VOLUME 1 : KUTUKAN DEVIAN (SUDAH TERBIT!)
Billie, gadis 17 tahun cucu dari seorang detektif terkenal, nekat menyamar menjadi murid laki-laki di sekolah asrama khusus pria. Dia mengemban misi untuk memecahkan kasus bunuh diri beruntun yang menggemparkan disana.
Desas-desus yang ada mengatakan bahwa semua kejadian ini adalah kutukan Devian, seorang murid yang pertama kali memulai percobaan bunuh diri. Dengan ditemani Ken, Detektif yang sedikit mesum, di sekolah barunya ini Billie menemukan banyak hal mencurigakan dan juga mendebarkan. Dari mulai teman sekamarnya yang bernama Ice; senior misterius yang dikenal sebagai Pangeran Es karena sikap dinginnya, Joshua; senior playboy yang blak-blakan mengaku gay dan jatuh cinta pada Billie di pandangan pertama, dan terakhir Godfrey; senior sok berkuasa yang disegani semua murid.
Satu hal yang harus Billie pecahkan, apakah semua korban memang benar-benar bunuh diri atau justru ini adalah sebuah kasus pembunuhan berantai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Robin.Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
File 12 : Dewi Penolong
Di perjalanan pulang menuju asramanya, Billie berlari sekuat tenaga dari kejaran para siswa. Entah kenapa mereks seperti yang berlomba ingin menyiksanya. Bau pekat dari telur busuk air krncing yang menusuk hidung mengikuti Billie sepanjang jalan, membuat dirinya sendiri ingin muntah. Tidak hanya pakaiannya saja yang menjadi korban, tas dan buku-bukunya yang sempat tertinggal di kelas juga jadi menjadi korban.
Sebuah kalimat dan gambar vulgar '***** Lover' tertera di bagian depan tasnya sungguh memalukan. Mimpi apa dirinya semalam? Rasanya Billie ingin menangis saja. Menjadi korban bully tidak pernah terlintas dalam bayangannya saat memutuskan untuk bersekolah di tempat ini.
"Hey, sstt! Anak baru!"
Terdengar suara seseorang memanggil dengan setengah berbisik. Billie menoleh dan mengerjap saat menyadari seorang wanita cantik berusia pertengahan 20-an melambaikan tangan ke arahnya
"Iya kau yang disitu! Cepat kesini!" Ajaknya lagi.
"Siapa dia? Kenapa ada wanita di sekolah ini? Dia tidak punya niat jahat padaku, kan?" Billie yang skeptis jadi menaruh curiga pada semua orang di sekolah ini. Tapi sebelum otaknya memproses apa yang tengah terjadi, wanita itu sudah menariknya masuk ke dalam sebuah ruangan gelap.
...----------------...
Di dalam ruangan Klub Balet
"Hh... Terimakasih sudah menolongku, Kak..." Billie menghela nafas dan tersenyum lega. Dia jadi merasa bersalah karena sudah mencurigai wanita ini. Hatinya bersyukur ternyata di sekolah ini masih ada juga yang berbaik hati mau menolongnya.
"Tidak masalah! Namaku Caroline, kau ini Billie kan?"
"I-iya!"
Billie mengangguk dan tersenyum saat wanita itu memperkenalkan diri. Billie sadar dirinya saat ini memang terkenal seantero sekolah gara-gara gosip hubungan gay-nya dengan Joshua, maka tak heran jika wanita ini pun mengetahuinya.
Meskipun hubungan itu juga bagi Billie hanya sebatas 'misi', tetap saja rumor ini sangat mengganggu. Lagipula Billie pikir hubungan yang diawali kebohongan itu tidak akan berlanjut. Joshua memang tampan dan seksi tapi hingga detik ini Billie tidak memiliki perasaan spesial pada lelaki itu selain keinginan untuk berteman.
Billie hanya tidak menyangka keputusannya untuk berkencan sekali dengan Joshua akan berakhir seperti ini. Dia juga heran kenapa masalah ini dibesar-besarkan? Kenapa juga dia yang ditargetkan? Padahal di sekolah juga masih banyak murid lelaki pesolek dan gemulai dibanding dirinya yang sebenarnya asli perempuan. Dan satu pertanyaan lagi siapa orang yang pertama kali menyebarkan? Saking kerasnya Billie berpikir, dahinya mengkerut hingga ekspresinya seperti orang yang sedang menahan sakit kepala.
