"Siapa bilang Mutiara selalu indah berkilau?
Tidak, aku menggeleng. Mutiara yang kumiliki menyakitkan. Bahkan dalam keadaan tak tersentuh sekalipun. Apalagi seandainya bila aku menyentuhnya? Pasti kilauannya membuat kedua mataku buta." Jimmy~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pikirkan orang tuamu
Tak ada percakapan lagi selama perjalanan setelah kejadian menegangkan mereka di dalam mobil, hingga keduanya sampai di rumah yang baru.
Sudah berada di depan rumah, Jimmy memarkirkan mobilnya ke dalam garasi yang pas untuk satu mobil dan masih bisa muat untuk beberapa motor.
Membuka pintu mobil, Jimmy terlebih dahulu turun kemudian membukakan pintu samping kiri tanpa basa basi.
"Mas!" panggil Mutia dan membuat Jimmy menatapnya sekilas, lalu langsung memasuki rumah.
Berada dibelakang Jimmy, Mutia masih berusaha memanggil agar jimmy mau menatap dan berbicara dengannya. Ternyata sangat tidak enak di diamkan seperti ini.
"Mas, jangan diam aja..."
"Maaf aku tadi ngomong kayak gitu" lanjut Mutia.
"Sudah, Mas nggak pa-pa. Lupakan saja yang tadi" ucapnya lalu segera pergi ke atas menjauhi Mutia. Jimmy butuh waktu sendiri sejenak agar dirinya bisa berpikir jernih dan menormalkan emosinya agar tak berimbas buruk kepada keduanya.
Mutia menghembuskan nafas kasar dan menggigit buku-buku jarinya. Bingung jika Jimmy marah, maka apa yang harus ia lakukan?
Tapi sifat ketidak pekaannya membuatnya enggan berpikir lebih. Dia langsung menggunakan waktu itu juga untuk berkeliling melihat-lihat isi rumah.
Rumah dua lantai minimalis, dapurnya pun mini dengan kompor tanam. Di rumah ini sudah tersedia kulkas, mesin cuci, sofa, TV smart, dan beberapa lemari khusus. Tapi untuk dinding dan selain dari itu, rumah masih tampak polos tanpa hiasan apapun.
Tak ingin berlama-lama, Mutia langsung saja mengumpulkan alat-alat untuk bersih-bersih hunian barunya. Mutia mulai mengelap debu-debu yang mengendap di banyak tempat, kemudian membuka jendela dan meletakkan perabotan-perabotan dan menatanya rapi di dapur. Terakhir, menyapu dan mengepel lantai.
Mutia memang bisa menguasai pekerjaan rumah. Karena tak adanya sosok Mama dari kecil membuatnya terdesak untuk bisa melakukam semua itu. Hanya saja kalau perihal masak-memasak, Mutia masih perlu banyak belajar.
Setelah selesai berbenah, Mutia menuju ke kamar utama. Hanya satu-satunya kamar itu yang sudah tersedia ranjang. Dan kemungkinan, mereka akan tidur bersama lagi seperti semalam. Atau memang Jimmy sengaja membuat mereka tidur bersama agar hubungan keduanya semakin dekat? Entahlah.
Dikamar ini juga sudah terpasang AC, tersedia kamar mandi dalam dan beberapa furniture. Misalnya seperti lemari pakaian, nakas, meja rias dan lengkap dengan televisi ukuran tiga puluh dua inch.
Mutia membuka koper besar, memasukkan pakaian-pakaiannya sendiri dan pakaian Jimmy ke dalam lemari terpisah. Cepat selesai akan cepat juga ia bisa beristirahat, pikirnya. Sedari pagi dia juga belum sempat membalas beberapa pesan dari Frans.
"Dek," panggil Jimmy dari ambang pintu.
"Iya?"
Jimmy mendekati Mutia "kamu yang membersihkan semuanya? Kenapa nggak minta bantuanku?"
"Iya. Habis aku nggak tahu kamu kemana," jawab Mutia. "Sudah nggak apa-apa, lagian juga sudah selesai.."
