NovelToon NovelToon
Gen Z Emperor

Gen Z Emperor

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:57
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

maizy melihat berita tentang sepasang tulang dengan cincin pernikahan yang saling menggenggam romantis, menandakan cinta mereka tidak akan pernah tergerus oleh peradaban. Di bawah reruntuhan istana yang baru saja di temukan arkeolog Jerman, membuatnya penasaran namun harus menutup rasa ingin tahu nya di sekolah

pada perjalanan dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang anak laki laki yang sangat ia kenali, seseorang yang selalu menghujami nya dengan perkataan dan perundungan. Di sana Paul berdiri dengan angkuh di saat maizy dengan tertatih memungut buku nya..

perdebatan mereka masih berlanjut, sampai kedua nya muak dan memutuskan untuk beradu mulut dan malah membawa petaka. Kedua nya terjatuh dari tangga lantai 3

saat maizy terbangun, apa lah daya nya. dia terbangun di tengah tengah hutan hujan Jerman kuno, di keliling kuil kerajaan yang tidak asing, namun baru pertama kali ia datangi.

ternyata maizy terlempar ke masa lalu dan harus menduduki tahta ratu

apa yang akan dia lakuka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

Di tengah tawa puas dan bayangan pelayan istana yang akan membawakannya makanan-makanan mewah, senyum Maizy mendadak surut. Sifat ENFJ-nya yang mendadak melankolis menariknya kembali ke realitas yang menghantam dada.

Nama belakang Falkenhayn. Nama kerajaan Winterhall.

"Paman Michael..." bisik Maizy pelan, menatap kosong ke langit-langit kanopi ranjangnya yang megah.

Rasa hangat dan empuknya kasur beludru istana ini mendadak terasa hambar. Maizy teringat pada Paman Michael—paman satu-satunya di tahun 2026 yang merawatnya dengan peluh dan kerja keras sebagai masinis kereta cepat. Pria paruh baya yang selalu mengenakan jaket jins usang, yang sering memarahinya kalau dia lupa makan saat belajar, tapi selalu menjadi orang pertama yang bangga saat nilai sejarah Maizy mendapat nilai A sempurna.

Kalau di sini ada kakek versi kaisar... Paman Michael di mana? batin Maizy, dadanya mendadak terasa sesak dan berat. Apa di dunia 2026 sana, Paman Michael lagi nangis histeris di koridor rumah sakit sambil melukin tubuh gue yang bersimbah darah karena jatuh dari tangga museum?

Setetes air mata frustrasi akhirnya lolos dari sudut mata Maizy, membasahi bantal sutra putihnya. Keinginan untuk bersenang-senang dan memanfaatkan situasi mendadak terguncang oleh rasa rindu yang luar biasa pada rumahnya yang sederhana di Berlin modern. Hubungan emosionalnya dengan Paman Michael terlalu kuat untuk diabaikan begitu saja dalam sebuah "sandiwara sebelum mati" ini.

Maizy meringkuk, memeluk lututnya yang diperban di atas ranjang mewah yang terasa terasing. Dia harus mencari tahu. Jika semua orang di istana ini adalah manifestasi dari orang-orang di kehidupannya, maka sosok Michael Falkenhayn versi abad ke-19 pasti ada di suatu tempat di kerajaan Winterhall ini. Dan Maizy bersumpah, dia harus menemukannya.

Maizy bangkit dari posisi meringkuknya, menghapus sisa air mata di pipinya dengan kasar. Otak cerdasnya langsung bekerja taktis. Sifat ENFJ-nya yang penuh tekad menolak untuk pasrah begitu saja.

Hutan terlarang itu... pikir Maizy, matanya berkilat di balik lensa kacamata. Gue pingsan dan tiba-tiba bangun di sana dalam kondisi 'transmigrasi' ini. Kalau itu adalah titik awal gue terlempar ke Kekaisaran Winterhall kuno, artinya hutan itu adalah portalnya! Kalau gue bisa balik ke sana sekali lagi dan melompat di tempat yang sama, apa gue bisa bangun lagi di tahun 2026 dan ketemu Paman Michael?

Harapan itu membuat jantung Maizy berdegup kencang. Persetan dengan rencana bersenang-senang menjadi nona muda bangsawan; pulang ke pelukan Paman Michael jauh lebih penting daripada kasur beludru merah ini.

Namun, Maizy segera membentur dinding realitas yang sangat menyebalkan.

Sial, masalahnya gue gak boleh keluar dari kamar ini! Maizy mendengus frustrasi, melirik ke arah pintu ganda kamarnya.

Di luar sana, bukan cuma ada Frederick yang super protektif, tapi ada Cade Reinart —komandan kaku, egois, dan bermata elang yang sudah diberi perintah langsung oleh kakeknya (Kaisar Harleyton) untuk menjaga Maizy ketat-ketat. Cade pasti tidak akan segan-segan menyeret atau bahkan membekap mulut Maizy lagi kalau dia ketahuan menapakkan kaki satu senti saja di luar paviliun barat, apalagi mencoba kabur ke hutan terlarang untuk kedua kalinya.

Maizy mulai berjalan mondar-mandir di atas karpet bulu kamarnya, memikirkan strategi. Cade itu tipe yang rasional, kaku, tapi sangat waspada. Kalau gue kabur lewat pintu depan, itu namanya bunuh diri. Maizy kemudian melangkah pelan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke taman istana. Jendelanya berjeruji besi estetis khas abad ke-19, tapi jika dia bisa menemukan cara untuk membukanya, taman di bawah sana langsung terhubung dengan jalur belakang istana yang mengarah ke luar tembok kota—menuju hutan terlarang.

