Blurb :
"Saya harus menikahi Hanin Minggu depan," ucap Ammar dengan berat hati.
Mereka sama-sama terdiam membisu selama beberapa waktu.
"Selain itu ... saya juga mohon izin untuk menghapus kontakmu dari ponsel ini," lanjutnya seakan ingin menghapus semua jejak tentang Nadeen.
Sepintas, kita bisa memilih jodoh yang kita impikan. Menjalin hubungan dengan seseorang yang kita katakan memiliki kecocokan. Namun, berbagai kemungkinan masih bisa terjadi di luar keinginan.
Jangan bersedih, Nadeen. Allah akan mengatur semua menjadi seindah-indahnya kisah cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Risalah Jodoh
Saat pulang, Nadeen melihat kotak makan miliknya itu dalam keadaan kosong dan bersih bersama sebuah buku yang berjudul ‘Seri Fiqih Kehidupan (8) bab Pernikahan' Penulis Ahmad Sarwat, Lc.,MA’ tertulis di sampul depannya. Itu sengaja Ammar gantungkan di handle pintu kamar Nadeen.
“Oh … ternyata Pak Ammar yang selalu memberiku buku-buku ini.”
Sengaja Ammar mengirim buku-buku sebagai referensi untuk Nadeen, sebelum dia memberi pertanyaan. Di dalam buku itu selalu ada selipan catatan-catatan kecil sebagai penyemangat untuk Nadeen.
****
Tak terasa Nadeen sudah menerima 10 buku dengan judul-judul yang berkaitan dengan hal yang Ammar tanyakan setiap hari.
“Cinta, Pernikahan, Tanggung jawab istri, Hidup berumah tangga, mendidik anak … dan lain sebagainya.” Nadeen menghitung sambil membaca judul buku yang sudah ia baca satu per satu lalu membereskannya. Lantas, dia bergegas untuk keluar dari kamarnya. Setelah membuka pintu, di bawah sudah tergeletak satu bungkusan buku baru. Nadeen segera mengambil dan membukanya. Judul buku yang sangat menarik menurut Nadeen.
“RISALAH JODOH …? Judul buku baru yang harus kubaca?” gumamnya sambil menutup kembali buku itu lalu melangkah menuju kamar Hanin. Nadeen mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu kamar Hanin lalu mengambil kertas kecil yang menempel di pintu. itu sengaja di tempel Hanin kemarin sore sebelum pulang mendadak ke Sleman.
“Nad, aku pulang ke Sleman dijemput Ayah-Ibu. Ada yang harus disiapkan sebelum hari pernikahan Minggu depan. Tolong jangan merindukanku!” Isi pesan dalam kertas kecil itu yang dibubuhi emoticon smile yang lucu.
Nadeen tersenyum setelah membaca pesan itu. “Baiklah. Semoga semuanya berjalan dengan lancar,” gumamnya. Lalu, Nadeen kembali ke kamarnya dan mulai membaca buku.
Sesuai judulnya, Buku 'Risalah Jodoh' ini berisi tentang bagaimana Allah mengatur jodoh seseorang, jodoh yang Allah siapkan sejak manusia lahir ke dunia ini. Allah rahasiakan sampai tiba waktunya mereka dipersatukan.
***
Ammar mencatat setiap jawaban Nadeen, sekali-kali dia membaca kembali. Meskipun di dunia ini tak ada gading yang tak retak, akan tetapi menurut Ammar, jawaban Nadeen ini sudah mendekati sempurna. Ammar pikir dia sudah mantap dengan pilihannya. Setelah pertanyaan terakhir nanti, Ammar ingin mengutarakan niat baiknya terhadap Nadeen. Nadeen sudah bisa merasakan sinyal itu. Dirinya seakan memiliki sebuah harapan akan perasaannya yang memang tumbuh begitu saja.
Tiba-tiba, Ammar mendapat telepon dari orang tuanya di Jogja. Ini sangat penting berkaitan dengan pernikahan sang kakak yang akan digelar Minggu depan. Saat itu juga Ammar pulang menemui keluarga besar, karena sesuatu hal yang harus dimusyawarahkan.
Dengan wajah yang sangat bingung, Zafar--Ayahnya Ammar--menatap dan memelas. Dunianya seakan runtuh. Harga dirinya akan jatuh di mata sahabat yang tak lain adalah Ayah Hanin. Karena ulah sang anak sulung yang tiba-tiba ingin membatalkan pernikahan.
