Kisah cinta rumit si gadis culun yang berusaha mengambil hati seorang direktur tampan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MELARIKAN DIRI
Gisel menjerit saat seorang dokter membersihkan luka di sikunya kemudian memasang perban pada luka tersebut. Sejak beberapa menit lalu, tak henti bibirnya mengeluarkan sumpah serapah untuk gadis yang telah berani berbuat kurang ajar padanya sehingga membuat luka pada kulitnya yang mulus tanpa cacat.
"Jadi namanya adalah Pelangi?" tanya Gisel, pada manajer hotel yang sejak tadi telah berulang kali meminta maaf kepadanya dengan wajahnya gugup.
"Benar, Nona, namanya adalah Pelangi, dan dia hanya karyawan lepas di hotel kami, bukan karyawan tetap. Saya sungguh minta maaf atas perbuatannya." Manajer muda bernama Reza itu kembali membungkuk di hadapan Gisel, maklum saja, karena Gisel adalah tamu VVIP mereka.
Gisel bangkit berdiri dan menghampiri Reza. "Cari dia, dan minta dia untuk meminta maaf langsung kepadaku. Jangan lupa, Anda juga harus memecatnya. Gadis barbar seperti dia tidak pantas bekerja di hotel berkelas, dia hanyalah sampah masyarakat. Manusia yang tidak beretika sama sekali!"
Reza mengangguk, kemudian pamit undur diri dari hadapan Gisel dan juga Alex.
"Apakah perlu meminta manajer itu untuk memecat
gadis tadi? Aku rasa hal itu terlalu berlebihan, Gisel," ucap Alex, tidak terlalu setuju dengan gagasan Gisel, yang baginya terlalu kejam.
Gisel memasang tampang kesal tingkat tinggi. Bisa-bisanya Alex mengatakan hal itu. "Kamu lihat ini?" Gisel menunjuk sikunya yang berbalut perban, lalu melanjutkan, "Aku rasa kamu tahu apa artinya ini, Alex. Jika tim manajemen melihat goresan ini, bisa-bisa mereka membatalkan jadwal pemotretanku yang telah direncanakan sejak jauh-jauh hari. Tubuhku adalah asetku, jika tergores sedikit saja, itu artinya satu kontrak akan melayang. So, gadis sialan itu pantas untuk dipecat, karena dia telah merugikanku. Masih bagus aku tidak menuntutnya secara hukum."
"Oke, terserah kamu sajalah!" Alex kemudian berbalik pergi, meninggalkan Gisel yang masih terlihat kesal.
***
Pelangi menolak tawaran Gilang untuk mengantarkannya pulang setelah mereka menghabiskan minuman mereka di restoran. Ada yang harus dikerjakannya, sesuatu yang rahasia, mendesak dan sangat penting yang akan menentukan masa depan Gilang.
"Serius tidak perlu kuantar pulang?" tanya Gilang untuk kesekian kalinya saat mereka tiba di bagian depan restoran.
"Tidak usah, Bos, aku bisa pulang sendiri. Lagi pula aku harus mampir ke suatu tempat." Pelangi menjawab dengan mantap, padahal godaan untuk duduk bersama dengan Gilang di dalam sebuah mobil sangatlah menggiurkan, tetapi ia berusaha menepis godaan tersebut. Penting baginya untuk menyelamatkan Gilang dari pernikahan yang tragis, alih-alih duduk dengan nyaman di samping Gilang dan tidak melakukan apa-apa. Pelangi tidak ingin Gilang terus-terusan ditipu oleh Gisel.
Gilang mengangkat bahu. "Aku tidak bisa memaksa jika kamu tidak mau. Ya, sudah, hati-hati di jalan kalau begitu," ujar Gilang, lalu berbalik menuju parkiran, meninggalkan Pelangi yang menatap punggungnya dengan ******* penuh penyesalan.
Sepeninggalan Gilang, Pelangi segera mengeluarkan ponselnya, menghubungi Amara dan meminta sahabatnya itu untuk mencari tahu kediaman Farhan Andreas, karena setahunya Gilang dan ayahnya tinggal terpisah, hanya sesekali Gilang berkunjung ke rumah ayahnya dan menginap di sana.
Walaupun pada awalnya Amara menolak mentah-mentah permintaan Pelangi, tetapi dengan sedikit bujukan, desakan, paksaan dan ancaman, akhirnya gadis itu setuju.
