Lingga Barata bujang lapuk yang belum menemukan pasangan hidupnya di usia menuju empat puluh tahun. Orang-orang banyak menawarkan anak gadisnya untuk menikah dengan Lingga yang terkenal memiliki pabrik rokok terbesar di Indonesia.
Sakura Arinda Darmawangsa perawan tua belum menikah di usia dua puluh tujuh tahun. Sakura lebih memilih menjadi arsitek dibandingkan menerima perjodohan orang tuanya. Sakura melarikan diri ke Amerika untuk melanjutkan sekolahnya setelah mendengar ia akan dijodohkan dengan pria tua.
Sakura terpaksa harus menjadi kekasih Lingga setelah ketahuan mencuri jambu di halaman rumah pria tua itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NatiaGeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
B three
Lingga kembali memakai kacamata hitam miliknya, Dari ekor matanya bisa melirik beberapa orang berbisik setelah kejadian di dalam lift tadi. Keadaan Sakura yang pucat pasi mengharuskan Lingga mengengam tangan erat perempuan itu.
"Kita kembali ke Restoran tadi dulu...Aku mau jelasin ke Mami." Sakura berbisik dengan pelan setelah melepaskan pelukannya dari Lingga.
"Saya kira Mami kamu masih syok melihat saya mencium kamu tadi....Untungnya hanya ada tiga orang yang melihat live action langka ini."
Sakura terpikir apa mungkin lift itu memiliki Cctv bisa hancur reputasi Papi dan dirinya. Salah dirinya juga yang terbawa suasana, mengikuti alur kenikmatan yang berikan Lingga.
"Mas...gimana jika ada yang merekam kita tadi."
"Saya tidak melakukan kebodohan yang akan merugikan kamu....Saya sudah mematikan aliran cctv dalam lift itu....tidak mungkin terekam."
Sakura bernafas lega setelah mendengar jawaban yang berikan Lingga, Ia tidak sanggup jika berita ini akan menjadi konsumsi publik. Nama baik orang tua akan menjadi taruhannya bagaimana media akan mengorek informasi yang terjadi di dalam lift itu.
Ketika Lingga dan Sakura sedang asyik menikmati bibir satu sama lain di dalam lift tersebut, hanya tiga orang yang melihat kejadian tersebut karena pengunjung sepi. Lingga bersyukur Sakura memotong rambut sehingga ia bisa melindungi tubuh Sakura, Saat kejadian Lingga membelakangi Melisa dan Rianti dan Rini yang ikut menanti lift untuk terbuka.
Sakura memiliki tinggi 175 cm namun Lingga lebih tinggi yaitu 180 cm karena hobinya bermain basket sejak SMA. Lingga juga memiliki kulit lebih gelap karena setahun ini, ia harus mengontrol keadaan pabrik di Jember menyebabkan sinar matahari langsung menusuk ke kulit pria itu.
"Kamu belum makan ya.....Saya juga belum sekalian aja ya...Kita akan sama-sama menghadapi kedua orang tua kamu nanti."
"Ya harus lah...Mas sih kenapa langsung main sosor...Aku kan belum siap dapat serangan mendadak." Ucapnya Sakura ketus karena masih mengigat ciuman bersama Lingga.
"Saya baru tahu rasa bibir kamu begitu menggoda...jika tahu saya sejak dulu melamar kamu." bisik Lingga ke telinga Sakura, Ia tidak ingin orang lain mendengar obralan membahas fisik Sakura.
"Jadi karena bibir aku aja gitu....Mas mau nya sama Aku." Kembali wajah Sakura tertekuk mendengar bisikan Lingga.
Lingga tak menjawab pernyataan Sakura, jika ia terus berdebat dengan perempuan maka akan banyak obralan yang akan mengiring ke arah godaan seorang pria kepada wanita, Lingga tidak ingin menjadi pria penggoda memiliki niat terselubung.
Keduanya kembali masuk Restoran milik calon mertua Melisa, Sakura tidak melihat kehadiran ibunya di dalam ruangan VVIP ini. Ia hanya melihat perempuan yang bergandengan tangan dengan Lingga duduk manis sambil memainkan ponselnya.
"Kamu duduk di sini temani saya makan.....Saya udah lapar dari tadi."
"Aku ga lapar Mas....kamu aja."
"Sakura nurut apa kata saya...Kamu makan atau saya ulangi kejadian tadi." Lingga menggeram kesal karena Sakura tidak nyaman duduk bertiga dengan dirinya dan Melisa.
Melisa sedari tadi hanya mendengarkan perdebatan antara kakak sepupunya dan calon istrinya, Ia menunggu kedatangan tunangan yang akan datang ikut bergabung makan bersamanya.
Sakura akhirnya memilih mengeluarkan iPad miliknya untuk mengerjakan pekerjaan yang masih tertunda, Ia tidak menyapa perempuan dihadapannya ini, dirinya tidak ingin terlihat sok akrab dengan saingannya mendapatkan Lingga.
Melihat perempuan ini bersama Lingga, Mood Sakura kembali turun drastis. Sosok Lingga yang duduk di samping hanya diam sambil menatapnya tanpa kedip.
