Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29: Tenda Merah Muda
Eve mengantar Yuliana sampai mobil di depan Pacific Place.
"Mama langsung ke rumah sakit?" tanya Eve.
"Iya. Kamu tunggu Edric di sini. Jangan jalan sendiri terlalu jauh."
"Saya bukan anak kecil."
Yuliana tersenyum. "Di mata ibu, semua menantu yang disukai otomatis anak kecil."
Eve tertawa pelan. Setelah mobil Yuliana pergi, ia berdiri di area drop-off sambil memegang tas berisi syal untuk Oma dan amplop cek kosong yang terasa lebih berat daripada bentuknya.
Ia tidak melihat Gunawan Lim sampai pria itu muncul dari balik pilar parkiran.
"Eve."
Senyum di wajah Eve langsung hilang.
Gunawan tampak jauh lebih buruk daripada terakhir kali. Jasnya kusut, dagunya ditumbuhi janggut, matanya merah seperti orang yang beberapa malam tidak tidur. Ia tidak lagi membawa aura kepala keluarga. Yang tersisa hanya kepanikan dan keserakahan.
"Papa perlu bicara."
"Saya tidak."
"PT Lim Jaya hampir disita bank." Gunawan melangkah mendekat. "Kamu punya saham. Kamu punya hak atas rumah. Kamu juga sekarang..."
Ia menelan ludah.
"Kamu menikah dengan orang Kho."
Eve membeku sedikit. Jadi ia sudah tahu.
"Papa hanya butuh pinjaman. Seratus miliar rupiah. Untuk menyelamatkan perusahaan."
Eve hampir tertawa karena angka itu terlalu tidak masuk akal.
"Itu bukan urusanku lagi."
"Itu perusahaan keluarga!"
"Keluarga mana?" Eve menatapnya. "Keluarga yang membiusku? Keluarga yang mau menjualku ke Hartono?"
Wajah Gunawan memerah. "Jangan ungkit itu terus."
"Aku akan mengungkitnya selama Papa masih berani meminta uang dariku."
Gunawan kehilangan kesabaran. Ia meraih pergelangan tangan Eve.
Rasa sakit tajam muncul. Eve mengerutkan kening, tetapi tidak berteriak. Reaksi tubuhnya terlalu terbiasa dengan genggaman orang yang mengira darah keluarga memberi izin untuk menyakiti.
"Dengar, Eve. Kamu tidak bisa meninggalkan Papa seperti ini."
Sebuah Bentley Continental GT hitam berhenti di depan mereka.
Pintu terbuka.
Edric turun.
Gunawan melepaskan tangan Eve setengah detik terlalu lambat. Edric melihat bekas merah di kulit istrinya, lalu melihat Gunawan. Tidak ada teriakan. Tidak ada langkah terburu-buru. Justru ketenangan itu membuat udara parkiran menegang.
Ia berdiri di depan Gunawan dan membuka jari pria itu dari tangan Eve, satu per satu.
"Tangan ini," kata Edric, "kalau sekali lagi menyentuh istri saya, akan saya patahkan."
Gunawan mundur. Matanya bergerak dari wajah Edric ke mobil, ke jam tangan, ke cara petugas keamanan mall menunduk saat melihatnya.
"Kamu..." suaranya pecah. "Kamu benar-benar Edric Kho."
"Saya suami Evelina."
Jawaban itu lebih dingin daripada pengakuan apa pun.
Edric membawa Eve masuk ke mobil. Selama beberapa menit pertama, ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya mengambil kotak P3K kecil dari konsol, mengoleskan salep pada bekas merah di pergelangan Eve.
Di luar kaca mobil, Gunawan masih berdiri di tempatnya. Wajahnya pucat, tetapi matanya mulai berubah. Ketakutan pertama perlahan bercampur dengan perhitungan baru. Ia datang meminta uang kepada anak yang dulu bisa ia abaikan. Kini anak itu duduk di mobil milik salah satu pria terkaya di Jakarta. Di kepala Gunawan, kata seratus miliar tiba-tiba terasa terlalu kecil.
