NovelToon NovelToon
Annekke Van Beek (Ibuku Bukan Gundik)

Annekke Van Beek (Ibuku Bukan Gundik)

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa pedesaan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna

Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.

Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.

Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?

“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AVB 13

Si wanita berkerudung memukul pelan tangan Rodiyah, kepala menunduk sekilas, menyembunyikan binar kepuasan di netranya. “Ck, kamu ini kalau bicara asal mangap saja, mana mungkin—”

“Mungkin saja lawong ibuku dulunya kembang desa, cantik jelita,” sambar Argono sambil berjalan mendekat, senyum hangat membingkai wajah hitam manisnya.

“Iki anak lanang'e sampeyan, Mbakyu?” seru para biang gosip hampir bersamaan. (Ini anak laki-laki kamu, Mbak?)

Wajah mereka terpesona seketika, mata terbuka lebar, bibir melongo.

“Patut lak mbak Anne ke sem-sem, lawong buagus ngene. Ganteng, gedhe dhuwur,” ucap Munaroh. (Pantes kalau mbak Anne terpesona, lawong bagus gini. Ganteng, gagah)

Argono masih mengulas senyum hangat, tangan dengan otot menonjol mengambil alih belanjaan sang ibu.

“Sampun selesai dereng belanja’ne, Bune?” tanyanya dengan suara berat, terdengar begitu nyaman di telinga. (Sudah selesai belum belanjanya, Bu?)

Si pedagang sayuran sontak memeluk lengan Argono, mengusap sembari menatap penuh kagum. “Yoh, kalau aku punya anak wedok, tak jodohkan sama sampeyan, Cah Bagus. Sayang anakku lanang semua.”

“Sama anakku ae, saiki masih sekolah SD Inpres kelas 4, dua tahun lagi wes bisalah di pek bojo.” Munaroh menimpali, sebelah matanya berkedip genit.

“Gendeng bocah masih bau kencur wes suruh nikah,” balas Tutik, sudut bibir mengulas senyum, bola mata diam-diam melirik dada lebar Argono.

Rodiyah tak mau kalah, turut maju, berdiri tepat di samping Argono. “Karo aku ae, Kang Mas, aku ikhlas lahir batin sampeyan jadikan simpanan.”

“Rusli arep kok guwak nang ndi, Yah?” sambar Tutik seraya menoyor kepala Rodiyah. (Rusli mau kamu buang kemana, Yah?)

“Sementara uncal ke kalen,” sahut Rodiyah, bibir merah meronanya tertawa lebar. (Sementara lempar ke kali)

Tawa renyah pun menggema dari kumpulan ibu-ibu, berdiri saling bersisian. Sesekali mereka kembali berbisik-bisik melanjutkan obrolan, sampai salah satu dari mereka melihat gadis yang jadi bahan gunjingan melintas, mengendarai mobil pick up dengan tumpukan panenan di bak belakang.

“Kae … kae, bocah ee. Ayu-ayu kok murahan.” Munaroh kembali mencibir.

“Pantes ae ndak nikah-nikah, ternyata dagangan. Ndak bisa bayangne aku pas dia di uleng-uleng juragan tua mambu apek,” ujar Tutik, pundaknya bergidik, bibir tebal bagian bawahnya menyemburkan air liur ke tanah.

“Dagangan itu kalau di beli, kayak lombok ku iki. Lah dia gratisan, asal mapan, bisa jadi malah torok, dia yang bayar laki-laki.” Si pedagang sayur mengambil segenggam cabai rawit, di timang sejenak di telapak tangan, lalu kembali ditaburkan ke tampah anyaman bambu. (torok\=wanita yang membayar laki-laki)

Dua pasangan ibu dan anak saling melempar senyum lewat mata sebelum berpamitan pada ibu-ibu, beralasan belanjaan mereka telah dibeli semua.

“Mbakyu, aku tak duluan, ya? Sudah siang, belum masak untuk sarapan,” pamitnya dengan suara lemah lembut, padangan menyapu wajah-wajah masih menatap kagum paras sang putra.

“Iyo, mbokde,” sahut ibu-ibu serempak, tatapan mereka tak lagi tertuju pada Argono, tetapi ke arah Anne yang berdiri di pinggir jalan, sedang menunggu para kuli panggul menurunkan barang.

