karya : Rosnila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rosnila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Siang itu aku terus larut dalam lamunan ku tentang Aliya, Aku baru tersadar saat Reina memanggil nama ku bahkan berulang kali.
"Cha,Kamu negelamunin apa?" Tanya Reina.
"Tidak Rei, Tidak ada apa-apa."Jawab ku berbohong.
"Rei,Apa Aku bisa izin untuk pulang duluan?" Tanya ku.
"Tapi Cha, Kamu belum makan pesanan kamu ,Lebih baik kamu makan dulu baru pulang."Jawab Reina.
Dan benar juga kata Reina,Aku sudah pesan makanan jika kutinggalkan akan mubazir,Dan akhirnya kuputuskan untuk makan lebih dulu.
Setiap memikirkan nasibnya Aliya,Pikiran ku selalu terganggu, Karena Aliya itu sudah seperti saudara bagi ku, Namun aku tak bisa terlalu jauh ikut campur dalam kehidupan Aliya.
Setelah makan datang, Aku pun langsung menyendok kan nya Lemukutan ku, Tampa bicara apapun lagi.Saat itu aku sadar kalau Reina dan mungkin tunangan nya sedang memperhatikan perubahan sikap ku.
Dan bahkan mungkin sedang bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dengan ku, Namun aku sekarang masa bodoh, Karena memang aku adalah orang yang tidak terlalu suka bercerita dengan orang yang baru ku kenal.
Setelah selesai makan,Aku pun langsung minta izin untuk pulang lebih dulu.Aku melajukan motor ku menuju rumah, Menggunakan istirahatkan tubuh ku.
Setelah tiba dirumah aku langsung menuju kamar setelah menyapa bibik yang sedang berada diruang tamu.
Berjalan menuju tanggal lantai atas untuk kekamar ku. Setiba disana aku langsung menuju balkon Tampa meletakkan tas ransel ku terlebih dahulu.Akurnatao langit-langit disiang itu, Begitu panas ,Cahaya Matahari begitu menyilaukan mata ku.
Aku menarik nafas panjang, Entah apa yang membuat ku merasa terbebani. Apakah aku harus bertemu dengan Aliya dan meminta orang tuanya membatalkan pernikahan Aliya?
Begitulah pertanyaan yang timbul di benakku saat itu, Namun tidak mungkin itu aku lakukan, Walaupun aku tau papa pasti tidak akan keberatan membiayai kuliahnya Aliya.
Namun aku takut itu akan menyinggung perasaan orang tuanya Aliya. Lalu apa aku harus ikhlas melihat Aliya kehilangan mimpinya?
Mungkin aku harus bercerita tentang ini semua kepada papa dan mama,Mungkin akan ada solusi terbaik untuk semua yang mengganggu pikiran ku.
Aku terus larut dalam pikiran ku sendiri, Sampai dering dari handphone ku pun mengalihkan pikiran ku saat itu, Aku meraih handphone dikantong celana jeans ku.
Dan ternyata Rizal yang menghubungi ku, Aku pun tersenyum menatap layar handphone ku, Sepertinya kali ini Rizal menelpon diwaktu yang tepat,Begitulah pikir ku.
"Hallo Assalamualaikum!" Ucap Rizal.
"Waalaikum salam bang!" Begitulah panggilan baru ku untuk nya.
"Kamu sedang apa Cha?" Tanya bang Rizal.
"Baru pulang dari kampus bang."jawab ku singkat.
"Kamu sudah makan siang?"Tanya bang Rizal lagi.
"Sudah bang, Abang sendiri sedang apa,Sudah makan?"Tanya ku balik.
"Alhamdulillah sudah"Jawab bang Rizal.
"Icha,Abang ingin bicara serius dengan kamu,Apakah kali ini abang menelpon diwaktu yang tepat."Tanya Bang Rizal.
Bukannya menjawab,Aku malah tertawa. Sepertinya bang Rizal tau kalau selam ini aku merasa dia selalu menelpon ku diwaktu yang tidak tepat.
"Kenapa malah tertawa,Abang serius ingin bicara sama kamu."Tambah bang Rizal.
"Abang ini aneh, Bukankah ini kita sudah bicara" Tanya ku balik.