Eve melihat perubahan itu sekilas dan perutnya mual.
"Dia sedang menghitung ulang nilai diriku," katanya pelan.
Edric mengikuti arah pandangnya. "Kalau dia mendekat lagi, dia akan belajar bahwa tidak semua angka bisa ditagih."
"Aku baik-baik saja," kata Eve.
"Saya tahu kamu bisa bertahan. Itu tidak membuat saya lebih tenang."
Eve menatap jendela. "Dia minta seratus miliar."
"Dia tidak akan mendapat satu rupiah."
"Dia akan mencoba lagi."
"Kalau begitu, dia akan bertemu orang yang lebih tidak sabar daripada saya."
Eve menoleh. "Ada orang seperti itu?"
"Mama."
Eve tidak bisa menahan tawa kecil. Ketegangan di dadanya turun sedikit.
Mobil tidak menuju apartemen atau rumah sakit. Edric mengambil jalan ke kawasan hijau yang lebih sepi. Jalan menanjak, pepohonan rapat, pagar vila tinggi, dan udara terasa lebih bersih.
"Kita ke mana?"
"Rumah."
"Apartemen bukan arah sini."
"Rumah baru."
Vila Kemang Hills berdiri di lereng rendah dengan halaman luas, dinding batu alam, kaca tinggi, dan kolam renang yang memantulkan langit sore. Dari teras belakang, terlihat danau kecil dan garis kota di kejauhan.
Eve keluar dari mobil dengan langkah pelan. Kekaguman datang lebih dulu, lalu segera disusul rasa takut.
"Ric..."
"Terlalu besar?"
"Ini bukan rumah. Ini resor pribadi."
"Bisa jadi rumah kalau kamu mau."
Edric tidak menyeretnya masuk dengan bangga. Ia membuka pintu pelan, seolah memperkenalkan sesuatu yang masih bisa Eve tolak.
Di dalam, ruang tamu dibuat hangat, bukan dingin seperti rumah pameran. Dapur luas dengan meja yang tingginya disesuaikan, laci bumbu di sisi kiri, dan kompor yang posisinya nyaman untuk tangan dominan Eve.
Ada juga sudut kecil dekat jendela dapur dengan dua kursi tinggi dan rak bumbu rendah. Edric menunjuknya dengan agak canggung. "Kamu pernah bilang suka minum teh sambil menunggu air mendidih. Jadi..."
"Kamu membuat tempat menunggu air mendidih?"
"Kedengarannya tidak praktis kalau kamu mengatakannya begitu."
"Tidak," Eve mengusap permukaan meja kayu. "Kedengarannya seperti rumah."
"Kamu mengubah dapur untukku?"
"Kamu sering memakai tangan kiri saat memasak."
"Kamu memperhatikan hal sekecil itu?"
"Saya memperhatikan hampir semua yang berhubungan denganmu."
Eve tidak punya jawaban.
Ruang kerja kecil di lantai dua berisi rak buku. Novel terjemahan, buku linguistik, kamus bahasa Prancis, catatan budaya Cirebon, bahkan beberapa buku anak bergambar yang pernah Eve ceritakan hanya sekali saat membahas Oma.
Di meja, ada lampu baca dengan cahaya hangat dan kotak kosong untuk catatan terjemahan. Di dinding, Edric tidak memasang lukisan mahal. Ia memasang papan magnet kosong.
"Untuk apa?"
"Kamu suka menempel daftar kata saat menerjemahkan."
Eve menatap papan itu lama. Dulu di kos, ia menempel catatan di pintu lemari karena tidak punya ruang kerja. Edric tidak hanya memberi ruang. Ia mengingat cara Eve mengisi ruang.
"Fajar?" tebak Eve.
"Sebagian."
"Kamu membuat tim intelijen menyelidiki selera bukuku?"
"Untuk tujuan damai."
"Kamu berbahaya."
"Saya sudah menikah dengan penerjemah yang bisa menginterogasi saya dalam tiga bahasa. Saya juga dalam bahaya."