Sama halnya dengan para ibu-ibu biang gosip, Argono tak melepaskan netranya dari wajah ayu mengenakan kebaya kutu baru bercorak merah bata, bunga kamboja segar terselip anggun pada gelungan rambutnya.

Ia mengangguk berulang kali dengan alis terangkat perlahan, menyatakan kekaguman yang tersembunyi pada bibir yang mengulas senyum samar.

“Ojo terlena, Le. Eling, ibunya yang sudah mengambil harta kita,” tegur si ibu, satu tangan menarik lengan sang putra agar berjalan lebih cepat.

Argono menarik napas pelan, mengikuti langkah ibundanya sambil sesekali menoleh ke belakang, seolah ingin memastikan Anne masih berada di tempatnya.

Di kejauhan senyum miring tersungging dari bibir Anne, dagunya terangkat samar seraya menghisap kretek terjepit jari telunjuk dan tengah, lalu sengaja mengedipkan sebelah mata saat tak sengaja tatapannya beradu dengan manik gelap Argono.

Gadis dengan kebaya kutu baru berbordir bunga mawar itu kemudian berjalan pelan, menghampiri beberapa pedagang yang langsung menyambutnya ramah, menawarkan dagangan, ada pula yang sengaja memberi gratisan.

“Genduk ayu ndk minum jamu? Si mbah hari ini bawa jamu temulawak campur madu biar seger awake, ngenakne lak maem,” tawar wanita renta dengan bakul anyaman bambu berisi beberapa botol jamu di dalamnya.

“Nggih purun segelas mawon,”

sahut Anne seraya menghampiri bakul jamu yang menurut ceritanya adalah langganan ibunya. (Iya mau satu gelas aja)

Dulunya pedagang yang berjualan di pasar tradisional berada di kota, semenjak penyakit menyerang, usia tak lagi muda, pindah ke pasar pagi yang hanya buka seminggu satu kali. Tiap pasaran senin wage.

“Ibu mu dulu senengane minum kunir asem, mesti minta nambah jeruk nipis, apalagi pas sedang menyusui genduk ayu, tiap hari di buntel kan jamu sama kusir dokar e, si bocah lanang ireng manis itu, sopo …?” Mbah tukang jamu bernama—Nur menyipitkan mata, tangan penuh keriputnya menyodorkan segelas jamu berwarna kuning pekat pada Anne.

“Kang Dasim,” sambung Anne setelah meneguk habis jamu yang di sodorkan mbah Nur.

“Iyo Dasim. Di mana sekarang bocah kae, Nduk, sudah lama si mbah ndak melihat jalan ke pasar. Biasanya menemani istrinya sama anak wedoknya cari jajan pasar,” lanjut mbah Nur.

“Itu ada di mobil mengawasi kuli pindah barang. Pinten niki jamu ne, Mbah?” tanya Anne basa-basi sebab tangannya sudah menggenggam beberapa keping koin logam. (Berapa ini jamunya, Mbah?)

“Ora usah—”

Ucapan mbah Nur di sergah oleh jabatan tangan Anne seraya memindahkan uang logam dari tangannya ke tangan keriput wanita renta itu.

“Mesti lak ngene iki lo, Genduk ayu ki,” protes mbah Nur dengan mata berkaca-kaca. (Kok selalu seperti ini, anak perempuan cantik ini)

“Biar semangat bikin jamu nee,” seloroh Anne, membiarkan tubuh mungilnya di peluk, pipi mulus di cium penuh ketulusan oleh wanita sudah seperti si mbah kandungnya.

Wanita renta itu mengusap pucuk kepala Anne, dari sudut mata sayu nya menetes bulir bening air mata. “Si mbah mung bisa dedonga, mugo-mugo Genduk ayu pinaringan kewarasan, di doh ke seko balak.” (Si mbah hanya bisa berdoa, semoga anak cantik diberi kesehatan, dijauhkan dari marabahaya)

Napas berat berhembus dari bibirnya yang gemetar, hatinya berdesir perih saat tak sengaja mencuri dengar obrolan para biang gosip. Netra menerawang, mengingat kenangan masa silam. “Ibu mu itu wong apik, roso welas asihnya tinggi, peduli dengan sekitar sekalipun pernah disakiti dengan tuduhan keji. Jadi, kalau sekarang orang kembali mengungkit masa lalunya hanya karena dia menikah dengan meneer, itu jelas orang iri dengki, punya dendam pribadi.”

