Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.
Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.
Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Tangan Hani bergetar hebat. Buku harian bersampul merah muda yang usang itu seolah menjelma menjadi bara api yang siap menghanguskan seluruh ketenangan yang telah ia bangun selama delapan tahun terakhir. Gembok kecilnya yang telah rusak, yang dulu ia kunci dengan rapat, kini tergeletak tak berdaya di sudut kotak beludru.
Memori kelam itu berputar kembali di benaknya seperti film dokumenter yang mengerikan.
Delapan tahun lalu, di satu siang yang terik di SMA Wijaya Kusuma, Hani kehilangan buku harian ini. Kehilangan yang menjadi awal dari neraka dunianya.
Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan remaja biasa. Di dalam lembar demi lembar kertas yang kini mulai menguning itulah, Hani menumpahkan seluruh dunianya, termasuk rahasia paling tabu yang ia pendam sendiri yaitu ia menyukai Reza Baskara.
Dulu, sebelum menjelma menjadi monster yang merundungnya, Reza adalah cinta pertama Hani. Reza yang aktif bermain basket, Reza dengan senyum jahilnya yang menawan, dan Reza yang pernah memayunginya sekali saat hujan deras di halte sekolah. Hani yang naif saat itu menuliskan setiap debaran jantungnya untuk Reza di buku tersebut.
Namun, bencana terjadi ketika buku itu jatuh ke tangan Reza dan gengnya. Bukannya tersentuh, Reza yang saat itu penuh gengsi dan arogan justru merasa terhina karena disukai oleh gadis "si buruk rupa" seperti Hani.
Sejak hari itu, isi buku harian Hani disebarkan. Rahasianya dijadikan lelucon di mading sekolah, dan setiap hari Hani harus menahan air mata saat Reza memanggilnya dengan sebutan "pemuja rahasia yang tidak tahu diri". Dari sanalah, awal mula hari-hari Hani dipenuhi dengan cemoohan dan rundungan yang tiada henti.
Cklek.
Suara pintu kaca yang terbuka sempurna membuyarkan lamunan Hani. Reza berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja putih dengan dasi hitam yang sedikit dilonggarkan. Tatapan matanya yang tajam kini melunak, menatap Hani dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada binar penuh harap di sana.
"Kamu sudah membukanya?" suara Reza memecah keheningan, terdengar sangat berhati-hati.
Hani langsung menutup kotak beludru itu dengan kasar. Ia berdiri, menatap Reza dengan sepasang mata yang menyala karena amarah dan luka lama yang kembali menganga. "Apa maksud semua ini, Pak Reza?" tanyanya, menekankan kata 'Pak' dengan nada sedingin es.
Reza melangkah mendekat, namun berhenti tepat tiga langkah di depan meja Hani, seolah tahu bahwa mendekat lebih jauh akan membuat Hani semakin menjauh.
"Aku hanya ingin mengembalikannya, Hani. Delapan tahun lalu, setelah kamu pindah sekolah, aku menemukan buku ini tertinggal di kolong mejamu. Aku... aku menyimpannya. Aku tidak pernah membuangnya karena aku tahu ini milikmu yang paling berharga."
"Berharga?" Hani tertawa sinis, sebuah tawa kering yang terdengar menyakitkan. "Buku ini adalah sumber dari segala penderitaan saya di SMA, Pak Reza. Gara-gara buku ini, Anda dan teman-teman Anda memperlakukan saya seperti sampah! Dan sekarang Anda mengembalikannya seolah-olah ini adalah barang kenangan yang manis?"
Reza tertunduk. Setiap kata yang keluar dari bibir Hani terasa seperti hantaman godam di dadanya. "Aku tahu aku salah, Hani. Saat itu aku bodoh, aku egois, dan aku terlalu mementingkan gengsi di depan teman-teman gengku. Aku tidak tahu bagaimana caranya menghadapi kenyataan bahwa... bahwa gadis setulus kamu menyukaiku. Aku melampiaskannya dengan cara yang sangat salah. Aku benar-benar menyesal."
"Menyesal tidak akan mengubah apa pun," potong Hani tajam, suaranya bergetar menahan tangis yang enggan ia tunjukkan. "Anda tahu apa yang paling menyakitkan dari buku ini? Bukan karena tulisan saya disebar. Tapi fakta bahwa saya pernah sebodoh itu menyukai cowok nakal yang ternyata adalah seorang monster."
Kata 'monster' itu telak menusuk jantung Reza. Pria itu menatap Hani dengan mata yang berkaca-kaca, sesuatu yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di perusahaan ini. "Hani, beri aku kesempatan. Aku mohon. Aku ingin menebus semuanya. Aku ingin kamu tahu bahwa Reza yang sekarang bukan lagi Reza yang dulu."
