Sarah pikir dengan melarikan diri ke tempat terpencil akan membuatnya aman dari orang-orang di masa lalunya. Tapi siapa sangka, pelarian aman itu hanya berlaku untuk beberapa tahun saja.
"Kamu sudah menikah?" tanya pria itu dingin.
"Belum," jawab Sarah tenang.
Pria itu lalu menarik napas dalam sebelum kembali bertanya.
"Lalu... apa kamu punya pacar?"
"Tidak," jawab Sarah lagi.
Raut wajah pria itu seketika berubah. Tidak ada wajah dingin dan intimidasi lagi. Kini ia tersenyum lebar dan tertawa pelan.
"Baguslah," katanya sambil menepuk pelan pundak Sarah. "Sekarang hadapi mereka dulu."
****
Ikuti author di sosmed
Ig : @tulisanmumu
Fb : Mumu Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
“Dia beneran datang?” gumam Sarah dengan nada tidak percaya saat matanya menangkap siluet tinggi tegap Ardhana yang tengah menyandarkan tubuhnya di dekat pagar luar sekolah. Pria itu sudah berganti pakaian, tidak lagi mengenakan seragam dinas polisi, melainkan kaos polo kasual berwarna hitam yang melekat pas di tubuh tegapnya.
Sarah seketika dilanda kebingungan setengah mati. Ada banyak pasang mata yang saat ini sedang memperhatikannya karena memang waktu sudah menunjukkan jam bubaran sekolah. Ratusan murid kelas tujuh hingga kelas sembilan tampak berhamburan keluar gerbang, bersiap untuk pulang.
Sarah sempat berpikir untuk memutar balik motor maticnya masuk kembali ke area parkiran guru yang tersembunyi. Namun, rencana itu gagal total karena Ardhana rupanya sudah terlanjur melihat kedatangannya dan langsung melambaikan tangan dengan penuh semangat.
“Ah, ya udahlah. Pasrah aja,” putus Sarah pada akhirnya. Ia menghembuskan napas panjang, lalu perlahan melajukan kembali motornya melewati gerbang hingga akhirnya berhenti tepat di samping tempat Ardhana berdiri.
Sarah sengaja menaikkan kaca helmnya sedikit, lalu menatap pria itu dengan pandangan datar.
“Ngapain kesini?” tanyanya pura-pura lupa dengan ancaman Ardhana di panggung beton beberapa jam yang lalu.
“Kan tadi udah janji mau makan bareng,” jawab Ardhana cepat tanpa jeda. Tak lupa, sebuah senyuman lebar terukir manis di wajahnya, memancarkan aura kegembiraan seakan ia sudah tidak sabaran lagi untuk segera pergi berdua bersama Sarah.
“Aku nggak pernah merasa berjanji, ya. Kamu aja yang dari tadi maksa sendiri,” ketus Sarah, mencoba menegakkan benteng pertahanannya yang sebenarnya mulai goyah akibat tatapan berbinar pria itu.
“Ya, apapun itulah namanya. Mau maksa atau janji, yang penting sekarang kita jalan. Motor kamu tinggalin aja di parkiran dalam sekolah, kita naik motor aku aja,” kata Ardhana penuh semangat. Sepasang matanya berbinar-binar gembira. Di dalam kepalanya, ia sudah membayangkan betapa indahnya menghabiskan waktu sore ini bersama Sarah, bernostalgia dengan sang mantan senior yang akan duduk manis di jok belakang motornya seperti beberapa tahun yang lalu.
Sarah mengernyitkan dahinya dalam-dalam. Pandangannya perlahan turun, meneliti dengan sangat saksama sepeda motor kopling berwarna merah yang terparkir di sebelah Ardhana. Sebuah desiran aneh mendadak mencubit hatinya begitu ia mengenali lekuk kendaraan roda dua tersebut.
“Ini… motor kamu sewaktu masih SMA dulu, kan?” tanya Sarah pelan, memastikan bahwa ingatannya tidak salah.
