Bimo mengayuh sepedanya di tengah sinar jahat mentari. Entah melamunkan apa dia saat itu, ia tidak sadar sudah sampai di perempatan lampu merah dan tidak sempat mengerem sepedanya. Nahas, dia sangat terlambat. Ia menghantam seorang gadis yang berhenti di depannya.
Dimensi dalam diri mereka berhenti. Namun, lampu dengan cepat berubah hijau. Sejak kejadian itu, Bimo dihantui rasa penasaran karena perempuan itu sangat familiar baginya.
Hari ini, Adeth berangkat terlalu pagi. Kelas dan sekolahnya masih sepi. Tidak lama kemudian, muncul seorang lelaki dari balik pintu kelasnya untuk meminta bantuan. Adeth terkejut melihat lelaki itu.
Hai, terima kasih sudah mampir! Jangan lupa tekan tombol suka dan vote, ya, agar saya semangat untuk berkarya setiap harinya. Bagikan juga ke teman-teman kalian, ya, siapa tahu suka, karena dukungan dari kalian semua sangat warbyasah!
Find me on social media
IG: @dernatasw or @dahelart
FB: Derna Taswara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Doris Gaverna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
013. Episode 13
Pintu rumah Adeth terbuka. Suara gaduh terdengar samar dari dalam sana. Sejenak, Adeth merasa ragu untuk masuk. Tapi dirinya merasa bahwa rumah itu miliknya, dan kenapa harus ragu masuk rumah sendiri. Ia lalu memantapkan hati dan masuk ke sana dengan acuk tak acuh. Ruang tamunya penuh sesak dengan berbagai macam orang yang kelihatannya lebih tua darinya—dan mungkin adalah teman kakak laki-lakinya—bercanda dengan suara menggelegar dan makan makanan yang disediakan dengan mengisi penuh mulutnya.
Adeth ternganga melihat pemandangan yang dilihatnya. Kakaknya yang melihat dirinya memaku di ambang pintu dan menjadi sorotan perhatian segera menghampirinya.
“Hei, apa yang kau lakukan? Kau mempermalukan dirimu sendiri,” desis kakaknya dengan segelas koktail di tangannya.
“Ada apa ini? Kenapa semua temanmu berada di ruang tamu?”
Lelaki itu meneguk minumannya dan berbicara dengan santai. “Cuma reuni saja, kok. Toh juga anak sekelas saja yang aku ajak.”
“Tapi, tetap saja penuh. Satu kelas kuliah, kan, bisa puluhan.”
Lelaki itu tidak menanggapi lebih lanjut. Ia berbalik arah dan kembali menghambur ke kerumunan teman-temannya, meninggalkan Adeth yang geleng-geleng kepala karena ulahnya. Saking kesalnya pada kakaknya, dirinya tidak sadar sedang diawasi oleh seseorang yang berpenampilan tidak mencolok dan serba tertutup di pojokan.
Pipi Adeth menggembung dan berjalan sambil mengentakkan kakinya menuju kakaknya yang berdiri bersama kerumunan teman-temannya. Saat sampai, ia memukul punggung kakaknya keras-keras lalu berlari kencang tanpa memperdulikan kakaknya yang mengaduh kesakitan menuju kamarnya di lantai dua.
“Ya Tuhan, manis sekali,” ujar salah seorang teman kakaknya.
Salah satu teman perempuannya tertawa dan berkata dengan logat Batak yang kental. “Beruntung kali kau, punya adik manis, cantik, galak pula. Idaman semua orang itu.”
“Manis iya, berengsek iya,” sahut kakak laki-laki Adeth sambil terus mengusap punggungnya yang terasa panas.
Semua orang tertawa.
Adeth langsung merebahkan diri di kasur. Dirinya tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila. Suara gaduh, seperti sebuah gonggongan dari luar kamarnya menghentikan aktivitasnya. Dibukanya pintu kamar dan sesuatu langsung menerjangnya, membuat dirinya terjatuh telentang di kasur.
“Barney, hentikan!” tangan Adeth menggapai-gapai ke udara. Anjing jantan dari ras Siberian husky itu langsung menurut, berhenti menjilati Adeth. Ukurannya lumayan besar untuk ukuran anjing dewasa.