"Saya di sini untuk bekerja, Pak Reza, bukan untuk bernostalgia atau menerima penebusan dosa Anda," jawab Hani formal, kembali memasang topeng profesionalnya yang dingin. Ia mengambil kotak beludru itu dan memasukkannya ke dalam laci meja kerja, lalu menguncinya rapat-rapat. "Tolong kembali ke ruangan Anda. Saya harus mulai merapikan jadwal Anda hari ini."
Reza menatap Hani lama, menyadari bahwa dinding es yang mengelilingi hati wanita itu jauh lebih tebal dan kokoh dari yang ia bayangkan. Namun, alih-alih menyerah, rasa bersalah dan ketertarikan yang mendalam justru membuat tekad Reza semakin bulat. "Baik. Jika itu maumu, kita lakukan secara profesional. Tapi aku tidak akan berhenti berjuang untuk mendapatkan maafmu, Hani."
Reza berbalik dan melangkah kembali ke ruangannya, menutup pintu kaca itu perlahan.
Sepanjang sisa hari itu, Hani menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan. Tugas-tugas administrasi divisi yang menumpuk ia selesaikan dengan kecepatan dan ketepatan yang luar biasa. Setiap kali Reza memanggilnya ke dalam ruangan untuk meminta dokumen atau menandatangani berkas, Hani selalu merespons dengan sikap yang sangat formal, efisien, dan tanpa ekspresi.
Reza sendiri mencoba berbagai cara halus untuk mencairkan suasana. Ia memesankan kopi saat jam makan siang, yang ia antarkan sendiri ke meja Hani.
Namun, Hani hanya mengucapkan terima kasih dengan datar dan membiarkan kopi itu mendingin tanpa menyentuhnya sama sekali. Saat jam pulang kantor tiba, Reza menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, yang langsung ditolak Hani dengan alasan ia sudah memesan taksi.
Sikap dingin Hani justru membuat Reza semakin penasaran dan terobsesi. Di dalam ruangannya yang sunyi setelah jam kantor usai, Reza duduk di kursi kebesarannya, menatap pintu kaca yang memperlihatkan meja Hani yang sudah kosong.
"Aku akan membuatmu melihatku lagi, Hani. Sama seperti caramu menatapku di halaman-halaman buku itu dulu," bisik Reza pada diri sendiri.
...****************...
Sementara itu, malam harinya di apartemen kecilnya, Hani tidak bisa tidur. Pikirannya terus terganggu oleh keberadaan buku harian di dalam tasnya. Akhirnya, dengan perasaan campur aduk, Hani duduk di tepi tempat tidur dan mengeluarkan buku harian bersampul merah muda itu.
Dengan perlahan, ia membuka halaman demi halaman. Lembar-lembar awal berisi curahan hati khas remaja perempuan tentang tugas sekolah, sahabatnya, dan kekagumannya pada Reza Baskara. Hani tersenyum miris membaca betapa naifnya dirinya dulu.
Namun, saat jemarinya membalik halaman-halaman menjelang akhir buku, gerakan tangan Hani mendadak terhenti.
Ia ingat betul, di halaman-halaman terakhir ini, ia bukan hanya menulis tentang perasaannya. Ada satu hari di mana ia tidak sengaja naik ke rooftop sekolah untuk mencari ketenangan, namun justru menyaksikan sebuah kejadian mengerikan yang dilakukan oleh Reza.
Hari itu, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana beringasnya Reza saat memukuli seorang siswa lain hingga babak belur dan bersimbah darah. Kejadian itu begitu membekas dan membuatnya ketakutan, hingga Hani mencurahkan seluruh kengeriannya di lembar belakang buku ini sebagai rahasia yang ia simpan sendiri.
Hani ingin melihat kembali tulisan itu, memastikan apakah ingatannya tentang sisi kejam Reza masih akurat.
Namun, mata Hani membelalak sempurna saat jemarinya menyentuh bagian tengah buku. Lembaran kertas yang seharusnya memuat cerita tentang kejadian di rooftop itu sudah tidak ada. Kertasnya telah disobek secara paksa, meninggalkan guratan kasar dan sisa potongan kertas kecil di dekat jilid buku.
Napas Hani mendadak memburu. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.
Hani tahu pasti siapa yang melakukan ini. Hanya Reza yang memegang buku ini selama delapan tahun terakhir. Itu artinya, Reza sengaja menyobek halaman tersebut agar Hani tidak bisa mengungkit atau melihat kembali bukti tertulis mengenai aksi brutalnya di masa lalu.
Hani mencengkeram buku harian itu dengan tubuh yang mendadak gemetar hebat karena amarah yang memuncak.
Reza sengaja meloloskanku dan berlagak menjadi orang baik yang penuh penyesalan sekarang, tapi dia menyobek bagian ini? Apa yang sebenarnya dia sembunyikan dari kejadian itu, sampai dia harus melenyapkan halaman ini dariku?