“Aku ngerti, Mbah. Si mbah tenang saja, aku pasti akan memberi pelajaran pada mulut-mulut lancang yang sudah berani menghina ibuku.” Anne sengaja meninggikan suaranya, membuat si pedagang sayur seketika menunduk, sedang para biang gosip sudah membubarkan diri begitu melihat Anne berjalan ke arah mereka.

“Ya sudah, Mbah, aku tak jalan lagi. Pengen maem bubur sum-sum tempat mbokde Tugiati,” pamitnya kemudian seraya mengusap punggung sedikit bungkuk mbah Nur.

Wanita tahu benar cerita masa lalu Sulastri—ibunda Anne itu mengangguk, dari bibir keriputnya terbit senyum hangat. “Njih, Cah ayu. Wes gage merono selak kehabisan nanti.” (Iya, anak cantik. Udah cepet kesana keburu kehabisan nanti)

Anne membalas senyum mbah Nur sama hangatnya, lalu berjalan tenang melewati bakul sayuran, menuju tukang bubur yang berada di barisan paling pinggir. Namun langkahnya terhenti saat seseorang nyeletuk dari arah belakang.

“Anak gundik ….”

Bersambung

1
Muhammad Arifin
embo komen OPO
❤️❤️❤️❤️❤️
Anna: Kakak hadir saja author sudah senang, terima kasih, kakak. 🫶
total 1 replies
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
sabarr yaa hanss
ada saat nya Anne jatuh cinta pada mu
Anna: "Kapan?" tanya Hans.
total 1 replies
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
Mbak Wulan
ada info apa
Anna: Sotonya sudah mateng.
total 1 replies
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
pantesan tak tengok blm ada up
nayla tsaqif
Visualnya gk ada kah,, thorr,,?? 🤭
Anna: Sedang di persiapkan, untuk Anne sama yang ada di cover. 🙏
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
Kuhadiahi secangkir kopi unt pakde broto dkk biar kuat melek mengawasi cecunguk yg mau menebar pesrisida disawah
Anna: Di sampaikan matur nembah nuwun dari Pakde Broto and the gengsssss 🫶
total 1 replies
rama Rasyidin
sehat sehat Ndoro
Anna: Sendiko dawuh, Gusti. 🙏
total 1 replies
Lylia Yuu
udah bangkotan bjirrrr masih aja 😭
Anna: Nafsu bagai kuda 🫢
total 1 replies
𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
argono anake sopo jane
saudara tiri anne duduu ?
𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully: iyyuuhh , gimna itu sii kecebong meluncurr 🤣🤣🤣
total 2 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
walahhhh , .....
di gelitik pakee jariii too,
🤣🤣
Anna: Pucek kalo kata anak sekarang. 🫢
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
itu ulahmu sendiri man, manukk di umbar sembarangan..
Anna: Di umbar banget nggak tuh 🤣
total 1 replies
Muhammad Arifin
kok gak kapok Kasman iku 😒😒
Anna: kapok lombok kalo kata orang Jawa 🤣
total 1 replies
Lylia Yuu
anak e amina 😭😭
Aisyah Suyuti
good
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
teman tapi menusuk di belakang
apa ngga muall kamu maria
harus akting bermanis2 di depan anne
Anna: real bangetttt, ntar suatu saat tk masukin ke sebuah judul naskah 😆
total 3 replies
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
cangkem mu Maria
wis eruh kedok asli mu topeng mu wujud Rahwana
☠ SULLY𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅: 🤭 jiian
total 2 replies
Muhammad Arifin
kangenmu ngapusi 😒😒😒
Anna: hanya di bibir saja 🫢
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
hansss ohh hanss
licik juga kau
apa iyaa anne bakal tunduk padamu
jgn2 malah kena seruduk
Anna: Apapun cara akan ditempuh demi sang jelita ... eyaaaaa 🤣
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
siapa yg dendam ke maria
makin ruwett
siap mobat mabitt Maria
Anna: Tebak. 🫢
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
itu pasti pakdhe broto
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!