Bermula dari murid pindahan dari kota yang bernama Rara Amelia Putri, dan Dewa hayunda seorang siswa yang tampan yang cuek dan lugu, yang tak pernah menyadari ketampanannya
Dewa terjerat tipu daya cinta Rara, dan membuat nya terbelenggu, hingga membuat Dewa terjebak dengan cinta terlarang
Kejadian berulang saat Dewa di bangku kuliah, bertemu Rara, seolah takdir menjodohkan mereka, Dewa menata kembali cintanya untuk menjadi lebih baik, tapi ternyata keinginan itu hanya sepihak, tidak dengan Rara, dalam kisah cintanya yang sedang mekar, Rara meninggalkan Dewa dan menikah dengan pria lain, membuat Dewa terpuruk dan jatuh dalam dunia hitam, kehadiran dosen cantik sebagai tuan mami, dan mas Rio yang menjadikannya kucing Anggora
Dalam perjalanan hidupnya bersama Rara Dewa memilik 2 orang anak, Arjuna dan Gading
Berakhir tuhan mengirimkan seorang malaikat bernama Dina, yang membantunya keluar dari kehidupan yang kelam
Wanita yang lembut dan bersahaja, yang memiliki cinta pertama bernama Dewa hayunda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjuna bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GEMERICIK AIR
(Untuk pembaca, mohon maaf ada beberapa kata yang hilang atau perubahan, di karena kan ada ketentuan yang harus kami patuhi, terima kasih 🙏)
Malam itu Rara bener-bener tidur di rumah Dewa, dengan keras kepala Rara tidak mau pulang.
Hampir setiap hari Rara tidur di rumah Dewa, terkadang Dewa heran, apakah orang tua Rara tidak mencarinya.
Selesai kuliah Rara tidak langsung pulang, dia pergi ke kosku, aku memang memberinya kunci cadangan jadi dia bisa masuk kapanpun dia inginkan.
Sejujurnya aku mulai resah, bukan karena tidak suka, tapi sampai kapan aku bisa bertahan, membendung Hasrat lelakiku, menolak imajinasi yang sering terlintas dipikiran ku, aku laki-laki normal, bersama Rara terlalu lama, bisa membuatku hilang kendali.
Penampilan Rara yang terbuka sangat menggoda, memancing hasrat ku,
"Ah, aku bisa gila" gumam Dewa
Rara selalu menyusul ku, ketika tidur.padahal aku sudah menyiapkan satu kamar untuknya, tapi Rara seolah acuh.
Rara mulai membawa baju-bajunya ke kosku,
"Ah" aku menghela nafas, melihat apa yang dia lakukan
"Ra, kamu mau pindah ke sini ?" tanyaku pelan, berusaha untuk tidak menyinggung perasaannya.
Ku lihat dia menyusun baju-bajunya, di lemari ku
"Kamu tidak suka" jawab Rara kecewa
"Bukan tidak suka sayang, tapi apa ini tidak jadi masalah" jawabku
"Kamu bilang kita akan menikah, kita sudah punya anak Kan, masalahnya di mana ?", Rara beranjak berdiri, menghampiriku, bergelayut di pundak ku manja
"Salah...?, ya sudahlah" Dewa menyerah.
Tak bisa bicara lagi, yang dia bilang benar, berdebat dengan Rara rasanya percuma saja, sepertinya harus aku yang bergerak. Aku berencana untuk pulang bertemu orang tuaku membicarakan soal Rara, Harus, aku harus pulang sesegera mungkin, karena aku sendiri tidak tau seberapa kuat aku bisa menghadapi rasa inginku untuk menyentuh Rara.
******
Siang itu aku ambil cuti dari beberapa mata kuliahku untuk segera pulang, aku ingin mengajak Rara untuk menengok anaknya, tapi Rara menolak, dengan alasan jadwal yang padat, jadi aku berangkat sendiri.
Aku pulang mengendarai mobil Inova putih milik Rara, melesat meninggalkan Bandar lampung menuju rumah, perjalananku kurang lebih satu hari. Pukul 19:50 aku sudah masuk ke halaman rumah, karena aku kirim kabar aku akan pulang, jadi orangtuaku tidak kaget melihatku, mereka hanya kaget melihatku membawa mobil.
"Arjuna..." aku langsung memeluk anakku yang berdiri di belakang ibuku
Rindu, begini rasanya, memiliki anak, di tambah lagi aku sudah menemukan ibunya, rasa lega, nyaman, dan bahagia yang tak dapat ku lukis.
Arjuna berlari menangkapku, aku ingin menangis, rasanya ingin ku sampaikan semua rasa bahagia ini, tapi Arjuna masih terlalu kecil untuk memahami semuanya.
"Kamu pulang Dew, ono opo to nak, ko mendadak, terus itu mobil siapa? tanya ibuku dengan logat jawanya,
Ku peluk ibuku, ku cium
"Wes gede masih kayak anak kecil" timpal ayahku
"Yah, aku bertemu Rara, dan berencana menikahinya"
Aku langsung saja bicara dengan ayah ibuku, rasanya sudah tidak sabar, ibuku tersenyum melihatku bersemangat
"Mandi dulu" perintah ibuku, di iringi senyum ayahku,
Aku berangkat mandi, Selesai mandi aku langsung duduk di dekat ayah, segelas kopi di hidangkan ibuku di temani singkong goreng kesukaan ayah. Arjuna menikmati mainan barunya yang ku beli di jalan tadi sebagai oleh-oleh untuknya.