"Hei... Kau tidak apa-apa, sayang? Apa kau terluka?" Tanya Caroline, dia menatap Billie khawatir.
"Tidak... tidak kenapa-napa, Kak!" Cengir Billie sambil menggelengkan kepalanya.
"Ngomong-ngomong Kenapa Kakak ada disini? Ini kan sekolah khusus laki-laki?" Tanya Billie berbasa-basi.
"Oh, itu... Aku kan juga salah satu pengajar di sekolah ini!"
"Bu- BU GURU?!" Billie membelalakkan matanya tak percaya. Dia pikir guru wanita di sekolah ini hanya mendiang Bu Mila, salah satu korban bunuh diri yang menggemparkan sekolah ini. Ternyata dirinya salah, ada guru wanita yang jauh lebih cantik dari Bu Mila.
"Oh, kalau begitu... ehehe maafkan ketidaksopananku!" Cengir Billie yang jadi salah tingkah.
Wanita di hadapannya ini terlalu cantik dan juga terlalu ramah. Jika Mila adalah seorang ladyboy, maka wanita di depannya ini Billie yakin adalah perempuan tulen. Selain wajah yang cantik, suaranya juga lembut, tidak ada jakun. Kulitnya sedikit kecoklatan dan mulus, rambutnya hitam panjang dan bergelombang. Postur tubuhnya yang memakai setelan jas dan rok mini berlekuk seperti gitar spanyol, ditambah lagi dengan payudara yang terlihat besar dan kencang. Sebagai sesama perempuan terus terang Billie jadi merasa minder.
"Tidak apa-apa Billie! Uuuh, kau ini manis sekali! Menggemaskaan!" Pekik Caroline sambil mencubit kedua pipi Billie saking gemasnya.
"AAARGHH! LEPASSS! AMPUN BU GURUUU!" Teriak Billie kesakitan.
"Ohoho maaf, maaf aku tak bisa menahan diri, tapi ngomong-ngomong kau ini bau!" Komentar Caroline sesaat saat melepaskan cubitannya. Dia memencet hidungnya dan menunjukkan ekspresi menahan muntah.
"Bajumu basah dan kotor, Billie. Sebaiknya kau mandi dulu dan cepat ganti!" Sarannya kemudian sambil mendorong atau tepatnya memaksa Billie masuk ke satu ruangan ganti. Ruangan ganti khusus siswa klub tari ini memang dilengkapi toilet dan kamar mandi.
"Ta-tapi Bu, aku tidak punya baju ganti!" Tolak Billie yang masih ragu.
"Tenang saja! Serahkan semuanya padaku padaku!" Caroline mengedipkan matanya dan tersenyum meyakinkan.
...----------------...
Namun ternyata dibalik senyuman cantik itu ada sebuah perangkap. Beberapa menit kemudian Billie selesai membersihkan diri dengan mandi, kini dia tertegun menatap dirinya di depan cermin.
"APA!?! I-ini kan?!" Semilir angin terasa melewati kedua kaki Billie. Setelah sekian lama selalu memakai celana, memakai rok dan baju perempuan lagi rasanya jadi aneh.
"YAAH! Bu Caroline! Kau ini sebenarnya dewi penolongku apa tukang bully juga sih? Apa kau sengaja ingin mempermalukanku, huh?" Tuduh Billie, emosi membuatnya lupa akan formalitas dan sopan santun.
Di depan cermin dia melihat dirinya mengenakan salah satu kostum tarian ballet. Kostum berwarna hitam dengan rok tutu yang menghiasi pinggang ramping Billie membuatnya terlihat sangat feminin.
"Sialan! Yang benar saja. Ini namanya bunuh diri, jika begini penyamaranku bisa terbongkar!" Gerutu Billie dalam hati. Beruntung kostum ini agak sedikit tertutup, jika kostumnya terbuka terutama di area dada Billie tak tahu lagi harus bagaimana menyembunyikan identitasnya.
"Loh! Kenapa? Tidak ada masalah kan dengan kostum ini? Daripada kau telanjang lalu masuk angin dan kena hipotermia!" Jawab Caroline dengan senyuman lebarnya.
