Tiga abad lalu, "The Eclipse Protocol" diaktifkan—sebuah proyek rahasia umat manusia untuk mematikan matahari demi menghentikan perang global. Rencananya berhasil, tapi efek sampingnya jauh lebih mengerikan: dunia jatuh ke dalam kiamat es abadi.
Kini, sisa peradaban manusia hidup di sembilan "Sovereign Spires"—menara kota raksasa yang ditopang energi geotermal dan dikelilingi kubah pelindung. Di luar sana, "The Drowned Lands" menjadi kuburan bagi siapa pun yang berani keluar.
Kian Veyr adalah produk gagal dari sistem ini. Seorang jenius taktis yang dipecat dari pasukan elit karena menolak menjalankan perintah yang akan mengorbankan ribuan warga sipil demi "kebaikan yang lebih besar".
Dia kini hidup sebagai pemulung informasi, menjual data rute aman ke para pedagang gurun hitam. Hingga suatu hari, dia menemukan peta usang yang menunjukkan adanya "Koordinat Kesebelas"—wilayah yang tidak tercatat di peta resmi Dewan Menara.
Peta itu menyebut tempat itu sebagai "Titik Nol",
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kentos46, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
REKONSTRUKSI DATA JIWA
Kegelapan di dalam kepala Kian tidak lagi berisi barisan angka atau proyeksi geometris biru yang biasa menemaninya. Kegelapan itu sunyi, dingin, dan hampa—seperti ruang hampa udara di luar batas atmosfer dunia lama.
Namun, kesunyian itu tidak berlangsung selamanya. Perlahan, sebuah suara ketukan ritmis yang terdengar seperti ketikan kode biner kuno mulai bergema dari kejauhan, memanggil kesadarannya yang telah hancur.
“Memulai pemulihan sektor memori darurat...”
“Menghubungkan arus saraf organik ke inti sirkuit bio-silikon...”
“Sinkronisasi detak jantung buatan: Lima puluh persen... Enam puluh persen...”
GASPPP!
Kian mendadak menarik napas dalam-dalam. Dadanya membusung hebat saat sejenis cairan kental berwarna hijau neon terisap masuk dan keluar dari paru-parunya. Mata kanan organiknya terbuka lebar, langsung disambut oleh pendaran cahaya temaram dari ratusan tabung inkubator kaca raksasa yang berjejer di dalam sebuah ruangan bawah tanah yang sangat luas.
Dia tidak lagi berada di atas tanah pasir hitam Sektor Utara yang membara. Tubuhnya kini mengambang di dalam tabung silinder berisi cairan nutrisi bio-kimia.
Kian menatap lengan kirinya. Kulit yang semula hangus hitam akibat hantaman petir badai di Bab 15 kini telah dilapisi oleh anyaman serat karbon putih dan jalur sirkuit mikro perak yang tertanam rapi di bawah jaringan epidermis barunya. Rasa sakit yang membakar itu telah hilang, digantikan oleh sensasi dingin mekanis yang mati rasa.
Mata mekanis kirinya, The Probability Lens V2.0, berdesis pelan saat sistemnya melakukan reboot otomatis.
«[Sistem Operasi: Dipulihkan oleh Enklave Silikon.]
[Kondisi Tubuh: Jaringan Organik Diperkuat dengan Serat Bio-Sintetis (Status: 92%).]
[Deteksi Energi Baru: Sirkuit Inti Terhubung pada Jaringan Pemancar Suku Kuno.]»
Pssssshhh...
Cairan hijau di dalam tabung perlahan menyusut, mengalir keluar melalui katup bawah. Penutup kaca silinder itu terangkat ke atas, mengembuskan uap dingin yang tebal. Kian melangkah keluar, kakinya yang kini setengah sintetik menapak pada lantai laboratorium yang terbuat dari susunan ubin sirkuit kuno yang hangat.
"Kau bangun lebih cepat tiga jam dari kalkulasiku, Kapten Kian," sebuah suara wanita yang lembut namun bernada datar terdengar dari balik bayangan tabung inkubator di depannya.
Seorang gadis muda dengan pakaian jubah putih panjang berbahan serat optik melangkah maju. Rambutnya berwarna perak berkilau, dan di sepanjang pelipis hingga lehernya, terdapat rajutan tato sirkuit digital yang berdenyut warna biru safir setiap kali dia berbicara. Dia adalah Aria, salah satu Data Weaver (Penenun Data) dari Suku Kuno The Silicon Valley Sages.
"Di mana Viona?" tanya Kian langsung. Suaranya terdengar agak parau, bergema dengan sedikit distorsi sintetik akibat rekonstruksi pada pita suaranya.
"Gadis pembawa sirkuit Sovereign itu aman."