Gue harus main cantik, batin Maizy, senyum licik mulai terukir di wajah kalemnya. Gue harus manfaatin sifat Frederick yang gak tegaan sama gue, dan cari celah kelengahan si Cade yang sok pintar itu. Begitu mereka lengah, gue bakal lari ke hutan itu dan buktiin apakah portal 2026 itu beneran ada!

Maizy menjentikkan jarinya di depan jendela. Sebuah ide brilian muncul di otaknya yang encer. Sifat ENFJ-nya yang pandai merangkai kata langsung menyusun sebuah skenario drama yang dijamin akan menyentuh sisi kemanusiaan Frederick, sekaligus memberikan alasan logis kenapa dia "ngotot" ingin kembali ke hutan terkutuk itu.

Oke, mari kita mulai sandiwaranya, batin Maizy puas.

Dia sengaja mengacak-acak sedikit rambutnya agar terlihat frustrasi, lalu berjalan mendekati pintu kamar ganda yang kokoh itu. Maizy menarik napas dalam-dalam, memasang ekspresi wajah paling cemas, ketakutan, dan penuh beban moral yang bisa dia tunjukkan.

Tok, tok, tok! Maizy mengetuk pintu dari dalam dengan terburu-buru, sengaja membuat suaranya agak bergetar panik. "Frederick! Frederick, tolong buka pintunya! Aku perlu bicara sekarang!"

Tidak sampai tiga detik, kunci pintu langsung berputar nyaring. Pintu terbuka lebar, menampilkan sosok Frederick Aldrich yang langsung memasang wajah super panik. Manik mata abu-abunyamenatap Maizy dari atas ke bawah dengan cemas, sementara tangan kekarnya yang memegang pundak Maizy dengan sangat lembut.

"Maizy?! Ada apa? Apa kepalamu sakit lagi? Atau para menteri tadi—"

"Bukan, Frederick! Bukan itu!" potong Maizy cepat. Dia meremas ujung jubah mantel hitam Frederick dengan tangan gemetar (tentu saja ini akting), mendongak menatapnya di balik lensa kacamata dengan mata yang sengaja dibuat berkaca-kaca.

Di belakang Frederick, Cade Reinart tampak berjalan mendekat dengan langkah santai namun angkuh. Sepasang mata cokelat kemerahannya menyipit tajam, menatap Maizy dengan pandangan jengah nan skeptis. "Ada apa lagi, Nona Menjengkelkan? Jangan bilang kau mau mengigau soal abad modern lagi?" sindir Cade ketus.

Maizy mengabaikan sindiran Cade dan memfokuskan seluruh daya pikat aktingnya pada Frederick.

"Frederick, aku baru ingat sesuatu yang sangat penting! Alasan kenapa aku tadi mengamuk dan menolak dibawa pulang dari hutan... itu bukan karena aku gila!" ucap Maizy setengah terisak, merangkai kebohongan dengan begitu fasih. "Saat aku terbangun di hutan tadi, aku tidak sendirian. Ada seorang anak kecil... anak perempuan kecil yang menangis tersesat di tengah semak-semak berduri!"

"Anak kecil?" Frederick mengernyitkan alisnya, tampak terkejut.

"Iya! Dia ketakutan sekali!" Maizy mengangguk heboh dengan banyak tingkah yang terkesan panik natural. "Aku berjanji padanya untuk mencari jalan keluar bersama. Tapi saat aku sedang mencari sumber air, kalian tiba-tiba datang, membekapku, dan menyeretku paksa seperti buronan! Aku panik karena aku terpisah dari anak itu! Dia sendirian di hutan terlarang yang penuh binatang buas, Frederick! Bagaimana kalau dia mati kelaparan atau dimakan serigala karena aku meninggalkannya?!"

Mendengar cerita kemanusiaan yang begitu tragis dari mulut Maizy, hati lembut Frederick seketika mencelos. Jiwa ksatria pria tan skin itu langsung bergejolak hebat, merasa bersalah karena tindakan militernya ternyata secara tidak sengaja telah menelantarkan seorang anak kecil di hutan maut.

"Maizy... benarkah itu?" bisik Frederick, matanya yang abu-abu memancarkan rasa iba dan penyesalan yang mendalam.

"Benar! Aku harus ke sana lagi, Frederick! Aku mau nyamperin anak itu lagi sekarang! Tolong biarkan aku pergi ke hutan itu sebentar saja!" mohon Maizy dengan nada manja dan putus asa yang campur aduk, dalam hati dia sudah bersorak menang melihat Frederick yang mulai goyah.

Namun, sebelum Frederick sempat mengiyakan, sebuah kekehan dingin dan sinis terdengar dari arah belakang.

Cade Reinart melangkah maju, bersedekap dada sambil bersandar di kosen pintu dengan senyum miring yang sangat menyebalkan. Mata amber-red -nya menatap Maizy dengan pandangan penuh selidik, sama sekali tidak termakan oleh air mata buatan sang putri.

"Cerita yang sangat menyentuh, Nona Muda," sindir Cade, suaranya terdengar kaku dan luar biasa menyebalkan di telinga Maizy. "Tapi pasukanku sudah menyisir radius dua kilometer dari tempatmu ditemukan, dan tidak ada tanda-tanda keberadaan manusia lain, apalagi anak kecil. Jadi, simpan air matamu. Kau tetap tidak akan melangkah keluar dari paviliun ini satu senti pun."

Sialan si mata elang ini! Susah banget ditipu! jerit Maizy frustrasi dalam hati, sementara Frederick tampak beralih menatap Cade dengan pandangan menentang yang sengaja memicu ketegangan baru di antara kedua komandan tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!