Apakah kau percaya pada cinta?
Morgan dipertemukan dengan Vivian, seorang wanita yang pernah dia cintai dulunya. Setelah 7 tahun berpisah, akhirnya mereka bertemu.
Perjalanan cinta mereka menghadapi banyak sekali tantangan, hingga jarak dan waktu benar-benar memisahkan mereka.
Namun semakin jauh mereka dipisahkan, mereka semakin menyadari bahwa mereka saling membutuhkan.
Apakah mereka berhasil dipersatukan kembali? Bagaimana perjalanan cinta mereka akan terjadi?
Penuh dengan nuansa romantis bercampur pelajaran hidup yang menarik, ikuti kisahnya disini!
Update setiap hari pukul 23:00 - 02:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Theofanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Coklat Panas
Morgan & Vivian akhirnya tiba dalam ruangan apartemen Morgan. Vivian melihat ke sekitar ruangan Morgan dan melihat betapa kosongnya apartemen Morgan.
Meskipun dihias dengan sangat modern dan futuristik, namun ruangan Morgan terasa sepi dan kosong.
"Apakah kau tinggal sendiri disini?" Tanya Vivian setelah melepaskan mantel dari tubuhnya.
"Seluruh keluargaku sudah tiada, hanya ada beberapa sepupuku di Australia," balas Morgan berjalan ke kamarnya.
Mendengar perkataan Morgan, Vivian merasa bersalah ketika menanyakan hal itu padanya.
Entah kenapa, Vivian jadi merasa lebih perduli pada Morgan setelah tahu bahwa Morgan hanya sendiri di negara ini.
Vivian mengarahkan pandangannya ke kamar Morgan dan melihat Morgan membawakan padanya beberapa sweater tebal berwarna putih, setelah Vivian perhatikan dengan baik, bagian tengah sweater itu terdapat rajutan bergambar LOVE yang cukup besar.
Vivian cukup mengada-ngada ketika melihat itu, bahkan Vivian sempat mengira bahwa itu dibuat khusus untuknya.
"Aku tidak memiliki pakaian wanita disini. Jadi hanya beberapa sweater ini yang kupunya. Tapi kurasa kau akan nyaman ketika menggunakan sweater buatan ibuku," jelas Morgan pada Vivian dan menempatkan sweater itu di kamar Vivian.
"Gunakanlah kamar ini," lanjut Morgan lagi dari depan Vivian. Vivian mengikutinya ke sebuah kamar tamu yang cukup besar dan tertata rapi, disana ada sebuah Piano klasik yang dulu digunakan Morgan untuk mengaransemen beberapa lagunya.
"Setelah berganti, datanglah ke ruang tamu. Aku akan membuatkanmu cokelat panas," tutup Morgan dan berjalan keluar.
"Morgan, terima kasih. Aku akan masuk dan berganti pakaian." Vivian tersenyum dan memilih sweater mana yang akan dia guanakan.
"Kuncilah pintu kamarmu, jika kau membutuhkan apapun panggil saja aku."
"Baiklah, terima kasih Morgan."
Ketika Vivian baru saja mengunci kamarnya, Vivian memikirkan beberapa hal yang membuat jantungnya berdebar menjadi gila.
Vivian tidak percaya dirinya akan bertemu Morgan bahkan menginap di apartemennya?!
Vivian terpikirkan saat dirinya dan Morgan berjalan dibawah mantel Morgan dan menyandarkan kepalanya pada pundak Morgan ditengah hujan salju yang turun, bertatapan dari panggung ke kursi penonton, dan ketika Morgan menggandeng tangannya dan menggendongnya masuk kedalam mobil Morgan.
Hal yang indah ini seperti berada dalam film-film romansa yang sangat tertata rapi untuk mereka berdua.
Memori ini membuat lengkungan di bibir Vivian melebar dan melebar.
Vivian selesai mengganti pakaiannya dengan sweater hangat bergambar LOVE ditengahnya.
Sebenarnya sweater ini cukup besar untuk dirinya, karena sweater ini dirajut oleh ibu Morgan untuk tubuh Morgan yang besar dan kekar.