"Icha,Abang serius ingin bicara tentang urusan pria dan wanita."Begitulah jawab nya.
"Degh!"
Jantungku seakan berhenti berdetak saat itu, Walaupun bang Rizal tidak dihadapan ku namun aku menjadi salah tingkah sendiri.
Meskipun aku adalah wanita yang tidak pernahrnjalin cinta, Tapi tentu saja aku tau maksud dari bang Rizal, Namun aku menepis pikiran ku, Aku tak ingin jadi terlalu percaya diri.
"Hallo Icha,Apa Abang mendapat izin untuk bicara?" Tanya bang Rizal lagi.
"Iya bang, Bicara saja."Jawab ku.
Aku pun berjalan mundur ke arah bangku kecil dibalkon kamar ku. Kududukkan tubuhku disana, Agar bisa mendengarkan dengan santai apa yang akan bang Rizal katakan pada ku.
"Icha, Abang ingin bicara hal yang benar-benar serius."Kata bang Rizal lagi.
"Hmmm"Jawab ku.
"Cha,Apakah Abang masih memiliki kesempatan untuk bisa mengisi hati kamu?"Tanya bang Rizal.
"Degh" Jantung ku berdetak dengan kencang.
"Icha,Abang tidak akan memaksa,Kamu bisa memberikan jawabannya nanti jika kamu sudah siap."Tambah nya lagi.
"Namun untuk hal ini Abang serius,Abang jatuh hati dengan kamu."Ucap bang Rizal.
Aku yang masih mendengarkan perkataan bang Rizal pun, Mulai membuka suara, Berbicara dengan hati-hati,Karena Aku takut salah berbicara.
"Bang, Kita kan baru saja kenal, Bahkan kita belum pernah bertemu,Kenapa Abang bisa menyukai ku?" Tanya ku ragu.
"Icha, Cinta itu datangnya dari hatikan, Bukan dari saling bertemu dan menatap."Jawab bang Rizal.
"Tetapi bang,Cinta itu juga harus dimulai dari mata,Jangan sampai abnag menyesal setelah kita bertemu."Jawab ku lagi.
"Icha,Abang sudah mencoba bertanya pada hati Abang,Abang yakin memang ingin memilih icha."Jawab bang Rizal.
"Tapi bang,Icha belum bisa memberikan jawaban,Icha takut."Jawab ku terbata.
"Apa yang membuat mu takut" Tanya bang Rizal.
"Sebagainya Icha menjawab iya, Maka Abang adalah Cinta pertama Icha,Dan jika cinta pertama itu gagal bagiamana."Ucap ku.
"Icha takut akan membenci kata cinta,Untuk itu Berikan Icha waktu bang." Ucap ku lagi.
"Icha,Abang tidak bisa berjanji akan tetapi akan berusaha menjadi yang terbaik untuk kamu dan Abang akan menjadi yang pertama dan terakhir untuk kamu."Jawab bang Rizal mantap.
Namun. aku masih ragu belum bisa memberikan jawaban untuk hal itu,Jujur akueraskan getaran aneh dihatinya, Ada rasa bahagia saat mendengar suara dari orang yang belum pernah kujumpai.
Apakah itu yang dinamakan cinta? Begitu tanya ku pada hatiku saat itu. Namun aku tak ingin terlalu cepat mengambil keputusan, Untuk membuka hati terhadap pria saja aku butuh begitu banyak waktu, Apalagi untuk menerima Cinta nya.
"Bang, Apa boleh Icha meminta waktu, Icha akan memberikan jawaban nanti."Ucap ku lagi.
"Iya,Tentu saja Abang akan menunggu jawaban kamu." Jawab bang Rizal.
Pembicaraan kami pun berakhir, Dan bang Rizal pun mematikan handphone nya setelah mengucapkan salam.
Namun aku yang masih terduduk di sana pun menyandarkan tubuhku ke sandaran kursi, Jawaban apa yang kira-kira akan kuberikan? Apakah benar yang kurasakan saat itu adalah cinta?
Aku masih ragu, Tidak berani mengambil keputusan apa pun, Diusia ku yang sekarang ini aku belum pernah jatuh cinta, Aku tak ingin Cinta pertama ini memporak-porandakan hatiku dan masa depan ku.