Di kehidupan pertamanya, Li Yuexin adalah "Mutiara Kekaisaran Shenghua" yang lembut, tulus, dan terlalu mudah percaya. Ia menyerahkan harta, kedudukan, dan cintanya kepada Gu Wenhao, pria yang ia kira adalah belahan jiwanya. Namun, balasan atas kesetiaannya adalah racun diam-diam, pengkhianatan oleh sahabat masa kecil, dan kematian menyedihkan di tangan suami dan anak angkatnya sendiri.
Ketika matanya terbuka kembali, Yuexin menemukan dirinya kembali ke masa lalu, tepat sebelum jebakan itu tertutup rapat.
Kali ini, Mutiara itu tidak lagi bersinar karena pantulan cahaya orang lain. Ia telah berubah menjadi es yang tajam dan perhitungan yang dingin.
"Belas kasih diberikan kepada yang pantas. Keadilan diberikan kepada yang bersalah. Dan kali ini... aku hanya akan duduk santai, sambil menikmati pertunjukan kehancuran kalian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Penjara Bawah Tanah Kementerian Kehakiman adalah tempat di mana cahaya matahari takut untuk masuk. Udara di sana berat, berbau lembap, kotoran, dan keputusasaan. Suara tetesan air yang jatuh dari celah batu bergema seperti detak jam kematian yang lambat.
Putri Li Yuexin berjalan menyusuri lorong sempit itu dengan langkah tenang. Dia mengenakan jubah hitam sederhana, wajahnya tertutup tudung tipis untuk menghindari pengakuan oleh tahanan lain. Di sampingnya, Qingyu membawa lentera kecil yang cahayanya goyah, menerangi jalan berbatu yang licin.
"Nona, apakah kita benar-benar harus turun sejauh ini?" bisik Qingyu, menutup hidung karena bau busuk. "Ini tempat bagi penjahat kelas berat."
"Dan Gu Wenhao sekarang adalah salah satu dari mereka," jawab Putri Li Yuexin datar. "Ayo."
Mereka berhenti di depan sel nomor tujuh. Melalui jeruji besi yang berkarat, terlihat sesosok pria duduk meringkuk di sudut ruangan yang gelap. Jubahnya yang dulu putih bersih kini berubah menjadi abu-abu kotor, robek-robek, dan dipenuhi noda darah kering. Rambutnya kusut, menutupi wajah yang bengkak akibat pukulan para penjaga selama interogasi awal.
Gu Wenhao
Dia tidak bergerak saat mendengar langkah kaki. Matanya kosong, menatap dinding batu di hadapannya seolah-olah ada hantu yang sedang bercerita padanya.
Putri Li Yuexin memberi isyarat pada penjaga untuk membuka kunci sel. Suara gesekan kunci besi terdaring nyaring di keheningan lorong. Penjaga itu membungkuk hormat dan mundur, meninggalkan Putri Li Yuexin dan Qingyu sendirian di dalam sel bersama tahanan itu.
Putri Li Yuexin melangkah masuk. Sepatu sutranya menyentuh lantai tanah yang basah, namun dia tidak merasa jijik. Dia berdiri tepat di depan Gu Wenhao.
"Gu Wenhao," panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban.
Putri Li Yuexin mengulurkan tangannya, meraih dagu Gu Wenhao, dan memaksanya mendongak. Mata pria itu fokus perlahan, pupilnya melebar saat mengenali sosok di hadapannya.
"Tu... Tuan Putri?" suaranya serak, hampir tak terdengar. Bibirnya pecah-pecah, berdarah. "Kau... kau datang untuk menyelamatkan hamba?"
Ada secercah harapan bodoh di matanya. Harapan bahwa wanita yang dulu mencintainya mati-matian masih memiliki sisa kasih sayang. Bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk yang akan berakhir saat dia bangun di pelukan Putri Li Yuexin.