“Kenapa, Abi? Ammar lihat wajah Abi bingung sekali.”
“Abi berada dalam masalah saat ini,” ucapnya sambil menarik napas, dan menepuk dadanya dengan kepalan tangan untuk meredakan rasa sesak dan shock.
“Katakanlah, Abi. Apa yang telah terjadi? Ammar akan membantu, Abi.” Ammar menatap penuh tanya. Wajah penasarannya begitu mendesak, meminta penjelasan.
“Tidak ada jalan lain,” ucapnya menggelengkan kepala sambil menatap Ammar.“Kecuali ... kamu mau menikahi Hanin untuk menggantikan kakakmu. Hanya itu jalan satu-satunya jika kamu mau membantu Abi.” Zaffar menatap penuh harap pada anak bungsunya yang condong lebih penurut dibanding kakaknya.
Tentu saja Ammar merasa kaget, dia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Ini semua jauh di luar dugaannya. Sebelum memutuskan apa yang harus dia lakukan, Ammar meminta izin untuk menghubungi sang kakak. Dia butuh mendengar banyak penjelasan darinya.
“Abi, Ammar mohon diri untuk beristirahat di kamar sebentar. Jika memungkinkan, Ammar akan berusaha menghubungi Abang via telepon.”
Sang Ayah menganggukkan kepalanya masih dengan wajah yang menyedihkan. Bagaimana tidak menjadi beban pikiran, anak sulungnya yang sudah resmi melamar seorang gadis, tiba-tiba membatalkan pernikahan yang tinggal menghitung hari saja. Dengan tatapan sendu, dia menatap Ammar yang tengah melangkah menuju kamarnya.
Ammar yang baru saja tiba di rumah orang tuanya ini, harus disambut dengan permasalahan kakaknya yang sangat pelik. Dia berusaha keras menelepon sang kakak yang belum pulang bertugas dan mungkin dia memang tidak berniat untuk pulang meski hari pernikahannya sudah di depan mata. Bagaiman mungkin dia harus menggantikan kakaknya, padahal Ammar baru saja menjatuhkan pilihannya pada Nadeen.
Ini tidak boleh terjadi. Abang harus tetap menikahi Hanin.
Setelah beberap panggilannya diabaikan, Ammar meninggalkan pesan singkat, supaya Hafizd segera membalas panggilannya itu.
[Bang, tolong hubungi aku segera setelah pekerjaanmu selesai!] pesan Ammar singkat.
Sambil mengusap wajahnya yang gelisah, Ammar terus memandangi layar ponsel. Berharap Hafizd akan segera menghubunginya. Dan akhirnya, ponsel pun berbunyi dengan nama Hafizd yang tertera di layar.
“Assalamualaikum, Bang!” sapa Ammar yang tidak sabar.
“Iya, Mar. Waalaikumsalam.”
Hafizd sudah bisa mengira maksud dari Ammar yang tengah menghubunginya. Tanpa bertanya, Ammar menunggu Hafizd memberikan penjelasannya.
“Mar, Abang tahu, saat ini kamu sedang menunggu penjelasan.” Dengan suara penuh penyesalan.
“Kalau begitu, jelaskanlah, Bang! Kenapa Abang tega melakukan ini?”
“Maafkan Abang, Mar. Abang tidak mencintai Hanin, karena wanita yang Abang cintai adalah Puspita. Bagaimana pun Abang berusaha, Abang tetap tak bisa.”
“Kenapa tidak Abang katakan sejak dulu? Kenapa baru sekarang, setelah pernikahan sudah diatur sedemikian rupa?” Ammar menghela napas sesaat. “Abang tahu, bagaimana perasaan Abi saat ini?! Apa Abang tahu bagaimana kecewanya Abi saat ini?!” bentak Ammar yang hampir kehilangan sedikit rasa hormat terhadap kakaknya.
“Kamu boleh marah semarah-marahnya. Nanti kalau Abang pulang, kamu boleh pukul Abang.”
“Aku tidak butuh memukul orang untuk melampiaskan kemarahan, Bang. Aku hanya ingin bertanya, apakah Abang tega melihat Abi menanggung malu akibat ulah abang?”
“Dalam hal ini, Abang minta kamu bantu Abang. Bagaimana pun caranya. Tenangkan hati Abi.”
“Semudah itu? Abang pikir ini masalah kecil?”
Semangat, Kak. 😍😍
sabar menunggu ala2 nadeen 😙😙😙
aku menanti cepat lah cepat lah