Vivian berkaca di cermin dan melihat bahwa dirinya ternyata menyukai sweater itu, terasa hangat dan nyaman.
Vivian beranjak keluar dan melihat Morgan sedang menyiapkan coklat panas.
"Baiklah, ternyata tempat ini cukup menarik dan hangat. Tidak seperti yang kurasakan sebelumnya," pikir Vivian melihat-lihat sekelilingnya.
Morgan datang dan membawakannya secangkir coklat panas.
"Aku tidak tahu apakah ini enak bagimu atau tidak, tapi aku membuatnya sesuai seleraku," buka Morgan setelah menyodorkan gelasnya pada Vivian.
Vivian terlihat langsung meminumnya, padahal itu sangat panas.
"Ini panas. Bibirku agak perih." ketika Vivian mengipas-ngipaskan bibirnya dengan tangannya.
"Dasar," balas Morgan dan mengambil sebuah tissue, melipatnya menjadi bagian kecil dan secara tiba-tiba menempelkannya pada bibir Vivian.
Vivian tak menyangka Morgan akan merawat bibirnya secara mendadak seperti itu.
"Berhati-hatilah lain kali Vivian." Morgan lalu melepaskan tissue yang ada ditangannya.
"Terima kasih," jawab Vivian tersenyum.
"Penampilanmu tadi luar biasa," lanjut Vivian lagi dan menatap Morgan yang sedang duduk disebelahnya yang sedang mengetik sesuatu.
"Aku tahu, aku memang luar biasa kan?" Morgan merasa percaya diri dan menaikkan alis matanya pada Vivian.
"Kau terlalu percaya diri. Sebenarnya aku suka bernyanyi, namun aku tidak punya kesempatan sepertimu".
"Kalau begitu bernyanyi lah satu lagu untukku sebagai ucapan terima kasih padaku. Bagaimana?" Tanya Morgan.
"Baiklah, tapi berjanjilah kau takkan tertawa." Vivian mengiyakan dan berjalan ke kamarnya yang terdapat piano klassik milik Morgan.
"Baiklah baiklah, aku berjanji," terang Morgan ketika mengikuti Vivian dari belakang.
"Ini lagu yang sering kunyanyikan ketika aku masih SMA dulu. Dan hanya ada 1 orang yang pernah mendengarkannya selain diriku. Baiklah aku akan mulai." Vivian mulai duduk di kursi piano dan jari-jemarinya mulai menekan tuts demi tuts.
"Winter" by Vivian Wisse
The snowfall has showing their charm,
the light become dark.
Wind blowing and passing the street,
peoples hiding on their home.
But this is nothing to us,
we enjoying the blizzard
Because from cold as ice
We can sharing our warm.
I love the way you carrying me through the snow.
The blue light illuminating your face.
I found my self when I fall in love with you.
Saat mendengar Vivian bernyanyi, Morgan seperti pernah mendengarkannya disuatu tempat.
Memori itu tidak terlalu kuat, hingga Morgan menguras semua memorinya namun hanya sepotong kejadian yang diingatnya pada lirik terakhir.
"Hei, mengapa kau melamun? Aku sudah selesai," panggil Vivian melihat kearah Morgan yang berdiri tepat disampingnya.
"Oh tidak, tidak, hanya sebuah memori yg tak kuingat dengan jelas. Hasilnya bagus, kau bermain dengan sempurna, aku menyukainya," balas Morgan tersenyum.
"Baiklah, kau tetap duduk seperti itu, aku akan menekan bagian melodi dan kau bass nya. Kita nyanyikan laguku yang tadi." Morgan lalu duduk disamping Vivian, dikursi yang sama dengannya.
Vivian dan Morgan menyanyikan lagu Morgan bersama, dan hasilnya sangat sempurna hingga mereka merasakan ada kemistri diantara mereka berdua, seperti sesuatu yang ditakdirkan untuk bertemu.
Setelah selesai bernyanyi dan mengobrol banyak hal, Vivian cukup mengantuk dan ingin segera tidur.