Putri Li Yuexin tersenyum. Senyum yang dingin, tipis, dan mengerikan.
"Menyelamatkanmu?" tanya Putri Li Yuexin, nada suaranya penuh ejekan. "Oh, Gu Wenhao. Kau selalu begitu naif."
Dia melepaskan dagu Gu Wenhao dengan kasar, membuat kepala pria itu terbanting kembali ke dinding. Gu Wenhao meringis kesakitan.
"Aku datang bukan untuk menyelamatkanmu," lanjut Putri Li Yuexin, suaranya rendah namun tajam seperti silet. "Aku datang untuk memberitahumu kabar terbaru dari dunia luar. Kabar yang mungkin belum sampai ke telingamu di dalam lubang tikus ini."
Gu Wenhao menelan ludah, ketakutan mulai merayap di hatinya. "Kabar... apa?"
"Selir Rong," kata Putri Li Yuexin singkat.
Mata Gu Wenhao berbinar lagi. "Yang Mulia Selir? Apakah dia... apakah dia mengirim bantuan? Apakah dia akan membebaskan hamba?"
Putri Li Yuexin tertawa. Tawa kecil, renyah, yang bergema menakutkan di sel sempit itu.
"Dia tidak mengirim bantuan, Gu Wenhao. Dia dikirim ke Istana Terlarang, asetnya disita, gelarnya dicabut dan putranya, Pangeran Jianyu, sedang diinterogasi sebagai tersangka utama konspirasi besar."
Wajah Gu Wenhao hancur seketika. Warna darinya hilang total. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Otaknya menolak memproses informasi itu. Pelindungnya... dewa penolongnya... telah jatuh.
"Tidak..." bisiknya, gemetar hebat. "Itu tidak mungkin. Dia kuat dan dia punya pengaruh..."
"Dia punya pengaruh karena Kaisar mencintainya," potong Putri Li Yuexin dingin. "Dan cinta itu habis malam tadi, disaat aku menunjukkan bukti-bukti pengkhianatannya. Bukti yang kau bantu kumpulkan dengan kebodohanmu."
Gu Wenhao menatap Putri Li Yuexin dengan horor. Pemahaman perlahan menyelinap masuk ke dalam pikirannya yang kacau. Tatapan dingin Putri Li Yuexin di Taman Bambu, teh osmanthus yang manis, dan jadwal patroli palsu Kapten Zhao yang ternyata menjebaknya.
"Kau..." napas Gu Wenhao tercekat. "Kau... kau yang menjebak hamba?"
Putri Li Yuexin mendekatkan wajahnya ke jeruji, hingga Gu Wenhao bisa melihat jelas kilatan api dingin di mata wanita itu.
"Aku tidak menjebakmu, Gu Wenhao. Aku hanya membuka pintu, dan kau sendiri yang berjalan masuk ke dalamnya dengan penuh semangat. Keserakahanmu adalah tali pengikatmu. Ambisimu adalah racunmu dan aku... aku hanyalah penonton yang menikmati pertunjukan kehancuranmu."
Gu Wenhao mulai menangis. Bukan tangisan dramatis seperti di taman persik dulu, tapi tangisan histeris, putus asa, dan menyedihkan dari seorang pria yang menyadari hidupnya telah berakhir.
"Kenapa?" teriaknya, suaranya pecah. "Apa salah hamba?! Hamba hanya ingin naik jabatan! Hamba hanya ingin diakui! Kenapa kau sekejam ini?!"
Putri Li Yuexin menegakkan tubuhnya, memandang Gu Wenhao dari atas dengan rasa jijik yang mendalam.
"Salahmu?" Putri Li Yuexin bertanya balik, suaranya tiba-tiba menjadi sangat lembut, hampir seperti belaian, namun mengandung racun mematikan. "Salahmu adalah kau mengira kau bisa memainkan api tanpa terbakar. Salahmu adalah kau mengira aku adalah boneka yang bisa kau atur. Dan salahmu terbesar... adalah kau membunuh Li Yuexin yang asli di kehidupan sebelumnya."
