NovelToon NovelToon
Kau Menolakku, CEO Itu Memilihku

Kau Menolakku, CEO Itu Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: masadepan_

Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.

Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.

Awalnya hanya kontrak.

Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu di cafe Seroja

Matahari bersinar terang dengan cahaya yang menerobos masuk ke dalam kamar lewat jendela kaca yang tirainya sudah terbuka sejak pagi. Suara ketukan pintu terdengar untuk yang kesekian kali. Aurelia berhasil membuka matanya perlahan, mengedipkan matanya berulangkali untuk menetralkan pencahayaan yang masuk kedalam retina mata.

Tak lama pintu terbuka lebar. Tyana sudah berdiri di ambang pintu dengan raut datar seperti biasa. Wanita itu melihat Aurelia yag masih memeluk bantal guling, selimut tebal masih membungkus tubuhnya.

"Selamat pagi, nona Aurelia." Senyum Tyana terlihat dipaksaka sembari tangannya bergerak menutup pintu dan mulai melangkahkan kaki. Ia berjalan ke arah jendela lalu membukanya hingga udara siang ini terasa disela dinginnya tubuh Aurelia.

Tyana menatap Aurelia.

"Anda bangun terlalu siang, nona. Beberapa proposal sudah menunggu anda meminta untuk dikerjakan." Ia berjalan kearah lemari pakaian dan mulai memilih baju yang akan Aurelia kenakan.

Aurelia masih merebahkan tubuhnya di atas kasur. Bibirnya melengkungkan senyum simpul lalu mendudukkan tubuhnya yang terasa sedikit kurang enak badan. Jari-jari tangannya ia gertakkan hingga menimbulkan bunyi patahan tulang, lalu mengambil air putih di atas nakas dan meminumnya.

Ia menaruh kembali gelas itu secara perlahan.

"Aku tidur terlalu malam, Tya. Aku juga merasa kurang enak badan."

Tyana yang mendengar keluhan Aurelia hanya bisa menghela napas. Ia sudah menduganya. Semalam, ia melihat sendiri Aurelia yang pulang dalam keadaan basah kuyup karena hujan. Saat itu ia sudah mengomel panjang lebar. Dan benar saja, pagi ini Aurelia jatuh sakit. Wanita itu memang sangat sensitif jika terkena air hujan.

"Apa saya perlu panggilkan dokter?" Tanya Tyana sembari meletakkan pakaian yang sudah ia pilih di atas kasur.

Aurelia menggeleng pelan. Ia meraih ponselnya di atas nakas, lalu melihat beberapa pesan masuk sejak semalam.

"Tidak usah. Ini hanya sakit biasa."

Setelah mengetikan satu pesan singkat, Aurelia kembali meletakkan ponselnya. Tatapannya beralih pada Tyana.

"Jadwalku hari ini bagaimana?"

"Hanya satu pertemuan, selebihnya tidak ada, nona. Beberapa proposal bisa dikerjakan kalau anda sudah merasa sehat."

Aurelia baru mengingat satu hal, ia akan mengadakan pertemuan di sebuah cafe. Seraya berpikir, ia menggelung rambutnya asal, lalu menyibakan selimut dan beranjak dari kasur untuk pergi ke kamar mandi. Matanya dengan sengaja melihat pakaian yang sudah disiapkan Tyana.

"Aku akan ke kantor kalau ada waktu." Ia beralih menatap Tyana.

"Siapkan dress santai saja. Jangan terlalu formal." Ucap Aurelia dengan santai sambil berdiri di depan cermin. Ia menatap pantulan dirinya dan tersenyum getir dan melihat matanya yang sedikit sembab, bibirnya juga terlihat pucat.

Tyana yang masih berdiri hanya menatapnya datar dan dengan cepat menganggukan kepala. "Baik, nona." Jawaban itu terdengar sopan. Setelah itu.... Tyana kembali mengambil pakaian tersebut, memasukkannya kedalam lemari, dan memilih dress sesuai permintaan Aurelia.

"Tunggu aku dibawah, Tya."

Tyana menggangguk kecil.

"Baik."

Setelah memastikan Tyana keluar. Aurelia mengalihkan pandangannya dari cermin dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum beraktivitas siang ini.

Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Aurelia keluar dari kamar dengan dress berwarna krem yang jatuh anggun hingga selutut. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai rapi. Meski wajahnya masih terlihat sedikit pucat, wanita itu tetap berusaha menampilkan senyum tipis.

Kakinya bergerak perlahan menuruni setiap anak tangga. Suara ketukan heels menggema dalam mansion dengan bangunan megah ini. Pantulan tubuh Aurelia terlihat samar dilantai yang terbuat dari marmer.

Di anak tangga terakhir, matanya menangkap sosok Giovani yang sedang duduk membaca koran di sofa. Pria itu nampak fokus membaca deretan paragraf yang menampilkan sebuah informasi, hingga matanya teralihkan ketika Aurelia melanjutkan langkah.

Aurelia berusaha menunjukkan senyuman terbaik seraya berjalan. Ia menghentikan langkahnya di hadapan Giovani dengan jarak lebih dari dua meter.

"Siang, Pa."

Giovani menatap Aurelia dengan tangan yang masih memegang koran. "Apa tidak ada pekerjaan di kantor?" Pertanyaan itu keluar darinya dengan nada datar. Pria yang sudah cukup umur itu meletakkan korannya di atas meja.

Aurelia menggeleng pelan. "Tidak banyak, Pa. Tidak ada jadwal penting hari ini jadi aku mau pergi keluar sebentar." Timpal Aurelia dengan senyum yang masih mengembang dengan kedua tangan yang menenteng tas yang berwarna senada dengan pakaian yang ia kenakan siang ini.

Giovani melepas kaca mata yang bertengger di hidung, ia meraih secangkir kopi dan meneguknya perlahan. Suara tegukan itu terdengar mendominasi di antara keheningan ruangan ini.

"Papa tunggu kamu nanti malam di ruang kerja." Giovani kembali meletakkan kembali cangkir kopi itu dengan hati-hati.

Aurelia tidak langsung menjawab, Jemarinya bergerak menyelipkan helaian rambut ke belakang telinga, seolah sedang mencari kata-kata yang tepat.

"Baik, pa." Jawaban itu terdengar terlalu formal, seperti seseorang yang berbicara kepada atasannya. Ekspresi yang ditunjukkan Aurelia juga terlalu di buat-buat termasuk senyumannya. Karena senyuman yang tulus akan hadir sendiri tanpa berpikir terlebih dahulu.

Setelah tidak ada hal yang Giovani sampaikan, Aurelia pamit undur diri dan melangkah perlahan meninggalkan rumah. Tyana sedari tadi menunggu Aurelia di bawah tangga, ia berdiri dibelakang Aurelia dan menyaksikan interaksi mereka. Wanita itu berjalan sesaat setelah Aurelia melangkahkan kakinya dari ruangan.

Tyana membungkuk hormat sebelum melewati Giovani. Ia mulai melangkahkan kakinya keluar dari mansion mengikuti langkah Aurelia yang terlihat tenang. Tangannya memeluk iPad yang selalu menemaninya setiap saat, tak lupa juga kacamata yang selalu ia kenakan.

Tyana selalu memakai kacamata setiap waktu, bukan karena pengelihatan Tyana yang terganggu, melainkan karena kacamata itu sudah di desain khusus untuk mengamati sesuatu.

Langkah kakinya semakin cepat setelah melihat Aurelia yang hampir sampai ke mobil. Ia buru-buru mendahului Aurelia dan membukakan pintu mobil dengan senyum amatir, ya.... Seorang Tyana tidak pernah terlihat benar-benar tersenyum manis.

Kedua alis Aurelia terangkat, sudut bibirnya membuat lengkungan kecil, menundukkan tubuh dan segera masuk ke dalam. Setelah pintu ditutup, Aurelia mengambil ponsel sebelum ia meletakkan tasnya di kursi sebelah yang kosong. Leon sudah duduk sedari di depan kursi pengemudi, Tyana baru masuk dan mendudukkan dirinya di sebelah Leon.

Leon mulai menyalakan mesin mobil hingga suaranya terdengar dan menciptakan getaran halus di mobil yang mulai meninggalkan halaman rumah. Beberapa penjaga yang menjaga gerbang menunduk hormat, Leon menurunkan kaca mobil dan membalasnya dengan senyum ramah.