“Iya, benar!” Ardhana mengangguk cepat dengan wajah bangga. “Hebat kan masih terawat? Ayo naik motor aku aja, sekalian kita jalan-jalan sore sambil nostalgia masa lalu, kan?”
Bukannya senang, Sarah justru menatap tajam ke arah Ardhana. Senyuman di wajah pria itu seketika terasa seperti siraman bensin pada bara api yang tersimpan di dalam dada Sarah. Segala kenangan buruk yang membuatnya harus mengasingkan diri ke pelosok daerah ini kembali mencuat ke permukaan.
“Kamu dan motor merah ini yang jadi alasan utama kenapa aku nekat pindah sejauh ini dari Pekanbaru, kalau kamu lupa!” kata Sarah dengan nada dingin, memberikan penekanan yang sangat kuat di setiap patah katanya.
Wajah Ardhana yang semula ceria dan penuh tawa langsung muram seketika. Senyumnya lenyap tanpa bekas. Beberapa saat lalu, karena terlalu bersemangat bisa bertemu kembali dengan Sarah, ia benar-benar melupakan fakta besar nan menyakitkan itu.
“Maaf, Kak… Aku beneran nggak bermaksud buat mengungkit luka lama,” kata Ardhana dengan suara yang melembut, nyaris berbisik bersalah.
“Udah gini baru kamu manggil Kakak lagi,” gerutu Sarah pelan, memalingkan mukanya ke arah jalan raya.
Ardhana tidak membalas gerutuan itu. Pria itu hanya terus menatap ke arah Sarah dengan tatapan mata yang sayu penuh permohonan. Tatapan tulus yang selalu berhasil meruntuhkan gunung es di hati Sarah itu akhirnya membuat sang ibu guru menghembuskan napas panjang dan menyerah pada egonya.
Namun, belum sempat Sarah mengeluarkan kata-kata untuk menenangkan situasi yang mendadak canggung tersebut, suara teriakan melengking dari beberapa anak murid laki-laki kelas sembilan yang sedang berjalan bergerombol di dekat pagar langsung mengalihkan perhatian mereka.
“Cieee… Bu Sarah sama pak polisi yang tadi pagi! Cieee… ditungguin di depan gerbang nih ye!” sorak anak-anak itu kompak sembari tertawa jahil.
Wajah Sarah spontan memerah padam karena malu menjadi pusat perhatian di depan umum.
“Apaan yang cie-cie! Udah, pulang sana kalian! Itu angkotnya udah datang di depan pertigaan!” seru Sarah cepat dengan nada mengancam, melambaikan tangan mengusir murid-muridnya yang nakal.
Setelah anak-anak itu berlari menjauh sembari tetap tertawa, Sarah kembali menatap sengit ke arah Ardhana. Kekesalannya bertambah dua kali lipat begitu melihat pria di sampingnya itu justru sedang menahan tawa geli melihat reaksinya.
“Ngapain kamu ketawa? Nggak ada yang lucu, ya!” tanya Sarah dengan nada ketus.
“Nggak ada yang larang orang ketawa, kan? Udah deh, jangan ketus-ketus melulu sama aku. Muka kamu kalau cemberut terus begitu nanti cepat tua, lho,” ujar Ardhana santai, mencoba mencairkan kembali suasana tegang di antara mereka.
Sarah kembali menarik napas panjang, memijat pelipisnya sekilas. Energinya seakan selalu terkuras habis setiap kali harus berhadapan dengan tingkah laku pria yang usianya tiga tahun di bawahnya ini.
“Ya udah, ayo. Tapi pakai motor masing-masing aja. Biar nanti setelah selesai makan, aku bisa langsung pulang ke kosan tanpa repot,” putus Sarah akhirnya demi menyudahi perdebatan di pinggir jalan ini. Daripada terus-menerus diteror dan digoda oleh polisi ini di depan sekolah, Sarah pikir lebih baik ia menuruti saja permintaannya kali ini agar urusan mereka cepat selesai.