Adeth tertawa senang. Dielusnya kepala anjing itu dengan lembut. Anjing itu menggonggong manja. Sejenak kemudian Adeth memutuskan untuk mandi, karena tubuhnya terasa lengket semua.
“Sebentar, Barney. Biarkan aku mandi.”
Adeth bangkit dari tidurnya. Ia memasuki kamar mandi dengan malas. Ia lalu menceburkan dirinya ke bathub untuk merasakan sensasi rileks setelah dihujani berbagai hal seharian ini.
Sebuah suara langkah kaki terdengar mendekati kamarnya. Seorang lelaki—dengan sesuatu yang dibungkus rapi di tangannya—berjalan mengendap-endap menuju pintu kamar Adeth. Sesaat sebelum memasuki kamar Adeth, lelaki itu menoleh ke kanan dan kiri memastikan untuk tidak ada seorang pun yang melihat perbuatannya.
Lelaki itu terkejut bukan main. Dirinya disambut gonggongan galak dari Barney saat membuka pintu kamar Adeth. Spontan, dirinya melemparkan barang yang dipegangnya ke kasur. Lantas, lelaki tadi berlari kocar-kacir yang langsung dikejar oleh Barney menuruni anak tangga dan membiarkan pintu kamar tersebut tetap terbuka.
Beberapa menit kemudian, Adeth keluar mamakai baju tidur biru muda lengkap dengan handuk biru tua polos tergantung di lehernya. Rambutnya dikucir kuda secara asal-asalan. Dirinya sempat mendengar kegaduhan saat akan keluar dari bak mandi.
“Barney?”
Tidak ada jawaban. Ia hanya menemukan pintu kamar yang semula tertutup menjadi terbuka lebar. Adeth hanya menaikkan bahunya dan menggantungkan handuknya di kamar mandi. Setelah itu, pintu kamar dikuncinya.
Kakinya melangkah dengan malas menuju kasur yang terletak dua meter dari tempatnya berdiri. Tubuhnya merebah telentang di kasur.
“Aw!”
Pekiknya tiba-tiba ketika sesuatu yang keras tertimpa oleh tubuhnya. Adeth kembali duduk untuk memeriksa apa yang barusan ditindihnya. Sebuah kotak terbungkus rapi—yang dilemparkan pria tadi—ada di dekat pahanya.
“Apa ini?”
Jemari Adeth membuka kotak yang dibungkus rapi itu secara hati-hati. Mukanya menampilkan wajah penasaran sekaligus senang.
Pembungkus benda itu terbuka. Di dalamnya terdapat sebuah novel keluaran terbaru dan sebuah benda tipis yang sepertinya surat. Hadiah itu cukup membuat Adeth yang maniak buku sangat senang.
Adeth mengambil dan membuka benda tipis berwarna biru muda yang diletakkan di atas novel. Saat dibuka, gambar dan tulisan tiga dimensi keluar dari surat itu. Di pop up itu terpampang tiga kata yang membuat Adeth mengernyitkan dahi.
“I LOVE YOU”.
Tidak ada alamat maupun jejak si pengirim. Adeth tertawa kecil lalu merebahkan diri ke kasur.
“Ya Tuhan. Siapapun yang mengirim ini, dia pasti orang paling pengertian dan romantis di dunia ini. Tapi sayangnya, aku tidak menyukai stalker.” Adeth bergumam sambil berdecak.
Sepasang bola mata indah Adeth menatap langit-langit kamarnya yang dicat putih dengan beberapa stiker yang bercahaya dalam kegelapan. Ia letakkan kepalanya di atas telapak tangannya. Matanya terpejam. Perasaan dalam hatinya bercampur aduk.
Sekali lagi dirinya tersenyum.
Banyak hal yang terjadi hari ini.
___________________________________
Waduh, ada yang pernah diuntit stalker? Hiy, pasti serem! Ceritain pengalamanmu, dong!
Hai, terima kasih sudah mampir! Bagikan ke teman-teman kalian, ya, siapa tahu suka. Karena, dukungan dari kalian semua sangat warbyasah!
Find me on social media
IG: @dernatasw or @dahelart
FB: Derna Taswara
waahhhh
ternyata..
ada saingan mu, Deth....
adrenalin naik..
sePi (sesak pipis) thor..
😄🤣🤣
bocah Kambil itu apa ya artinya??
salken
jd inget tempo dulu pas ikut pramuka,