Siapa sangka bekerja di sebuah hotel akan mengantarkan kesucian yang di jaganya, Dhea harus kehilangan mahkotanya di saat seorang pria memaksanya untuk melayaninya saat mengantar minuman.
Hingga gadis itu hamil dan melahirkan anak kembar yang sangat cantik.
Arya Ghora prasida, bahkan pria itu pun tak tau siapa wanita yang sudah berhasil membuatnya puas hanya dengan satu malam, hingga rasa itu menjadi candu baginya, dan Arya tak bisa melupakannya walaupun sekejap.
Sampai lima tahun penantian yang hampa, akhirnya mereka di pertemukan kembali, meskipun tak saling mengenal, Arya merasa ada sebuah aliran listrik yang menyengat di saat ia berdekatan dengan Dhea.
apakah dunia akan mempersatukan mereka dengan hadirnya si kembar yang hebat?
ataukah Dhea memilih untuk hidup sendiri, dengan kedua putrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadziroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah rasa
''Kamu dari mana saja, Ar?'' Nyonya Septi merasa lega saat putra semata wayangnya itu memasuki rumahnya.
Seharian penuh tak pulang ke rumah membuat Nyonya Septi khawatir, bahkan wanita itu sempat histeris saat mendapat kabar dari Jojo dan Jeki tentang perginya Arya yang mengemudi mobilnya sendiri. Sedangkan Damar tak berani menghadap dan memilih pulang ke rumah.
''Maafkan Arya, Ma,'' memeluk Nyonya Septi dengan erat. Merasa bersalah sudah membuat mamanya itu gundah karena dirinya yang menyendiri dan tak mengangkat telepon dari siapapun.
''Kamu dari mana saja?'' Nyonya Septi menangkup kedua rahang kokoh Arya dan menatap wajahnya yang kusut serta bajunya yang amburadul.
''Habis dari hotel.''
''Kamu tidur dengan wanita lagi?''
Seketika Arya menggeleng, ''Aku hanya istirahat disana, nggak lebih.''
''Ya sudah, sekarang kamu mandi, habis itu makan. Nanti kamu harus ke butik untuk mengambil baju.''
Tak menjawab, Arya berlalu kekamarnya, setelah tiba, Pria itu menutup pintu lalu melempar jas yang dari tadi di bawanya.
Arghh... Arya menjambak rambut, hari pertunangannya makin dekat, namun hatinya semakin ragu untuk menerima Maya ke dalam lubuk hatinya.
Pria itu menghempaskan tubuhnya dan menatap langit langit kamarnya. Tak lama kemudian Arya memejamkan matanya, lelah dengan dirinya yang tak tentu arah.
Namun sebelum nyawanya benar benar terbang ke awan, Arya di kejutkan dengan tangan yang meraba lengannya, terkejut bukan main, bahkan Arya meloncat dari ranjangnya saat melihat Maya sudah berada di sampingnya.
''Apa apaan kamu, siapa.yang menyuruh kamu masuk?'' bentak Arya.
Maya mendengus, ''Tadinya aku nggak mau masuk. Tapi karena kamu nggak mau buka pintu, terpaksa aku masuk tanpa izin.''
Dengan santainya Maya mengucap, merasa tak bersalah dengan kelakuannya.
''Jojo, Jeki,'' teriak Arya, gedeg dengan wanita yang masuk ke dalam kamarnya tanpa minta izin darinya.
Seketika dua pengawal yang setia itu datang menghampirinya.
''Tuan butuh sesuatu?'' tanya Jojo.
Arya mengangguk. ''Bawa dia keluar!" menunjuk ke arah Maya yang masih duduk di tepi ranjang Arya.
"Tapi, Ar?"
"Cepat keluar! atau kita nggak jadi kebutik."
Maya menghentak hentakkan kakinya lalu keluar dari kamar itu.
"Jangan pegang aku!" teriak Maya menepis tangan Jojo yang menyentuh lengannya.
"Pegang saja, Jo, kalau mau bawa saja ke kamar sebelah." cecar Arya seraya cekikikan melihat kejengkelan Maya saat Jojo dan Jeki menggiringnya keluar.
Demi menuruti dan membuat sang mama tersenyum. Kini Arya rela untuk menumbalkan hatinya untuk terus mengikuti alur.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Seperti yang Nyonya Septi mau, Arya mengantarkan Maya ke butik untuk memilih baju yang akan di pakai saat tunangan nanti.
Setelah tiba di depan Butik itu, Maya langsung turun, begitu juga dengan Arya.
"Jo. kalian tunggu di mobil saja."
Arya memasang kaca matanya dan mengikuti langkah Maya untuk masuk ke dalam.
Tak mau tibet dan tak mau semrawut dengan sesuatu yang menurutnya tidak penting, Arya duduk di tempat dan membiarkan Maya yang kini sibuk memilah milih baju untuk dirinya.
"Ar, apa ini bagus?"
"Bagus " Jawab Arya tanpa menatap, dan lagi lagi pria itu tak mau ambil pusing dengan urusan Maya.
"Ma, bajunya cantik sekali,"
Arya yang dari tadi sibuk dengan ponselnya kini terpaksa menoleh mencari sumber suara yang khas di telinganya.
"Iya dong, ini kan buat kalian, nanti terima kasih sama papa ya," ucap seorang ibu yang berjongkok merapikan anak rambut putrinya.