Gu Wenhao membeku. Kalimat terakhir itu terdengar aneh, tapi nadanya begitu nyata sehingga membuat bulu kuduknya berdiri.
"Apa... apa maksudmu?"
Putri Li Yuexin tidak menjawab. Dia berbalik, siap pergi.
"Tunggu!" teriak Gu Wenhao, meraih jeruji besi dengan tangan berdarah. "Jangan pergi! Bunuh saja hamba! Beri hamba racun! Jangan biarkan hamba hidup dalam neraka ini!"
Putri Li Yuexin berhenti di ambang pintu sel. Dia menoleh sedikit, profil wajahnya terlihat tegas di bawah cahaya lentera Qingyu.
"Mati terlalu mudah, Gu Wenhao," katanya tanpa emosi. "Hiduplah, hiduplah lebih lama di sini. Dengarkan suara tikus-tikus yang memakan sisa-sisa mimpimu. Rasakan dinginnya lantai ini setiap malam dan ingatlah wajahku dengan baik, Karena wajah inilah yang akan menghantui tidurmu sampai akhir hayatmu."
Dia melangkah keluar, penjaga segera mengunci kembali sel itu. Suara klik kunci besi terdengar final, seperti palu hakim yang mengetuk meja.
Di lorong, Qingyu tampak sedikit pucat. "Nona... kata-kata Nona yang tadi... 'kehidupan sebelumnya'? Apakah itu..."
Putri Li Yuexin menatapnya tajam. "Itu hanya sebuah ungkapan, Qingyu. Ungkapan untuk gadis bodoh yang sudah mati, gadis itu tidak akan pernah bangkit lagi."
Qingyu mengangguk cepat, meski hatinya masih bertanya-tanya. Ada sesuatu dalam tatapan Putri Li Yuexin yang terlalu tua, terlalu dalam, untuk seorang gadis berusia dua puluh tahun.
Mereka berjalan keluar dari penjara, meninggalkan tangisan histeris Gu Wenhao yang semakin melemah di belakang mereka.
Saat mereka mencapai permukaan, udara segar sore hari menyambut mereka. Langit berwarna jingga kemerahan, indah dan damai. Kontras yang tajam dengan kegelapan yang baru saja mereka tinggalkan.
Putri Li Yuexin menarik napas dalam-dalam. Dadanya terasa ringan. Beban balas dendam pribadi terhadap Gu Wenhao telah terangkat. Tapi dia tahu, perang belum selesai. Selir Rong memang sudah dilumpuhkan tapi akarnya, Faksi Barat dan Pangeran Jianyu, masih memiliki cabang-cabang yang berbahaya.
"Qingyu," kata Putri Li Yuexin sambil menaiki kereta kekaisaran yang menunggu.
"Ya, Nona?"
"Besok, kita akan mengunjungi Perpustakaan Kerajaan lagi. Ada beberapa catatan tentang Pangeran Jianyu yang perlu aku baca. Khususnya... masa kecilnya."
Qingyu mengerjap. "Masa kecil Pangeran? Untuk apa, Nona?"
Putri Li Yuexin tersenyum tipis, matanya menatap ke arah Istana Zamrud yang kini sepi dan suram.
"Karena setiap monster memiliki asal-usul, Qingyu. Dan jika kita ingin membunuh monster itu secara permanen, kita harus tahu di mana letak luka terdalamnya."
Kereta bergerak, meninggalkan bayangan panjang di atas batu-batu jalanan ibukota. Putri Li Yuexin duduk di dalam, tangannya memegang kipas lipat tertutup. Dia tidak membuka mata sebab dia sedang berpikir. Merencanakan, mengasah pedangnya untuk pertarungan berikutnya.
Gu Wenhao telah hancur. Sekarang, giliran sang Pangeran.