"Baiklah, aku akan mencari tahu, kebetulan aku akan membersihkan ruangan Pak Farhan sebentar lagi." Suara Amara terdengar ketus dari seberang panggilan, sebelum akhirnya gadis itu memutus panggilan secara sepihak.
Pelangi meringis saat Amara memutuskan sambungan telepon secara tiba-tiba. Sambil terkekeh geli karena membayangkan wajah kesal Amara, ia kembali mengantongi ponselnya dan melangkah tanpa tujuan.
Sebenarnya Pelangi bingung hendak pergi ke mana. Ia tidak ingin kembali ke rumah, takut jika ada salah satu rentenir yang menagihnya. Tidak juga kembali ke hotel setelah ia membuat kekacauan yang fatal di sana, sementara jika ia kembali ke kantor, maka ia akan bertemu lagi dengan Gilang, bukankah tadi ia telah mengatakan pada Gilang jika ia ingin pergi ke suatu tempat. Maka satu-satunya tujuan Pelangi adalah taman yang terletak di tengah kota.
Dengan langkah cepat, Pelangi menyusuri bahu jalan menuju taman yang terlihat sepi. Tidak ada seorang pun yang terlihat bersantai di taman itu. Lagi pula siapa yang ingin duduk bersantai di tengah taman dalam cuaca yang luar biasa terik. Ia saja tidak ingin berada di sana jika bukan demi Gilang.
Beberapa waktu berlalu dalam hening, tetapi Amara belum juga menghubunginya. Pelangi menyandarkan tubuhnya pada sebuah patung berbentuk rusa yang terdapat di balik semak Bougainville. Matanya terpejam, merasakan setiap sengat matahari yang menusuk kulitnya hingga lapisan terdalam, peluh mulai membasahi wajah dan tubuhnya yang masih mengenakan seragam Office Girl Blossom Hotel. Penampilannya persis seperti gelandangan.
"Nah, siapa sangka aku akan menemukanmu di sini, Pelangi."
Pelangi terkejut. Ia membuka mata untuk melihat siapa yang tiba-tibadatang, walaupun sebenarnya tidak perlu, karena ia sudah sangat hapal dengan suara serak dan berat itu.
"Tuan Ringgo," lirih Pelangi.
"Yeaaah, Ringgo di sini," teriak Ringgo, pria besar yang tubuhnya dipenuhi tato itu menatap Pelangi dengan sengit. Cambang lebat yang menutupi sebagian wajahnya terlihat berkedut-kedut gelisah. Pria itu adalah salah satu dari sekian banyak rentenir yang selalu rutin mengunjungi Pelangi terkait utang orangtua Pelangi.
Tanpa basa-basi, Pelangi segera berbalik dan berlari sekencang-kencangnya, melarikan diri dari hadapan pria bertampang bengis itu adalah satu-satunya pilihan yang Pelangi punya. Toh, ia tidak memiliki uang barang serupiah pun sekarang ini.
Ringgo tidak mau kalah, ia berteriak ke arah Jeep yang terparkir di seberang jalan, di mana kaki tangannya sedang menanti setiap perintah dirinya.
Begitu mendengar teriakan dari ringgo, beberapa pria bertampang sama seramnya dan sedikit bodoh itu segera mengejar Pelangi. Pelangi mengeluh saat melihat jumlah para pengejarnya dan segera mempercepat larinya, memasuki gang-gang sempit yang kosong melompong, mencari tempat untuk bersembunyi.
"Argh! Buntu!" jerit Pelangi, saat berhadapan dengan tembok tinggi di hadapannya.
Baru saja ia akan memanjat tembok itu, sebuah tangan tiba-tiba menariknya dengan kuat, membekap mulutnya dan memaksanya untuk masuk ke sebuah celah sempit yang gelap.
Bersambung ....
dan ending yang menyedihkan untuk Gisel and the Genk..
btw..
soal visualnya mereka ,aku liat² wajah mereka pada serupa yaa sama para pasangan nya..
jangan ² mereka beneran jodoh di dunia nyata 🖤🖤
rasa nya kok sedih yaa..
Selamat ber bahagia Gilang pelangi dan semua nya🤗🖤
gemes sama Toni ..
satu demi satu
kebahagiaan mu akan trcapai
terlebih Gilang harapan saya kpd outhor smoga Gilang sembuh seperti sedia kala
supaya pelangi semakin bahagia 🙏❤️