Dan Morgan juga kembali ke ruang tamunya dan melanjutkan pekerjaannya.
Ketika Vivian sudah siap untuk tidur, tiba-tiba perut Vivian berbunyi karena dia belum makan apapun sejak berangkat sore tadi, Vivian ingin memanggil Morgan, namun merasa tidak ingin merepotkannya jadi Vivian tetap memilih berada didalam kamarnya.
"Vivian, keluarlah. Kau tahu, suara perutmu dapat terdengar hingga ruang tamuku," panggil Morgan dari luar kamar Vivian. Mengetahui hal itu, Vivian merasa malu dan berjalan keluar dengan perlahan.
“Astaga." Vivian terseyum malu-malu menatap Morgan yang sedang mengetik sesuatu di ruang tamunya yang terletak didepan pintu kamar Vivian.
"Duduk disini, aku akan membuatkanmu makanan," tutup Morgan lalu segera pergi ke dapur.
Vivian segera menyusulnya dari belakang dan berharap dapat membantu Morgan membuatkan makanan untuk mereka berdua.
"Kau ingin membantuku? Baiklah tolong ambilkan beberapa sayuran dari dalam kulkas," tunjuk Morgan dari depan wastafelnya.
"Aku tidak tahu rupanya kau bisa memasak. Tidak banyak pria yang bisa memasak sendiri jadi aku cukup terkejut," balas Vivian dan mengambil beberapa sayuran, saat Vivian meletakkan beberapa sayuran di meja, tangan Morgan langsung mengambil sayuran itu dari tangan Vivian sehingga tangan Vivian pun ikut terbawa dalam genggaman Morgan.
"Morgan" panggil Vivian sambil melirik ke tangannya dan tertawa kecil.
"Oh astaga, pantas saja terasa hangat padahal baru dari dalam lemari es," jawab Morgan tersenyum.
Sebenarnya Morgan sengaja menarik tangan Vivian hanya untuk melihat reaksi dari Vivian.
Suasana didapur Morgan menjadi hangat dan menyenangkan, berbeda dari saat wanita-wanita lain yang memasak disana atau makan disana, kali ini terasa berbeda dan Morgan merasa bahagia akan kehadiran Vivian, begitupun Vivian.
Setelah selesai memasak, mereka segera mencicipi spageti plus sayuran segar buatan mereka berdua.
"Wah ini sangat asin." Morgan tertawa kearah Vivian setelah mencicipi makanannya, karena Morgan meminta Vivian untuk memasukkan garamnya tadi.
"Oh astaga ini salahku," balas Vivian agak kecewa.
"Tak apa, aku akan memesan makanan dari tempat langgananku mereka buka setiap saat dalam keadaan apapun." Morgan lalu menelepon restoran untuk memesan beberapa makanan saat hampir tengah malam itu.
yuk mampir juga di novel ku
yang berjudul
SAMA RUPA BEDA NASIB
aku nyicil baca dan like nya y, aku jadikan favorite dulu
salam dari aku dan mantan kekasih suamiku
aku tunggu feedbacknya
Semangat Up Kak 🌸🌸
Eh, ada si Gwen, Aerin ikut gk?
Morgan cepat sembuh ya...
kasihan vivian, apalagi dia sedang hamil 😢
kok jd kesel ya sama william😌
Wah wah, pesen ngga sepanjang biasanya aja harus diselidiki.. wah 😆🤣
wah wah, Cie yang di temenin Jeremy.. Cie Cie.. yang dimasakin..
uhh indah bgt oemandangannya suka deh huhu😢
hai kakak, maaf ya aku baru mampir lagi huhu😭
Adudu Will kamu itu keren masa gitu 😭
angela, masalah lacak melacak emang jagonya. tapi maaf, vivian udah tau.
kaget juga dia ternyata william yang melakukannya
di tunggu respek nya. 2 like 👍👍
(Baru kali ini liat Wiliam di suruh suruh)🤣🤣
Semoga penyakit Morgan cepet sembuh,biar Vivian gak nangis-nangisan lagi🙂🙂