Aria melambaikan tangan kanannya di udara, memicu munculnya layar hologram tiga dimensi yang memperlihatkan Viona sedang tertidur pulas di sebuah ruang perawatan di sisi lain enklave, tas kulitnya masih berada di samping tempat tidurnya.
"Dia kelelahan setelah menyalakan pemancar awal kami, tetapi dia berhasil membawamu kemari sebelum jantung organikmu benar-benar berhenti berdetak."
Kian melirik layar tersebut, lalu beralih menatap tangan kirinya yang kini dipenuhi sirkuit perak.
"Apa yang telah kau lakukan pada tubuhku?"
Aria berjalan mendekati Kian, matanya yang sepenuhnya berwarna biru digital menatap lurus ke arah The Probability Lens V2.0 di mata kiri Kian.
"Kami tidak punya pilihan. Tubuh organikmu sudah hancur 80% akibat memaksakan diri menjadi konduktor petir. Kami terpaksa mengganti sebagian besar jaringan otot dan organ dalammu dengan komponen bio-silikon milik leluhur kami. Sekarang, kau bukan lagi sepenuhnya manusia, Kian. Kau adalah The Living Interface—antarmuka hidup yang bisa menjembatani kode perlawanan Viona dengan sembilan menara."
Kian mengepalkan tinjunya. Kecepatan motorik tangannya kini terasa tiga kali lebih cepat dari sebelumnya. Saat dia memusatkan pikirannya, gelombang getaran kinetik tidak lagi keluar dari ototnya, melainkan langsung diproduksi oleh sirkuit mikro di lengan peraknya.
«[Kalkulasi Kemampuan Baru: Internal Resonance V3.0 (Output Energi Meningkat 150%).]»
"Lalu bagaimana dengan Gideon?" Kian bertanya lagi, matanya menyipit dingin.
Ekspresi wajah Aria mendadak berubah menjadi lebih serius. Dia menggeser layar hologramnya, menampilkan rekaman satelit luar dari batas ngarai sirkuit beberapa jam yang lalu.
"Inkuisitor itu... diselamatkan oleh armada udara Menara Pusat yang dikirim langsung dari Distrik Inti. Gideon belum mati, Kian. Dan dengan sisa waktu yang terus menyusut, Dewan Oligarki telah menyetujui aktivasi protokol terakhir."
Layar hologram Aria menampilkan grafik sembilan menara raksasa di luar yang kini memancarkan riak gelombang warna merah pekat ke seluruh atmosfer.
«[Peringatan Darurat: Protokol 'Kiamat Terbimbing' Aktif.]
[Waktu Tersisa: 11 Hari, 18 Jam.]»
"Mereka tahu sistem menara tidak akan bisa bertahan akibat pembajakan 45% yang dilakukan Viona," Aria menjelaskan, suaranya bergetar tipis oleh ketakutan yang nyata.
"Daripada membiarkan sembilan menara meledak secara liar dan menghancurkan kekuasaan mereka, Dewan Oligarki memilih untuk melelehkan seluruh Sektor Luar dan Sektor Utara menggunakan radiasi energi murni menara. Mereka akan membumihanguskan tempat ini beserta kita semua dalam waktu sebelas hari untuk melakukan reboot ulang dunia dari dalam Distrik Inti yang terlindungi."
Kian melangkah maju, mengambil jubah hitam barunya yang telah dipersiapkan di atas meja operasi. Dia memakainya dengan satu sentakan cepat, menyembunyikan lengan peraknya yang berkilat di balik kain gelap.
"Artinya kita tidak punya waktu lagi untuk bersembunyi di dalam laboratorium bawah tanahmu ini, Aria," kata Kian, mata kirinya menyala dengan intensitas biru yang menakutkan, memotong semua keputusasaan di dalam ruangan itu dengan ketegasan taktisnya yang mutlak.
"Lalu apa rencanamu, Kian?" Aria menatap sang anti-hero dengan pandangan bertanya. "Suku kami memiliki pemancar, tetapi kami tidak punya pasukan untuk menembus barikade menara."
Kian berjalan menuju pintu keluar laboratorium, tombak baru yang terbuat dari logam campuran silikon dan titanium cair—hadiah rekonstruksi dari enklave—kini berada di genggaman tangan kanannya.
"Bangunkan Viona," perintah Kian tanpa menoleh ke belakang. "Kita akan membawa pemancar Suku Kuno langsung ke jantung Menara Utama. Jika Dewan Oligarki ingin melelehkan dunia ini... kita akan memastikan bahwa mereka adalah orang pertama yang terbakar di dalam ruang kendali mereka sendiri."
Pertarungan defensif untuk bertahan hidup telah berakhir di batas wilayah Sektor Utara. Kini, dengan tubuh yang setengah mesin dan waktu yang kian mencekik, Kian bersiap memimpin serangan balik paling mematikan langsung ke pusat peradaban tirani Menara Pusat.