keluaran terbaru dan sangat mahal.
Pandangan mata Rei dan Viola beradu, namun mereka tak saling bertegur sapa.
Bukannya Rei tak sopan, tapi dia merasa canggung dengan Viola. Dalam hatinya menduga-duga, apakah Viola sangat membencinya? Meski dalam hatinya dia mengatakan bahwa Viola mungkin memang tak menyukai karena menikah dengan Marva.
.
.
.
"Persiapkanlah diri kalian, bukankah ini malam pertama kalian?"
Tanpa merasa canggung, Frans mengatakan itu di hadapan semua orang. Rei menjadi tegang disertai wajah yang memerah dan malu.
Apa harus mengatakan ini secara terang-terangan?
Marva menghela nafas sambil melirik Viola dan Rei.
Kenapa memiliki dua istri rasanya tersiksa seperti ini?
Sedangkan Viola, antara marah, sedih, kecewa. Dia ingin protes, tapi tahu bahwa semua itu tidak mungkin. Di sini yang berkuasa adalah Frans, peraturan yang dibuat olehnya, harus dipatuhi oleh semua orang.
Selesai makan malam, Rei buru-buru masuk ke kamarnya, yang membuat perasaan dan pikiran Viola semakin tak senang.
"Marva, kamu juga segerahlah ke kamar."
Marva baru saja ingin ke ruang kerjanya, namun Frans kangsung nenyuruh Marva ke kamar, dan tentu saja kamar yang dimaksud adalah kamarnya bersama Rei.
Marva melirik Viola sekilas, melihat gurat kesedihan di wajah istri pertamanya itu.
Marva memasuki kamar, dilihatnya Rei yang sedang duduk di balkon.
"Rei, kemarilah!"
Rei tersentak dari lamunannya. Dia langsung menghampiri Marva dengan tangan yang berkeringat dingin dan perasaan gugup.
Mereka duduk bersebelahan di sofa. Marva memandang wajah Rei dengan lekat. Wajah manis namun terlihat gurat kesedihan yang begitu besar di dalamnya.
Marva memegang dagu Rei, dengan ragu mendekatkan wajahnya, hendak mencium wajah istri mudanya itu. Namun, Rei reflek memundurkan wajahnya, dan menunduk dalam-dalam.
Marva menghela nafas panjang, dia juga berat melakukan semua ini. Tapi bukankah semua ini harus cepat terjadi.
"Kamu tahu kan, pernikahan ini terjadi karena kakek menginginkan seorang cicit, dan kamu harus memberikannya?"
"Iya, tapi saya ... saya belum siap. Maaf, bukannya saya tidak ingin menepati janji, hanya saja ...."
Rei juga bingung harus bagaimana dan mengatakannya seperti apa.
Jujur saja dia memang takut dan tidak siap. Dia juga teringat sengan Viola, wanita lain yang disakitinya meski ini bukan keinginannya.
Marva kembali menghela nafas berat.
"Tidurlah, malam ini aku tidak akan melakukannya, tapi mungkin tidak lain waktu."
Jujur saja, dalam hati Marva juga merasa lega tak melakukannya dengan Rei. Bahkan jika perlu tak pernah melakukannya.
Mereka tidur dalam satu kasur namun saling membelakangi.
Tepat di kamar sebelahnya, Viola sangat gelisah. Marva bahkan tak datang lebih dulu ke kamarnya untuk sekedar berbasa-basi.
Viola meremas jari-jarinya, hatinya berdenyut, bukan hanya kepalanya saja.
"Apa mereka benar-benar sedang melakukannya?" gumamnya pelan.
Malam ini, tiga orang itu kembali sama-sama tidak bisa terlelap. Memikirkan hal yang sama, memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Semua berpikiran sama, ingin semua ini cepat berakhir.
Rei dan Marva masih saling membelakangi. Seperti saat bersama Vio malam itu, malam di mana Rei mendantangani surat perjanjian yang akhirnya membuat dia dan Viola tidak bisa tidur, saling membelakangi dan tak ada yang mau berbicara lebih dulu, kali ini dia merasakannya bersama Rei, tidak ada yang mau berbicara meski mereka sama-sama tahu tidak ada yang bisa tidur.