"Ta-tapi kenapa harus kostum Balerina?!" Protes Billie tak terima.
"Habis bagaimana lagi, yang tersedia di lemari hanya kostum ini. Asal kau tahu saja jarang sekali orang yang mau bergabung atau datang ke klub ini. Mereka pikir berlatih balet tidak berguna, padahal tari balet itu sangat bermanfaat! Tidak hanya untuk melatih kelenturan dan menjaga postur tubuh yang baik tapi juga bisa membantu melatihmu berakting! Kau tahu? Akting itu tidak hanya sebatas mimik muka saja tapi gerakan tubuh juga ikut berbicara. Karena itu bagaimana kalau kau bergabung dengan klub ini?! Apa kau mau, hmm?" Uraian panjang Caroline malah diakhiri dengan ajakan untuk bergabung di klub.
"Eh, hehe... bagaimana ya? A-aku tak punya bakat menari!" Cengir Billie, berusaha menolak dengan cara halus.
"Yaah, sayang sekali! Padahal pemuda manis seperti mu cocok untuk memerankan karakter utama wanita seperti Black Swan! Benar kan Ice?"
Komentar Caroline kecewa sebelum tiba-tiba dia berseru pada seseorang. Mendengar nama itu disebut Billie sontak kaget, wajahnya memucat dan matanya terbelalak lebar seperti baru melihat hantu.
"APA?? ICE?!! KAU!!! SEJAK KAPAN KAU ADA DISINI?!" Tunjuk Billie pada pria berambut panjang acak-acakkan yang tiba-tiba saja muncul dari deretan kursi.
"Dia sudah ada sebelum kau datang, sayang... saking sepinya klub ini malah jadi tempat khususnya untuk tidur siang." Jelas wanita itu lagi.
"Carol, apa yang sedang kau lakukan padanya?" Tanya Ice pada Carolline. Caranya memanggil guru wanita itu terdengar tak sopan tapi anehnya Caroline seperti yang tak keberatan. Situasi ini membuat Billie curiga ada hubungan apa diantara mereka.
"Kau lihat sendiri Ice! Tanpa make up dan wig saja dia sudah cantik, dia mengingatkan ku pada Devian! Tapi dia menurutku lebih cantik dan natural daripada Devian! Benar kan?" Ucap Caroline lagi. Pujian Caroline padanya tak membuat Billie bangga, tentu saja dia memang terlihat lebih natural untuk menjadi karakter perempuan karena dia memang perempuan.
Ice yang diajak bicara hanya terdiam, dia tak bereaksi tapi tatapan tajamnya mengarah pada Billie. Tatapan matanya itu membuat Billie merasa pemuda itu seolah sedang menelanjangi dirinya.
"Sial! Jangan menatapku seperti itu!" Geram Billie dalam hati. Wajahnya memerah seperti tomat rebus dan entah kenapa perasaannya dag dig dug tak karuan. Dia menyilangkan kedua lengannya di dada. Sisi femininnya tanpa sadar keluar begitu saja.
"WOYY!!! DIA SEMBUNYI DISINI!!!" Suara teriakan yang bersahutan membuat jantung Bille serasa copot.
"Ah! Gawat mereka datang lagi! Ayo cepat kau sembunyi! Billie!" Cetus Caroline yang ikutan panik.
Saat otak Billie berusaha keras memproses apa yang terjadi, tanpa diduga Ice menarik lengan Billie dan membawanya pergi.
"Ayo ikut aku!" Ucap Ice singkat dan Billie tak sempat bereaksi saat tangan pemuda itu sudah menariknya dan menyeretnya pergi.
"HEI, KALIAN! Apa yang kalian lakukan di sini? Apa kalian mau bergabung menjadi anggota klub balet?"
Dari kejauhan yang Billie dengar Caroline malah memanfaatkan situasi untuk mempromosikan klub yang dipimpinnya. Billie yang panik masih tak paham dengan situasi ini, tapi pada akhirnya dirinya hanya pasrah membiarkan Ice menuntun langkahnya untuk kabur dari tempat ini.
TBC
(AN : Visual Karakter Caroline, diperankan oleh @potter_natt)
karyamu bagus sekali, sangat epic...
ku tunggu lanjutannya yahh