"Ada yang bisa dibantu lagi nggak?"
"Nggak ada, serius sudah selesai."
"Tadi Mas ketiduran di atas," jawab Jimmy beralasan.
"Ini tinggal dalaman kamu," tunjuk Mutia pada pakaian yang tersisa.
"Harusnya biarin aja, Mas kan bisa bereskan sendiri..."
"Tinggal mikirin perut kita ini mau diisi apa?"
"Kamu mau makan apa?"
"Aku makan buah aja,"
"Nggak mau makan nasi?"
Mutia menggeleng.
"Yaudah, Mas belikan di toko buah ruko depan."
Bukannya menjawab iya, Mutia malah memberi Jimmy sejumlah uang tunai.
"Apa ini dek?" tanya Jimmy tak mengerti.
"Pakai uangku saja Mas,"
Jimmy terdiam beberapa saat dan menatap manik mata Mutia.
"Jangan seperti ini dek, sudah berapa kali Mas bilang ke kamu."
"Aku hanya merasa nggak enak, aku yakin Mas sudah banyak mengeluarkan uang demi memenuhi permintaanku. Jadi kupikir kalau kita membeli makanan, pakai uangku saja..."
Jimmy menggeleng dan tersenyum tipis.
"Nggak perlu, Mas mampu menafkahimu, simpan saja uangnya" ucap Jimmy lalu melipat tangan Mutia.
"Mas! Kamu masih marah soal yang tadi?" tanya Mutia.
Sebenarnya Jimmy enggan membahas masalah yang sudah sejenak ia lupakan. Tapi Mutia malah mengoreknya kembali.
"Dek, nggak bisakah kamu mencoba untuk menjalaninya dulu?" tanya Jimmy setelah terdiam beberapa saat.
"Aku nggak cinta sama kamu..." lirih Mutia.
Deg!
Ya Jimmy ketahui itu. Bisakah untuk tidak mengatakannya langsung?
"Kamu belum berusaha," jawab Jimmy. "Apa kamu sudah siap sekiranya keluarga sampai tahu?"
Tak menjawab, Mutia menundukkan pandangannya yang sudah berkabut.
"Sekarang Mas tanya, kenapa kamu dulu nggak jujur bahwa kamu tak pernah menginginkan pernikahan ini?"
"Aku hanya takut sama Papa, tapi aku nggak tahu akan serumit ini jadinya... aku tersiksa." Mutia mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangannya. "Papa tak merestui hubunganku dengannya karena Papa tak menyukainya."
"Setidaknya kamu mengatakannya denganku," sebelum aku terlanjur jatuh, ucapan Jimmy yang tercekat di tenggorokan.
"Secara nggak sadar kamu telah membelengguku," Jimmy menghela nafas panjang sebelum ia melanjutkan kata-katanya lagi. "Tapi kita sudah terlanjur sampai disini, dan Mas nggak bisa mundur lagi."
"Tolong janji kelak kamu akan melepasku" Mutia tetap kekeh dengan pendiriannya.
"Sekiranya Mas nggak mampu lagi, Mas pasti akan melepasmu. Tapi nggak sekarang" jawab Jimmy setelah terdiam beberapa saat. "Mas nggak akan mengusikmu dan membuatmu tersiksa seperti apa yang kamu katakan barusan. Tapi, tolong!"
"Setidaknya pikirkan perasaan orang tuaku dan terutama orang tuamu yang hanya tinggal satu-satunya. Kita nggak mungkin berpisah dalam waktu secepat ini. Mas harap kamu paham dengan ucapanku barusan."
Kaki Jimmy terasa lemas, gumpalan hati di bagian tubuhnya terasa sakit, sebab karena ucapannya sendiri.
thank author novelnya kereeeeen 👍👍👍
sukses terus yaa😊
tp sdh ada yg nyesek didada🙁
sayangya aku baru Nemu novel ini..Sukses terus Kaka othor 😍
tidak mau membahas masa lalu.
nyesek berada diposisi Jimmy😭