Ini untuk yang pertama kalinya Rei tidur bersama seorang pria, tentu saja terasa canggung baginya, meski Marva sekarang statusnya adalah suaminya. Tapi mereka menikah tanpa cinta, bahkan sangat terpaksa. Pejodohan yang dilakukan bukan karena kesepakatan dua keluarga seperti yang ada di novel-novel atau film, tapi karena dasar saling memanfaatkan.
Mereka memanfaatkan rahimnya untuk mengandung anak Marva, juga memanfaatkan keadaannya yang kesulitan uang, sehingga dia terpaksa menerima kesepakatan itu.
Dan dia, dia juga memanfaatkan uang mereka untuk menyembuhkan dan membiayai perawatan neneknya hingga sembuh.
Rei tentu juga paham bahwa seharusnya dia melakukan kewajibannya. Bukan hanya kewajiban batin sebagai seorang istri, juga kewajiban untuk menepati perjanjian itu, memberikan Marva keturunan secepat mungkin.
Hujan mulai turun, membuat udara terasa lebih dingin. Dinginnya udara namun membuat hati Viola memanas. Pikirannya semakin ke mana-mana. Cuaca seperti ini bukankah sangat cocok untuk berhubungan?
Dia mengacak-ngacak rambutnya frustasi.
Sementara Rei, gadis itu berpikir, mau seperti apa pun dia menghindar, mau bagaimana pun dia menolak, jika takdirnya seperti ini, maka pasti akan terjadi dalam hidupnya. Mau itu cepat atau lambat, jadi untuk apa dia menghindar?
Perlahan matanya memberat, dia mencoba untuk menerima takdirnya dan ikhlas dengan semuanya, bukankah yang terpenting adalah kesehatan neneknya.
Marva mendengar nafas Rei yang mulai teratur, juga tak lagi merasakan pergerakan gelisah yang sejak tadi dilakukan oleh gadis di sebelahnya itu.
Marva bangun dari pembaringannya, menyandarkan badannya dengan tegap dan melihat Rei dari belakang.
.
.
.
Rei dan Marva sama-sama kesiangan. Mereka mandi secara bergiliran, dengan Rei yang mandi lebih dahulu. Setelah mandi, Rei yang melihat ada pakaian Marva di dalam lemari akhirnya memilihkan baju untuk pria itu. Dengan malu dia juga menyiapkan pakaian dalam Marva. Ya, setidaknya inilah hal pertama yang bisa Rei lakukan sebagai istri, walau hanya istri sementara saja.
Rei menunduk saat melihat Marva ke luar hanya denhan memakai handuk sebatas pinggang saja.
"Saya sudah menyiapkan pakaian untuk Kak Marva, maaf jika tidak sesuai dengan selera Kakak."
Marva selalu merasa aneh saat saat Rei memanggilnya dengan sebutan kakak, tapi dia juga tidak mempermasalahkannya.
Dari sekian panggilan, Abang, Mas, Aa, tapi Rei memanggilnya kakak. Ya walau memang panggilan kakak itu umum, untuk orang yang lebih tua, bukan hanya panggilan untuk saudara saja.
Marva melirik baju yang disiapkan oleh Rei, lalu membawanya ke dalam kamar mandi untuk memakainya.
Dia memang tidak tahu bahwa di kamar ini juga sudah disiapkan bajunya, hal yang memang tidak dia pikirkan.
Mereka akan ke ruang makan, namun Marva kembali melihat penampilan Rei.
"Pakai sweatermu."
"Kenapa?"
"Pakai saja."
Rei lalu mengambil sweater dari dalam lemari.
"Tidak perlu menjawab pertanyaan siapa pun, cukup aku saja yang berbicara."
Rei mengangguk, meski dia juga tak terlalu paham maksud Marva.
Mereka sama-sama ke ruang makan, yang sudah ada Frans, Carles, Delia, dan Viola.
Mereka melihat rambut Rei yang masih basah, dan tentu saja membuat spekulasi di pikiran mereka.