"Dew, mana Rara kok nggak di bawa ?" tanya ayahku
"Dia sibuk, banyak tugas yah" jawabku
"Baiklah itu bagus, bawa dia pulang, temukan sama ayah ibu, nanti sisanya biar ayah yang urus" seolah ayah Dewa sudah tau apa yang akan Dewa bicarakan
"Yeeez..."selesai sudah tugasku
"Secepatnya ya yah" pintaku dengan tidak sabar
"Itu tergantung kalian berdua, cepat atau tidak, bapak ikut, pikirkan baik-baik Dew"
"Baiklah yah aku akan mengurus ini dengan benar" jawab Dewa mantap
Setelah kurasa perbincangan ku dengan ayah selesai, aku melangkah menuju kamar menyusul di mana Arjuna tidur, aku ingin tidur bersama anakku malam ini.
*******
Pagi sekali ibuku sudah bangun menyiapkan sarapan untuk kami, karena aku akan segera berangkat lagi ke kota. Meninggalkan kuliah terlalu lama akan membuatku kesulitan, maklum ini adalah semester akhir aku mulai mengejar untuk segera menyusun skripsi, dan lulus dengan cepat itu tujuan utama.
Ku pacu Inova putih melesat meninggalkan kampung halamanku, rasa khawatir yang terselesaikan meringankan setumpuk beban hidup.
Punya tujuan hidup terasa lebih bermakna, rasanya ingin cepat-cepat memberi Kabar kepada Rara, mengabari lewat telfon rasanya kurang puas.
*****
Inova putih itu melesat tanpa hambatan, aku sampai kosan malam hari, Rara tersenyum menyambut kedatanganku, ku cium keningnya kami melangkah masuk.
Dengan tak sabar aku duduk di sofa ku tarik pinggangnya untuk lebih dekat, seolah aku tak ingin beritaku tersampaikan tak lengkap,
Rara mencium keningku
"Aku ambilin air ya, emang nggak haus apa ?" tanya Rara
Tapi tak ku indahkan kata-kata rara, ku kencangkan pelukanku,
"Ibu setuju, kapan kamu mau bertemu orang tuaku"
Rara tersenyum, menangapi beritaku, aku merengut tak puas dengan reaksinya
Dengan santai Rara menanggapi, seolah berita itu tak penting, membuat Dewa agak marah, Dewa beranjak pergi meninggalkan Rara,
Dewa mengusap keringat dengan punggung tangan, menuju kamar mandi. Rara menyadari perubahan Dewa, dia tersenyum menyusul Dewa ke kamar mandi, berdiri di ambang pintu, memperhatikan Dewa, dengan lembut Rara menyentuh tangan Dewa, mengelus dan membantu Dewa membuka baju.
"Aku mau mandi, kamu mau ikut mandi?" ucap Dewa
Wajah Dewa serius, dan ketus, Rara tak melawan, dia tersenyum mendekat, di hidupkan shower. Air menguyur tubuh mereka berdua, membasahi tubuhnya, baju tipis yang ia gunakan, membuat lekuk tubuh Rara terlihat jelas, tangan Dewa menyingkirkan Rara dari hadapannya, Dewa terus mandi. Rasa kecewa mengganggu pikiran dewa.
Tapi Rara tak menyerah dengan kemarahan Dewa, Rara berbalik. Di peluknya Dewa dari belakang,
"Iya kita akan menikah, kita akan menikah Dew" bisik Rara di telingaku lembut,
"Kapan aku bisa bertemu orang tuamu ?"
Dengan wajah marah, Dewa berbalik memperhatikan wajah Rara yang mungil, "Heeeh..." Dewa tersenyum sinis, kembali menguyur tubuhnya
"Kamu belum siap kan?"
"Kalo kamu belum siap, tinggalkan aku Rara, aku tak bisa hidup seperti ini, ini akan membuatku hancur, jangan permainkan aku, aku mencintai kamu, jangan biarkan cinta ini sampai tumbuh utuh, pergi tinggalkan aku, aku......?"
Dewa berhenti bicara,
"Dew " bisiknya rara lembut
"Bersamamu aku sudah bahagia, apapun keadaannya"
"Kita akan menikah " hanya itu yang terucap di bibir Dewa
******
Rara sudah melayaniku sebagai seorang istri, aku selalu mengantar jemput Rara kuliah.dalam hati aku berjanji, untuk kali ini aku akan melakukannya dengan benar.
karena aku tidak begitu menyukai mengendarai mobil, kami lebih sering menaiki sepeda motor.
Aku sering membantu mengerjakan tugas-tugasnya. Tidak ada yang berubah dalam keseharian ku, hanya saja sekarang aku memiliki Rara dan aku serius akan hubungan ini, tak pernah terpikirkan olehku untuk melirik wanita lain.
Aku mulai belajar mandiri, ku curahkan semua perhatian untuk Rara, aku sudah menganggap dia istriku.