Tanpa menunggu persetujuan Ardhana, Sarah langsung melajukan motor maticnya membelah jalan raya besar. Ardhana yang melihat hal itu segera memakai helmnya dengan tergesa-gesa, menyalakan mesin motor kopling merahnya, dan langsung membuntuti Sarah dari belakang dengan jarak aman.
Sepanjang perjalanan, pria itu tidak bisa menyembunyikan senyuman lebarnya di balik kaca helm hitamnya. Baginya, bisa berkendara beriringan seperti ini bersama sang senior sudah merupakan sebuah kemenangan besar setelah bertahun-tahun kehilangan kontak.
Perjalanan mereka memakan waktu sekitar sepuluh menit melewati area perkebunan, hingga akhirnya Sarah membelokkan motornya ke sebuah pelataran parkir tempat makan. Namun, begitu Ardhana menghentikan motornya di sebelah Sarah, wajahnya langsung berkerut heran melihat tempat yang dipilih oleh sang mantan senior. Tempat itu jauh sekali dari ekspektasi Ardhana yang mengira Sarah akan memilih kafe estetik atau restoran kekinian.
“Kok kita makannya di sini, Sar? Kenapa nggak di kafe baru yang ada di dekat pusat kecamatan aja gitu? Yang ada AC-nya,” kata Ardhana sambil melepas helmnya dengan lemas, menatap bangunan sederhana di depan mereka.
“Katanya tadi mau makan, kan? Nah, ini tempat makan. Kenapa harus pilih-pilih?” jawab Sarah tanpa beban sama sekali sembari merapikan rambutnya di kaca spion.
Tanpa menunggu komentar lanjutan, ia langsung melangkah masuk ke dalam bangunan kayu yang memiliki plang kain bertuliskan ‘Rumah Makan Padang Tangah Sawah’.
Ardhana hanya bisa mendesah pasrah, menyusul langkah lebar Sarah dari belakang. “Ya nggak apa-apa deh, di rumah makan Padang juga oke. Daripada nggak jadi makan sama sekali,” batinnya menghibur diri.
Di dalam ruangan yang tidak terlalu ramai itu, mereka memilih meja di pojok dekat jendela yang menghadap langsung ke area persawahan hijau. Suasana mendadak hening selama beberapa saat ketika pelayan menyajikan piring-piring berisi lauk pauk di atas meja.
Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing sampai akhirnya Sarah membuka suara, memecah kecanggungan yang membeku.
“Bertahan juga ya ternyata… motor merah itu nggak kamu jual sampai sekarang,” ucap Sarah pelan, matanya menatap ke luar jendela, ke arah motor merah yang terparkir di luar.
Ardhana yang sedang memegang sendok langsung mendongak, menatap Sarah dengan tatapan dalam.
“Banyak banget kenang-kenangannya di motor itu, Sar. Nggak akan pernah mau aku jual.”
Sarah tersenyum sinis, ada nada cemburu purba yang mendadak terselip dalam suaranya tanpa ia sadari.
“Iya, paham kok. Kenang-kenangan sama pacar kamu waktu SMA dulu itu banyak banget, ya? Makanya disayang-sayang terus motornya.”
Mendengar kalimat sarkas tersebut, Ardhana langsung meletakkan sendoknya dengan gerakan cepat. Matanya membulat panik seolah dituduh melakukan kejahatan besar.
“Astaga, Sar! Maksud aku banyak kenangan itu sama kamu, lho! Bukan sama siapa-siapa! Kamu ini mikirnya ke mana-mana deh, Sarah Jaenab!” seru Ardhana frustasi menepis kesalahpahaman itu.
Sarah hanya mendengus pelan, membuang muka ke arah sawah demi menyembunyikan senyuman tipis yang hampir saja lolos dari sudut bibirnya akibat panggilan masa lalu dari pria itu.
Panas....cemburu melanda😂
kalau aku jadi sarah juga bakalan marah..😤😤😤😤
Semoga selalu dalam lindungan Tuhan ya thor