Aurelia sedari tadi sangat fokus dengan ponselnya, jemarinya sibuk mengetikkan sesuatu di layar dengan raut yang terlihat serius dan beberapa kali menciptakan senyum tipis yang sulit di artikan.

"Pertemuan di cafe Seroja, nona?" Tyana bertanya, matanya menatap sekilas pantulan wajah Aurelia di kaca spion.

Aurelia menghentikan jemarinya yang terus bergerak di layar ponsel dan menatap Tyana. "Iya, aku ada urusan dengan seseorang." Aurelia menjawab seadanya dengan mata yang kembali fokus memainkan benda pipih di tangan.

Tyana menatap kembali pantulan wajah Aurelia sekilas. Ia melihat atasannya yang sangat fokus, otaknya kembali memikirkan beberapa pertanyaan yang tiba-tiba saja muncul karena Aurelia tidak pernah benar-benar fokus memainkan ponsel jika tidak ada sesuatu yang benar-benar penting.

Mobil melesat halus tanpa ada hambatan, Leon juga memutar musik kesukaan Aurelia yang bergenre Jazz lembut. Tapi sepertinya, untuk pertama kali musik kesukaan Aurelia tidak membuatnya bergeming sama sekali.

Suara kendaraan saling bersahutan di jalanan yang lebar ini. Ada beberapa kendaraan yang saling mendahului, dan ada juga di antara mereka yang justru memilih menikmati perjalanan dengan memperlambat laju kendaraan.

Aurelia sudah selesai mengetikkan pesan yang akan membawa perubahan besar dalam hidupnya. Ia menghembuskan napas panjang lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas. Wanita itu menyenderkan tubuhnya di kursi, bibirnya tersenyum lebar, ia baru menyadari alunan musik kesukaannya berputar sejak tadi.

"Tyana." Ia memanggil dengan suara lembut.

"Iya, nona?" Tyana sedari tadi memandang keluar kaca dan memperhatikan setiap jalanan yang mereka lewati.

"Kamu dan Leon menunggu di luar saja. Aku akan masuk sendiri tanpa ingin diganggu."

Tyana mengangguk meskipun ragu. Ia tidak tahu orang yang akan Aurelia temui. Yang jelas, bukan seorang klien. Tapi Tyana masih ingat batasan dan tetap mematuhi perintah atasannya tanpa bertanya lebih jauh, hanya saja... Ia akan tetap waspada dan mengawasi Aurelia dari luar.

Suara dering ponsel terdengar dari dalam tas Aurelia. Wanita itu mengambil kembali ponselnya dan melihat nama seseorang di layar. Ibu jarinya menyentuh layar dan menerima panggilan lalu ia tempelkan benda pipih itu ke telinga.

"......."

"Aku akan segera sampai sebentar lagi."

"Tunggu."

"Lagi pula pertemuan ini bisa menentukan alur hidupku kedepannya."

Setelah beberapa saat mengatakan kalimat itu, mobil sudah berhenti di parkiran sebuah cafe. Aurelia menatap keluar kaca, lalu mematikan sambungan telepon sepihak. Tak lama Tyana membuka pintu mobil dan mengulurkan tangannya, Aurelia menggenggam tangan Tyana dan keluar dari mobil. Kakinya mulai melangkah sesaat setelah ia memperingatkan Tyana agar tidak masuk ke dalam.

Suara lonceng khas terdengar berbunyi sebagai sambutan untuk pengunjung yang baru memasuki cafe. Aurelia menenteng tas dengan mata yang beredar mencari keberadaan seseorang.

Matanya berhenti setelah menangkap sosok wanita yang sedang melambaikan tangannya dengan raut girang. Aurelia menghela napas sebentar, ia menyipitkan matanya mengamati punggung seorang pria yang duduk membelakanginya.

Punggung itu terlihat tidaklah asing di matanya.

Haiiii haiiii selamat datang di akun masadepan_

Selamat membaca, seeyouu😚

1
Lalapouu
dmi apaa makin seru
Lalapouu
siapa?
Lalapouu
betull ituuu
Muhtarom Ardianto
semangat
Muhtarom Ardianto
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!