Mereka tumbuh bersama sebagai sahabat kecil, hingga takdir memisahkan langkah mereka. Bertahun-tahun kemudian, Alya Nadira Adhitama kembali ke Indonesia dan tanpa sengaja bertemu lagi dengan sahabat masa kecilnya, Arga Fernansyah, di sekolah yang sama. Mereka menjadi teman sekelas, tetapi tak ada satu pun yang menyadari bahwa mereka pernah saling mengenal.
Di tengah hari-hari yang dipenuhi tawa, mimpi, dan kebersamaan, perlahan muncul rasa yang tak pernah mereka duga. Hingga suatu petunjuk dari masa kecil mengungkap sebuah rahasia—bahwa orang yang selalu ada di samping mereka selama ini adalah sahabat yang pernah mereka kehilangan. Sebuah kisah tentang pertemuan kembali, persahabatan, dan takdir yang selalu menemukan jalannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irdyna Aira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 bagian 21: Aturan pak rudi
Suasana kelas XII IPA 1 masih sangat tenang dan kondusif.
Pak Rudi berdiri tegap di depan kelas seraya memegang map kulit hitam miliknya. Di bangku masing-masing, seluruh siswa sudah merapikan meja, bersiap menyerap materi pelajaran dengan buku tulis dan alat penyelesai rumus yang sudah bersiap di tangan.
Nadira membuka lembaran baru buku catatannya yang bersih. Di sampingnya, Arga sudah menata deretan amunisi: penggaris transparan, pensil mekanik, penghapus, dan kalkulator scientific kecil.
Pak Rudi menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan selama beberapa saat, lalu angkat bicara dengan vokal datar nan tenang.
"Hari ini... seharusnya saya menyampaikan materi bab baru."
Beberapa siswa yang duduk di barisan depan langsung mengadah, memasang telinga.
"Tapi..." Pak Rudi berdeham pelan, membersihkan tenggorokannya. "...kondisi fisik saya sedang kurang fit hari ini."
Seluruh kelas menyimak dengan saksama dalam keheningan.
"Jadi untuk pertemuan hari ini, saya tidak akan menyampaikan materi secara lisan. Saya hanya akan memberikan latihan soal. Nanti wajib dikumpulkan tepat sebelum bel pergantian jam berbunyi."
Pak Rudi merogoh selembar kertas acuan dari mapnya. "Latihan terdiri dari sepuluh nomor soal dengan tingkat kesulitan yang dibuat bertahap. Dikerjakan secara mandiri. Jangan ada yang saling menyalin atau meniru jawaban teman."
Beliau menyerahkan tumpukan lembar soal kepada ketua kelas untuk dibagikan secara estafet. Satu per satu kertas putih beraroma tinta printer berpindah dari meja ke meja.
Begitu lembar soal sampai di meja Arga dan Nadira, keduanya langsung memindai deretan angka dan rumus di atasnya secara kilat.
Arga memiringkan kepalanya sedikit, berbisik amat pelan. "Masih terjangkau lah rumusnya."
Nadira mengangguk setuju. "Iya. Cuma nomor delapan sama sepuluh yang kelihatannya agak memutar."
Arga menyunggingkan senyum tipis. "Nanti dulu, belum tentu juga."
Tak lama kemudian, dari bangku barisan belakang terdengar bisikan bergelombang.
"Arga... Arga..."
Arga memutar kepalanya ke belakang. Aul melambaikan tangan kecil dari mejanya.
"Kenapa, Aul?" bisik Arga.
"Tolong panggilin Alya dong..."
Arga langsung menyikut pelan lengan sahabatnya. "Dira, dipanggil Aul tuh."
Nadira serta-merta menoleh ke belakang. "Iya, Aul? Ada apa?"
Aul tersenyum malu-malu seraya menggoyangkan tempat pensilnya yang kosong. "Boleh pinjam busur derajat sebentar nggak, Nad?"
"Oh, boleh," Nadira dengan sigap membuka tempat pensil bening bertema pastel miliknya. Ia mengambil busur derajat transparan, lalu mengulurkannya ke belakang. "Nih."
"Makasih banyak ya, Alya!"
"Iya, sama-sama. Pakainya pelan-pelan ya, jangan sampai patah kayak punya Bima kemarin," goda Nadira pelan.
Aul tertawa tertahan. "Siap, Bu Ketos!"
Pak Rudi yang memperhatikan interaksi singkat itu dari depan kelas sama sekali tidak menegur, sebab beliau paham mereka hanya meminjam alat tulis secara tertib.
Pak Rudi berdeham sekali lagi, kembali menarik atensi seluruh kelas. "Sebelum kalian mulai mengerjakan, saya ingin mengingatkan satu aturan penting dalam kelas saya."
Atmosfer kelas kembali menegang.
