Cerita di bumbui 21++. Harap bijak dalam membaca❤
Albian Yunanda, terlahir dengan segala kesempurnaan dan kekayaanya, namun tidak prihal asmara. Sebab, lelaki berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit, bahwa Aluvi Tiana alias Vivi wanita yang sangat dirinya cintai justru tega berkhianat dengan menjalin hal tak terpuji dengan Narendra, sahabat Bian sendiri. Vivi rela memberikan seluruh jiwa dan raganya demi Rendra sementara statusnya sebagai tunangan Bian.
Hal itulah yang menimbulkan luka yang amat dahsyatnya dan memakasa Bian harus membalas rasa dan luka hati yang kini dirinya rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanty fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panik Dan Takut
🕊
Bian mempercepat langkahnya, mencari tau dari mana sumber suara yang tadi di dengarnya.
"Aww... Aww...!"
Suara itu terdengar jelas dari ruang belakang. Dengan cepat Bian segera berlari kesana, begitu pun Tio karyawan kantornya pun turut serta mengikuti langkah kakinya.
"Vivi...!"
Bian terkejut luar Biasa saat mendapati sang istri tergeletak memegangi perutnya dengan pecahan gelas yang berserakan di sekitar wanita cantik itu.
"Heey, kau kenapa?"
Bian benar-benar terlihat panik, saat melihat Vivi mengerang kesakitan.
"Pak, Bian. Bukankan dia karyawan di kantor kita, lalu kenapa dia ada di dalam rumah anda?" tanya Tio penasaran.
"Diaaam... Jangan banyak tanya, tolong siapkan mobil! Karena aku harus membawanya kerumah sakit," seru Bian dengan lantang membuat Tio sedikit terperanjat.
"Ba_baik, pak."
Tio segera berlari dan menuruti titah Bian tadi. Sementara pria tampan yang terlihat panik luar biasa, segera memapah tubuh istrinya dan membawa Vivi ke rumah sakit.
____
Dalam perjalanan ke rumah sakit, Bian masih setia mendekap erat tubuh Vivi, tanpa di sadari Vivi tersenyum sendu, mimik panik dari wajah Bian menyadarkan Vivi bahwa masih ada sayang di hati lelaki yang sudah menyiksanya beberapa bulan ini.
"Pak, kenapa Vivi bersama anda bahkan kalian satu rumah. Apa dia wanita simpanan bapak?" lancang Tio karena terlalu penasaran.
"Bang sat kau ya! Belum pernahkan melihat bos memotong lidah anak buahnya dan itu akan segera ku lakukan padamu!" bentak Bian kasar.
"Ma_maaf, pak," Tio terdiam rasa takut mencekat batinya saat ini.
"Dia istriku.." Tambah Bian kemudian.
"Haaaah.. Istri??!"
Tio cukup terkejut karena selama di kantor Bian tak pernah sedikit pun terlihat memberi perhatian pada wanita yang kini di dekapnya. Yang terlihat hanyalah marah yang tak jelas Bian lampiaskan, hal itulah yang para karyawanya lihat selama ini, Bian selalu bersikap arogan terhadap Vivi.
"Tutup mulutmu, jangan katakan pada siapa pun tentang hubungan kami. Kalau sampai karyawan tau tentang ini, maka kau yang akan ku cari dan ku penggal lidahmu itu!" Ancam Bian lagi.
"Ba_baik, pak. Saya tak akan melakukan itu, saya janji," ucap Tio lirih dengan nada terbata-bata dan expresi wajahnya cukup ketakutan akan ancaman yang Bian berikan.
_____
Chiit
Sampailah mereka ke rumah sakit dan segera membawa Vivi masuk kedalam.
"Pak Bian. Ada apa?" tanya seorang perawat yang sepertinya mengenal siapa Bian.
"Jangan banyak tanya, cepat lakukan yang terbaik!" Seru Bian.
Dengan sigap rumah sakit tersebut memberikan perlayanan yang paling baik dan beberapa dokter segera memberikan penangan sesegera mungkin terhadap Vivi.
Bian yang ikut masuk, menyaksikan betapa hebatnya Vivi merintih kesakitan. Bahkan keringat dingin mengucur ke seluruh tubuh wanita cantik itu.
"Pak Bian. Apakah istri anda sedang hamil?" tanya seorang dokter.
"Iya, dan usia kandunganya memasuki empat bulan," Bian menjelaskan.
"Oke baiklah, setelah bu Vivi di rawat dan keadaanya sudah membaik, kita akan melakukan USG," ujar si dokter terlihat serius.
"Baiklah," jawab Bian pasrah.
Sementara Vivi terlihat memejamkan mata, sepertinya suntikan yang dokter berikan adalah obat penenang agar Vivi tertidur.
"Istri anda kelelahan, dan sepertinya sedikit syok. Jangan buat dia berfikir terlalu keras, karena orang yang sedang hamil, biasanya lebih sensitif dan mudah lelah, baik fisik atau pun fikiran," tambah seorang dokter lagi.
Bian terdiam, mengingat perlakuanya beberapa bulan ini benar-benar menyakiti hati dan fisik sang istri.
"Terima kasih dok. Saya akan menjaga istri saya sebaik mungkin." Jawab Bian kemudian.
_____
Bian tesenyum sendu menatap wanita yang terlelap itu. Di lihatnya gurat lelah di wajah Vivi membuat Bian mengerutkan wajah tampanya.
"Lihatlah, Vi. Betapa hebatnya kau, meliatmu menderita dan kesakitan justru membuatku sakit juga," batinya seraya memegang kepalanya yang terasa panas.
"Apa hamil itu menyiksamu?" tanya Bian lagi pada seseorang yang masih memejamkan mata dan kini ada di hadapanya.
Bian belum menyadari, perlakukanya terhadap sang istri justu menyakiti dirinya sendiri. Karena Bian terlihat ketakutan saat hal buruk seperti saat ini menimpa Vivi.
"Kurangajar. Bahkan dia bisa menyiksa batinku juga dalam keadaan seperti ini," omel Bian lagi, lalu menatap wajah Vivi yang masih terpejam.
Lelah benar-benar lelah. Hidup dalam dendam membuatnya begitu lelah. Bahkan takdir tetap membuatnya sakit batinya, saat orang yang di balasnya terluka.
"Kau harus baik-baik saja!" ucapnya lagi.
.
.
🕊☺☺☺☺☺☺☺🕊
kalo bisa coba di ubah jgn kasar SM wanita.
hmm cinta itu bukan hanya sekadar aku dan kamu namun bagaimana caranya agar aku dan kamu menjadi kita, bagaimana caranya agar aku dan kamu bukan lagi 2 melainkan 1, dan aku dan kamu apa lagi kak 😂😂😂😂😭😂
aku dan kamu dan kita selamanya gitu wae ya 🏃♀🏃♀
gak balas komen ini sombong
🛴😂💨💨💨💨