Itu kan wanita kemarin. dia ada di sini juga, dan anak itu, anak yang jatuh tadi pagi, itu artinya anak itu adalah anak wanita itu. Reina dan Rania adalah anak dia, dan kenapa aku cemburu saat wanita itu mengucapkan kata papa.
Mata Arya terus terpana dengan pesona wanita cantik itu, tak dapat di pungkiri, kalau ia benar benar tak ingin berpaling darinya.
''Mbak, kalau yang ini warnanya ada yang lain nggak?'' Tanya Dhea.
''Nggak ada, Mbak. hanya putih saja.'' Jawab sang penjaga.
Dhea berdecak saat menginginkan baju yang sangat anggun di depannya, namun ia tak suka dengan warnanya. Meski begitu Dhea enggan untuk tidak membeli baju tersebut, akhirnya ia mengambil baju itu.
''Mbak aku mau yang ini juga,'' Maya merebut baju yang di pegang Dhea.
''Mbak, aku kan yang ambil duluan, kenapa Mbak tidak sopan begitu?'' Dhea memekik dan meninggikan suaranya. Merebut kembali yang sempat di pegang Maya beberapa detik.
''Hai kamu belum tau siapa aku, aku ini calon istrinya Arya Ghora prasida, jadi aku bisa membayarnya berapa saja.''
Dhea menghembuskan napas, kenapa sih dari kemarin ia selalu mendengar nama itu.
''Mbak, mau Mbak itu calon istri siapapun, aku nggak peduli, yang pastinya, mbak sudah tidak sopan merebut baju yang akan di beli orang lain lebih dulu,'' Dhea tak mau tinggal diam dan terus membantah.
Arya hanya bisa tersenyum menatap wajah wanita yang belum di kenalnya itu sangat pemberani, bahkan Wanita itu tak takut sedikitpun saat Maya mengucapkan namanya, belum lagi dua bocah polos yang hanya bisa diam, lucu sekali.
''Ar,''... rengek Maya menatap Arya yang masih tersenyum manis.
''Om,'' seru Reina, sedangkan Rania langsung memeluk kaki Arya dengan manjanya
''Hai, kita jumpa lagi,'' Arya merasa akrab dan menggendong kedua anak itu.
Dhea bingung, namun ia hanya bisa diam saat kedua putrinya terlihat sangat manja dengan pria yang baru datang tersebut.
''Ada apa?'' Tanya Arya datar.
''Ini, masa dia mau mengambil barang yang mau aku beli sih, dan dia bilang nggak takut sama kamu.'' Maya mengadu panjang lebar.
Seketika Arya mengambil langkah bijak untuk keduanya.
''Kamu yang salah, tadi aku lihat sendiri kalau Mbak ini yang memegang duluan,'' menunjuk ke arah Dhea.
"Lepas!" titah Arya saat keduanya masih kekeh ingin memiliki baju itu.
Seketika Maya melapaskan bajunya dan menyerahkan ke Dhea.
Kenapa Arya membela wanita lain, dan bukan membelaku, awas saja aku akan laporkan ini ke Tante Septi.
Jadi ini tuan Arya, yang aku dengar, dia itu garang dan tak mengampuni siapapun yang mengusiknya, tapi yang aku lihat dia baik. Bahkan dia rela menggendong kedua putriku. bicara dalam hati.
Setelah membayar baju itu, Dhea kembali menghampiri kedua putrinya yang kini malah terlelap di dada Arya.
Sedangkan Maya masih sibuk dengan baju yang lain.
''Tu...Tuan saya minta maaf, anak saya merepotkan anda.''
Arya diam, dan kembali meresapi suara Dhea yang memang tak asing baginya.
Anda salah orang Tuan, aku pelayan disini, bukan wanita yang anda maksud.
Meski di waktu dan tempat yang berbeda, Arya bisa menyelaraskan kalau suara itu sama, bahkan nada bicara wanita yang ada di hadapannya dan wanita yang di renggut keperawanannya itu sama.
Namun untuk saat ini Arya hanya bisa diam tanpa kata, karena ia tak bisa mengenali wajah wanita malam itu.
''Tuan tidak apa apa?'' sapa lagi Dhea saat tak ada sahutan dari pria itu.
Arya menggeleng, membawa kedua putri Dhea di sofa dan perlahan membaringkan tubuhnya.
''Arya,'' Arya mengulurkan tangannya ke arah Dhea.
''Dhea,'' menerima uluran tangan.
Dhea, namanya seperti orang yang ingin bekerja sama dengan perusahaanku, tapi aku yakin banyak nama Dhea disini.
Dhea menghampiri putrinya yang kini sudah teduh menikamti mimpinya.
Reina dan Rania akrab dengan pak Restu, tapi kenapa mereka lebih akrab dengan tuan Arya, dan aku merasa aneh, kenapa mereka segampang ini tidur di pelukan tuan Arya.
typo ya thor,yg paling aneh di apartemen tapi denger klakson dan deru mobil 🙈
kok di klakson mobilnya naik keatas 🙈😛
terharu biru 💕
makasih Thor 🙏
cerita ny keren 👌👍
Arya vs Dhea wkwkwkwk
cocok nih Restu sama Yesi 🤔 akhirnya Restu menemui tambatan hatinya yaitu sahabatny Dhea c Yesi 🤔
terus Maya sama siapa nih 🤔