"Selama materi tertentu belum pernah saya jelaskan secara resmi di depan kelas..." ujar Pak Rudi memelankan intonasinya, "...kalian dibebaskan mencari referensi tambahan dari luar. Boleh berselancar di Google, melihat video penjelasan di YouTube, atau mempelajari materi dari platform mana pun."
Beberapa siswa mengangguk-angguk paham. Aturan ini memang sudah menjadi ciri khas metode mengajar Pak Rudi yang fleksibel namun terukur. Beliau tidak pernah membatasi akses teknologi selama digunakan untuk mengeksplorasi ilmu baru yang belum diajarkan.
Namun... wajah Pak Rudi mendadak berubah sedikit lebih serius.
"Tetapi..." nada suaranya berubah jauh lebih tegas dan menusuk, "...kalau materi tersebut sudah selesai saya jelaskan di kelas..."
Beliau jeda sejenak, menatap seluruh pasang mata di ruangan itu.
"...lalu saya melihat masih ada murid yang mengintip ponselnya hanya untuk mencari jawaban instan... saya anggap kalian tidak pernah memperhatikan penjelasan saya di kelas."
Suasana kelas seketika mendingin. Tak ada satu pun murid yang berani berkutik.
"Sebab kalau materi itu sudah pernah saya sampaikan, sumber belajar utama kalian adalah catatan dan ingatan dari kelas ini. Bukan Google, bukan YouTube, dan bukan AI. Tidak ada alasan untuk memegang ponsel."
Pak Rudi menyilangkan kedua tangannya di atas meja. "Kalau masih ada materi yang belum kalian pahami, silakan bertanya langsung kepada saya. Saya dengan senang hati akan menjelaskan ulang. Mengerti?"
"Mengerti, Pak..." sahut seisi kelas serempak.
"Selama jam pelajaran saya berlangsung, seluruh HP wajib disimpan di dalam tas. Tidak ada satu pun ponsel yang boleh melayang di atas meja. Jika saya temukan ada yang melanggar, ponselnya akan saya sita sampai jam pulang sekolah."
Mendengar ancaman itu, beberapa murid yang tadinya meletakkan ponsel di pojok meja buru-buru memasukkannya ke dalam kantong ransel rapat-rapat.
Sementara itu, di luar kelas... Bima yang sedang meringkuk mengerjakan tugas susulan di koridor sempat mengintip lewat celah jendela.
"Anjir... ketat banget. Untung gue lagi terdampar di luar," bisik Bima bergidik.
Teman di sebelahnya langsung menyenggol lengan Bima gemas. "Udah, buruan selesaikan tugas lu! Daripada Pak Rudi makin murka!"
Di dalam kelas, Pak Rudi melirik jam dinding berbingkai hitam di atas papan tulis.
"Waktu kalian empat puluh lima menit dari sekarang. Silakan mulai."
Tanpa buang waktu, suasana kelas berubah menjadi hening yang sarat konsentrasi. Hanya terdengar goresan pensil mekanik di atas kertas dan derit penggaris yang digeser di atas meja kayu.
Arga langsung melahap nomor satu tanpa kendala berarti. Sementara di sampingnya, Nadira sudah lebih dulu menggoreskan baris penyelesaian terakhir untuk nomor pertama dengan tulisan tangannya yang rapi.
Beberapa menit berlalu. Arga melirikkan matanya pelan ke arah lembar jawaban Nadira—bukan untuk meniru, melainkan sekadar mencocokkan apakah langkah awal mereka berada di jalur yang sama.
Nadira yang menyadari lirikan itu langsung menoleh tanpa memindahkan posisi kepalanya. Ia berbisik amat tipis, "Fokus ke kertas sendiri..."
Arga terkekeh pelan tanpa suara, mengulas senyum simpul yang manis. "Iya, Bu Ketos."
Nadira menahan senyum giginya, lalu kembali berkutat dengan perhitungan nomor dua.
Dari meja depan, Pak Rudi sempat melirik ke arah Arga dan Nadira. Beliau sangat tahu kedua murid berprestasi itu memang sering berdiskusi dan belajar bersama. Namun, selama berada di dalam kelasnya, baik Arga maupun Nadira selalu tahu batasan tidak pernah memicu kegaduhan, tidak pernah menyentuh ponsel, dan selalu menyelesaikan tugas dengan kemampuan sendiri.
Kepercayaan itulah yang membuat Pak Rudi amat menaruh hormat pada mereka berdua.
Sementara itu, lima siswa yang terdampar di kursi panjang koridor mulai berkeringat dingin. Bukan karena cuaca pagi yang menyengat, melainkan karena mereka harus berpacu dengan waktu menuntaskan dua beban sekaligus menyelesaikan tugas lama yang tertunda, serta menyusul latihan sepuluh soal baru yang tengah berlangsung di dalam kelas.