Eve tertawa, tetapi ketegangan belum sepenuhnya hilang. Semua ini indah. Terlalu indah. Ia takut jika menerima, ia akan terlihat seperti seseorang yang akhirnya dibeli oleh kekayaan.
Edric seolah membaca pikirannya.
"Rumah ini bukan hadiah agar kamu melupakan masalah kita," katanya. "Saya menyiapkannya sebelum semuanya terbongkar. Saya hanya ingin kamu punya tempat yang tidak menyimpan bayangan Lim, Rangga, atau siapa pun yang pernah membuatmu takut."
Ia membuka pintu terakhir.
Ruangan itu lembut oleh cahaya hangat.
Di tengahnya berdiri tenda merah muda.
Bukan dekorasi kecil. Tenda sungguhan, dari kain tebal warna pink lembut, dengan lampu-lampu kecil menggantung di dalam. Lantainya dipenuhi bantal, selimut, dan karpet empuk. Di dekat pintu tenda ada nampan kecil untuk teh dan buku.
Eve berhenti di ambang pintu.
Napasnya hilang.
Ia kembali menjadi anak kecil di rumah Oma Ong. Setiap kali Gunawan marah, setiap kali suara piring pecah, setiap kali Eve bersembunyi di dapur dengan lutut gemetar, Oma akan mengambil seprai lama dan membuat tenda kecil di sudut kamar.
Di sini aman, Oma berkata. Tidak ada yang bisa menyakitimu.
"Oma yang cerita," kata Edric pelan dari belakangnya. "Dia bilang kamu suka bersembunyi di tenda kalau dunia terlalu keras."
Air mata Eve jatuh tanpa suara.
"Aku ingin menjadi rasa amanmu," lanjut Edric. "Tapi kalau aku belum cukup, setidaknya rumah ini bisa mulai dulu."
Eve masuk ke dalam tenda dan duduk di atas bantal. Tangannya menyentuh kain, lampu kecil, tepi selimut. Ia menangis bukan karena vila, bukan karena kolam renang, bukan karena harga yang tidak ingin ia bayangkan.
Ia menangis karena seseorang bertanya kepada Oma bagian dirinya yang paling rapuh, lalu tidak menertawakannya.
Edric duduk di luar tenda, tidak masuk sebelum Eve mengulurkan tangan.
"Masuk," katanya.
Baru saat itu Edric merangkak masuk, terlihat terlalu besar untuk tenda merah muda itu. Eve tertawa di antara air mata.
"Kamu tidak cocok di sini."
"Saya bisa menyesuaikan diri."
"Direktur Utama dalam tenda pink."
"Rahasia negara."
Eve membuka tasnya. Dari dalam, ia mengeluarkan kotak kecil berisi dasi biru gelap. Ia membelinya diam-diam di toko kecil lantai bawah Pacific Place, bukan merek terkenal, bukan barang mahal.
"Aku tidak tahu cara memberi hadiah pada orang yang punya segalanya," katanya. "Jadi ini mungkin terlalu biasa."
Edric menerima kotak itu seperti menerima benda paling berharga di dunia.
"Pakaikan," katanya.
"Sekarang?"
"Sekarang."
Eve berlutut di depannya, melingkarkan dasi itu di leher Edric. Jarinya sedikit gemetar. Edric menunduk agar ia lebih mudah mengikat simpul. Ketika selesai, dasi itu tidak sempurna, tetapi Edric menatapnya seolah Eve baru memasangkan mahkota.
"Ini hadiah terbaik yang pernah saya terima."
"Kamu berlebihan."
"Tidak."
Mereka duduk berdampingan di dalam tenda merah muda, melihat cahaya sore memantul di danau lewat jendela besar. Eve menyandarkan kepala di bahu Edric.
"Besok kamu harus memakainya," kata Eve.
"Ke gala amal?"
"Kalau tidak malu."
Edric menggenggam tangannya.
"Saya ingin semua orang tahu istri saya memilihkannya."
Eve memejamkan mata.
Besok ia akan berdiri di depan dunia sebagai Nyonya Kho.
Malam ini, ia hanya ingin tinggal sebentar di tempat yang aman.