"Mel....maaf ya nunggu lama tadi aku terjebak macet ada kecelakaan." Sakura mendengar suara yang tidak asing yang menyapa gendang telinganya.
Melisa mengangkat kepala mendengar ucapan sang kekasih yang penuh penyesalan karena terlambat datang. Melisa menarik tangan sang kekasih untuk duduk di sampingnya.
"Ini Rinrin....teman dari jaman jahiliah bukan ya." Pria itu mencoba menebak perempuan yang sedang asyik dengan dunianya.
Sakura yang tengah asyik dengan gambar desain langsung menoleh mendengar sapaan akrab sahabat dari em-rio.
"Iya gue Arinda....kenapa mau amnesia gitu....lu kemana aja....Dewa kata Tante Rini lu mau kawin ya." Sakura jika bersama teman masa kecilnya akan melupakan dua orang yang memandangnya penasaran.
"Gue kira lu udah lupa....Doa in ya...kenalin ini Melisa calon istri gue....Lu kapan nyusul."
"Jadi ini tunangan lu." Sakura melirik Melisa yang tersenyum ramah kepadanya.
"Lu ingat ga dia kan adik kelas kita....pacar gue dari SMA.... lu sih...selalu sibuk dengan dunia lu...gue kira lu udah menghilang dari jagad raya ini."
"Bang- sat lu ya ogep.....Gue ga pernah ngurus urusan playboy seperti lu."
"Gue ga playboy ya....dari dulu cewek gue cuma satu aja dari pada lu zonk doang." Dewa melirik ke arah Lingga yang dari tadi tidak lepas dari sosok Sakura yang tidak peduli.
"Nama pacar lu siapa gue belum kenalan."
"Melisa Mbak....sepupu Mas Lingga"
Sakura terpaku mendengar ucapan Melisa ternyata mereka masih ada hubungan keluarga, ia tadi sudah sempat berpikir jika Melisa memiliki hubungan spesial dengan Lingga.
"Kamu junior aku di ITS ya....kamu anak DKV yang hanya kamu perempuan satu-satunya dalam angkatan itu"
"kita satu alumni Mbak....Aku masuk Mbak udah tingkat tiga.. senior aku."
Sakura dan Melisa asyik bercerita tentang kampus mereka dulu, Sakura tidak mempedulikan sosok Lingga yang dari tadi tidak berbicara setelah ia menolak makan bersama.
"Mel kamu ingat ga....aku pernah cerita kalau punya teman jaha-nam....kelakuan dia tuh aku sampai sekarang masih ingat....tapi kalau kebaikan dia banyak."
"Jadi Mbak Sakura ini teman kamu ya....Aku pernah liat dia bawa makanan untuk kamu...setelah itu aku ga mau ketemu kamu...aku kira kamu selingkuh dengan dia."
"Masakan dia enak Mel....Ayam rica-rica." Ucapan Dewa terputus. "Otong lu ga menggoda itu dari dulu gue anggap lu cuma teman gue dari orok...ga ada yang spesial."
Semua terdiam mendengar ucapan menohok Sakura, bunyi dentingan sendok cukup keras. Ketiganya sadar jika ada seseorang yang duduk di dekat Sakura.
"Mas pulang dulu Sa....Kamu bersama si Dewa aja...Mas ada urusan." Lingga menarik berdiri Sakura dan menyeretnya pelan Sakura ke luar.
Melisa dan Dewa tertawa terbahak-bahak karena melihat jelas kecemburuan Lingga kepada Sakura, Kedua sudah merencanakan semua ini. Melisa ingin melihat bagaimana reaksi keduanya, si perempuan yang ekspresif sedangkan si Pria yang kaku.
Lingga sudah menahan amarah dari tadi, Dirinya seperti tidak dianggap ada. Sekura mencoba melepaskan tarikan tangan Lingga yang berada pada tangannya.
"Masuk....Saya tidak menerima alasan....ikut saya sekarang." Suara Lingga terdengar tegas, Sakura ketakutan melihat mata Lingga penuh binar kemarahan.
Lingga mengendari Mercedez Benz miliknya menuju Ciputra Land, Ia akan berbicara empat mata dengan perempuan ini. Sakura tidak bisa berkata-kata apapun selain diam, Namun dalam hatinya penasaran dengan sosok pria ini.
Lingga membawa Sakura menuju apartemen miliknya, Apartemen mewah yang terletak di tengah kota Surabaya.
"Mau kamu apa ah....Kamu kira saya akan takut....saya memegang sabuk hitam taekwondo." Kesabaran Sakura habis dengan sikap Lingga yang egois.
"Lingga jangan anggap saya takut ya....kamu bertingkah semena-mena terhadap saya...Kamu mencium saya di lift tadi seolah saya seperti wanita murahan."
"Kamu boleh keluar....tinggalkan tempat ini." Lingga meninggalkan Sakura yang terpaku mendengar kalimat usir dari bibir Lingga.
"DASAR MANUSIA BATU BATA...BARA BERE." sembur Sakura meninggalkan apartemen milik Lingga.